Novelory
Happy Reading
Tepat 3 tahun setelah kepergian orang tuanya, gadis cantik berusia 19 tahun ini hidup sebatang kara tanpa ada keluarga di rumah yang ia tempati. Ia hanya menamatkan sekolah menengah atas setelah itu melalui hari-harinya dengan bekerja keras. Pagi harinya ia akan bekerja menjadi penjaga toko dan malam harinya ia bekerja sebagai pelayan di salah satu Bar ternama di kota itu.
Davina Eleanor, orang tuanya memberikan nama Davina agar kelak ia menjadi wanita yang tangguh. Dan benar, Davina sampai saat ini bisa melewati semua cobaan-cobaan dalam hidupnya dengan baik.
"Dav, mau nggak ikutan gue kerja jadi pelayan di pesta ulang tahun? Lumayan loh bayarannya. Satu juta satu malam. Biasa sih, pestanya anak orang kaya," ucap Clara, teman Davina.
"Wah, boleh tuh besok kan weekend. Daftarin aku sekalian ya Ra," sahut Davina yang sangat bersemangat.
"Nih, udah gue masukin nama lo, besok pagi jam 7 siap ya gue jemput," ujar Clara.
Clara adalah satu-satunya teman baik Davina. Pekerjaan yang mempertemukan mereka berdua yang selanjutnya menjadi teman baik. Mereka selalu berbagi pekerjaan bersama.
Biasanya di hari sabtu minggu memang Davina mencari pekerjaan-pekerjaan yang sekiranya hanya sehari dan langsung mendapat upah. Semua ia lakukan untuk membayar hutang kedua orang tuanya yang tak kunjung habis. Orang tua Davina meninggalkan hutang seratus juta. Davina baru mengetahui setelah satu tahun kematian orang tuanya, debt colector datang ke rumah untuk menagih. Saat itu, Davina masih menempuh sekolah menengah pertama dan ia benar-benar tak punya uang sepeserpun setelah orang tuanya meninggal.
Di usia yang masih sangat belia, ia harus bersekolah di pagi harinya dan bekerja di sore hari untuk melunasi hutang mereka. Hutangnya sampai sekarang belum juga lunas.
"Semangat Davina, kamu pasti bisa melewati semuanya." Itulah yang setiap hari Davina katakan ketika akan berangkat bekerja.
Hari ini adalah hari jumat, ia hanya menjaga toko setengah hari lalu biasanya Davina langsung pergi ke Bar.
Davina yang baru saja tiba, dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang menagih hutang.
"Kau mau menghindar dari kami? Bayar hutangmu sekarang juga, sudah 3 bulan kamu menunggak dan menghilang jika kami ingin menemui mu, apa kau mau kami membakar kos-kosanmu yang sempit itu?" ujar salah satu dari mereka.
"Tuan tolong jangan membuat keributan di tempat kerjaku, aku pasti akan membayar. Mari kita bicarakan di luar saja," pinta Davina pada dua orang itu.
Mereka akhirnya keluar dan membicarakan hutang. "Saya minta waktu satu bulan untuk melunasi semuanya. Saya janji akan melunasinya."
"Bos kami sudah memberikan banyak keringanan, dan ia sudah tidak bisa mentolerir lagi," ujarnya.
"Kenapa kau tak jual tubuhmu saja kepada pria hidung belang, nona. Bukankan itu akan memberikan uang yang sangat banyak," ujar pria itu meledek Davina.
Jujur saja, Davina memang gadis cantik dan tubuhnya sangat proporsional. Ia banyak digilai pria hidung belang di Bar, namun ia menjaga dirinya sampai sekarang hanya untuk suaminya. Itulah prinsipnya. Walau ia sudah lama bekerja di Bar, tak pernah terpikirkan ia akan menjual tubuhnya hanya demi uang.
