Novelory
“Kak cepat! Acaranya sudah hampir dimulai.” Anak kecil dengan iris biru langit berlari tergesa-gesa mendahului sosok kecil lainnya yang berjalan cukup santai.
Wajahnya datar dan malas, jika bukan karena rengekan adiknya yang ingin tampil bersama ia tidak akan meninggalkan kamarnya. Tidak jauh dari arahnya berjalan terdapat altar sederhana dengan sosok pria yang amat dikenalinya berdiri disana. Mendengus sebelum kembali melangkahkan kakinya. Ditangannya terdapat kotak beludru kecil dengan cincin mutiara yang bernilai miliaran didalamnya. Inilah yang paling mengesalkan selain mengikuti rengekan adiknya, ia pun harus membawa cincin pasangan mempelai wanita. Menggenggam erat kotak beludru ditangannya, ia berjalan mendekat kesamping adiknya berdiri.
“MEMPELAI WANITA MENAIKI ALTAR”
Suara menggema dari pembawa acara terdengar bersamaan dengan munculnya sosok wanita anggun yang tengah digandeng oleh pria paruh baya berusia 60 tahunan. Senyum manis tidak lepas dari si mempelai wanita saat melewati para tamu undangan yang turut hadir.
“Kenapa ayah tidak muncul?” Si kecil Leon setengah berbisik pada kakaknya yang berdiri tepat disampingnya. Sosok Lion berdiri dengan wajah yang terlihat jelas bahwa ia amat sangat enggan untuk berdiri disana.
Lion tidak menjawab, melainkan mengamati tiap-tiap tamu undangan yang hadir.
“Sudahlah, mempelai wanitanya sudah datang.” Tertunduk lesuh, sekali lagi Leon berbisik. Lion tidak akan berpikir jika ayahnya akan datang di hari pernikahan mommynya dengan William. Ia sendiri pun tidak memiliki semangat untuk mengikuti jalannya sesi pemberkatan. Sekali pun Lion menyukai William yang selalu baik dan perhatian terhadap dirinya dan Leon, bukan berarti ia akan 100% menyukai William sebagai daddy seutuhnya. Ia masih berharap jika diatas altar itu adalah ayah kandungnya, Noah. Ditangannya, ia meremas kotak beludru itu erat, seolah ingin ia buang jauh-jauh. Apa pun itu, semua telah menjadi keputusan mommynya dan ia tidak ingin mengacau hanya untuk keinginan pribadinya semata. Dan lagi ia tidak lain hanyalah anak kecil yang tidak lebih dari anak umur 7 tahun untuk tidak ikut campur urusan orang-orang dewasa.
Disebuah gedung tinggi yang menjulang, tepatnya pada ruangan yang di dominasi oleh warna gelap. Seorang pria duduk dengan wajah ditekuk, ia baru saja selesai menghancurkan setiap barang mahal didalam ruangannya. Bahkan rokok terakhir ditangannya berakhir diatas lantai yang sudah hancur berantakan, untuk kesekian kalinya ia berada diposisi yang sama. Pertunangan yang berhasil digagalkan tapi ia juga tidak berhasil mendapatkan hati wanitanya kembali.
“Sudah selesai?” Sosok dengan pakaian seksi muncul dari balik pintu ruangan yang tengah ia tempati. Sejenak wanita itu berdiri menatap kearah pria yang belum lama mengacaukan ruangannya sendiri. Tangan wanita itu bersidekap didepan dada, seolah memperhatikan sosok pria yang tengah berkuasa ditempat itu.
“Pernikahan mereka sudah berlangsung sejak 20 menit yang lalu, aku memegang kartu undangannya. Apa kamu tidak berniat hadir?” Wanita itu melangkah mendekat, bajunya yang berkibar saat ia melangkah memperlihatkan belahan pahanya yang putih mulus. Tanpa aba-aba, ia duduk dipangkuan pria yang sejak tadi mengacuhkan dirinya.
“Sudahlah, bukankah aku disini untuk menemanimu?” Ucapanya seduktif dan membelai wajah yang mulai kasar ditumbuhi rambut halus.
