Novelory
Bulan April telah berlalu, dan sekarang Meta dan teman sekelasnya sedang sibuk mengurusi urusan kuliah mereka masing-masing. Ada yang berencana satu Universitas, ada yang ingin masuk sekolah militer, ada yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri, dan beberapa opsi lain yang dipilih oleh teman kelasnya. Begitupun dengan Meta, ia saat ini sedang mengurus beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Oxford.
Gadis yang seringkali dipanggil Tata ini menautkan kedua alisnya, mencoba menjawab contoh soal IELTS yang ujiannya sendiri akan ia ambil dua minggu lagi. Berkutat dengan soal-soal, ia dikagetkan dengan tepukan di bahunya. Melirik ke belakang, Diva dengan gigi gingsulnya yang terlihat manis itu tersenyum dengan lebarnya.
"Ta, kamu kalau belajar yang rileks dikit lah. Nanti malah stress dan ujung-ujungnya sakit terus gabisa ngambil ujiannya" Ungkap Diva sambil menyimpan sebuah undangan di meja Tata. Ya, saat ini mereka berada di sudut sebuah kafe yang saat ini kurang ramai dikarenakan masih pukul 10 pagi.
Meta menghembuskan nafas, tersenyum lembut ke Diva dan mengangkat undangan tersebut. "Aku baru tahu kamu mau repot-repot bikin undangan cuman buat prom night di rumah Zack" Diva mengambil tempat duduk di samping Meta. "Yahh mumpung aku mau PDKT sama dia. Bolehlah kan unjuk bakat di depan dia. Lagian aku juga dibayar buat bikin desain dan cetak undangannya" Meta melihat kembali undangan tersebut.
"Untuk ukuran anak SMA, undangan yang kamu desain simpel tapi elegan. Aku sampai mikir kalau yang membuat undangan ini desainer grafis profesional" Diva menggembungkan pipinya, "Kan aku memang desainer grafis profesional, hmph!"
Meta tertawa besar, dan Diva memujul pelan bahu Meta. "Ahahahahaha...iya..iya.. maafin aku Diva. Iya kok kamu desainer grafis profesional pake banget!" Seru Meta sambil menahan pukulan Diva yang mulai terasa sakit karena intensitas pukulannya menjadi lebih tinggi.
Diva menghentikan pukulannya, kemudian mengambil undangan itu dari tangan Meta. "Makanya kamu harus datang, aku udah capek-capek buat undangan ini. Hargai! Dan puji, hehe" Meta tersenyum, lalu menyeruput sedikit minumannya.
"Kalau aku ada waktu ya"
.
2 Minggu kemudian
Terik matahari menyilaukan mata Meta. Sambil mengecek jam, Meta berjalan santai menuju kafe langganannya. Kafe itu memang seakan sudah menjadi tempat pribadi Meta. Bersantai saat hari libur, mengerjakan tugas, mengobrol dengan teman-temannya, dan kegiatan lain ia lakukan disana. Selain pengunjungnya yang tidak terlalu ramai, WiFi di kafe ini sangat cepat, sangat membantu Meta ketika ingin meng-install game berkapasitas besar dan mengerjakan tugas sekolah yang sering ia tumpuk sebelum deadline.
Saat ia masuk, tak sengaja matanya menatap sosok yang saat ini duduk di spot kesukaannya, pojokan yang diatas meja tersebut terpasang WiFi. Meta terkesiap sebentar kemudian tanpa ragu berjalan menuju meja tersebut.
"Maaf, tapi boleh aku duduk disini?" Tanya Meta sopan. Remaja yang duduk di depan Meta, menatapnya sebentar kemudian kembali berkutat dengan laptopnya. Meta mengaggap tatapan itu sebagai persetujuan orang tersebut dan dengan santai duduk di depan remaja itu.
Belum sempat Meta mengeluarkan laptop dari tasnya, remaja itu menginterupsi, "Kamu, ngapain duduk disini? Masih banyak meja lain yang kosong. Pindah!" Meta terdiam sebentar, kemudian membalas " Maaf Zack, tapi meja ini spot yang sering kutempati. Selain WiFi disini lebih cepat dibanding meja lain, port charger yang ada di tembok belakangmu itu memudahkanku untuk mencharger laptopku."