Setelah beberapa kali Davina memohon, akhirnya terjadi kesepakatan di antara mereka. Davina harus membayar hutang dalam waktu lima belas hari dari sekarang, jika tidak ia akan di penjara, ancam salah satu dari mereka.
Hutang orang tua Davina sebenarnya sudah dibayar sejak tiga tahun yang lalu, bahkan Davina menyerahkan rumah satu-satunya peninggalan orang tuanya untuk membayar. Namun, tak kunjung habis dan terus bertambah karena bunganya yang cukup banyak. Davina juga sering menunggak karena terkadang uangnya tak cukup untuk membayar hutang. Hanya cukup untuk membayar uang sekolah, makan, dan kos-kosan. Maka dari itu, mereka sering memberikan bungan berlipat kepada Davina.
***
"Dav, ayok berangkat," ujar Clara.
Mereka berangkat naik angkot untuk menuju ke pesta ulang tahun. Mereka akan bekerja sebagai pelayan di sana.
Setelah sampai, Clara dan Davina diberikan seragam sama dan mulai bekerja.
Davina bertugas menjaga makanan penutup. Ia berdiri dan melayani setiap tamu yang ingin mengambil makanan. Pesta ulang tahunnya sangatlah meriah. Dari jam 11 siang sampai jam 5 sore mereka hanya berdiri sambil menjaga makanan dan minuman. Mereka hanya diberi waktu istirahat selama 2 jam untuk makan dan bekerja kembali jam 7 malam.
Siapa yang mengadakan acara pesta ulang tahun yang sangat meriah ini?
Davina terkagum melihat pesta ini yang begitu megah. Pesta diselenggarakan dari jam 11 sampai malam hari. Dan tamu yang datang tak main-main. Sangat banyak sehingga Davina hampir kelelahan melayani mereka.
"Dav, katanya yang lagi ulang tahun ini seorang perempuan yang usianya sama seperti kita, dia anak dari konglomerat terkaya di kota ini," bisik Clara pada Davina.
"Pantas saja, sangat mewah sekali," sahutnya.
Terkadang Davina sangat iri dengan kehidupan anak-anak usianya yang merayakan ulang tahun dengan sangat mewah. Ia menghambur-hamburkan uang untuk acara yang menurut Davina tak perlu semewah ini. Sedangkan Davina, di usianya sekarang ini sedangkan membutuhkan banyak uang untuk membayar hutang.
Davina melihat perempuan itu, ia dikelilingi dengan keluarga yang lengkap sambil meniup lilin dan memotong kue. "Dia sangatlah beruntung," ujar Davina.
Setelah selesai, Davina dan Clara mendapatkan upah dan akan langsung pulang. "Tunggu sebentar aku mau ke kamar mandi, dimana ya Ra?" tanya Davina.
"Gue nggak tau Dav, biasanya di belakang." ujar Clara.
Rumah konglomerat ini sangatlah luas, bahkan yang digunakan untuk menyelenggarakan pesta hanya hall rumahnya, belum masuk ke dalam rumah.
Di tengah pencariannya, Davina melihat seorang perempuan yang tengah terjatuh karena didorong seorang laki-laki. Davina menghampirinya.
"Kau benar-benar tak tau cara memperlakukan seorang perempuan dengan baik, bagaimana bisa kamu mendorongnya?" teriak Davina.
"Jangan ikut campur," ucap lelaki itu.
"Roon, aku mohon jangan, aku nggak mau putus," ucap perempuan yang sedang dibantu Davina.
"Apa? mereka sepasang kekasih yang sedang putus? Bodohnya aku seharusnya tak ikut campur?" rutuk Davina dalam hati.
"Maaf tak seharusnya aku ikut campur, tetapi...... jika dia benar-benar mencintaimu, ia tak akan memperlakukanmu seperti ini, bangunlah nona," ujar Davina.
Seperti memberi kekuatan, nona itu berdiri dan memperhatikan Davina.