Pria itu tidak memberi respon, membuat wanita itu mencebik kesal. Dilingkarkan kedua tangannya dileher sang pria, ia tidak suka diacuhkan, karenanya ia bertekad akan membuat laki-laki itu merespon dirinya dengan memberikan sentuhan-sentuhan sensasional.
Tidak tahan dengan tindakan wanita yang terus memancing nafsu birahinya, ia mendorong wanita itu keras hingga jatuh tersungkur diatas lantai. Awalnya ia memang berfikir untuk bermain dengan wanita lain untuk membuatnya lupa pada wanita yang dicintainya. Hanya saja, setiap kali wanita itu menyentuh dirinya, ia merasa muak. Tidak ada ketertarikan seksual yang memancing dirinya, melainkan rasa jijik yan tidak bisa ia jelaskan.
Memandang wanita itu dengan dingin, Noah kemudian berbalik pergi meninggalkan ruangannya. Jika ia tidak memiliki Yelda, maka tidak seorang pun yang bisa memilikinya.
The End
Kiara menatap lembar terakhir dari novel karyanya, ekspresi wajahnya mengerut tidak puas. Novel yang telah ia tulis kurang dari tiga tahun lamanya ia buat tamat begitu saja. Itu adalah novel romansa dewasa dengan cinta rumit antar Noah, Yelda dan William. Mau bagaimana pun Kiara memasukkan ide kedalam kisah mereka, novel itu hanya berakhir dengan sedikit pembaca. Menamatkan novel tersebut merupakan pilihan terbaik bagi Kiara, mengingat dirinya tidak akan berutang update terbaru untuk beberapa pembaca setianya. Memang sedikit disesalkan, belum lagi kisah romasa mereka berakhir menyedihkan bagi Noah yang merupakan tokoh utama pria. Bagi Kiara sendiri pun merasa itu tadi adil bagi Noah.
“Ahh, sudahlah. Ini hanya novel, kenapa aku yang harus merasa terganggu.” Mengabaikan ketidaksetujuan dirinya sendiri, Kiara pada akhirnya mengirim bab terakhir dari novelnya.
“Haah, ini sedikit melegakan, aku harap Noah memaafkanku karena membuatnya tidak bahagia.” Beranjak dari kursi kerjanya, Kiara membanting tubuhnya keatas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar miliknya. Saat ia menyebut nama Noah, itu mengingatkan dirinya pada sosok terkasihnya di masa lalu.
Noah, nama itu adalah nama dari sosok cinta pertamanya. Sosok yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Bagaimana ia menemukan ide untuk novel dengan pemeran pria atas nama Noah, tidak lain adalah cara Kiara membalas dendam pada Noah. Meski dalam tulisan sekali pun ia berharap Noah yang sebenarnya merasakan hal yang sama. Sebagaimana dirinya yang hampa setiap waktu. Sangat konyol memang, hanya karena orang yang kamu cintai tiba-tiba menghilang, aku terus-terusan menaruh dendam terhadapnya.
“Betapa ironisnya!” mengangkat tinggi tangan kanannya, seolah ada sesuatu yang akan ia gapai diatas sana. Kiara tersenyum pilu. Sekali pun ia membuat karakter Noah berakhir tidak bahagia, itu sama sekali tidak membuat dirinya baik-baik saja.
Apa jika ia mengubah takdir Noah didalam novel menjadi bahagia, kehampaannya akan sirna juga? Kiara terus bergelut dalam pikirannya, sampai tangannya jatuh terkulai karena kelelahan. Tidak akan ada yang berubah sekali pun ia berkali-kali mengubah alur takdir Noah. Noahnya yang di masa lalu tidak akan pernah datang menemuinya. Tanpa sadar setetes bulir bening jatuh membasahi pipinya. Betapa konyol dirinya yang bahkan tidak bisa melupakan cinta pertamanya itu.
“ Penulis?”
Kiara menghentikan langkahnya, saat sebuah sebutan tidak asing baginya diucapkan oleh seseorang.
“Hey, aku berbicara denganmu?”
Cengkraman kuat menahan pergelangan tangan Kiara. Ada apa ini? Sekelabat pikiran buruk pun bermunculan dibenaknya. Kiara yang terlalu asing dengan sentuhan-sentuhan intens dari orang lain, membuat ia membeku ditempat.
