Novelory
Angin semilir memainkan anak-anak rambut pada sebuah wajah yang basah oleh air mata. Terduduk lesu sesosok wanita di tepi sebuah pantai. Suara isakan tangisnya yang tertahan terdengar amat menyayat hati. Pandangan nanarnya menggambarkan luka yang teramat dalam. Tangannya memeluk kedua kaki hingga sampai ke betis. Buih pantai mencium jari-jemari kaki sang wanita yang telanjang--tanpa alas kaki. Pemandangan senja menyapu langit dengan warna merah jingga. Suara debur ombak datang dan pergi silih berganti. Kepakan sayap burung jalak terdengar lirih dikejauhan.
Arimbi tidak habis pikir. Mengapa nasib begitu tak adil kepadanya. Dia mencoba mengoreksi dirinya. Mungkinkah selama ini dia banyak melakukan dosa dan kemaksiatan sehingga layak mendapatkan murka sang maha penguasa segalanya--Allah SWT. Apakah dosa itu? Kapankah dia melakukan kesalahan itu, sehingga dia pantas mendapatkan cobaan bertubi-tubi yang datang silih berganti. Seandainya semua ujian maha berat itu bisa dia ganti dengan membayar sejumlah uang, Arimbi pasti tanpa ragu, tak akan berpikir dua kali untuk menghabiskan semua harta yang dimilikinya agar semua beban peristiwa tragis hidupnya terkikis habis hingga tak tersisa. Dia berharap rasa perih tak terperi terkubur, jika tidak mungkin raganya yang membujur.
Apakah ini yang disebut permainan nasib? Bahwa kita harus memberi sebanyak kita menerima. Apakah itu berarti Arimbi harus rela memberikan pengorbanan dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya sebagai bentuk transaksi permainan nasib? Mengapa dalam hidupnya, Arimbi harus merasakan banyak kehilangan. Dia begitu mendambakan seorang anak. Namun, hingga hari ini, dia tidak juga dikaruniai momongan. Arimbi bukannya tidak pernah mengandung. Namun, Arimbi tak mendapat kemewahan untuk dapat mendekap bayi-bayi yang dikandungnya. Sudah dua kali dia keguguran. Membekaskan rasa trauma yang mendalam. Sedangkan Seno--sang suami, yang diharapkannya menjadi sosok yang membantunya melipur lara, malah terasa semakin menjauh. Arimbi merindukan Seno yang dulu. Seorang perwira AU kharismatik yang membuatnya jatuh cinta dengan kehangatan dan sikapnya yang sangat melindungi. Semakin lama Arimbi berharap, semakin dia merasa terbelenggu asanya. Demi membebaskan diri dari beban hatinya, Arimbi menenggelamkan diri dalam kesibukkannya. Dia lebih memilih untuk fokus mengurus perusahaan ekspor ikan sarden yang diwarisi dari sang ayah.
***
The only cure I have ever known for fear and doubt and loneliness is an immense love of self.
- Alison Malee -
Bali, Oktober 2013
Pagi datang tergesa, seakan mentari tergelincir dari balik cakrawala, menggoreskan gradasi warna oranye fajar pagi yang epik. Debur ombak yang menderu memecah pantai, mengalunkan gelombang menenangkan, semacam irama ritmis mistis yang membuat otak merasakan ketenangan dan kedamaian.
Efek menenangkan itu berasal dari partikel ion-ion negatif bebas yang tersebar di udara dan pasir pantai. Hal seperti ini yang paling Arimbi butuhkan saat ini, untuk mengawali hari-harinya yang terasa hambar dan hampa. Dia ingin menghapus mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya selama ini. Sedikit celah baginya untuk merasakan sebuah kenyamanan.
Bali dan pantainya adalah salah satu surga di bumi. Pesisir sekalipun. Seperti pantai yang merupakan satu kawasan dengan pelabuhan Pengambengan ini. Pelabuhan Pengambengan merupakan tempat wisata yang berada di wilayah Jembrana, Negara, Bali. Selain penunjang sektor transportasi dan perekonomian. Di sekitar kawasan pelabuhan terdapat pabrik pengolahan ikan hasil tangkapan para nelayan. Pelabuhan perikanan Nusantara Pengambengan (PPN Pengambengan) ini tidak sepopuler pelabuhan-pelabuhan lainnya di Bali; Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Padang Bai, ataupun Teluk Benoa. Namun, pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali.
