Novelory

SANG PEWARIS GOOD FAITH AND THE CITY
4.9
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Jika kebanyakan orang berlomba-lomba mengejar masa depan, Padnalarang adalah sosok yang senang mengulik masa lalu. Hobinya bermain ke musium. Dia bisa betah berjam-jam menyimak khidmat, kala guru sejarah menjelaskan ihwal penyebab runtuhnya Majapahit, disebabkan kehadiran panji agama baru—Agama Islam, dari dunia timur melalui para pedagang Gujarat di depan kelas.

Dia menyusun dan memiliki jurnalnya sendiri. Dari hasil penjelasan guru, ditambah hasil pengamatannya sendiri di lapangan, dia sudah menjadi pemikir ilmiah yang cerdas dan alami sejak muda. Dia menjadi sosok unik, tengah hirup pikuknya budaya modern yang menyedot perhatian sebagian masyarakat untuk keluar dari akar budayanya. Dia semacam makhluk ketinggalan zaman yang menciptakan jarak antara dunia masa kini yang metropolis dengan dunianya sendiri yang kuno dan penuh dengan benda-benda purbakala.

Bukan sejak lahir Padnalarang tertarik dengan dunia purbakala. Abah adalah sosok yang menanamkan kecintaan itu. Abah, tokoh budayawan tanah Pasundan yang tetap setia ngamumule budaya sunda.

Abah adalah sosok panutan bagi Nala—nama panggilan Padnalarang. Abah berdarah biru. Dia seorang keturunan dari kerajaan di tatar sunda yang mewarisi Padepokan Talaga Manggung yang hingga kini, masih menjujung tinggi adat istiadat, merawat silsilah keluarga, dan budaya leluhurnya dengan takzim.

Abah selain seorang tokoh budayawan yang dihormati, Dia pun adalah sosok jawara pilih tanding--pengasuh Padepokan Talaga Manggung, yang masih tersohor hingga kini. Padnalarang--putri kandung semata wayangnya, tentu saja sudah diperkenalkan dengan olah kanuragan tradisional Indonesia--Pencak Silat, sejak belia.

Jika ada dunia lain selain mengenai kepurbakalaan yang dicintai Pandalarang, maka itu adalah Pencak Silat. Pencak Silat memberinya kesempatan untuk berlaga di pertarungan tingkat daerah, nasional, bahkan dunia. Prestasi Pandalarang mencatatkan dirinya sebagai atlet pemenang medali emas Pencak Silat Indonesia pada event tahun terakhir masa putih abunya, sebelum akhirnya dia memilih berhenti sebagai atlet untuk jadi anak kuliahan. Mahasiswa arkelog, di FIB Universitas Indonesia.

***

Akhirnya hari yang Nala impikan tiba. Hari pengukuhannya sebagai Sarjana Humaniora. Dengan penuh kebanggaan dia memasuki gerbang masuk kampus UI. Hari ini, Sabtu, 25 Agustus 2018 Nala diwisuda. Empat setengah tahun yang istimewa. Nala puas dan sangat menikmati masa-masa perkuliahannya. Setelah tiga setengah tahun berjibaku dengan teori dan penelitian kampus, satu tahun masa magang, dan penyelesaian skripsi, semua itu rasanya masih seperti kemaren. Hari-hari penuh suka duka bersama kawan-kawan seperjuangan yang tetap mempertahankan idealisme menjadi seorang ilmuwan ahli di bidang yang kurang popular ini.

Jujur saja, pada tahap awal beradaptasi dengan lingkungan kampus kuning ini sangatlah berat. Benar-benar menguras hampir semua daya yang Nala miliki. Banyak sekali permasalahan. Salah satu kendala yang enggan diakuinya adalah perkara gender. Dia menjadi satu-satunya perempuan di angkatannya ketika itu. Dia bak bidadari di sarang penyamun.

Dalam perjalanan selanjutnya, tantangan berasal dari hal di luar diri Nala. Banyak kawan seangkatannya yang masuk ke jurusan arkelogi, bukan berangkat dari minat pribadi, tetapi asal kuliah. Yang penting punya gelar, ngampus di UI—menterengkan?

Banyak yang demotivasi di tengah jalan. Sebagian teman-temannya lebih suka bolos kuliah dan bermalas-malasan. Padahal, jurusan arkeologi adalah jurusan yang paling sering mendapat tugas kuliah dengan cara berkelompok. Jadi sebuah permasalah yang pelik jadinya. Untung, Nala bisa memotivasi dirinya untuk kuat, survive.

Pencak silat membentuk fisik dan mentalnya bersikap sportif dan punya inisiatif. Selain kecintaannya sendiri terhadap budaya yang telah ditanamkan Abah sejak dini. Semua kendala-kendala yangn dia hadapi di kampus, dia selesaikan dengan kepala dingin--berfikir positif dan solutif.