Remaja bernama Zack itu bergeming sebentar, kemudian berkata dengan tak acuh, "Terserah kau saja" Kali ini Zack menyetujui secara verbal, dan Meta tanpa ragu mengeluarkan laptopnya dan mulai fokus dengan kerjaannya, hal yang sama juga dilakukan oleh Zack.
Waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah lama tenggelam dan bulan sudah lama duduk di singgasananya. Meta meregangkan tubuh, mengecek jam yang ternyata sudah pukul 7 malam. Dengan buru-buru ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan bersiap menuju kasir untuk membayar minumannya. Sebelum ia berjalan pergi, Zack berkata "Biar aku yang bayar" Meta berpikir sebentar. Kemudian menatap Zack.
"Tidak perlu, aku tidak ingin memiliki utang dari kamu" Meta langsung saja menuju kasir tanpa menunggu jawaban dari Zack.
"...Baguslah"
.
Meta berlari dengan cepat menuju rumahnya. Untung saja ia datang tepat sebelum pukul setengah delapan, kalau tidak ia pasti akan dimarahi lagi. Meta mengatur napasnya yang ngos-ngosan, menenangkan diri sejenak dan membuka pintu sambil mengucap salam. Tak ada yang membalas, hanya suara pisau di dapur yang masuk dalam pendengarannya. Ia langsung saja masuk ke kamarnya dan membersihkan diri sebelum makan malam.
"Hari yang melelahkan, hm?" Meta melihat undangan berwarna biru tua di atas mejanya. Ia baru ingat kalau dia diundang dalam acara prom night yang diadakan oleh Zack. Ia membuka plastik undangan itu dan membaca isinya. Ternyata acaranya besok malam.
"Aku pikir acaranya sudah lewat. Pantas Diva tidak pernah meneleponku, Haaah.." Meta menghela napas sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Tak lama terdengar panggilan telpon terdengar, tanpa melihat siapa pemanggilnya Meta langsung saja mengangkatnya.
"Meta ! Udah beli baju untuk persiapan prom besok malam?" Ternyata yang menelponnya adalah Maria, salah satu temannya yang berada di kelas lain.
"Tidak, dan aku ga bakalan beli juga" Pungkasnya. Terdengar suara hela napas dari seberang panggilan. "Kalau gitu temenin aku ya ? Ok, besok kita ketemu di depan Mall DX gerbang selatan pukul 10. Jangan lupa ok? Harus datang ya!" Sebelum Meta menjawab panggilan sudah ditutup. Meta melempar hp nya ke kasur kemudian berjalan keluar kamar untuk makan malam.
.
Pukul 9.45 Meta sudah standby di tempat yang sudah dijanjikan oleh Maria. Tak lama, dari kejauhan terlihat sosok berkulit eksotis berjalan menuju Meta. Meta sebenarnya tahu kalau Maria sering datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan, jadi ia juga berusaha secepat mungkin untuk menyamai waktu datang Maria. Dan syukurlah, hanya bertaut 1 menit sebelum kedatangan Maria. Dalam hati Meta merasa lega.
Maria yang sudah berada tepat di depan Meta memberikan tisu kepada Meta. "Udah lama nunggu kah sampai keringetan gitu? Ini, lap dulu keringatmu itu." Meta mengucapkan terimakasih sambil mengambil tisu itu.
Cuaca pagi ini memang sangat terik. Meta yang saat ini memakai Hoodie tebal dan rok panjang, jadi wajar saja jika ia berkeringat. Berbeda dengan Meta, Maria memakai celana denim berwarna biru dan crop top putih dan mini bag yang sesuai dengan pakaiannya. Pemandangan yang sangat menyegarkan di hari yang terik seperti saat ini.
"Ayo, saatnya berbelanja!"
.
Bulan April telah berlalu, dan sekarang Meta dan teman sekelasnya sedang sibuk mengurusi urusan kuliah mereka masing-masing. Ada yang berencana satu Universitas, ada yang ingin masuk sekolah militer, ada yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri, dan beberapa opsi lain yang dipilih oleh teman kelasnya. Begitupun dengan Meta, ia saat ini sedang mengurus beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Oxford.
Gadis yang seringkali dipanggil Tata ini menautkan kedua alisnya, mencoba menjawab contoh soal IELTS yang ujiannya sendiri akan ia ambil dua minggu lagi. Berkutat dengan soal-soal, ia dikagetkan dengan tepukan di bahunya. Melirik ke belakang, Diva dengan gigi gingsulnya yang terlihat manis itu tersenyum dengan lebarnya.