Seperti pelabuhan umumnya, pelabuhan Pantai Pengambengan berfungsi sebagai kapal bersadar, menaikkan penumpang, menurunkan penumpang, dan bongkar muat barang. Namun, ada yang berbeda disini. Ada pemandangan unik. Kapal nelayan tradisional di wilayah pelabuhan Pengambengan dicat penuh warna. Lalu, pembongkaran hasil tangkap ikannya tidak langsung dilakukan didermaga melainkan dibongkar di tengah kolam tambat labuh dan menggunakan tenaga pengangkut manusia atau panol. Tempat ini adalah tempat favorit bagi yang hobi memancing. Hampir tiap hari ada saja yang mencoba peruntungan di pelabuhan ini, mulai dari pagi hingga petang bahkan sampai malam hari, duduk disekitar dermaga bahkan hingga ada yang sampai ke tengah laut berdiri mengambang hingga setengah badan mereka basah oleh air laut sambil memegang pancingan.
Rumah dinas Arimbi berbentuk vila. Berada di area yang bertetangga dengan kawasan pelabuhan. Area vila cukup luas. Terdapat beberapa bangunan dengan kolam renang ditengah-tengah bangunan. Arimbi dapat melihat hamparan laut membiru yang luas dengan ombak yang tenang. Di seberang lautan bagian barat tampak gugusan gunung-gunung di Pulau Jawa, terpahat indah di cakrawala. Belum lagi pemandangan senjanya, Arimbi dapat melihat tenggelamnya mentari di ufuk barat.
Villa itu adalah hadiah perkawinannya yang kedua dari orang tuanya. Hunian yang ditujukan sebagai rumah istirahat sementara jika dia dan ayahnya harus melakukan kunjungan kerja ke pabrik utama mereka di Negare. Terkadang pula, vila itu berfungsi sebagai sarana akomodasi bagi para tamu dan calon investor yang hendak melakukan kunjungan kerja atau transaksi bisnis dengan perusahaannya.
Arimbi memilih untuk tinggal disana saat ini. Fokus meningkatkan ritme pekerjaan dan dekat dengan pantai adalah jalan yang dipilihnya untuk keluar dari malam-malam panjang karena mimpi buruknya. Arimbi seringkali tak mampu terlelap hingga dini hari. Terkadang karena kelelahan dia bisa tertidur, tetapi kemudian tiba-tiba dia akan terbangun. Lalu, entah dari mana perasaan sedih, sendiri, hampa, menyergapnya. Malam menjadi semacam teror baginya. Akhirnya dia hanya bisa menangis dan menangis.
Arimbi mencoba menyembunyikan hal ini dari keluarga termasuk suaminya. Dokternya telah menyarankan untuk menemui kenalan psikiater. Meskipun dia membutuhkan teman bicara yang memahami kehilangan dan kekosongan yang dirasakannya, tetapi dia masih berpikir dan bersikukuh jika dia mampu melalui masalahnya kali ini seperti biasanya. Dalam pemikirannya, berlari ke pantai adalah sebuah jalan keluar. Jika kebanyakan orang harus melakukan terapi suara-suara debur ombak melalui rekaman suara bahkan harus merogoh kocek untuk berlari ke pantai sebagai upaya menenangkan diri atau sekedar menyegarkan pikiran, Arimbi cukup beruntung karena dapat menikmati karya epik sang pecipta kapan saja disini.
Sebenarnya, bulan Oktober ini, umumnya di negara tropis telah memasuki musim penghujan. Namun, terkadang cuaca pagi hari tetap cerah dan berubah seketika menjelang siang atau bahkan di kala senja. Sudah hampir dua minggu Arimbi memilih menjalani hubungan jarak jauh dengan keluarganya. Suaminya tinggal bersama ayah dan ibunya serta adik dan iparnya di Denpasar. Dia sendiri memilih untuk menenggelamkan diri mengurus bisnis dan pindah rumah. Baginya ini adalah obat.
Pagi itu, Arimbi bergegas bangun untuk mengawali hari seperti biasanya. Dibukanya jendela. Dinikmatinya semilir angin yang berembus sepoi-sepoi. Dia biarkan angin menyapu seluruh wajahnya. Dia berdiam diri sejenak lantas membersihkan dirinya, mengambil air wudu dan menjalankan Salat Subuh dengan khusyuk.
Arimbi menyiapkan sarapannya sendiri, setangkup roti, telur dadar dan secangkir teh hijau madu. Seraya menghabiskan sarapannya, Arimbi melihat pesan masuk melalui I-pad dan jadwalnya hari itu. Padat. Meeting pagi dijadwalkan pada pukul 8.30 WITA, dia masih punya cukup waktu.
