Novelory
"Sabar dong Mah, jangan maksain Gita terus. Jangan nanyain terus kapan nikah, kapan kawin."
Gita berbaring di atas ranjang tengah menelpon ibunya.
"Terus Mamah harus gimana Ta, kamu kan uda gede eh udah dewasa. Temen kamu uda nikah semua. Mamah malu setiap ketemu tetangga ditanya terus sampai Mamah males keluar rumah."
"Duh Mah udah sih nggak usah malu sama tetangga, memang mereka yang ngasih Mamah makan, ngasih Mamah duit nggak kan!"
"Pokoknya Mamah sama Papah nggak mau tahu, sebelum lebaran kamu harus bawa calon mantu Mamah. Titik!"
"Ya Allah, Mah. Emang tinggal nyomot kayak beli kacang aja atau beli cilok di pinggir jalan tinggal tenteng bawa pulang. Huh! Mamah nggak asik lagi deh." Gita menggerutu.
"Bodo, kali ini Mamah nggak mau kasih kendor kamu. Kalau sampai lebaran belum juga dapat, kamu harus terima Mamah jodohin sama anak temen Mamah."
"Iissshh.. Mamah sekarang uda bukan jaman Siti Nurbaya Mah."
"Auk ah! Mamah capek ngobrol sama kamu.."
Tuuuttt...
"Mah.. Mamah.. loh.. loh.. kok dimatiin sih Mah."
Gita manyun menatap ponsel pinter miliknya yang tiba-tiba panggilan teleponnya terputus.
Mamahnya kali ini benar-benar marah.
Ah, siapa yang peduli.
Memang cari jodoh gampang, kalau ada dijual sih gue beli deh. Berapa pun harganya asal sesuai budget tabungan gue aja.
Gita menarik selimut menutupi wajahnya. Dibalik selimut diam-diam dia menangis.
Di kantor.. di rumah.. teman sekolah.. teman kuliah.. sekarang mamahnya.
Semua kenapa yang ditanya itu-itu aja sih.
Kapan nikah?
Ih, nyebelin.
Memang kenapa kalau belum menikah sih.
Rasanya Gita ingin sekali pergi jauh ke negeri yang penghuninya nggak pernah mempermasalahkan tentang perempuan yang belum menikah.
Memang ada?
Gita tersenyum geli pada dirinya sendiri.
Bukankah menikah itu sunnah, jadi kalau belum siap tak masalah kan selama kita masih bisa menjaga diri dengan baik.
Lagi, lagi Gita meyakinkan dirinya sendiri.
Di luar negeri banyak loh perempuan karir yang bahkan usianya lebih dari Gita masih sendiri, tapi kenapa di sini semuanya seperti menuntut dirinya untuk segera menikah.
Kan nggak semudah itu.
Ah, bahkan memikirkan semua itu membuat Gita semakin frustasi. Bukan dia tidak ingin menikah seperti teman-temannya yang lain, tapi … hei mencari jodoh yang baik itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut Gita.
Gita punya standar sendiri untuk kriteria calon suaminya, nggak apa-apa dong.
Lalu masalah mama …
Ah, rasanya Gita ingin menghilang saja.
Tapi, terkadang Gita sendiri juga bingung. Kenapa dia sulit sekali jatuh hati.
‘Bukan nggak laku loh?’
Gita meringis kesal, dia memang tipe wanita sulit jatuh cinta.
‘Kalau mamah udah seperti itu … berarti mamah beneran marah. Duh, tuh kan jadinya kesel.’
Gita memukul kepalanya sendiri, bibirnya manyun masih menatap ponsel miliknya.
'Kapan nikah?'
'Auk ah!'
Seru Gita dalam hati.
Bersambung ...
Hai salam kenal, ini karya pertamaku di hotbuku.
Semoga kalian suka ya, readers.
Dreettt ...
Drettt ...
Suara panggilan dari ponsel Gita membuatnya tergagap dan terkejut.
Gita melihat tampilan layar ponsel tertulis nama Ani, sahabat sekaligus teman curhat yang sudah duluan menikah dan punya anak dua.
"Hallo ... Assalamualaikum ..." sapa dari ujung telepon
"Waalaikumsalam ... Ani apa kabarnya?"
Gita senang di saat hatinya lagi galau ada Ani yang tiba-tiba menelpon.
Allah maha baik yah.
Batin Gita tersenyum.
"Ada apa say, sehat? Uda lama nih kita nggak telponan."
Kata Gita tersenyum senang.
"Iya, alhamdulillah. Say lagi ngapain? Maaf ganggu yah."
"Oh, nggak kok. Kenapa ... kenapa ... ada apakah?"
"Hm ... gimana yah. Gini aja deh langsung aja."
"Duh, An. Ada apa sih bikin penasaran aja."
"Gini say, ada teman suami yang minta dicariin jodoh. Kamu mau nggak taaruf."
Deg!
Tuh kan..
Baru aja aku minta sama Allah kok jawabannya cepat banget ya.
Gita tersenyum lebar lalu mengangguk dan berkata, "Mau ..."
"Hahaha ... kamu antusias banget sih Git."
"Iyalah.. hehe.. eh An, seriusan aku tuh baru aja berdoa sama Allah.. minta disegerakan gituh jodohnya. Capek aku tuh ditanya muluk kapan nikah."
"Sabar ya Say. Insya Allah ini yang terbaik kalau pun nggak mungkin belum yang terbaik."
