Novelory

Imamku Gus Zaki
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Eliza Zaskia kini berdiri di depan cermin sambil merias wajahnya yang cantik, tidak lupa Eliza mengkriting rambutnya yang kecoklatan itu, hingga membuat rambutnya kini bergelombang. Eliza membuka lemarinya yang penuh baju kekurangan bahan.

"Enaknya pakai baju apa ya?" batin Eliza.

"Nah, pakai baju ini saja," Eliza mengambil baju berwarna nafi dengan model baju yang memperlihatkan punggungnya itu.

"Ronal pasti akan memujiku cantik," batin Eliza yang tersenyum melihat dirinya sendiri di depan cermin.

"Ma Pa, Eliza pergi dulu ya sama Ronal," ucap Eliza yang berhasil membuat mama dan papanya terkejut.

"Di rumah saja Za, kamu kalau keluar dengan Ronal mesti larut malam. Kamu itu perempuan jaga dirimu, jangan sampai Ronal memanfaatkanmu. Kamu harus sadar Za, Ronal itu anak yang nakal dan membawa pengaruh buruk dalam hidupmu," ucap papanya Eliza.

"Tidak Pa Eliza itu hanya pergi dengan Ronal ke tempat biasanya, nanti janji Eliza akan pulang tidak sampai larut malam."

Tin

Suara klakson mobil dari luar sudah ditebak bahwa itu adalah Ronal. Eliza sangat senang saat Ronal keluar dari mobil dan menjemputnya, mama dan papanya Eliza melihat kehadiran Ronal sangat marah, namun mau bagaimana lagi anaknya memang sudah dibutakan oleh cintanya Ronal.

"Iya udah ma pa Eliza pergi dulu."

Ronal pun menunggu Eliza di depan rumah tanpa menyalimi papa dan mamanya Eliza, sungguh itu yang membuat papa dan Mama Eliza tidak menyukai Ronal.

Ronal adalah anak yang tidak tahu sopan santun, dia anak dari seseorang kolongmerat yang suka menghamburkan-hamburkan uang.

Ronal malah tersenyum dan memandang remeh kedua orang tua Eliza, Eliza mendekati Ronal setelah itu Ronal tersenyum pada Eliza dan membukakan pintu mobilnya. Ronal dan Eliza pun akhirnya menuju ke klub malam, Ronal menatap Eliza yang kini terlihat sangat cantik.

"Sayang kamu sangat cantik ya hari ini," ucap Ronal

"Emangnya aku hari-hari biasanya nggak cantik ya, kok baru kali ini aku kelihatan cantik."

"Tidaklah, kamu setiap hari selalu cantik kok dimataku," ucap Ronal dengan mencubit pipi kanannya Aliza.

Papa dan mama ya Eliza kini khawatir jika anaknya sudah terjerumus oleh pengaruh dari Ronal, papanya memiliki ide agar anaknya tidak lagi dekat dengan Ronal lagi.

"Mama anak kita sudah keterlaluan dia sudah melampaui batas, kita tidak boleh lemah untuk mengajari anak kita mama. Bagaimanapun juga dia harus berperilaku dengan baik dan dia harus menjauh dari Ronal yang selalu membawa pengaruh buruk itu.”

"Tapi bagaimana pa caranya kita kan tahu sendiri bahwa Eliza itu sangat mencintai Ronal."

"Tenang mah, papa memiliki rencana yang sangat bagus, papa yakin rencana ini akan membuat Eliza menjadi lebih baik."

"Bagaimana caranya?"

"Rencana untuk membawa Eliza ke pondok pesantren, tapi Eliza tidak akan mau jika dia tidak ada alasan yang membuat dia ke pondok pesantren. Jadi, papa akan berpura-pura sakit stroke, oleh karena itu Eliza akan mau menuruti keinginan papa, bagaimana mah apakah setuju dengan cara ini?"

"Dengan cara memasukkannya ke pondok pesantren."

"Iya mah benar sekali, papa akan bekerja sama dan minta tolong kepada teman papa dia adalah seorang ustadz dan pemilik dari pondok pesantren, saya yakin bahwa anak kita akan lebih baik lagi setelah mondok di pesantren itu."

"Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, papa dan mamanya Elisa kini sudah bersiap melakukan sebuah rencana. Papa dan mamanya Elisa kini sedang menunggu Eliza di ruang tamu, beberapa menit kemudian terdengar suara mobilnya Ronal.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu langsung dibuka oleh mamanya Eliza, Liza pun terkejut biasanya yang membukakan pintu itu adalah pembantunya, namun mamanya Eliza kini terlihat sangat sedih dan menangis.

Eliza pun terkejut dan heran melihat raut wajah mamanya yang bersedih sangat ini. Ronal yang kini berada di samping Eliza menggandeng tangannya Eliza dan juga ikut terheran kenapa mamanya Elisa nampak sedih.

"Mama kenapa menangis," tanya Eliza yang kini terheran dengan raut wajah mamanya.

"Eliza dengarkan baik-baik, ayahmu tadi terkena stroke kamu harus segera melihat keadaan papamu sekarang, sepertinya dia sangat membutuhkanmu," ucap mamanya Eliza dengan meneteskan air mata.

Eliza pun terkejut ia berlari menuju kamar papanya terlihat papanya terbaring lemah dan wajahnya terlihat pucat, Eliza pun menangis sejadi-jadinya sedangkan Ronal juga ikut masuk ke dalam kamarnya papanya Eliza.

"Rencana hampir berhasil," batin papanya Elisa.

"Papa ... apa yang sebenarnya terjadi, maafkan Eliza sudah membuat papa sakit, papa sakit karena terlalu memikirkan Eliza kan," ucap Eliza dengan meneteskan air matanya, Ronal pun segera menenangkan Eliza yang kini sangat sangat bersedih.

"Papa hanya terlalu memikirkan keadaanmu yang semakin hari semakin parah dan buruk, papa hanya ingin kamu menjadi seorang wanita yang baik-baik, papa juga tidak tahu bagaimana lagi caranya agar kamu menjadi seorang wanita yang menjaga kesucianmu."

"Maksudnya bagaimana papa, apapun itu Eliza akan lakukan asalkan papa harus sembuh ... maafkan Eliza."

"Papa hanya meminta satu hal, tolong ... menjauhlah dari Ronal dia tidak baik untukmu dia selalu mengajakmu keluar malam dan papa sangat membenci itu."

Eliza pun menatap Ronal yang kini berada disampingnya juga," Kamu menjauhlah dariku cepat sayang, kamu sekarang berdirilah di ruangan tamu jangan dekat-dekat sama aku Ronal, dengarkan ayahku ini. Paham kan!"

Ronal pun ikut panik tanpa disadari dia menuruti perkataan dari Eliza, papanya Elisa sangat kesal ternyata anaknya benar-benar tidak memahami maksud dari ucapannya.

"Bukan seperti itu Nak, maksud papa kamu itu harus segera lah putus dengan Ronal, bukan malah menyuruh Ronal berdiri di ruang tamu, tapi untuk selamanya kamu nggak boleh lagi dengan dia."

"Itu artinya putus, tapi aku sangat mencintainya, aku tidak bisa hidup jika tidak bersama Ronal."

"Aduh kepala papa malah makin sakit," ucap bapaknya Eliza dengan memegang kepalanya dari berhasil membuat Eliza panik dan mamanya kini juga ikut khawatir.

"Lalu harus bagaimana lagi ? Aku sangat mencintai dia Pa. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan papa aku masih ingin menghabiskan uangmu Pa."

"Dasar anak ini ya benar-benar tidak tahu diuntung, jika kamu anak ikan mungkin aku akan mengatakan itu dan kota ini akan menjadi danau toba,” batin papanya dengan menahan kesal.

"Gini aja nak, papa memiliki satu permintaan supaya kamu lebih baik, dan kamu tidak akan kehilangan papa kan. Kalau kamu nakal lagi, papa itu akan pusing dan penyakit papa akan kambuh lagi, jadi papa berharap kamu bisa berlaku baik, papa memiliki satu permintaan yaitu kamu harus mondok di pondok pesantren selama 1 tahun dan papa berharap kamu berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi lagi.”

“Apa? Itu tidak mungkin, aku tidak suka dengannya pondok pesantren, aku hanya ingin kebebasan Pa."

"Iya udah kalau kamu nggak mau biarkan papa ini mati saja.”

"Jangan ... yaudah aku mau Pa pergi ke pondok pesantren."

Ronal pun mengerutkan dahinya, yang diucapkan papanya Eliza membuat Ronal semakin kesal. Padahal dalam hati Ronal ingin melihat ayah dan ibunya Eliza agar cepat mati, biar Ronal bisa hidup bersama dengan Eliza.