Di antara pesan masuk dan daftar panggilan, Arimbi tidak menemukan nama Seno—suaminya. Seno tengah bertugas selama satu minggu ke luar kota, menghadiri Acara Puncak Sumpah Pemuda di Istana Merdeka dan serangkaian acara lain dikesatuannya. Mendapati kenyataan itu, Arimbi sebal. Bahkan disaat tengah menghadapi depresi seperti sekarang ini, sosok lelaki yang dirindukannya terasa semakin jauh. Dia merindukan suaminya. Namun gengsi rasanya untuk menghubungi lebih dahulu. Arimbi menginginkan, jika dia yang terlebih dahulu diingat. Ditanyai kabar, dan dicumbu rayu--kehangatan yang perlahan-lahan semakin memudar ditengah-tengah kesibukan keduanya yang berbeda arah.
***
Perjalanan ke kantor Arimbi tempuh dengan mengendarai Lexus RX 350 SUV-nya, cukup lima belas menit saja. Mobil Lapis Lazuli Mica-nya itu terparkir sempurna di parkiran.
Pak Komang, memberi isyarat membungkuk tanda hormat pada majikan mudanya itu. Seraya membuka pintu mobilnya, Arimbi tersenyum dan menyapa karyawannya itu dengan ramah.
“Pagi Pak Mang!” Arimbi berjalan ke arah pak Komang yang berjaga di posnya.
“Selamat Pagi, Bu Arimbi. Bagaimana kabarnya?” Pak Mang balik bertanya.
“Sehat-sehat saja, Pak. Terimakasih. Semoga Bapak juga sehat, ya. Saya masuk dulu, nggih!” Arimbi mengangguk, kemudian berlalu melewati Pak Komang.
Padahal, dia sebelumnya sangat ceria dan suka selalu menyempatkan mengobrol, pikir Pak Komang.
Kantor Arimbi berada di tengah kawasan pabrik pengalengan ikan. Luasnya total berkisar empat koma tiga hektarare. Berlantai dua, dengan luas bangunan sekitar tiga are.
Di lantai dua bagian atas kantornya, tertera logo perusahaan yang dicetak timbul. Perusahaan ini di bangun ayah Arimbi dari nol. Ayah Arimbi seorang nelayan asal Banyuwangi. Dia merantau ke Bali, kemudian memboyong seluruh keluarganya setelah beberapa tahun. Di Bali, dia mencoba peruntungannya dengan merintis bisnis di bidang perikanan, tepatnya berbisnis ikan berlokasi Jembrana.
Ayahnya tidak pernah menceritakan kisah detail perjuangannya membesarkan perusahaan. Ayahnya bukan tipe orang yang suka membicara masa lalu. Arimbi mencoba menyelami karakter ayahnya dengan bersikap patuh dan tidak terlalu banyak tuntutan. Bisa hidup nyaman selama dua puluh tahun terakhir hidupnya berkat kerja keras ayahnya selama ini. Belum tentu orang lain mampu mencapai kesuksesan seperti kesuksesan ayahnya saat ini. Jika orang lain mungkin harus mencapai puluhan tahun untuk mendirikan dan membesarkan sebuah perusahaan menjadi sebesar perusahaan ayahnya.
Dengan tangan dinginnya, ayah Arimbi mampu membawa perusahaannya menembus pasar ekspor dengan waktu relatif singkat. Hingga dua puluh berjalan di tangan generasi kedua yaitu Arimbi pangsa pasar pengalengan ikan sardennya bertambah luas hingga ke manca negara.
Pagi itu, Arimbi hendak mendiskusikan soal penurunan hasil tangkapan ikan sarden dan makarel nelayan yang berdampak pada penurunan pasokan bahan baku industri.
Huang, CEO berkebangsaan Singapura yang direkrut ayahnya sejak setahun terakhir ini, banyak memberikan masukkan bagi permasalahan ini. Huang memiliki jaringan pertemanan yang luas di kawasan Asia Tenggara, belum lagi dia memiliki pengalamannya di bidang ekspor-impor.
Selain karena bayaran yang diterimanya di atas pasar, Huang tengah mencari suasana baru pasca perceraiannya dengan mantan istrinya yang materialistis. Anak semata wayangnya, dia titipkan bersama ayah dan ibunya yang berdomisili di Singapura.