“Maaf, apa kita saling kenal?” mengabaikan rasa takut dan paniknya, akhirnya ia bisa mengeluarkan sepatah kata kalimat.
“Ahh, aku Nail.” Ucap dari pria yang baru saja menahan Kiara, seolah memperkenalkan diri langsung. Saat Kiara berpaling, ia berpikir bahwa matanya telah menipu dirinya. Pria didepannya saat ini tidak lebih buruk dari karakter manhwa yang biasa ia baca.
Dan ada apa dengan gaya rambut yang putih seperti uban, ahh itu silver?
“Tangan!” Bersikap dingin adalah sikap yang selalu ingin Kiara tunjukkan dihadapan orang asing dan saat ini ia telah melakukannya.
Laki-laki itu tampak terkejut dengan ekspresi dingin yang Kiara berikan. Namun itu hanya sesaat setelahnya pria itu kembali tersenyum meski itu cukup canggung.
“Ahh, maaf…” ucapnya menyesal membuat Kiara tampak kesakitan karena cengraman tangannya yang kuat.
Kiara mencoba tidak peduli tapi apa mereka saling kenal?
“Kamu penulis dari ‘Nikah Kontrak’, bukan?”
Apa-apaan ini? Bagaimana orang ini bisa tahu?
“Aku membaca novelmu, tulisanmu sangat buruk.”
Jleb!
Kiara bisa membayangkan bagaimana anak panah dengan kejam menusuk tepat didadanya, seperti yang terjadi didalam komik. Rupanya ia bertemu seorang haters yang membenci novel karyanya.
“Aku tahu tulisanku memang sangat buruk, bahkan ide dan karakternya tidak jelas, lalu apa hubungannya denganmu?” sungut Kiara tidak terima hasil jerih payah otaknya diremehkan.
“Aku ingin bekerjasama denganmu.” Ucap pria itu lagi tanpa aba-aba.
‘Apa-apaan ucapannya itu, bahkan aku belum bertanya? Huh, merepotkan! Seharusnya aku sudah berbaring dan membaca episode terbaru dari manhwa koleksiku. Aku capek, bringsek! Aku ingin sekali memakinya.’ Pikir Kiara nelangsa, wajah dan sifat pria ini sangat jauh terbalik.
“Ini kerjasama yang menguntungkan, kamu tidak akan menyesalinya kelak.” Mohon pria itu sekali lagi mencoba untuk meyakinkan Kiara.
‘Apa ia berusaha menarik perhatianku dengan uang? Ahh, uang aku menginginkannya tapi aku tidak akan melakukan kerjasama dengan prang asing dengan gaya aneh dihadapanku saat ini. Meski itu sangat disayangkan melewatkan menatap wajahnya setiap saat.’ Batin Kiara.
“Tidak tertarik!” jawab Kiara berpura-pura santai dan tidak tertarik sama sekali. Kiara mengatur mimik wajahnya tetap datar dengan kalimat singkat yang ditekan agar terlihat dingin tidak tersentuh.
“Aku tidak akan berhenti sampai kamu setuju!” pria itu tersenyum tapi jelas kalimatnya seolah menantang Kiara.
‘Kita tidak akan bertemu lagi, aku sudah berencana tidak keluar rumah untuk satu bulan kedepan. Bagaimana kamu akan meminta persetujuanku?’ jawab tegas Kiara dalam batinnya.
“Mudah, aku memiliki semua aku sosmed dan juga nomor whatsapp milikmu.” Ucap Nail seolah bisa membaca isi pikiran Kiara.
‘Apa aku mengucapkannya atau dia yang membaca isi pikiranku? Baiklah, sebaiknya aku pergi sekarang.’ Menjawab Nail lewat pikiran, radar Kiara merasa ada yang tidak beres dengan pria tampan didekatnya, ia harus segera pergi.
“Sampai jumpa lagi, aku juga akan segera pulang.” Sebelum Kiara berbalik untuk kabur, Nail telah lebih dahulu melewati dirinya.
‘Aku tidak dengar! Aku tidak dengar! Tunggu! Apa maksudnya ‘aku juga akan segera pulang?’ apa ia mempermainkanku?’ menatap punggung dari Nail yang semakin menjauh, Kiara misuh-misuh ditempat.