"Jangan pernah temui aku lagi Alena dan kita putus." Lelaki itu langsung pergi dan meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu, bukankah ini perempuan yang sedang merayakan ulang tahun tadi?" batin Davina.
Bersambung
Happy Reading
"Terima kasih sudah menolongku, tetapi jangan katakan kepada siapa-siapa mengenai kejadian ini," pintanya.
Davina hanya mengangguk. "Iya baiklah. Aku tak akan bilang siapa-siapa."
"Namaku, Alena Carlton, kau bisa memanggilku Alena atau Lena. Kau siapa?" tanyanya sambil mengulurkan tangan..
"Saya Davina, anda bisa memanggilku Dav atau Davina," ucap Davina menerima uluran tangan Alena.
"Dav," panggil seseorang yang tidak lain adalah Clara.
"Baiklah aku pergi, semoga kita bisa bertemu lagi Davina," pamit Alena.
"Tunggu, kamar mandi dimana nona?" tanya Davina sebelum Alena pergi.
Alena menunjuk ke arah belakang, lalu pergi.
"Dav, ya ampun lama banget sampai setengah jam, gimana ketemu?" tanya Clara.
"Di sana, sebentar ya Ra."
"Tadi ngomong sama siapa Dav?" tanya Clara.
"Sama tadi siapa ya lupa namanya," ucap Davina yang melupakan nama Alena.
"Kamu kebiasaan deh, makanya diingat-ingan nama orang itu," ujar Clara.
"Dia yang punya pesta Ra, ternyata orangnya baik dan tidak sombong. Kukira semua anak orang kaya akan sombong ketika bertemu dengan yang bukan sederajat dengannya," ucap Davina.
"Tak semua orang seperti itu, Dav. Ada juga kok yang baik, tapi mungkin kau hanya bertemu orang kaya yang sombong jadi tak tau."
Davina hanya mengiyakan ucapan Clara. Hari yang lelah ini telah usai dan saatnya mereka kembali ke rumah masing-masing.
***
Pagi ini Davina bersyukur karena masih diberi waktu istirahat. Minggu pagi, biasanya Davina akan berbelanja kebutuhannya selama satu minggu. Ia pergi ke pasar terdekat. Davina lebih memilih untuk makan masakannya sendiri daripada harus membeli karena menurutnya lebih hemat.
"Sayuran sudah, minyak, kecap, tempe, kukira semuanya sudah, saatnya pulang."
Ia selalu bersyukur karena masih diberikan uang untuk makan. Davina pulang dari pasar dan menata semua bahan makanan kemudian memasak. Ia lalu mengecek ponselnya.
Ada 3 pesan masuk. Dari Clara, Pacarnya, dan pemilik Bar.
Clara...
Nanti aku jemput pakai motor Dav, gue baru aja beli. Kita jalan-jalan. Gue traktir eh buah.
my love vonso....
Bby, nanti malam kerja? Kalau nggak mau ku ajak jalan,
Mr. Bobby...
Dav, nanti malam datang, ada tamu VIP nih, lumayan uang tipnya.
Davina membalas semua pesan satu persatu. Dia masih beruntung dikelilingi orang-orang yang peduli dengannya. Walau hanya sedikit setidaknya masih ada.
****
Di rumah sakit Analiz, seorang dokter muda, tampan, dan berbakat sedang menyibukkan diri mengurus puluhan pasien.
"Dok, hari ini jadwal pemeriksaan pasien atas nama Mira. Ia meminta untuk di dahulukan" ujar suster.
"Tidak ada yang perlu didahulukan, kalau mau diperiksa harus antri sesuai urutan," sahut dokter.
Suster memberitahu pasien, lalu kembali lagi ke dokter. "Dok, katanya pasien ini mengenal anda sangat dekat, ia kekeh meminta untuk didahulukan."
Dokter menghela napas kasar. "Suruh masuk akan ku beritahu sendiri."