Nala meluaskan jaringan pertemanannya untuk menambah wawasan dengan aktif berorganisasi. Salah satunya di Keluarga Mahasiswa Arkeologi—KAMA FIB UI, dan PAIMI Pertemuan Ilmiah Arkeologi Mahasiswa Indonesia--PAIMI. Meluaskan pergaulan dengan sesama pecinta dunia arkeologi membesarkan hatinya, agar tidak merasa asing dan tersesat. Arkeologi, ilmu multi dimensi yang Nala cintai, baginya arkeologi such a wonderfull science.

Pengalaman empat setengah tahun dengan menyandang status mahasiswa FIB itu masih terasa seperti terjadi kemaren bagi Nala. Masih membekas dalam ingatannya bagaimana antusiasnya ia menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat kesempatan ikut serta dalam ekskavasi Gunung Padang. Suka duka menjadi bagian dari Tim Terpadu Riset Mandiri yang diketuai oleh Akbar Nasution--dosen dan arkeolog panutan Nala, juga pengalaman belajar pada seorang geolog sekelas Hilman Hariwijaya--sebuah kesempatan langka.

Berkat pengalaman berhargannya bersama tim ekskavasi Gunung Padang, maka karya ilmiahnya berhasil lolos menjadi salah satu kandidat dalam program Pemilihan Peneliti Muda Indonesia--ajang kompetisi yang di selenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Nala bahkan mendapat rekomendasi dari jurusannya menjadi salah satu peserta ekskavasi ke situs warisan dunia di Mesir—satu-satunya wakil Indonesia--disponsori LIPI melalui kerjasamanya dengan Science Council of Asia (SCA).

Pengumuman kepastian kapan dia terbang ke Mesir belum kantongi Nala, tetapi setidaknya kabar ini akan menambah rasa bangga Abah padanya. I am top of the world. Itulah gambaran tepat bagi perasaan Nala saat ini—dia tengah berada di puncak asanya.

Nala duduk di antara para kandidat wisudawan berpredikat cumlaude. Bagi yang berpredikat terbaik dari setiap jurusan akan dipanggil ke podium dan menerima ijazah terlebih dahulu dibandingkan yang lainnya. Di bagian paling atas, tepat di tengah meja sidang wisuda Balairung tertulis agenda hari ini: Wisuda Program Sarjana Reguler dan Kelas International serta Penyambutan Mahasiswa baru, Sabtu, 25 Agustus 2018; serta kelengkapan sidang wisuda lainnya.

Di bagian tengah, tepat di depan kursi yang diperuntukan mahasiswa lama, terlihat beberapa panitia yang tengah melakukan geladi bersih upacara wisuda. Di bagian paling belakang, terdapat panggung kecil dan alat musik, grup musik dan pembawa acara tengah bersiap-siap pula. Acara akan dimulai pukul 10 tepat.

Nala mengedarkan pandangannya ke arah tempat duduk para undangan. Dia dapat melihat Abah dan Kang Dimas yang duduk tenang di tengah hiruk pikuk peserta sidang wisuda. Balairung UI telah sejak tadi dipenuhi para mahasiswa yang akan diwisuda beserta keluarganya. Mahasiswa baru yang wajib menjadi paduan suara pun sudah duduk rapi di tribun lantai dua Balairung UI. Pak Sunyoto--The Conductor Paduan Suara UI yang melegenda-- sudah sejak tadi bersiap di tempatnya.

Dari tempat dia duduk, Nala bisa melihat kawan seperjuangannya dari jurusan Arkeolog tengah sibuk bercengkrama, sedangkan tetangga sebelah kanannya, yang berasal dari fakultas ekonomi sibuk bertelepon. Kemudian tetangga sebelah kirinya, sibuk selfie. Dari pengeras suara, terdengar teriakan pengatur acara menertibkan keluar masuknya mahasiwa lama yang akan di wisuda.

Mereka terlihat bahagia dan semringah, persis seperti dirinya. Seakan siksaan menyelesaikan skripsi dan latihan presentasi untuk sidang skripsi lenyap begitu saja. Hari-hari stres, tak enak makan, bahkan diare berhari-hari itu telah berlalu. Tak ada dalam gambaran wajah muda-mudi yang mengenakan topi toga, baju toga, sleber, samir, gordon yang melambangkan fakultas dan jurusan mereka masing-masing.