"Ta, kamu kalau belajar yang rileks dikit lah. Nanti malah stress dan ujung-ujungnya sakit terus gabisa ngambil ujiannya" Ungkap Diva sambil menyimpan sebuah undangan di meja Tata. Ya, saat ini mereka berada di sudut sebuah kafe yang saat ini kurang ramai dikarenakan masih pukul 10 pagi.
Meta menghembuskan nafas, tersenyum lembut ke Diva dan mengangkat undangan tersebut. "Aku baru tahu kamu mau repot-repot bikin undangan cuman buat prom night di rumah Zack" Diva mengambil tempat duduk di samping Meta. "Yahh mumpung aku mau PDKT sama dia. Bolehlah kan unjuk bakat di depan dia. Lagian aku juga dibayar buat bikin desain dan cetak undangannya" Meta melihat kembali undangan tersebut.
"Untuk ukuran anak SMA, undangan yang kamu desain simpel tapi elegan. Aku sampai mikir kalau yang membuat undangan ini desainer grafis profesional" Diva menggembungkan pipinya, "Kan aku memang desainer grafis profesional, hmph!"
Meta tertawa besar, dan Diva memujul pelan bahu Meta. "Ahahahahaha...iya..iya.. maafin aku Diva. Iya kok kamu desainer grafis profesional pake banget!" Seru Meta sambil menahan pukulan Diva yang mulai terasa sakit karena intensitas pukulannya menjadi lebih tinggi.
Diva menghentikan pukulannya, kemudian mengambil undangan itu dari tangan Meta. "Makanya kamu harus datang, aku udah capek-capek buat undangan ini. Hargai! Dan puji, hehe" Meta tersenyum, lalu menyeruput sedikit minumannya.
"Kalau aku ada waktu ya"
.
2 Minggu kemudian
Terik matahari menyilaukan mata Meta. Sambil mengecek jam, Meta berjalan santai menuju kafe langganannya. Kafe itu memang seakan sudah menjadi tempat pribadi Meta. Bersantai saat hari libur, mengerjakan tugas, mengobrol dengan teman-temannya, dan kegiatan lain ia lakukan disana. Selain pengunjungnya yang tidak terlalu ramai, WiFi di kafe ini sangat cepat, sangat membantu Meta ketika ingin meng-install game berkapasitas besar dan mengerjakan tugas sekolah yang sering ia tumpuk sebelum deadline.
Saat ia masuk, tak sengaja matanya menatap sosok yang saat ini duduk di spot kesukaannya, pojokan yang diatas meja tersebut terpasang WiFi. Meta terkesiap sebentar kemudian tanpa ragu berjalan menuju meja tersebut.
"Maaf, tapi boleh aku duduk disini?" Tanya Meta sopan. Remaja yang duduk di depan Meta, menatapnya sebentar kemudian kembali berkutat dengan laptopnya. Meta mengaggap tatapan itu sebagai persetujuan orang tersebut dan dengan santai duduk di depan remaja itu.
Belum sempat Meta mengeluarkan laptop dari tasnya, remaja itu menginterupsi, "Kamu, ngapain duduk disini? Masih banyak meja lain yang kosong. Pindah!" Meta terdiam sebentar, kemudian membalas " Maaf Zack, tapi meja ini spot yang sering kutempati. Selain WiFi disini lebih cepat dibanding meja lain, port charger yang ada di tembok belakangmu itu memudahkanku untuk mencharger laptopku."
Remaja bernama Zack itu bergeming sebentar, kemudian berkata dengan tak acuh, "Terserah kau saja" Kali ini Zack menyetujui secara verbal, dan Meta tanpa ragu mengeluarkan laptopnya dan mulai fokus dengan kerjaannya, hal yang sama juga dilakukan oleh Zack.
Waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah lama tenggelam dan bulan sudah lama duduk di singgasananya. Meta meregangkan tubuh, mengecek jam yang ternyata sudah pukul 7 malam. Dengan buru-buru ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan bersiap menuju kasir untuk membayar minumannya. Sebelum ia berjalan pergi, Zack berkata "Biar aku yang bayar" Meta berpikir sebentar. Kemudian menatap Zack.
"Tidak perlu, aku tidak ingin memiliki utang dari kamu" Meta langsung saja menuju kasir tanpa menunggu jawaban dari Zack.
"...Baguslah"
.