Masuklah pasien yang bernama Mira ke ruang dokter itu.
Dokter itu membelalakkan matanya. "Hannah?"
"Xavier.... tega sekali kau menolak ku," ucapnya manja.
"Sayang, aku tidak tau jika itu kamu. Kenapa tidak bilang kalau ingin datang?" tanya Xavier.
"Apakah aku harus bilang dulu kalau ingin datang ke tempat kerja pacarku?" Perempuan bernama Hanna memeluk Xavier erat seolah tak lama jumpa beberapa tahun.
Xavier Carlton atau biasa dipanggil dokter Xavier adalah dokter di rumah sakit Analiz. Umurnya baru menginjak 27 tahun, namun pendidikan dan pencapaiannya sangat luar biasa.
Wanita beruntung yang menjadi kekasih Xavier adalah Hannah. Seorang model yang berkarir di Amerika Serikat. Mereka baru mejalani hubungan satu tahun.
"Ayo, kita keluar," ajar Hannah.
"Sayang, aku masih banyak pasien yang ingin berkonsultasi. Tunggu 2-3 jam lagi oke," pinta Xavier.
"Apa? menunggu selama itu? Sepertinya kau tidak merindukan aku," ujar Hannah terlihat kecewa.
"Tentu aku sangatlah merindukan kekasihku ini, tapi aku tidak bisa meninggalkan kewajiban ku."
"Aku tunggu di apartemenku saja, setelah selesai datanglah ke sana,"
Cup...
Hanna mencium bibir Xavier dihadapan suster. Xavier merasa malu dan tak membalas ciuman kekasihnya itu. "Hannah."
"Bye, Xavier sayang. See you nanti malam," ucap Hanna dengan nada menggoda.
***
Saat ini Davina dan Clara sedang bersama mengendarai motor baru Clara. Setelah jalan-jalan mengelilingi kota, Davina meminta untuk diantarkan ke Bar saja.
"Ini kan masih hari minggu Dav, kenapa menerima tawaran dari bos?" tanya Clara.
"Lumayan Ra, katanya tamunya VIP gitu, selain dapet gaji lebur dari Boss pasti kuga dapat uang tip dari orang itu," ujar Davina.
Memang sekarang yang dipikirkan Davina hanya uang-uang dan uang. Bukan karena gila uang, namun Davina memang perlu uang agar bisa hidup bebas tanpa dikejar-kejar oleh bedt colector.
"Sudah sampai Dav,"
"Oke, aku turun. Kamu hati-hati di jalan ya Ra, terima kasih atas tumpangannya."
"Sama-sama Dav, good luck deh. Gue mau kencan dulu, bye."
Clara melajukan motornya menjauhi Bar, sedangkan Davina pergi masuk dan mulai bersiap-siap.
"Kalian sudah siap semuanya? Nanti malam jangan sampai membuat kesalahan. Kamu Davina, ini pertama kalinya kamu melayani tamu VIP, jangan buat masalah," ujar Mr Bobby.
Davina mengangguk.
***
Sementara itu, sepasang muda-mudi sedang bermesraan di dalam apartemen. Sang wanita yang seperti risih dicium namun tak menolak keras sehingga si pria masih terus menikmatinya.
"Hannah, aku tau kau tak akan menolak ciumanku ini. Apa kau merindukannya?" tanya si pria.
Si wanita masih tetap diam tanpa ada kata yang terlontar dari bibirnya.
"Kau ingin lebih Hannah? Kau pasti sangat merindukanku aku tau itu," lanjutnya.
Mereka berdua sama-sama terhanyut dengan kenikmatan masing-masing hingga sekarang beralih bukan lagi sekedar ciuman namun l*m*tan.
Tak sadar aktivitas mereka sedang dilihat oleh orang lain, mereka meneruskannya lebih dan lebih, hingga akhirnya.....
Prang.....