Sebulan sekali dia kembali ke Singapura melalui Denpasar untuk menjenguk buah hatinya.
Huang sudah menunggunya di ruang meeting dengan slide proyektor yang menampilkan materi yang akan dipresentasikannya pagi itu. Arimbi memberi tanda dengan melambaikan tangannya pada Huang.
Dari ruang meeting, Huang balik melambaikan tangannya. Arimbi meletakkan tas kerjanya.
Dihampirinya Huang di ruang meeting. Struktur organisasi perusahaannya memang terbilang minimalis, rapat kebijakkan perusahaan tidak pernah melibatkan aktor diluar Executive Director dan Chief Executive Officer-nya.
Dalam hal ini, Arimbi bertindak mewakili ayahnya yang sudah tidak aktif diperusahaan.
Setelah mengakhiri penjelasan di slide terakhirnya, Huang memberikan kesimpulan langkah-langkah taktis apa yang akan direkomendasikannya pada Arimbi.
“Jadi menurut hasil riset di lapangan, sebaiknya kita menambah variasi produk tidak hanya sarden, tetapi bisa juga makarel, dan tuna. Dikarenakan hasil tangkapan menurun sebaiknya kita bisa mencoba impor ikan dari negara seperti Pakistan, Oman, Yaman, Jepang, atau Maroko. Selain opsi itu, kita bisa juga menambah kapal penampung dan pembekuan ikan dan kita bisa sewakan ke nelayan yang memiliki awak kapal lengkap dan berpengalaman yang memiliki modal cukup besar. Selain itu, kita akan coba buat perluasan pangsa pasar kita di luar negeri. Kau tahu kan, kita belum merambah dan menggarap pasar Afrika, baru sebatas Asia Tenggara. Itu pun baru tiga negara saja, Malaysia, Singapura, dan Filipina." Huang memaparkan pendapatnya dengan penuh percaya diri.
Arimbi mendengarkannya dengan seksama kemudian setelah membolak-balikan data yang dipegangnya dia berkomentar, “Huang, aku setuju mengenai alternatif impor dari beberapa negara yang tadi kamu sebutkan, serta opsi penambahan jumlah persewaan kapal penangkap dan pembeku. Kita bisa mencoba untuk menemui asosiasi para nelayan untuk meminta rekomendasi kelompok nelayan mana saja yang bisa masuk hitung-hitungan budget perusahaan kita. Tolong buat komparasi hasil budgeting-nya. Kita jalankan yang paling mudah dan beresiko lebih kecil terlebih dahulu. Termasuk pasar Afrika, aku pikir itu sangat menjanjikan. Bisa kita buat skala perencanaan lebih detail untuk mencoba menjalin komunikasi dan kerjasama dengan mereka.” Arimbi antusias dengan ide yang Huang lontarkan. Bekerja memang hal yang selalu menumbuhkan semangatnya. Untuk sejenak dia lupa dengan kepedihan yang dirasakannya.
“Untuk proposal yang ini aku tunggu kira-kira seminggu ya? Kita akan meeting lagi untuk mematangkan rencana ini. Sedang untuk opsi menambah variasi produk, aku sarankan ditunda hingga hitungan proyeksi modal dan keuntungannya sudah jelas. Saya butuh gambaran lebih menyeluruh. Tolong segera kamu buat proyeksi modalnya, Huang. Terima kasih banyak, sebelumnya.”
“Oke, Bos!” Huang menyanggupi perintah atasannya.
Arimbi tersenyum, dia mengakhiri rapat sambil kemudian dia berdiri dan melangkah anggun keluar ruangan.
“Wait, do you have plan for lunch?” tanya Huang sambil tersenyum.
Arimbi menahan langkahnya saat akan membuka pintu ruang meeting. Dia menoleh kearah Huang mencoba meminta pengertiannya kali ini.
“No, I don’t. Aku tidak berencana makan siang, Huang. I need to go Denpasar this evening. I am so sorry Huang. Next time, I’ll promise you, I will join.” Arimbi tampak sangat menyesal.
Huang berdiri, dia mengedikkan bahunya, dan tersenyum tulus. “It’s okay, Ari. Next time will be okay.” Huang maklum. Biasanya dia mengajak Arimbi menghabiskan makan siang di kantin kantor bersama staf kantor agar staf merasa dekat, dan tidak ada jarak dengan atasannya. Hal ini dapat mempermudah hubungan kerja. Dalam perjalanan menuju kantor tadi, Arimbi memutuskan untuk mencoba menemui psikiater yang direkomendasikan dokternya.