Nala sendiri mengenakan toga dengan tali pita topi berwarna putih pada topi toganya, dan putih kuning pada sleber, samir, dan gordonnya, lambing jurusan Arkeologi FIB UI. Tidak banyak berias, secukupnya saja. Nala sudah cantik alami dari lahir. Meskipun Abah dan Ambu orang asli sunda, rupanya dari nenek buyutnya Nala mewarisi gen kolonial, yang bisa-bisanya menetas pada diri Nala dan mewujud sebuah adikarya.

Rupa Nala tak hanya cantik, rambut hitamnya indah bak mayang terurai, kulitnya kuning langsat--glowing, warna matanya coklat terang, dan berhidung bangir. Seandainya rambutnya berambut pirang, sudah pasti tak akan nada yang mengira dia pribumi asli Indonesia.

Abah saja sering disangka bukan ayah kandungnya. Kadang, hal itu membuat Nala sedih. Akan tetapi, bagi Abah malah sebaliknya. Abah menganggap itu sebagai pujian. Abah sanagt bangga memiliki anak gadis yang tak hanya cantik, tetapi juga berotak cemerlang. Abah adalah orangtua yang berperan ganda--sebagai ayah sekaligus ibu. Ambu meninggal saat melahirkan Nala.

Oleh karena itu, Nala sangat menyayangi Abah--menghormati dan mengagungkan semua petuah dan nasihat Abah. Taat sumebah kanu janten rama, sumujud kanu janten ibu. Peribahasa yang Nala junjung. Sebuah nasihat leluhur untuk selalu taat dan patuh pada kedua orang tuanya. Patutlah bagi Nala sebagai anak semata wayang untuk memuliakan orang tuanya yang hanya tinggal seorang.

***

Abah tiba sejak dua hari yang lalu bersama Dimas—murid sekaligus tangan kanan Abah di padepokan. Mereka menginap di rumah kerabat orang tua Dimas. Dimas lima tahun lebih tua dari Nala. Berlatar belakang ahli bela diri dan juga sama-sama menjadi atlet seperti Nala, hubungan Abah dan Dimas terjalin erat, bak ayah dan anak lelakinya. Meski tak lantas membuat Nala menganggapnya seperti seorang kakak yang tak pernah dimilikinya. Mereka jarang bertemu.

Hubungan Abah semakin dekat lagi setelah Dimas pensiun dari pelatnas dan resmi bergabung dengan padepokan Abah, Padepokan Telaga Manggung, menjadi murid sekaligus tangan kanan Abah. Istilah kerennya sih, manager di Yayasan Padepokan Talaga Manggung. Selain itu, Dimas pun aktif membantu Abah di Perhimpunan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI).

Dimas sudah seperti bayangan Abah, kemana Abah pergi dia selalu setia mendampingi Abah. Mereka memang memiliki visi dan misi yang sama, terhadap masa depan padepokan pun kecintaan mereka terhadap kebudayaan, terkhusus barang antik. Salah satu bisnis sampingan Abah berburu barang antik.

Dimas yang berasal dari keluarga berpengaruh banyak memiki koneksi, orang-orang berduit yang hobi berburu benda-benda seni. Semakin cocoklah keduanya. Abah sudah mengangap Dimas seperti anaknya sendiri. Nala sendiri terkadang merasa cemburu melihat kedekatan keduanya.

Terkadang anak-anak padepokan sering menggoda Nala, bahwa suatu hari Abah pasti akan menjodohkannya dengan Dimas. Nala yang merasa jika hal itu tidak mungkin terjadi, mengacuhkan saja gurauan itu. Lagi pula, Abah tak pernah mengusiknya dengan urusan jodoh.

Hingga akhir masa kuliah Nala masih betah menjomlo Abah tak pernah protes atau menyinggung isu tersebut. Tak sepatah kata pun Abah pernah menyinggung soal siapa jodohnya atau mengatur perjodohan untuknya. Sama halnya dengan Nala, kesibukkan di kampus sudah menyita banyak waktunya, sehingga tak sempat berpikir soal itu.

Bukan tak pernah ada yang berkirim surat cinta kepadanya, melemparkan rayuan, atau menyatakan cinta, tapi Nala masih beranggapan bahwa semua akan indah pada waktunya. Nala akan bertahan hingga saat itu tiba. Saat dimana cinta membuat Nala merasakan debaranya.

Acara wisuda telah dimulai. Satu per satu acara berjalan dengan khidmat. Sang pembawa acara telah sampai pada acara penyerahan ijazah yang diawali dengan mahasiswa yang berpredikat cumlaude dengan perolehan nilai terbaik dari setiap jurusan.

“Dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dengan wisudawan berpredikat cumlaude berjumlah 15 orang, Peraih IPK tertinggi dengan nilai tertinggi 3,83--Pandalarang, Sarjana Humaniora.”