Seorang pria menjatuhkan vas bunga dengan sengaja.
"Xavier?" pekik Hannah yang langsung memungut pakaiannya di lantai.
Bersambung
Happy Reading
"Xavier, " Pekik Hannah.
"Hei, bro aku tak tau kau ada di sini, kalau pun tau aku...." ucap Pria itu terpotong.
"Glen hentikan," tukas Hannah.
"Xavier aku bisa jelaskan semua ini, ini bukan seperti yang kamu pikirkan," ujar Hannah.
"Memangnya apa yang sedang aku pikirkan, Hannah?" tanya Xavier sinis, bisa-bisanya ia kecolongan dan melihat kekasihnya bermain-main di depan matanya.
"Aku dan Glen kita hanya berteman," ujarnya.
"Berteman? Teman tidur maksudmu?"
"Untung aku tiba di sini lebih awal. Jika tidak mungkin aku akan menjadi lelaki bodoh sampai kebusukan kalian terbongkar," ucap Xavier.
"Kebusukan apa dude? Kami bahkan tak berbuat kriminal, hanya menikmati satu sama lain bukan paksaan, bukan begitu Hannah," sahut Glen.
"Glen kumohon, diam," teriak Hannah.
"Sudahlah teruskan kegiatan kalian, aku tak akan mengganggu. Hannah mulai sekarang kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Aku memutuskan hubungan denganmu."
Xavier beranjak pergi dari apartemen Hannah. Sebenarnya ia masih ada beberapa pasien, namun demi kekasihnya agar tak menunggu lama, ia mengalihkan semua pasiennya kepada temannya. Alhasil, ia pulang cepat dan langsung menuju ke apartemen Hannah.
Ia tak menyangka akan seperti ini. Dulu sebelum memiliki kekasih, Xavier memang sering bergonta-ganti teman tidur. Namun, itu dilakukannya saat tak memiliki kekasih. Jika ia memiliki kekasih ia akan setia dengan satu wanita saja.
"Sial.... Bisa-bisanya mereka membodohi seorang Xavier," rutuknya dalam hati.
Tak tahan dengan kebodohannya, Xavier memutuskan untuk pergi ke bar dan menenangkan pikirannya. Ia juga menghubungi teman-temannya untuk menemani minum.
"Bro... tumben jam segini datang, bukannya lo masih ada pasien?" tanya Frans, teman Xavier.
"Kasih gue," pinta Xavier pada temannya untuk menuangkan minuman di gelasnya.
Ia segera meneguk satu gelas penuh itu. Merasa tak puas, Xavier meminum botol kedua. Ketika akan meminta untuk ketiga kalinya, Frans menghentikannya.
"Bro nggak biasanya lo kayak gini, bukannya lo anti banget ya sama minuman kayak gini, paling lo bakalan minum kalo frustasi dan yang gue inget dua tahun lalu,"
"Tunggu, lo lagi frustasi bro?" tanya Frans.
Xavier menganggukkan kepalanya. Frans benar jika Xavier memang anti mabok, ia akan mabok hanya jika kepepet. Atau jika ia memiliki masalah yang dirasa berat untuk dihadapinya.
***
"Siapa wanita itu? kita tak pernah melihatnya?" ujar lelaki itu memperhatikan Davina yang sedang mengambil minum dan melayani para tami VIP.
"Benar mungkin baru, cantik sekali mari kita sewa dia."
Davina yang sedari tadi hanya menuangkan minum dan mengantarnya ke tamu-tamu sedang tak sadar diperhatikan dua lelaki itu. Ia tersenyum manis kepada setiap tamu-tamu yang datang.
"Aku akan tanya Bobby dan bernegosiasi untuk wanita itu, kau dekati saja dia," ujarnya.
Lelaki itu akhirnya mendekati Davina.