“Aku akan jalan ke pabrik sekitar satu jam, setelah itu lanjut menuju perjalanan ke Denpasar," tambah Arimbi.
Huang menggangguk, dan menjawab, “Okay, see you next week."
“When will you back to Spore, Huang?” Arimbi masih lanjut bertanya.
“Next week, Arimbi. It’s okay, you can go to Denpasar, now!” Huang berkata sambil tertawa dan mengusir Arimbi seolah ia paham jika Arimbi merasa tak enak menolak ajakan makan siangnya.
Arimbi melangkah ke luar dari kantor. Dia memeriksa jadwal konsultasinya hari ini. Pukul 16.30 WITA. Ditengoknya jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 11.35 WITA. Dia putuskan mengambil beberapa barang keperluannya di rumah dinas, setelah itu dia langsung melanjutkan perjalanannya ke Denpasar.
*
Arimbi tiba di Rumah Sakit Siloam pukul 15.30 WITA. Dia putuskan mampir makan di salah satu tenant, lantai dua Lippo Plaza--Sunset Road Kuta--masih satu gedung dengan Rumah Sakit ini. Sudah sedari tadi perutnya kelaparan. Disantapnya menu empek-empek kapal selam hingga tadas, ditambah segelas jus semangka. Nyaman sudah perutnya.
Tiga puluh menit berselang, Arimbi bergegas ke meja resepsionis untuk mengkonfirmasikan janji temu yang telah dibuatnya secara online.
Resepsionis melihat data yang dimilikinya, lalu kemudian mengarahkan Arimbi untuk menunggu di poli klinik dr. Monik Grantika, Sp.KJ. Saat ini pasien nomor urut dua tengah menjalani terapi. Dia urutan berikutnya. Tepat waktu.
Akhirnya, tiba giliran Arimbi. Pasien sebelumnya keluar dari balik pintu ruang dokter bertepatan dengan asisten dokter memanggil nama Arimbi. Dia dipersilahkan masuk ruangan.
Di balik meja, seorang dokter perempuan tengah merapihkan catatan hasil diagnosa pasien sebelumnya. Demi dilihatnya Arimbi telah masuk ke ruangannya, dia mulai sesi Arimbi dengan menyapa lebih dulu dan bertanya kabar pasiennya hari itu.
Psikiater itu masih terbilang muda, sekitar usia awal 40 tahunan. Selisih lima tahun saja dengan Arimbi yang saat itu sudah mencapai usia pertengahan tiga puluhan. Dia berjas putih dan berkacamata. Dibalik jasnya, dia mengenakan dress berwarna biru gelap dengan flat shoes berwarna kuning gading. Tampilan casual-nya memberikan kesan ramah. Dia mulai mengajukan pertanyaannya pada Arimbi.
“Baik, Bu Arimbi. Tolong ceritakan seperti apa permasalah yang ibu hadapi?” dr. Monik mulai mengajukan pertanyaan awalnya.
“Begini dok, saya sudah sembilan tahun menikah. Selama kurun waktu itu saya sudah pernah mengalami dua kali kehamilan dan dua kali keguguran. Kehamilan pertama terjadi setelah saya menunggu hampir empat tahun lamanya".
"Ketika akhirnya saya hamil kembali, pada bulan kedua saya mengalami keguguran. Kehamilan kedua berselang lima tahun kemudian. Lebih menyakitkan lagi bagi saya. Saya mengalami keguguran hanya jelang sebulan lagi dari prediksi bayi kami lahir. Saya sudah terlanjur sangat mengharapkannya. Saya tidak bisa menerima kehilangan Abimana--nama yang saya berikan untuknya.” Mata Arimbi berkaca-kaca.
“Saya sudah terbiasa memanggil nama Abimana pada bayi saya setiap kali dia aktif bergerak. Saya akan menyentuhnya dan menyapanya dengan senang hati. Rasa saya, saya sudah sedemikian terikat dengannya, sehingga ketika harus kehilangan Abimana, bayi saya sekali lagi, saya memerlukan waktu yang lama untuk menerimanya."
“Meskipun terus terang Dok, setiap kali mengandung saya merasa sengsara. Tidak bisa tidur nyenyak sama sekali. Juga banyak dihinggapi mimpi buruk. Namun, saya tidak kapok. Mirip seperti kehamilan saya yang pertama. Banyak hal diluar nalar yang saya alami. Secara logika saya menolaknya--menganggap hal itu tidak nyata."