"Sayang, aku pulang dulu ya," ucap Ronal.

"Iya Ron, kamu hati-hati ya. Doakan papaku cepat sembuh juga. Meskipun aku di pondok pesantren tapi aku akan menenuimu , aku gak bisa jauh darimu sayang."

"Aduh ... kepalaku malah semakin sakit, kenapa Ronal gak pulang-pulang," rintih Papanya Eliza.

Ronal pun mengeram kesal lalu tanpa pamit, Ronal langsung pergi begitu saja. Eliza masih setia menemani papanya dan ibunya kini juga berada di samping Eliza.

"Kamu besok akan ke pondok pesantren ya Za," ucap Ibunya Eliza yang mengelus rambutnya Eliza.

"Iya Ma, tapi apa Eliza akan betah jika tinggal di pondok pesantren," ucap Eliza yang kini sedih.

"Haduh kepala papa malah semakin pusing, jika Eliza gak betah di pondok pesantren," ucap papanya Eliza yang berpura-pura itu.

"Ya deh, Eliza akan betah kok Pa. Sudah pa jangan sakit lagi."

Eliza pun kini masuk ke dalam kamarnya, Eliza menghela napasnya. Ingin sekali Eliza menolak keinginan papanya itu, tapi Eliza takut jika penyakit papanya malah semakin kambuh. Eliza meneteskan air matanya, hatinya sangat berat karena besok tidak akan bertemu dengan Ronal.

"Sayang, maafkan aku ya tidak bisa menolak keinginan papaku," ucap Eliza yang kini mengirim pesan pada Ronal.

Ronal pun hanya melihat isi pesan dari Eliza, Eliza pun hanya menghela napasnya. Namun tiba-tiba saja, Ronal menelponnya dengan cepat Eliza langsung mengangkatnya.

"Halo sayang," ucap Ronal.

"Sayang, maafkan aku ya."

"Iya sayang gak papa kok, kamu juga butuh ilmu agama. Tapi kita harus bertemu ya."

"Iya sayang, aku akan mengusahakannya, terima kasih sudah mengerti."

"Kamu tidur Za sudah malam, selamat tidur Tuan Putriku."

"Selamat tidur juga sayang ...."

Ronal mematikan teleponnya itu lalu menggenggam teleponnya itu dengan erat, Ronal hanya bisa menghela napasnya dengan gusar. Padahal Ronal juga tidak ingin Eliza ke pondok pesantren.

***

Keesokan paginya Eliza bangun jam sembilan pagi, itu sudah kebiasaan Eliza bangun ke siangan. Eliza tidak pernah sholat dan membaca Al-Qur'an, padahal orang tuanya Eliza sudah menyuruhnya.

"Ya ampun Eliza ... kamu bangunnya kok siang amat sih, kamu itu muslim dan punya kewajiban untuk sholat. Memasukanmu di pondok pesantren itu adalah pilihan yang tepat, agar kamu terbimbing, nanti sore kita akan ke pondok pesantren. Mama pagi ini akan membelikanmu baju gamis buat di sana."

"Haduh Ma ... Eliza ngantuk, yaudah mama pergi sana cari gamis. Tapi percuma saja Eliza gak akan memakainya."

"Kenapa tidak? Itu harus kamu pakai saat di pondok pesantren, masak kamu pakai baju mini seperti di club malam aja, ini beda Za kamu akan masuk di pondok pesantren."

"Ya ya, gitu aja berisik mama ini, kupingku jadi panas."

Eliza pun kini mengeluarkan rokoknya dan mulai menyelakan api, Eliza menikmati rokok itu dan menghisanya lalu mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya. Eliza sudah kebiasaan merokok sejak pertama mengenal Ronal, Ronal lah yang mengajari Eliza merokok. Mamanya Eliza kini datang dengan membawa tas yang berisi banyak baju gamis.

Ceklek

Mamanya membuka kamar Eliza, lalu mendapati anaknya yang kini sedang merokok, mamanya langsung mendekati dan merebut rokok itu, mama Ekiza langsung mematikan rokok itu dengan cara diinjak-injak.

"Kamu kenapa sih Za, masih terus ngerokok?" tanya mamanya Eliza dengan marah.

Aku gak bentah ma kalau gak ngerokok."