Jantung Nala berdebar kencang begitu namanya dipanggil. Dia merasa gugup. Dia merasakan ketegangan yang luar biasa. Namun, reflek Dia berdiri dan berjalan ke arah podium dengan anggun. Dia berusaha keras menutupi rasa haru dan gugup yang menderanya. Semua perasaan yang bercampur baur ini membuatnya merinding dan berkaca-kaca. Alhamdulillah. Sujud syukurku padamu, Ya Rabb, batin Nala. Nala mendengungkan tahmid, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah padanya, hingga mampu melalui momen ini dengan prestasi.

***

“Fiuh, akhirnya selesai juga,” cetus Nala dengan suara perlahan sambil berdiri. Hati Nala yang bahagia melangkah ringan menuju pintu keluar Balairung. Acara wisuda telah selesai. Nala menghampiri Abah dan Dimas di lapangan Rotunda yang terletak di depan Balirung UI.

Nala tak berhenti tersenyum, mengulurkan tangan, memberi ucapan pada kawan seperjuangannya. Mereka saling memberi selamat satu sama lain. Arus menuju pintu keluar ramai bukan main. Nala melangkah perlahan mengikuti arus orang menuju lapangan.

Semoga Abah dan Dimas tidak terlalu lama menunggu, pikir Nala. Di antara lautan manusia, Nala dapat melihat Dimas melambaikan tangan ke arahnya. Postur Dimas yang tinggi memungkinkannya terlihat paling menonjol di antara kerumunan itu. Kira-kira seratus delapan puluh sentimeter. Bagi Nala yang tinggi hanya 165cm, Dimas terasa menjulang. Padahal, untuk ukuran perempuan Asia, Nala termasuk cukup tinggi.

Ada lagi hal lain dalam diri Kang Dimas yang membuatnya mudah ditemukan di antara kerumanan. Warna merah terang batik motif mega mendung khas kota Cirebon yang dikenakannya. Warna merah mencolok itu kontras dengan kulitnya yang sawo matang. Untuk urusan memilih warna Dimas ini agak unik, nyentrik karena suka warna terang yang dominan.

Ah, ngapain mikiran selera Kang Dimas? sesal Nala.

Abah hari juga mengenakan batik dengan motif batik priyangan dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Nala sendiri yang memilihkannya. Sekalipun sama-sama berwarna terang, tetapi warna terakota tetap terkesan lebih kalem dan tidak mencolok ketika dikenakan Abah.

“Selamat, Neng.” Dimas memberikan ucapan selamat lebih dulu. Dia menyerahkan buket bunga yang dibelinya dari penjual bunga yang gigih menjual kepadanya sejak tadi, cenderung maksa malah.

Nala menerima buket itu sambil menghampiri Abah. Nala sungkem. Lalu kemudian, memeluk Abah seraya berkata,” Abah, Kang Dimas, haturnuhun. Terimakasih banyak, maaf nunggunya lama tadi, ya?” tanya Nala pada Abah.

Abah melepaskan rangkulannya. Dia menatap Nala dengan haru. “Teu sawios, Neng. Abah tadi sudah duduk lama, sambil nunggu Nala, Abah puterin dikit lapangan ini sama Dimas. Dimas bilang, dia perlu cari angle yang tepat.”

“Akang, sudah siap jadi fotografer dadakan. Lihat, sudah Akang pilihkan spot yang paling pas. Nala dan Abah berdiri di titik ini, ya!” perintah Dimas. Dimas menujuk titik yang dimaksudkan dengan tangannya, “Latar belakangnya gedung Rektorat, bisa dapat banget angle-nya. Keren pasti hasil fotonya.”

“Ayo, Abah! Kita pasang aksi. Nala minta satu yang klasik ya, Kang Dimas. Lainnya boleh gaya gokil. Abah dilarang jaim loh, ya!” Nala berdiri memeluk buket bunga, dan boneka suvenir jurusannya.

Abah yang tidak bisa bergaya, pasrah diatur-atur anak gadisnya yang bersemangat memberikannya instruksi. Akhirnya, Nala menyerah karena Abah tidak juga mengindahkan apa yang dicontohkannya. Dipeluknya Abah dengan penuh kebanggaan. Dimas pun harus pasrah berkali-kali di koreksi Nala yang memintanya terus mengulang pengambilan foto hingga habis kesabarannya.

“Udah atuh, Neng. Capek. Lapar. Bentar lagi waktu zuhur habis pula,” protes Dimas

“Iya, Nala. Dahulukan salat.” Abah sudah tak sabar pula rupanya.