Meta berlari dengan cepat menuju rumahnya. Untung saja ia datang tepat sebelum pukul setengah delapan, kalau tidak ia pasti akan dimarahi lagi. Meta mengatur napasnya yang ngos-ngosan, menenangkan diri sejenak dan membuka pintu sambil mengucap salam. Tak ada yang membalas, hanya suara pisau di dapur yang masuk dalam pendengarannya. Ia langsung saja masuk ke kamarnya dan membersihkan diri sebelum makan malam.
"Hari yang melelahkan, hm?" Meta melihat undangan berwarna biru tua di atas mejanya. Ia baru ingat kalau dia diundang dalam acara prom night yang diadakan oleh Zack. Ia membuka plastik undangan itu dan membaca isinya. Ternyata acaranya besok malam.
"Aku pikir acaranya sudah lewat. Pantas Diva tidak pernah meneleponku, Haaah.." Meta menghela napas sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Tak lama terdengar panggilan telpon terdengar, tanpa melihat siapa pemanggilnya Meta langsung saja mengangkatnya.
"Meta ! Udah beli baju untuk persiapan prom besok malam?" Ternyata yang menelponnya adalah Maria, salah satu temannya yang berada di kelas lain.
"Tidak, dan aku ga bakalan beli juga" Pungkasnya. Terdengar suara hela napas dari seberang panggilan. "Kalau gitu temenin aku ya ? Ok, besok kita ketemu di depan Mall DX gerbang selatan pukul 10. Jangan lupa ok? Harus datang ya!" Sebelum Meta menjawab panggilan sudah ditutup. Meta melempar hp nya ke kasur kemudian berjalan keluar kamar untuk makan malam.
.
Pukul 9.45 Meta sudah standby di tempat yang sudah dijanjikan oleh Maria. Tak lama, dari kejauhan terlihat sosok berkulit eksotis berjalan menuju Meta. Meta sebenarnya tahu kalau Maria sering datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan, jadi ia juga berusaha secepat mungkin untuk menyamai waktu datang Maria. Dan syukurlah, hanya bertaut 1 menit sebelum kedatangan Maria. Dalam hati Meta merasa lega.
Maria yang sudah berada tepat di depan Meta memberikan tisu kepada Meta. "Udah lama nunggu kah sampai keringetan gitu? Ini, lap dulu keringatmu itu." Meta mengucapkan terimakasih sambil mengambil tisu itu.
Cuaca pagi ini memang sangat terik. Meta yang saat ini memakai Hoodie tebal dan rok panjang, jadi wajar saja jika ia berkeringat. Berbeda dengan Meta, Maria memakai celana denim berwarna biru dan crop top putih dan mini bag yang sesuai dengan pakaiannya. Pemandangan yang sangat menyegarkan di hari yang terik seperti saat ini.
"Ayo, saatnya berbelanja!"
.
Maria menarik tangan Meta, keluar masuk dari satu toko ke toko yang lain. Meta sampai bingung sendiri, mengapa memilih satu set pakaian saja membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat banyak ? Meskipun begitu ia tak mengutarakan unek-uneknya itu pada Maria dan hanya mengekori Maria kemanapun ia melangkah.
Setelah dua jam memilih pakaian, akhirnya Maria memutuskan membeli dress selutut tanpa lengan berwarna soft pink dan selendang sutra untuk menutup bahunya. Tak lupa ia membeli heels 10 centi dan gelang dari emas putih. Meta ? Dia hanya membantu Maria mengangkat belanjaannya.
Saat ini Meta sudah merasa lelah. Meta hampir tidak pernah melatih fisiknya. Bahkan pada saat jam olahraga dia hanya duduk di pojokan dan menonton teman-temannya. Apakah Meta ada penyakit yang tidak memungkinkannya untuk melakukan aktivitas yang berat ? Tidak, dia hanya terlalu malas melakukannya.
Meskipun Maria telah memilih pakaian yang akan ia pakai saat prom night nanti, ia masih ingin melihat-lihat pakaian. Alhasil, Meta yang awalnya hanya memegang dua handbag, kini menjadi sepuluh handbag. Dan itu belum memuaskan hasrat berbelanja Maria. Setelah membeli beberapa topi dan pakaian renang, mereka mengistirahatkan diri di sebuah toko donat yang cukup terkenal. Energi Meta yang terkuras habis karena berjalan dan mengangkat barang, secara perlahan mulai pulih kembali. Ia menyesap coklat milkshake sembari menatap belanjaan Maria.