"Sudah jangan ngerokok lagi, habis ini kamu akan di pondok pesantren. Di peraturannya tidak boleh merokok. Paham!" mamanya Eliza langsung merampas rokoknya Eliza.

"Aku janji gak ngerokok lagi, tapi kembalilah rokok itu ma, itu adalah rokoknya Ronal."

"Ronal lagi Ronal lagi, kenapa kamu sangat tergantung pada Ronal sih Za, dia itu hanya membawa hak negatif dalam dirimu sendiri."

"Aku mencintainya Ma, dan rokok itu adalah pemberian dari orang yang kucintai, apa salahnya menerima pemberian Ronal," ucap Eliza yang kini matanya berkaca-kaca.

"Sudahlah, Mama gak mau berikan. Ayo kamu harus coba baju gamis ini."

Eliza menatap nanar baju gamis yang kini ada di tangan mamanya itu. Baju gamis yang berwarna pink muda polos dan tertutup, terlihat panas dan tidak bebas.

"Baju apaan itu kayak emak-emak kalau aku pakai baju itu," ucap Eliza.

"Sudah Za, ayo pakai bajunya kalau kamu gak mau coba, mama akan beritahu papamu."

"Iya-iya ma."

Eliza kini memakai baju gamis itu, mamanya terkagum melihat anaknya yang sangat cantik dan tertutup itu, mamanya kini mengambil kerudung pashmina warna senada dengan gamisnya, Eliza pun memakai kerudungnya asal-asalan.

"Ehh ... kok gitu sih Nak pakainya, sini biar mama yang pakaikan."

"Aduh, ribut amat sih ma," kesal Eliza.

"Nah gini dong cantik, lihatlah di cermin kamu sangatlah cantik. Wanita yang cantik sebenarnya bukan dari wajahnya saja Nak, tapi juga harus diimbangi dengan akhlak yang baik dan ilmu agama yang baik. Makanya mama dan papa ingin kamu berubah menjadi wanita cantik dan sholeh."

"Sudah ma, aku gerah banget nih," Eliza melepaskan semua kerudung dan baju gamisnya di depan mamanya itu.

"Astaghfirullah," batin mamanya yang kini mengelus dada.

Eliza berdecak kesal saat ini, dari tadi pagi tidak ada pesan dari Ronal. Eliza pun benar-benar sangat malas, dan saat hampir memejamkan matanya ada panggilan masuk dari Ronal.

"Sayang, kenapa kamu baru ngabarib aku?" tanya Eliza.

"Maaf sayang, tadi aku ikut balapan sama teman-teman. Ohh ya kapan kamu masuk ke pondok pesantren?"

"Nanti sore aku berangkat, Ronal aku gak mau pergi ke sana. Kamu cepat datang kesini lalu culik aku."

"Hahaha, kamu kok lucu banget sih yang, ya gak boleh gitu dong. Kamu jangan resah ya, meskipun kita jarang ketemu pasti aku akan selalu ada untukmu."

"Eliza, ayo makan dulu," teriak mamanya.

"Yaudah sayang, nanti kita sambung lagi ya," ucap Eliza.

"Iya sayang, selamat makan. Udah jangan nanggis lagi," ucap Ronal yang kini terkekeh.

"Kamu itu ya sama jahatnya kalau kamu tertawa."

"Maaf sayang."

Eliza kini bersiap untuk turun dan makan bersama dengan keluarganya, papanya Eliza kini terkejut melihat anaknya sudah memakai baju gamis tapi tidak memakai kerudung.

"Loh Nak, kerudungnu mana kok gak dipakai?"

"Gerah pa, gini aja."

"Gak boleh, ke pondok pesantren itu wajib hukumnya pakai kerudung."

"Iya nanti setelah makan Eliza pakai," kesal Eliza yang kini memakan makanannya dengan raut marah.

Setelah makan Eliza dan keluarganya akan pergi ke pondok pesantren Al-Fatah. Pondok pesantren yang cukup terkenal di daerah ini, kualitas dari pondok pesantren itu tidak perlu diragukan lagi, banyak santrinya yang lulus menjadi sukses dan paham ilmu agama.

Eliza masih terdiam saat mobil sudah berhenti di depan pondok. Eliza menatap aneh pondok pesantren itu, terlihat banyak anak yang duduk santai sambil membaca Al Qur'an.

"Ayo Za, keluar dari mobil!" perintah papanya.