Nala mengalah. “Baiklah, tapi Nala mau melepaskan baju wisuda ini dulu, ya. Pinjam kunci mobilnya, Kang! Abah tunggu sebentar ya! Kita salatnya di Mesjid Ukhuwah saja, Bah. Jalan kaki lebih dekat, hanya delapan menit. Tolong jaga Abah, Kang Dimas!” Nala bergegas melangkah menuju parkiran. Nala menyimpan perlengkapan wisuda berikut map berisi ijazah kelulusannya di mobil. Lima menit kemudian, Nala mucul kembali. Dia sempatkan pula berganti alas kaki, high heels-nya. Nala ganti dengan sepatu kets.

“Selesai salat, kita sempatkan ke danau Kenanga ya, Bah. Pemandangannya sangat mempesona, Kang. Akang sudah pasti belum pernah ke sana, kan? Mumpung Abah di sini juga. Abah ini loh, sekali pun belum pernah mengelilingi kampus Nala. Padahal, Nala ingin sekali memamerkannya pada Abah. Kampus Nala itu keren dan luas, Bah,” ujar Nala sembari melihat pada Abah dan Dimas yang berjalan disisinya.

“Mangga atuh geulis. Abah turuti kali ini,” jawab Abah sambil mesem.

Selesai mengerjakan salat, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju danau Kenanga adalah danau buatan yang letaknya dibatasi oleh Masjid Al Ukhuwah, Balairung dan Gedung Rektorat. Puas ber-wefie, Nala mengajak Abah dan Dimas ke Gedung Perpustakaan Pusat UI.

“Nala, buat apa ke perpustakaan? Masih lapar Akang, mah. Jajanan yang Akang santap tadi, buat Akang enggak nendang. Akang butuh nasi,” rengek Kang Dimas seraya memegang perutnya yang dikempis-kempiskan. “Lagi pula, kasihan Abah atuh. Abah sudah kelelahan Nala,” tambah Dimas demi dilihatnya Abah tampak kehausan dan bersimbah peluh.

“Justru karena itu, Kang. Nala mengajak ke Gedung Perpustakaan. Di sana ada tempat buat kita makan dan minum. Seperti mal layaknya. Terbesar se-Asia Tenggara. Kalau Abah berkenan untuk kongko kekinian, bisa kita mampir minum kopi di Starbuck, Bah,” goda Nala sambil mengedipkan sebelah matanya pada Abah. Padahal, Nala tahu pasti jawaban Abah. Pasti Abah menolak ajakkan itu.

“Ah, Abah cocoknya kopi tubruk atuh, Nala.” Maharendrawijaya—alias Abah, menepis tawaran Nala yang bukan seleranya.

Mereka bertiga tertawa dan berjalan menuju lokasi yang ditunjukkan Nala.

Saat tengah bersantap, Nala mengutarakan rencananya. “Abah, Nala punya berita baik. Nala mendapat rekomendasi dari kampus untuk menjadi salah satu peserta ekskavasi ke situs warisan dunia di Mesir. Nala jadi salah satu wakil dari Indonesia.”

Nala mengambil tisu untuk melap saus yang menetes ke meja.

“Pengumuman kepastiannya belum Nala terima. Kemungkinan awal bulan depan hasilnya ditetapkan. Oleh karena itu, besok Nala berencana pulang bersama Abah. Barang-barang yang kira-kira sudah tidak Nala perlukan, sudah Nala kemas. Besok bisa dikirim ke rumah melalui ekspedisi, sehingga begitu barang tiba, Nala juga sudah tiba di rumah. Nala ingin istirahat sementara, sebelum Nala ke Mesir, Bah.”

Nala menceritakan keberhasilanya tanpa memperhatikan perubahan pada mimik Abah yang terlihat kurang senang mendengar kabar itu. Abah tidak ingin melepas anak gadisnya pergi keluar negeri seorang diri. Kedatipun, hal itu merupakan urusan yang berkaitan dengan pendidikan anaknya. Tidak kali ini. Anak gadisnya sudah waktunya memikirkan tentang pernikahan.

Sama halnya dengan Abah, mendengar penuturan Nala terbersit rasa gundah di hati Dimas. Berapa lama lagi dia harus menunggu. Dimas bukan tak pernah memperhatikan banyaknya kumbang yang mencoba menarik hati Nala, yang Nala sadari atau yang Nala tak sadari.

Dia adalah salah satunya--lelaki yang tak disadari Nala telah lama menaruh hati. Namun, Dimas punya keyakinan tinggi. Jika restu Abah yang telah di kantonginya, itu adalah keunggulannya. Akan tetapi, mendengar berita yang baru saja didengarnya dari Nala menyurutkan tak selera makannya, tetapi juga semangatnya. Dimas tahu betapa keras kelapanya orang bernama Nala. Entah kapan burung yang lincah ini akan tenang menetap, batin Dimas pada dirinya sendiri.