Dengan langkah lesuh, Kiara pada akhirnya berjalan pulang dengan pikiran yang masih mengenai pria asing yang membuatnya tampak bodoh.
“Aku terlambat, ini semua gara-gara pria aneh itu. Haah, kenapa aku jadi menyalahkannya? Tidak ada siapa pun yang bersalah, hanya salahku sendiri yang tidak bisa melakukan hal-hal luar biasa. Aku bahkan benci untuk pulang ke rumah tapi aku tetap harus kulakukan. Seandainya saja aku menyelesaikan satu novel yang bagus dan mendapat penghasilan besar pasti aku bisa melakukan tur panjang menikmati uang penghasilanku. Rumah ini terlalu menyesakkan seperti dalam buih yang gelap dan kosong.” Kiara terus berguman menyalahkan dirinya yang tidak memiliki kelebihan apa pun dalam hidupnya.
Setiap hari, ia hanya melakukan rutinitas yang sama, berangkat kerja yang bahkan merupakan pekerjaan yang tidak ia sukai sama sekali. Selesai bekerja, ia akan pulang kerumah, rumah yang tidak ada siapa pun yang akan menyambut kepulangannya.
Ting!
Biasanya itu hanya notif dari chat grup dan sangat jarang pesan chat pribadi, itu karena Kiara terlalu cuek untuk meladeni chat pribadi yang biasa masuk. Kebiasaan itu terus berulang, hingga pada akhirnya ia tidak memiliki seorang pun yang menaruh perhatian terhadapnya. Katakan saja ia tidak terlalu tertarik dengan dunia nyata, dunia dengan sekelumit masalah yang merepotkan, baginya sudah cukup dengan dunia ciptaannya sendiri. Dunia yang ia tata sendiri tanpa campur tangan orang lain. Itu pemikiran Kiara pada awalnya, sampai sosok asing itu kembali muncul dihadapan Kiara esok paginya.
“Pagi!”
Kiara menoleh sekilas memastikan pendengarannya tidak salah, masih dengan jelas ia mengingat suara pria yang menjadi teman bicara satu-satunya kemarin sore. Sosok asing yang tidak tahu malu dan menghina karyanya. Kiara tidak menyukainya, tidak, ia membencinya tapi tidak dengan wajahnya.
“Kemarin aku lupa memberi tahumu, aku tinggal disebelah rumahmu jadi sekarang kita tetangga.” Ucap Nail dengan senyum tipis menggetarkan jiwa miliknya.
Pura-pura tidak peduli, Kiara mengabaikan Nail sepenuhnya, seolah tidak ada seorang pun yang tengah berbicara dengannya saat ini.
‘Aku tidak bertanya dan aku tidak punya waktu untuk berbincang denganmu layaknya tetangga-tetangga lain yang hanya terlihat sekilas dimataku saat aku melewati pagar dan mereka kebetulan muncul, itu saja. Tahu apa kamu?’ sungut Kiara dalam hati, tidak berani menumpahkan kekesalannya pada Nail secara langsung.
Mengabaikan tatapan tidak suka Kiara untuknya, Nail membuka obrolan lain. “Berangkat kerja? Tawaranku kemarin masih terus berlaku dan aku akan menunggu jawaban ‘iya’ darimu.”
Mendengar Nail yang terus mengajaknya berbicara Kiara berpikir jika pria asing yang tiba-tiba menjadi tetangganya terlampau cerewet, jauh berbeda dari karakter pria di manhwa yang biasa ia baca.
“Hati-hati dijalan?” Nail melambaikan tangannya, layaknya anak kecil yang menonton kepergian orang tuanya berangkat kerja. Kiara tetap mengabaikan sikap ramah Nail, bagi Kiara pria asing itu hanya mencoba menarik perhatiannya untuk mempermainkan dirinya.
Dunia nyata orang-orang harus berjuang keras, seperti bangunan dihadapan Kiara saat ini yang merupakan bukti betapa kerasnya kehidupan ‘Pusat Peminjaman Dana’. Tidak peduli berapa tinggi bunga yang dibebankan mereka tetap berbondong-bondong untuk datang. Mendesah, hari membosanka kembali dimulai.