Eliza terpaksa turun lalu mengikuti kedua orang tuanya ke pemilik pondok pesantren itu, Eliza hanya menghembuskan napasnya dengan gusar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.

"Assalamualaikum," ucap papanya.

"Walaikumsalam," balas pemilik pondok yang terlihat seumuran dengan papanya itu kini tersenyum.

Eliza dan keluarganya kini masuk ke dalam rumah pemilik pondok pesantren tersebut, banyak foto tulisan Al-Qur'an dan Ka'bah lalu ada foto pemilik pondok pesantren itu dengan istri dan anaknya. Eliza menatap foto laki-laki yang tampan itu, tapi bagi Eliza lelaki tampan adalah Ronal.

"Pak Ahmad, jadi gini saya mau menitipkan anakku di pondok pesantren ini. Kami berharap semoga anak kami ini mendapatkan hidayah, biar gak nakal terus Pak, kalau lihat anak nakal saya sering sakit-sakitan."

"Ohh ya Pak Hendra, santai aja kita kan sudah sahabatan sejak kecil. Anak Pak Hendra sudah saya anggap anak saya juga."

Eliza pun hanya tersenyum tipis lalu membuang mukanya ke sembarang arah.

"Jadi apa saja ya Pak peraturan pondok pesantren ini?"

"Eliza harus bangun pagi jam tiga untuk melakukan sholat tahajud bersama lalu setelah itu sholat subuh bersama. Dan mengikuti pembelajaran bahasa Inggris di waktu pagi, jam tujuh Eliza makan pagi bersama teman lainnya, jam 8 ngaji kitab sampai jam 10 lalu istirahat sampai jam 1. Dan jam 1 sholat jamaah dhuhur jam 3 Eliza harus mandi, sholat dan makan bersama lagi, lalu sholat magrib berjamaah dan ngaji kitab lagi. Selesai kegiatan pondok pukul 10 malam, di pondok pesantren ini gak boleh bawa hp."

"Dengar Eliza, apa yang dibicarakan oleh ustadz Achmad tadi," bisik papanya Eliza yang kini terkejut bukan main melihat anaknya malah tertidur.

"Eliza bangun," teriak papanya yang kini kesal sambil menepuk jidatnya.

"Ehh iya ustadz," jawab Eliza yang gelagapan dan mengusap air liur.

"Kamu jangan malu-maluin papa dong," kesal papanya.

"Haduh, habis banyak banget peraturan pa, sampai bikin Eliza ngantuk kan."

"Jaga sikapmu Eliza, yang sopan sama Pak Ustadz. Kalau kamu masih tidak sopan lagi, papa akan mengusirmu dari rumah dan membiarkanmu tidur di bawah kolom jembatan. Mau?"

"Gak pa, maaf ...."

"Minta maaf sama Pak Ustadz Ahmad!" perintah ayahnya.

"Ustadz maafkan saya ya, gara-gara ustadz saya jadi dimarahi papa saya kan. Tapi saya yang dituduh bersalah disini," ucap Eliza dengan santai.

"Dasar anak laknat," umpat papanya Eliza yang kini berdecak kesal.

"Maafkan akan kami Pak Ahmad, dia memang tidak tahu sopan santun."

"Iya gak papa kok, ini saya beri isi peraturannya biar kamu baca nanti."

"Iya ustadz, kenapa gak dari tadi aja sih."

"Kamu kok gak sopan banget sih Za," kesal mamanya yang melototi Eliza.

"Salah lagi, salah lagi," Eliza menyilang kedua tangannya di depan.

"Zaki, ambilkan isi peraturan pondok pesantren yang ada di kamarnya Abah ya," ucap Pak Ahmad.

"Iya Ambah."

Zaki pun keluar dengan membawa kertas berisi peraturan pondok pesantren, mama dan papanya terkagum dengan paras Zaki yang rupawan itu. Zaki tersenyum kepada mama dan papanya Eliza, tapi tidak dengan Eliza yang sibuk dengan ponselnya.

"Wah, Zaki sudah besar ya malah semakin tampan aja, dulu masih kecil suka main dengan Eliza dan gak pernah akur," ucap mamanya Eliza.

"Iya, kamu masih ingat kan Nak dengan mereka berdua. Dulu Abah sering ajak kamu ke rumahnya Pak Hendra."

"Iya Abah saya masih ingat."

"Eliza, kamu ingat gak sama Nak Zaki ini kan?" tanya mamanya Eliza.