"Maria, untuk apa membeli semua pakaian ini ? Aku pikir lemari di rumahmu sudah penuh dengan pakaian dan aksesorismu" Maria mendengus, menatap Meta. "Kamu ini tidak mengerti. Perempuan itu harus memiliki persiapan yang mantap sebelum keluar rumah. Kamu tidak tahu kapan kamu bertemu secara tidak sengaja dengan laki-laki idamanmu. First impression itu penting! Jangan sampai kamu melewatkan kesempatan yang bagus hanya karena cara berpakaianmu yang kurang menarik." Meta hanya mengangguk-angguk namun tidak mengindahkan nasehat Maria.
Teringat sesuatu, Maria kemudian berkata "Tata, kamu belum membeli pakaian untuk prom night nanti ?" Ini sudah pukul dua! Sejam lagi aku akan ke salon untuk menata rambutku! Ayo, kita melihat-lihat baju yang cocok untukmu" Maria berdiri kemudian menarik tangan Meta, namun Meta menahannya.
"Tidak perlu, sedari awal aku hanya menemanimu memilih pakaian. Lagian, aku tidak akan pergi" Maria terkaget, kemudian duduk kembali. "Kenapa ? Apakah kamu ada acara yang lebih penting dari prom night malam nanti ?" Meta hanya tersenyum kecut.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu" Maria mengerucutkan bibirnya. "Jadi yang menemaniku nanti siapa ? Aku tidak mau pergi prom night sendirian.." Maria mengeluarkan air mata palsu, seketika Meta panik, kemudian menenangkan Maria yang terisak pilu.
"Aku tidak memiliki teman yang banyak, apalagi dari kaum sosialita tinggi seperti Bella dan teman-temannya. Bagaimana nanti kalau aku di bully ? Bagaimana kalau aku nanti dipermalukan tanpa ada yang membelaku ? Mendapatkan undangan ke acara Zack saja sudah membuatku bahagia. Tapi kalau aku kesana tanpa seseorang yang menemaniku, apa yang aku terjadi kepadaku ?" Meta kemudian berusaha menenangkan Maria sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Merasa terpaksa, akhirnya Meta mengiyakan ajakan Maria untuk pergi prom night bersama. Meskipun ia tahu kalau rengekan Maria itu hanya bualan, tapi siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Bella nantinya?
Meta tidak terlalu mengenal Bella yang notabenenya dari kelas sebelah. Yang ia tahu, orangtua Bella merupakan salah satu donatur di sekolahnya. Dan bersama temannya yang juga merupakan kaum berada, mereka sering melakukan tindak pembullyan. Adik kelas teman sekelas, pemegang beasiswa, semua sudah pernah menjadi bahan bully-annya, sampai-sampai ada yang hampir bunuh diri karena di bully oleh Bella dan teman-temannya. Tapi, apa dia di penjara ? Atau minimal mendapatkan hukuman ? Tentu saja tidak. Sebagai anak salah satu donatur terbesar di sekolah, Bella bebas melakukan apa saja. Bahkan tidak satu pun guru yang menegurnya jika ia kedapatan bolos kelas bersama teman-temannya.
Karena Meta mengiyakan ajakan Maria, Maria kembali ceria, kemudian memesan donat coklat kelapa kesukaan Meta. Meta hanya tersenyum tipis dan memakan traktiran Maria dalam diam.
.
Tepat pukul 2.30, Maria dan Meta berpisah. Maria menuju salon untuk menata rambutnya, sedangkan Meta kembali ke rumah. Karena dia sudah menerima ajakan Maria, ia harus totalitas dalam berpakaian. Tapi, Meta sudah merasa lelah dan merasa tak kuat lagi untuk berjalan ke toko kakaknya. Meta mendengus keras.
"Apa aku benar-benar harus pergi?" Kembali Meta mengingat janjinya pada Maria. Ia kemudian memantapkan langkah menuju ke rumahnya. Namun, sebelum ia naik ke bus, ia melihat Zack dan tiga remaja perempuan disisinya. Meta menatap nanar pandangan itu. Hatinya seakan tertusuk ribuan pedang melihat Zack, pria yang ia sukai berjalan bersama perempuan lain.