“Tumben terlambat, Ra?” Suara dari teman satu tim dipemasaran, supel dan juga cerewet sama seperti sosok asing itu, Kiara bahkan kadang lupa namanya.
“Dijalan aku dicegat kucing jadi-jadian!” balas Kiara ketus, mood yang buruk memang pemicu mulut yang berbisa.
Rena tertawa, terlihat jelas bahwa wanita itu cukup terbiasa dengan sifat Kiara yang jadi-jadian.
“Apakah ia tampan, berikan aku nomor WAnya?” Nahh kan? Entah dari mana ia tahu kucing jadi-jadian itu adalah seorang laki-laki.
“Ini bukan pertama kali kamu dicegat kucing jadi-jadian jadi jelas itu seorang laki-laki dan jangan memasang wajah berkerut seperti itu, konsumen bisa lari saat melihat wajah serammu.” Celetuk Rena masih diiringi tawa.
“Kamu menang!” ucap Kiara sekenanya dan berlalu dari hadapan Rena, menuju kursi kosong untuk ia tempati.
‘Seperti yang pria itu katakan ‘Nikah Kontrak’ adalah novel yang sedang aku tulis. Entah darimana awal mula ide itu datang. Terlalu asing dengan hubungan dan tanpa sengaja mengatakan ingin melakukan pernikahan kontrak saja. Itu pemikiran seorang penghayal seperti diriku yang berbuah menjadi bahan tertawaan selama beberapa waktu diantara rekan-rekan kerjaku. Aku ini polos atau bodoh. Entahlah, semua terucap begitu saja, kadang!’
“Hai, sudah pulang?” Laki-laki itu tersenyum menampakkan dua lesung pipi yang mempermanis senyumnya.
Glek!
‘Aku harap ini halusinasi semata, tch!’
Nail tertawa, entah apa yang lucu yang harus ia tertawakan. Melihat Kiara yang semakin memperlihatkan raut tidak suka, ia pun terdiam.
“Maaf, kamu terlihat lucu saat mendengus kesal.” Ungkapnya sedikit menyesal menertawan Kiara.
‘Aku hanya akan pura-pura tuli dan tetap mengabaikan dirinya, aku yakin ia juga sudah pergi melakukan tujuan utamanya berada di depan pagar.’ Kiara membatin dan meneruskan langkahnya tanpa sedikit pun melirik kearah Nail.
Saat ini ia telah membaringkan tubuhnya yang teramat lelah karena bekerja seharian, baginya tidak ada yang lebih baik dari kasur, tubuh yang terlalu lelah dan malas untuk tetap menghadapi kenyataan lain. Sesaat setelah ia berbaring nyaman, matanya melirik kearah sebuah benda lebar yang selama sehari belum ia sentuh.
Dibaliknya sebuah meja dan kursi tempat laptop yang akhir-akhir ini telah ia abaikan. Entah apa yang tiba-tiba membuat wanita yang terbaring nyaman itu bangkit kembali, langkah kakinya kini sampai pada objek yang sejak tadi ia tatap. Pada jendela kecil yang berada tepat disamping meja belajar tersebut, tirai merah yang tidak pernah sekalipun terbuka itu perlahan ia sentuh. Ada sesuatu yang menarik atensinya dibalik tirai lapuk yang tidak pernah terganti setelah sekian tahun terpasang. Tidak ada cerita menarik hanya bagian dari kebiasaan, sebuah kontradiksi dari sifat manusia ‘rasa malas’ yang menumpuk. Dalam satu hentakkan tirai itu tergerak diikuti debu yang kian menumpuk yang mulai bertebaran.
‘Ahh, ini buruk sepertinya ini kebiasaan buruk yang harus aku hentikan.’ Sebuah pemikiran sesaat untuk sifat malas, itu sesuatu yang sering terpikirkan, namun tetap diabaikan setiap waktu.
Jendela itu terbuka, sekarang Kiara yakin jika rumah itu kini telah berpenghuni. Sayangnya itu adalah seorang pria dengan warna rambut yang tidak biasa. Menutup kembali tirai ia berbalik dan kembali menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.
Keadaan seperti ini hanya akan membawanya lagi-lagi pada euphoria yang tidak menyenangkan. Masa lalu yang tidak menyenangkan dan kehidupan keluarga yang ambruk.