“Abah turut senang dengan keberhasilanmu. Akan tetapi, ijinkan Abah menanggapinya lain waktu. Hari ini Abah cukup mendengar satu kabar baik, mari sisakan kabar baik itu esok lusa. InsyaAllah, kita bahas lagi nanti ya, Nak.” Abah melanjutkan suapannya. Ia tidak ingin merusak suasana hati Nala dengan mengutarakan pendapatnya secara jujur. Sebagai orang tua, Abah selalu berusaha untuk bersikap bijaksana. Diliriknya Dimas yang sendari tadi berusaha untuk pura-pura biasa saja mendengar kabar itu. Abah bisa memaklumi sikap Dimas.

Dimas memilih untuk diam. Tidak berpendapat apa pun. Di dalam hatinya, ia bertekad untuk segera mengambil sikap dengan menyatakan perasaannya. Ia memiliki tekad yang baik, untuk tak sekedar jatuh hati. Ia sudah berniat menikahi Nala. Namun, saat ini diam adalah yang emas. Waktunya belum tepat.

Selepas menandaskan santap siang mereka yang terlambat, Dimas mengantarkan Nala ke kos Nala yang terletak dekat area kampus UI--kosan Putri Sakinah yang terletak di Jl. H. Mahali No.3A. Dimas berjanji, besok dia akan membantu Nala mengirim barang melalui ekspedisi.

Abah dan Dimas lantas berpamitan.

***

Keesokan harinya, Dimas dan Abah tiba di kosan Nala pukul 10.30 WIB. Mereka terlambat karena beberapa alasan. Dimas yang harus ngebengkel untuk memeriksa ulang kondisi mobil, serta prosesi pamitan Abah dengan kerabat Dimas seperti tak kunjung usai. Dimas akhirnya harus memaksa Abah untuk segera pamit. Bukan main, basa-basinya sesepuh, gerutu Dimas dalam hati. Dimas minta maaf pada Nala karena datang terlambat.

Nala tak meributkannya. Dia sudah berinisiatif untuk menyewa jasa ekspedisi yang dapat jemput bola. Mereka mengambil langsung barang yang perlu dikirim ke kosannya dengan mengenakan tambahan biaya. Nala tidak berkeberatan. Baginya, yang penting semua terselesaikan sesuai target waktu yang direncanakannya.

“Kita langsung langsung menuju padepokan Dimas,” pinta Abah.

“InsyaAllah, Bah. Mau kemana lagi kita? Tapi kalau Dimas mengantuk kita istirahat sebentar ke rest area sambil beli oleh-oleh buat anak-anak, Bah.”

“Nya muhun atuh ari kitu mah, Dimas. Abah juga paham. Takutnya, kamu ngajakin main dulu ke puncak, seperti terakhir kali jemput Nala. Giliran sama Abah, kamu lempeng-lempeng aja. Mana pernah mampir ke tempat apik dan menarik.”

Dimas yang mendapat protes dari sang guru cuma bisa nyengir kuda. Yah Abah, namanya anak muda. Lebih suka mengajak Nala jalan-jalanlah, daripada dengan orang tua, batin Dimas. “Namanya juga anak muda. Betul enggak, Nala?” jawab Dimas seraya melirik Nala melalui kaca spion. Ternyata Nala sudah tertidur, Waduh, bukan main cepatnya ia tertidur, gumam Dimas dalam hati. Dimas merasakan pipinya panas. Dia tidak bisa memungkiri ketertarikannya pada sosok Nala. Menyaksikan Nala tertidur pulas sudah membuatnya malu dalam debaran yang dia rasakan. Tidur dengan mulut menganga saja Nala tetap manis kayak bayi, gumam Dimas. Namun, dia cuma sanggup berkomentar, “Lah, Nala sudah tertidur, Bah.”

Abah tersenyum, “Restu Abah sudah untukmu, tinggal kamu menaklukan hati Nala,” ujar Abah datar sambil menepuk pundak Dimas.

Dimas berseru dengan semangat mudanya,” Siap, Bah. Alhamdulillah. Semoga semesta mendukung.”

Dimas dan Abah tertawa. Dimas menambah laju kecepatan mobilnya. Abah sibuk menekuri sisi jalan yang mereka lalui.