Klakson bus menyadarkan Meta. Konduktor memarahi Meta. "Kalau tidak mau naik, jangan berdiri di depan pintu!" Meta kemudian menaiki bus dan duduk di barisan belakang, menolak duduk di samping jendela yang biasanya ia lakukan.
Meta hanya tidak tahan melihat Zack. Dia benci Zack yang suka bermain dengan perempuan. Tapi dia tidak bisa melarang, dia bukan siapa-siapanya Zack. Dia hanyalah teman sekelas yang kebetulan dikenali Zack sebagai pemeran pendukung A.
Setetes air tertahan di pelupuk mata Meta, ia menahan tangisannya keluar. Dia berusaha memikirkan hal lain yang membuatnya melupakan apa yang dia lihat tadi. Tapi nihil, pemandangan Zack yang mencium salah satu perempuan tadi sudah tertanam di otak Meta. Sekali lagi, Meta berusaha keras agar air matanya tidak jatuh sembari mencubit keras lengannya.
"Haha, sialan. Aku jadi ingin mengingkari janjiku dengan Maria"
Pukul 7 malam, Meta sudah siap di depan rumah Maria. Dari tangga depan, Maria berjalan dengan pelan. Meta maju selangkah dan menadahkan tangannya. "Apakah tuan putri sudah siap pergi ke pesta?" Tanyanya dengan senyum gentle. Maria terkekeh pelan dan mengambil tangan Meta. "Tentu saja, pelayan. Hihihihihi" Meta tersenyum kemudian membawa Maria masuk ke dalam mobil. Maria kemudian memerintahkan supir menuju ke rumah Zack.
Sesampainya di depan rumah Zack, Maria dan Meta terpana. Lampu warna-warni terhias dengan cantiknya mengelilingi pilar-pilar rumah yang besar dan megah. Pohon-pohon hias ditata dengan rapi. Dua pasang bodyguard sebagai penerima undangan berdiri dengan kokoh di depan pintu. Dan wow, Meta terpana dengan es besar yang diukir menjadi sepasang angsa di atas juice fountain.
Mereka berdua mencari tempat yang kosong untuk duduk. Namun sebelum itu, mereka menaruh hadiah di pojokan yang khusus dijadikan sebagai tempat hadiah. Apik sekali, disana sudah berjejeran tas-tas dengan logo branded yang tidak bisa ditanyakan lagi berapa digit untuk membeli produk di toko tersebut. Meta kembali menatap bungkusan kadonya yang bergambar karakter karton yang tiap hari selalu nangkring di salah satu siaran TV tiap minggunya. Ia tersenyum kecut, apa Zack akan menerima hadiahnya ? Tapi ia segera menghilangkan pikirannya itu. Ia tidak mau berprasangka buruk kepada para kaum borjuis yang selalu menghamburkan uangnya hanya untuk membeli kebutuhan tersier.
Ups, tanpa sadar Meta berpikiran buruk lagi kepada orang kaya generasi kedua ini.
Ketika akan meletakkan kadonya ke tempat yang telah disiapkan, mereka malah berpapasan dengan Bella dan kawan-kawannya. Waktu yang sangat tidak pas untuk bertemu mereka. Dalam diam, Meta menyembunyikan kado di belakang tubuhnya. Berbeda dengan dia, Bella dan kawan-kawannya itu menaruh kado mereka, lebih tepatnya, barang branded yang dengan saja tidak dibungkus atau ditutupi agar orang-orang melihat, ohh Bella memberikan jam tangan limited edition ke Zack, hadiah yang sangat pantas untuk pemeran utama kita malam ini.
Di sampingnya, Maria dengan diam menyimpan hadiahnya, kemudian memberikan kode kepada Meta agar cepat-cepat pergi dari itu. Meta menerima signal itu dan dengan sembunyi-sembunyi menyimpan hadiahnya di bagian sudut, agar tidak menarik perhatian yang lain, terutama si Bella.
Saat akan pergi, Meta menatap Bella sekali lagi, namun Bella juga menatap ke arah Meta. "Heh, ngapain lo natap gue? Udah bosen hidup ya?" Meta menggeleng cepat kemudian menarik Maria untuk segera pergi dari situ. Saat mereka pergi, Bella terus melihat mereka, kemudian tersenyum licik. "Sepertinya gue tau apa yang harus gue lakuin ke orang miskin yang ga tau malu datang kesini"
.