“Haah! Aku merasa akan mulai hilang akal!”
Tok! Tok!
Aku mendengar suara ketukan samar dari dari lantai pertama, Kiara mengerutkan dahi, ia tidak yakin telah mengundang seseorang. Mengabaikan rasa bingungnya, Kiara memilih bangkit untuk memastikan siapa yang telah mengganggu dirinya yang tengah beristirahat.
Ting!
‘Aku ada didepan pintu rumahmu.’
Belum ia bangkit sepenuhnya, sebuah pesan masuk menarik perhatian Kiara untuk meraih ponsel pintarnya. Setelah membaca isi pesan itu ia lebih terburu-buru untuk bergegas, sebelumnya ia mengerjabkan mata berkali-kali, Kiara berpikir jika ia salah lihat dan sekali lagi ia membaca pesan itu lamat-lamat. Tidak ada yang aneh tapi apa yang mengganggu, itu tidak lain adalah foto profil rambut perak unik dari si pria asing.
Sosok putih dengan rambut perak yang digerai acak-acakan, otak Kiara secara instan melihat gambar pada profil, sosok itu adalah bagian dari pria-pria tampan dari manga yang biasa ia baca.
“Oh, shit! aku mungkin benar-benar sudah gila….” Pikir Kiara atas apa yang ia lihat sendiri.
“Apa?” Tanya Kiara berpura-pura bertampang malas.
Jujur ia mengakui wajah pria didepannya sangat menggoda dan ia tertarik pada wajah tampan si pria rambut perak.
“Aku berencana mengajakmu makan malam bersama sebagai satu-satunya tetangga yang aku kenal.”
Mengabaikan raut wajah enggan yang diperlihatkan oleh Kiara, Nail sebisa mungkin berusaha menarik perhatian dari gadis yang tampak tidak memiliki ketertarikan terhadapnya.
“Ini tidak akan lama, aku hanya ingin berbincang sedikit denganmu sebagai pengenalan dan juga itu akan memudahkan diantara kita untuk kedepannya.”
Ia pandai berkomunikasi, sayangnya Kiara bukan orang yang mudah untuk dibujuk rayu. Pria itu terlalu misterius, jika tidak, bagaimana ia bisa dengan mudah mengetahui nomor ponselnnya? Bahkan jika itu hanya makan malam bersama biasa, Kiara tidak bisa mempercayai pria asing di depannya begitu saja. Bisa saja tampang wakahnya yang luar biasa itu hanya kedok dan dia tidak lain adalah seorang penculik psikopat.
“Aku sedikit memaksa, lho! Dan lagi kamu tidak perlu memesan makanan diluar, menghemat itu penting!” tawar pria itu lagi, kesan ramah tidak terlepas dari wajahnya.
“Terserah! Sekarang masih jam 5 jadi kamu bisa pulang dan menyiapkan makan malam yang kamu banggakan itu. Aku akan datang jika sudah saatnya.” Putus Kiara dan berbalik masuk kembali. Ia masih terlalu lelah untuk berdebat dengan pria asing itu. Sekarang ia telah tahu niatnya, ia bisa mengabaikannya nanti.
“Baiklah, aku menunggu kedatanganmu!” ucapnya setengah berteriak saat Kiara meninggalkannya begitu saja dengan pintu yang terkunci dari dalam.
Apapun tujuan pria itu, ia pasti akan bisa mengatasinya dan lagi ia berada di wilayahnya sendiri jadi ia masih percaya diri untuk menghadapi pria asing itu.
“Ahh, aku merindukan si kembar Lion dan Leon, mungkin malam ini aku harus menulis sesuatu tentang mereka.” Gumam Kiara kembali membaringkan tubuhnya keatas ranjang.
Pukul 18.30 pria asing itu kembali mengirim pesan, memintaku Kiara agar segera datang ketempatnya. Setelah sekian menit pertimbangan yang Kiara lakukan, ia pun beranjak untuk datang ke tempat si pria asing. Tidak ada salahnya menikmati makanan gritis, pikirnya. Dan disinilah dirinya, berdiri didepan pintu kayu bercat cokelat menunggu si pemilik rumah membukakan pintu untuknya.