***

Jakarta – Talaga ditempuh jauh lebih cepat sekarang. Cukup 6 jam sudah termasuk istirahat dengan laju kendaraan kecepatan sedang. Berkah dari adanya pembangunan tol Cipali, dengan menggunakan rute: Tol Jakarta – Cikampek - Tol Cipati - Exit Pintu Tol Kertajati 158 -Kadipaten – Majalengka - Talaga. Jarak menjadi semakin pendek. Denyut kendaraan menjadi semakin cepat, tentunya dengan membawa serta angin perubahan yang bersandar pada harapan bahwa denyut perekonomian pun semakin lebih meningkat. Lahan hijau di sepanjang jalan yang mereka lalui menjadi semakin sempit berganti gedung-gedung pencakar langit dan perumahan dalam berbagai bentuk dan ragam tema.

Pukul 16.40 WIB, mereka telah sampai di tepi sebuah situ. Situ Sangiang. Situ berarti danau. Situ Sangiang adalah danau alami yang sangat indah. Tempat favorit Nala jika pulang kampung. Letak padepokan sudah dekat. Namun, Nala yang sudah terbangun satu jam sebelumnya memaksa untuk mampir ke situ lebih dulu.

“Ngapain sih, Nala. Enggak bosan kamu selalu datang ke tempat yang sama setiap kali kamu pulang? Bukannya tak banyak perubahan yang berarti sejak terakhir kamu ke sini?” omel Kang Dimas yang merasa sebal.

“Nala tahu Akang lelah, ya sudah, Nala ditinggal saja, biar Nala pulang jalan kaki sambil melemaskan otot. Tiga hari ini Nala kurang tidur Kang, handle acara kampus. Makanya, tadi Nala minum antimo. Tidur sudah membuat tubuh Nala berenergi lagi. Nala sudah merasa segar kembali. Akang dan Abah pulang saja dulu,” tukas Nala pendek.

Dia turun dari mobil. Merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena lama duduk. Entah mengapa, Nala merasa selalu harus datang ke tempat ini. Merepih alam barang sejenak membantunya melepas penat.

“Hah…jalan kaki? Enggak capek?” tanya Dimas pada Nala dengan alis berkernyit heran.

Nala melengos cuek. Dia tetap berjalan ke arah situ.

“Bagaimana, Bah? Nala kita ditinggal saja? Abah saya antar duluan ke rumah saja dulu, ya?” Dimas meminta pendapat pada abah yang ternyata kini gantian tertidur, terkejut sesaat dan mengangguk perlahan. “Ya sudah, kujemput tiga puluh menit lagi, ya?” teriak Dimas, dilihatnya Nala sudah hampir mencapai tepi situ.

Nala menjawab dengan lambaian tangannya.

***

Padepokan Talaga Manggung hanya berjarak kurang lebih sembilan belas menit saja dari situ jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat, tetapi jika ditempuh dengan jalan kaki, akan memakan waktu satu jam lebih. Padepokan, selain tempat tinggal bagi Nala dan abah, adalah juga merupakan musium. Sebuah warisan kejayaan leluhur abah, di masa silam. Sebuah jejak sejarah dalam silsilah keluarganya. Amanah yang harus dijaga hingga kelak Nala beranak-cucu.

Meskipun Nala belum mendapatkan mandat penuh sebagai pewaris tahta suci padepokan, tetapi abah telah mempersiapkannya sejak lama. Padepokan sekaligus perguruan pencak silat telah abah bina sejak usia Abah awal dua puluhan. Padepokan, adalah tempat Nala lahir dan dibesarkan. Kampung halaman Nala. Sebuah kampung buhun--warisan leluhur, yang memiliki keterikatan dan keterkaitan yang erat dengan kerajaan Talaga Manggung yang berdiri sebelum abad ke-15, kurang lebih pada 1371 M. Sebuah tempat olah spiritual yang bercorak Budhisme. Beberapa detik kemudian, segenap batin Nala seperti menyatu dalam kesunyian. Dia senyap bersama riak danau dan kidung karuhun yang berlagu dalam jiwanya.

***

Nala berdiri di tepi situ. Dia menarik napasnya dalam-dalam. Langit cerah sekali sore itu. Semburat merah jingga mulai tampak di kejauhan. Permukaan air danau memantulkan bayangannya. Angin berembus sepoi-sepoi, memainkan anak-anak rambutnya yang seperti senang dipermainkan angin. Nala melihat ikan riang berkecipak. Riak air mengalir memperdengarkan irama ritmis beraturan yang menenangkan jiwa Nala.

Suasana situ sunyi, dingin, dan aroma lembab menguar. Hawa sejuk menerpa pori-pori merinding. Jika bukan Nala, bulu kuduknya sudah pasti berdiri. Selain sebagai tempat wisata, tempat ini juga adalah tempat orang berziarah. Terdapat makam leluhur Nala, Sunan Gunung Parung bersemayam di salah satu tempat itu.