Saat ini Meta dan Maria telah sampai di taman, tempat segala makanan dan minuman disediakan. Meta segera melupakan kejadian tadi dan menatap dessert di atas meja dengan tatapan memuja. "Hei Maria, apa kita udah dibolehin memakan semua ini ?" Tanya Meta tanpa mengalihkan pandangannya ke salah satu Chocolate Cake di nampan cantik itu. Maria menghelas napas, kemudian memberikan gestur untuk memperbolehkan Meta untuk makan.
Meta langsung saja tancap gas, mengambil piring dan menyendok semua apa yang bisa dia ambil sampai piringnya penuh. Belum selesai, Meta akan mengambil piring kedua, menghindari ia menjadi sorotan karena pulang balik mengambil makanan, tapi kelakuannya saat ini sudah cukup menarik perhatian. Maria menahan tangan Meta untuk mengambil makanan, menghentikannya segera. Dengan senyum malu, Meta mengambil piring pertamanya kemudian mencari spot untuk duduk. Mari mengikut di belakangnya setelah mengambil segelas jus jeruk.
.
Kini Meta sendirian, Maria sudah pergi entah kemana, mungkin untuk memperbesar circle pertemanannya. Tapi Meta tidak peduli. Di depannya sudah di tata dengan apik makanan yang ia ambil tadi. Meta tersenyum riang kemudian mulai makan dimulai dari pudding coklat yang ia ambil hampir setengah loyang. Senyum sumringah menghiasi wajah Meta. Cukup jarang melihat Meta tersenyum dengan bodoh seperti itu. Tapi ketahuilah, berikan dia makanan yang lezat, dan Meta akan memajang senyum bodohnya itu selama setengah hari.
"Haahh...aku tidak menyesal datang ke pestanya Zack." Meta mengelus perutnya yang kekenyangan. Bukan main, selama satu jam penuh ia bolak-balik mengambil makanan yang disediakan, tentunya secara diam-diam dan tersembunyi agar Maria tidak melihat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, sudah saatnya Meta pulang. Disaat akan keluar, ia ditahan oleh teman-teman Bella. "Lo mau kemana?" Tanya salah satu diantara mereka. Meta melihat rencana busuk dibalik senyum palsu mereka. Meta tidak menghiraukan panggilan mereka dan bergegas keluar. Belum sempat ia menginjakkan kaki ke depan pintu, seseorang menahannya. Itu adalah Edna, salah satu dari kacung Bella yang cukup dengan Meta. Edna menatap Meta dengan tatapan meminta tolong, sambil memegang erat tangan Meta. "Ta, tolong sekali ini aja, kamu ikut aku" Meta tahu Edna suruhan Bella, dan Meta pun tahu bahwa dia tidak akan kembali dengan wajah yang bersih setelah mengikuti Edna, tapi hatinya terlalu lembut, ia tidak bisa menolak orang yang datang dan meminta tolong kepadanya.
Dalam diam Meta mengikuti langkah Edna menuju Bella dan teman-temannya yang duduk di sofa yang cukup besar. Disana, Bella duduk menyilangkan kaki yang diselimuti dress panjang dengan perpaduan biru tua dan abu-abu. Meta mengumpat dalam hati, sedikit tidak suka melihat Bella mengenakan pakaian dengan warna kesukaannya. Tapi tak bisa dipungkiri, Bella nampak anggun bak bangsawan dengan gaunnya. Sayang, sifatnya tidak mencerminkan sosok bangsawan sama sekali.
"Be-Bella, aku udah bawa Meta kesini, aku boleh balik ke tempatku kan?" Tanya Edna ragu sambil menunjuk salah satu spot yang kosong. Bella menyeringai, mengganti posisi silangan kakinya, kemudian mengambil segelas anggur di depannya dan menggoncangnya pelan. Meta berpikir, kenapa ada alkohol di pesta ulang tahun ? Lagian, dimana si pemilik acara pergi ? Baru saja terbersit pikiran itu, Zack datang menghampiri mereka. Deg, detakan jantung Meta berhenti sedetik, kemudian berdetak dengan kencang. Untung saja mukanya tidak cepat merah. Kalau tidak, saat ini wajahnya akan seperti kepiting rebus.
Meta berhasil mempertahankan ketenangannya, sambil menunduk, menolak untuk menatap muka Zack. Zack yang melihat Meta dan mengingat sosok yang kini menunduk bak budak di depannya.
"Oh, kita bertemu lagi"