"Hai, cantik,"
Davina menoleh kepada orang yang memanggilnya. Ia terkejut ketika melihat wajahnya. "Bukankah orang ini yang aku temui di pesta ulang tahun beberapa hari yang lalu..... Oh yang kasar dengan wanita itu," batin Davina sambil mengingat-ingat.
"Hai, kita sepertinya pernah bertemu," ujar Aroon.
Ya, ia adalah mantan kekasih Alena. Davina mengenal wajahnya namun lupa namanya.
"Oh, ini lelaki yang kasar....." ucapnya terpotong.
"Kau...." tunjuk Aroon pada Davina.
Sementara itu......
"Ayolah, gue kasih penawaran paling tinggi buat dapetin dia," ujar Ken.
"Ini bukan soal uang berapa yang akan kau bayarkan padaku tuan Ken."
"Lalu apa? Wanita itu bekerja di sini kalau tidak untuk menjual dirinya lalu untuk apa Bob."
Ia tak menyerah berbicara dengan Bobby untuk menyewa Davina.
"Dia bukan wanita untuk disewa tuan Ken, dia bekerja sebagai pelayan atau waiters di bar ini, saya tidak bisa memutuskan," ujar Bobby.
"Bujuklah dia, kau kan bos dia atau kau ingin barmu ini bangkrut dan ditutup paksa olehku?" ancam Ken.
"Baiklah tuan, saya tidak melarang, kau bicara langsung saja dengannya atur kesepakatan dengannya. Jangan bawa-bawa bisnisku," ujar Bobby lalu pergi.
****
"Kita bertemu lagi di sini," ujarnya
"Ternyata kau juga bekerja sebagai penjual diri ya, aku tidak mengira," ketus Aroon.
"Jaga bicara anda tuan, aku tidak pernah menjual diriku sendiri," ujar Davina dan akan beranjak pergi namun tangannya dicekal oleh Aroon.
"Tunggu sebentar nona, aku tau kau sedang butuh uang makanya sampai bekerja di bar dan menjual dirimu sendiri, jangan jual mahal, aku taksir tubuhmu ini hanya 20 juta permalam, karena sudah pernah bergonta-ganti pasangan tidur," remeh Aroon pada Davina.
"Ternyata benar aku menilai mu saat pertama bertemu. Kau laki-laki kasar, tak berpendidikan, dan juga tak punya pemikiran positif dalam otak anda, " ucap Davina tak terima dengan hinaan yang diberikan untuknya.
"Apa kau bilang? bisa-bisanya kau menghinaku, sini kau gadis murahan..." Aroon menarik tangan Davina kasar. Namun ia memberontak.
"Lepaskan saya, atau saya panggil sekuriti untuk mengusir kamu," ujar Davina.
"Hahahaa.... tidak ada yang berani melawanku nona, lebih baik kau ikut saja denganku ku berikan kau kenikmatan malam ini." Aroon dengan tak berperasaan masih saja terus menarik hingga akhirnya.....
Plak...... Aroon mendapat sebuah tamparan keras dari Davina di pipi kanannya.
Aroon mengangkat wajahnya sambil memegang pipi kanannya dan terlihat raut wajah emosi. Praakkk....... Aron tidak terima dan membanting meja lalu mendorong tubuh Davina hingga tubuhnya terbanting di lantai keras bar itu.
"Auhhh.... Sakit sekali ya Tuhan..... " Davina memegangi tangannya seperti ingin patah.
"Berani-beraninya kau gadis murahan menamparku," marah Aroon.
"Hei sudah Roon...." ujar Ken yang baru saja tiba.
"Dia menamparku lihat ini," kata Aroon sambil memperlihatkan bekas merah tamparan dari Davina.
"Apa benar Davina? Kau menampar tamu VIP ku?" tanya Bobby.
Kini mereka menjadi tontonan semua orang di dalam bar. Davina yang ditanya bossnya kini merasa takut. Ia kemudian mengangguk mengakui kesalahannya.
Bersambung