“Maaf, menunggu lama.” Ucapnya sesaat setelah ia membuka pintu, Kiara hanya mengangguk makluk. Pria itu terlalu rajin mengucapkan kata maaf.
“Aku menyiapkan beberapa dessert untuk makanan penutup.” Ucapnya lagi dan itu membuat pria itu lebih mirip perempuan yang sangat ahli dalam urusan dapur. Ada apa dengan kata makanan penutup? Itu sedikit membuat Kiara merinding.
Langkah mereka terhenti didekat meja makan. Kiara mengerjabkan mata berkali-kali, apa hanya matanya saja yang terlalu silau atau memang meja itu benar-benar silau?
Meja itu penuh makanan mewah yang hanya bisa Kiara lihat dibalik layar sebuah film atau drama-drama yang biasa ia tonton.
Perfect!
Siapa sebenarnya si rambut perak ini? Sosoknya yang seolah begitu misterius membuat Kiara semakin kesal terhadapnya.
“Kenapa hanya berdiri disana, ayo duduk makanannya akan dingin jika tidak dinikmati sekarang?” pria itu menegur Kiara yang terlihat melamun, hal itu sentak membuyarkan lamunan Kiara. Si Perak benar-benar mengacaukan pikirannya antara dunia nyata dan manga.
“Kamu berbakat memasak atau ini adalah pekerjaan yang kamu sedang geluti?” Itu pertanyaan yang berhasil Kiara lontarkan saat ia mendudukkan pantatnya diatas kursi.
Pria itu lagi-lagi tersenyum, kali ini senyumnya sedikit jahil seolah memiliki maksud terselubung.
“Akan menjadi profesiku bila kamu menyukai masakanku, agar kamu bisa menikmatinya setiap saat.” Itu terdengar sebagai gurauan bagi yang mendengarnya, tapi tidak pada pria yang baru saja mengucapkannya.
“Yah, ini sangat enak jika kamu membuka restoran disekitar sini pasti akan sangat ramai pengunjung.” Ucapku sekenanya.
“Dan aku harap kamu mau menjadi pelanggan tetapku.” Kiara terbatuk, mungkin efek dari mendengar jawaban cepat yang pria itu katakan begitu saja. Itu tidak meyakinkan, bisa saja karena sebuah akting yang bagus. Sebuah ekspresi yang ditunjukkan seorang gadis kala makan malam dengan lawan jenisnya dengan beberapa pujian didalamnya yang ingin menunjukkan balasan dari sebuah ketertarikan.
Saat mereka tidak lagi bertukar bicara satu sama lain dengan kata lain, basa-basi diantara mereka telah cukup. Pria rambut perak yang entah siapa namanya mengisi piring dihadapan Kiara dengan satu sendok nasi. Tindakan yang akan membuat seseorang seperti tuan putri yang tengah dilayani oleh seorang buttler tampan
Mereka menyelesaikan makan malam yang terkesan ‘hmm’ romantis, entahlah Kiara bahkan ingin tertawa sekarang. Aktingnya kali ini luar biasa menggelikan.
Sesuai perkataan pria itu, ia benar-benar telah menyiapkan dessert sebagai makanan penutup.
“Silahkan dinikmati!” Ucapnya, saat mereka tengah duduk didepan sebuah TV yang layarnya masih menghitam.
Tangan-tangan terampil itu dengan lihai menata dua jenis dessert manis dihadapan Kiara. Itu terlihat menggairkan untuk dicicipi sesegera mungkin. Kiara tidak sabar untuk langsung mencomot satu, ia bahkan telah lupa tentang pikiran-pikiran negatif yang sebelumnya ia pikirkan.
“Oh, ya.. Mengenai apa yang aku ucapkan sebelumnya itu tidak main-main, aku sungguh-sungguh ingin mengajakmu untuk menyelesaikan naskah ‘Nikah Kontrak’ bersama.”
Kiara berhenti menatap kenikmatan yang tercipta dari dessert lezat dihadapannya, mata cokelatnya menoleh pada sosok Nail.
‘Sudah aku duga, tidak ada umpan yang tidak butuh mangsa.’ Batin Kiara, mengenai pemikirannya terhadap Nail.