Di seberang tempat Nala berdiri, terlihat rimbun pepohonan tambun. Di dalamnya aneka satwa liar seperti ular, elang dan primata masih banyak berkeliaran. Memberi gambaran hutan hujan tropis yang menarik mata. Hijau dan riak air membuat mata kita betah berlama-lama memandang pesona alami danau, Situ Sangiang. Konon, tempat ini adalah tempat moksa Sunan Talaga Manggung dan kerajaanya ketika mendapat pengkhianatan dari Patih Palembang Gunung--menantu Sunan Talaga Manggung. Sejak itu, tempat ini raib dan baru ditemukan kembali pada masa penjajahan Belanda.

Tiga puluh menit kemudian, Dimas sudah kembali ke tepi situ. Nala sedang asyik mempraktikan jurus-jurus pencak silat yang dikuasainya. Sebentar lagi waktu maghrib tiba. Dimas mendekat.

“Nala!”

“Ya, Kang.” Nala menghentikan aktivitasnya. Napasnya terengah-engah.

“Sebentar lagi magrib, mari pulang.”

“Sebentar, Kang. Aku atur napas dulu.”

Dimas telah berdiri di samping Nala. “Akang penasaran, apa yang membuatmu selalu kembali ke sini?”

“Hmm ..., entah juga, Kang. Aku tidak bisa menjelaskannya, hanya merasa ingin datang saja. Merepih alam barang sejenak, penat jadi hilang.”

“Setiap kali melihatmu dengan binar mata itu, Akang selalu penasaran. Apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu rasakan? Kenapa kamu selalu seakan-akan melihat hal yang tidak bisa kulihat dengan inderaku.”

“Halah, apa maksudnya, tuh? Aku bukan dukun, ah! Tidak ada alasan istimewa, Kang. Bukan karena aku mampu melihat hal-hal khusus. Aku hanya merasa di tempat ini ada bagian diriku, Kang. Apa itu? Nala juga enggak bisa jelaskan dengan gamblang, sih. Sebuah keterikatan dan keterkaitan yang hanya mampu kurasakan.” Nala jeda sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Tak bisa kugambarkan melalui kata. Akang tahu mengenai sejarah keluargaku. Semua yang kupelajari di kampus dan latar belakang keluargaku, membuatku selalu merasa perlu untuk menyempatkan diri mereflesikan diri. Manusia suatu ketika akan mati, tak berbekas. Seakan kita tak pernah ada di dunia ini. Adapun yang tersisa kemudian adalah peninggalan berupa benda-benda, ataupun sebuah narasi dari prasasti-prasasti yang kita temukan dan kita pelajari. Bagiku, menggali temuan-temuan yang di tinggalkan masa lalu adalah sebuah cara melakukan evaluasi diri.”

“Begitukah? Akang tak pernah menduga jika kamu memiliki pemahaman yang mendalam tentang ini.”

“Inilah salah satu alasan yang mendorongku untuk menjadi seorang arkeolog. Jejak sejarah yang aku rindukan. Jejak masa silam. Sebuah firasat yang berasal dari rasa penasaran, sebuah keinginantahuan dan ketertarikan mendalam untuk menemukan sebuah jawaban. Bukan semata untuk mendapat pengakuan atau ketenaran dari temuan sejarah masa silam. Lebih kepada kebahagiannya menemukan sebuah nilai yang sangat perlu kita wariskan kepada generasi kita berikutnya.”

Nala menyeka keringatnya. Kemudian melanjutkan kembali perjelasannya,” warisan yang kumaksudkan di sini, bukan arti secara sempit, tetapi maksudku adalah ilmu yang mempelajari semua hal yenga terjadi di masa silam merupakan sebuah warisan yang dapat mencerahkan manusia agar mereka menjalani kehidupan dengan lebih baik. Bukankah manusia itu luar biasa, Kang? Kita bisa melihat kemampuan kita melewati krisis dalam kehidupan adalah melalui jejak keberhasilan manusia dalam bertahan hidup. Semua itu tergambarkan melalui sejarah yang manusia tinggalkan. Bukan begitu?”

“Mungkin, “Dimas mengangkat bahunya, “Akang tidak tahu! Akang tak pernah secara mendalam memikirkannya sepertimu.” jawab Dimas jujur.

Dimas merapatkan jaketnya. Suara Azan Magrib terdengar berkumandang dari kejauhan.

“Nah, panggilan Allah sudah datang.”

“Kita mampir ke langgar dulu saja sebelum pulang, Kang. Meskipun kecut, insyaallah pakaianku masih bersih,” ujar Nala sambil terkekeh.

Nala dan Dimas melangkah menuju mobil. Dimas menghidupkan mobil. Mereka meluncur menuju pengeras suara yang memanggil mereka untuk segera tuntas memenuhi panggilan itu.

***