"Oke.. adem deh dengernya."
"Yah udah, aku tunggu ya biodata kamu. Kirim by WA aja ya say biar aku kasiin suami."
"Oke."
"Kamu nggak penasaran, nggak mau tanya-tanya?"
"Nggak deh nanti aja baca biodatanya biar seru hehehe ..."
"Oke sip. Ditunggu yah."
"Siap ... meluncur."
"Jaga kesehatan ya, jangan lupa banyak istigfar."
"Baik Bu Haji hehehe ..."
"Aamiin didoain naik haji hehe ... udah dulu ya anak ku minta susu. Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
Tuuut ...
Setelah itu Gita langsung bangun membuka laptop dan mulai mengetik sambil tersenyum.
Setidaknya dia sudah berusaha, untuk hasil biar Allah yang menentukan.
Mah, jangan khawatir anakmu segera nikah kok.
Serius, ini kabar baik. Setidaknya Gita optimis kalau Allah itu kan, berdasarkan prasangka hamba-NYA.
Yah sudah, mulai saat ini Gita meyakinkan dirinya sendiri kalau keinginan mamahnya itu pasti segera terwujud.
'Nggak papa kan, berharap. Allah dengerin aku sekali ini aja ya.' Gita bergumam sendiri sambil senyam senyum.
Cetak cetuk …
Cetak cetuk …
Suara jari-jari tangan Gita asyik mengetik pada keyboard miliknya sambil masih mesam-mesem sendiri.
Bersambung ...
Gita langsung membuat biodata singkat persis seperti contoh yang dikirimkan sahabatnya Ani melalui WA.
Nama Lengkap : Gita Cinta
Nama Panggilan : Gita atau Cinta
Tempat Lahir : Yogyakarta
Tanggal Lahir : 14 Februari 1996
Hobby : Traveling
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Pekerjaan : Karyawan
Gaji : 5 juta/bulan
Nama Ibu : Laksmi
Nama Ayah : Sutanto
Alamat rumah :
Saat mengetik Gita tertawa sendiri dan bergumam, buset dah ini mau ngelamar kerja apa sampai detail begini.
Sambil tertawa Gita masih serius mengetik sesuai contoh yang dia terima tidak kurang dan tidak lebih.
Iseng Gita mengirim pesan ke Ani melalui WA website di layar laptopnya.
(Gita)
An, ini nggak salah gila udah kayak mau sensus penduduk aja sampai detail gini, pakai gaji segala disebutin.
(Ani)
Udah ikutin aja, nggak ada salahnya kan biar tidak ada dusta di antara kalian.
(Gita)
Tapi, dia bukan Ikhwan.. Ikhwan berjenggot dan pakai celana cingkrang kan, An?
(Ani)
Hahahha … ya kalik mang kamu mau cari yang begitu?
(Gita)
Siapa tauk, kalau model begitu gue nyerah aja deh!
(Ani)
Ih, gimana sih katanya mau cari jodoh biar cepat nikah.
(Gita)
Iya, tapi gue belum sanggup kalau ntar disuruh pakai gamis dan apa itu biasanya pada pakai baju ninja.
(Ani)
Ngacau kamu Git, udah buat aja dulu ntar kalau udah jadi aku kirim biodatanya ke dia biar adil. Jangan lupa kasih foto yang cantik yah … kwkwkw
(Gita)
Hah? Pakai foto segala?
(Ani)
Iyalah.. mau kayak beli kucing dalam karung..
(Gita)
Ogah … siap Marimar hahaha ...
(Ani)
Yo wis, anakku minta susu dulu. Udahan ya ... waalaikumsalam ...
------
Duh, mau cari jodoh aja ribet banget sih!
Gerutu Gita sambil melengkapi biodata yang sedang dia buat, lalu dia teringat foto untuk dikirimkan. Banyak folder yang dia buka satu persatu mencari foto yang terbaik, ah ini aja.
Gue nggak mau jadi orang lain dan berlagak manis karena gue begini yah udah apa adanya aja yang gue kirim.
Setelah yakin semua sudah diketik dengan baik dan benar serta penuh dengan kejujuran, akhirnya Gita mengirimkan file itu melalui email ke sahabatnya Ani.
Namanya juga berusaha.. tapi gimana rasanya yah kalau menikah melalui ta’aruf gitu. Hihihi … Gita terkekeh sendiri.
Saat mengingat Ani, sahabatnya itu untuk pertama kalinya memberitahu dirinya kalau dia ingin menikah dengan cara taaruf, tapi kan ternyata suaminya Ani lelaki biasa saja. Pekerja kantoran dan hanya saat itu mereka dikenalin oleh salah satu teman kantor yang sekarang jadi suaminya, jadi bukan benar-benar jalur taaruf seperti yang sering Gita dengar dari teman kantornya yang berhijab rapi dengan gamis dan kaos kaki.
Tenang ya Mah, putri ini sedang berjuang mencari jodoh.
Lalu Gita terkejut dengan salah satu notif yang masuk dalam pesan pribadinya.
JOIN YUK DENGAN KOMUNITAS KAMI..
KOMUNITAS JOMBLO MENCARI JODOH.
Hah?
Siapa yang merekomendasi ini ke gue?
Alis Gita terangkat, dia bengong.
Jadi, kalau berdoa minta dimudahkan bertemu jodoh itu ... jalannya ada aja yah.
Gita tersenyum geli.
Bersambung …