"Mimpi buruk disertai gangguan tidur itu begitu sangat menyiksa, ditambah dengan halusinasi mendengar suara orang memanggil-manggil nama saya. Saya merasa diawasi, entah oleh apa atau siapa. Hati saya selalu merasa was-was, dok. Terlebih lagi, dok, mimpi itu berulang hampir setiap hari. Selama hamil praktis saya tidak bisa ke kantor.” Arimbi mengembuskan napas berat.
“Meskipun terasa sangat menyiksa, tetapi suka cita karena akan mendapatkan keturunan mengalahkan semua rasa itu."
“Jujur saja, fisik saya terkuras sekali. Badan saya yang sebelumnya berisi berubah drastis seperti orang yang menjalankan diet ketat. Hanya bagaian perut saja yang membesar. Nyaris seperti orang busung lapar. Jarang sekali saya merasa lelap saat tidur, bahkan kadang tak bisa tidur sama sekali."
"Anehnya, indera penciuman dan pendengaran saya rasanya jadi lebih tajam. Kadang saya mencium wangi bunga, kadang-kadang bau darah, padahal suami atau orang di sekitar saya tidak bisa menciumnya. Kadang saya seperti mendengar suara orang memanggil-manggi nama saya, kadang lain hari saya mendengar suara lonceng, desisan ular yang memekakakkan telinga.
“Tunggu, Bu Ari. Suara lonceng seperti apa? Bisa Anda ceritakan lebih detail?” potong dr. Monik.
"Suara lonceng itu mirip dengan suara lonceng yang biasa di pakai pendeta adat. Tetangga saya saat melakukan upacara adat biasanya membunyikan lonceng yang suaranya mirip. Sesungguhnya saya tidak menganggap aneh hal tersebut, karena ayah saya memiliki lonceng semacam itu di rumah. Beliau pecinta seni dan budaya. Semua artefak yang merupakan ciri khas budaya Bali, dia koleksi di salah satu ruangan rumah kami."
Dr. Monik tenang mendengarkan penuturan Arimbi. Ketika dilihatnya Arimbi masih akan melanjutkan keluhan yang dideritanya, dia memutuskan untuk membiarkan Arimbi menceritakan segala hal yang ingin dia tumpahkan.
Ruang konsultasi dr.Monik cukup besar kira-kira seukuran 4 x 5 m2. Ruangan itu ditata apik, sejuk dengan air conditioner (AC), juga wangi oleh wewangian herbal. Secara penataan, interior dan penggunaan furniturnya dibuat nyaman dan sesantai mungkin. Tidak seperti warna dekorasinya khas rumah sakit yang berwarna putih, warna ruangan ini berwarna green tosca yang ceria. Penampilan ruangan ini menghipnotis Arimbi untuk berbagi lebih bebas tentang semua perasaannya. Disudut ruangan, asisten dokter sigap menyimak.
Arimbi melanjutkan kembali kisahnya.
“Saya merasa sangat tertekan, Dok. Tertekan oleh keinginan dan harapan keluarga untuk saya, untuk keluarga kecil saya. Dokter pasti tahu, jika memiliki keturuan adalah sebuah tuntutan yang melekat pada diri seorang wanita. Saya merasa sangat terbebani oleh stigma itu. Meskipun, kini banyak kaum wanita yang sudah memiliki cara pandang yang berbeda, tetapi tidak semua keluarga demikian. Khususnya keluarga saya dan suami saya."
“Saya sangat cemas tak mampu memenuhi harapan suami, yaitu memberikan suami saya keturunan yang didambakannya. Desakan untuk segera mendapatkan momongan datang dari suami seolah tak cukup, pun dari keluarga besar saya dan suami. Mereka sangat mengharapkan kehadiran orang cucu. Saya merasa tertekan. Saya merasakan ada keamarahan yang tertahan dalam diri saya. Hal itu membuat suasana hati saya selalu cepat berubah. Saya merasa menjadi wanita yang tidak sempurna dan kurang dimata suami dan keluarga."
Arimbi menyudahi kisahnya dengan menarik napas panjang. Dia menghapus bulir air mata yang terlanjur menetes di pipinya.
Sebelum mulai menanggapi apa yang telah dikemukakan oleh Arimbi dengan panjang lebar, dr. Monik memberikan jeda beberapa saat. Jeda untuk Arimbi menurunkan tingkat emosinya, sehingga Arimbi mampu menyimak pendapat medisnya dengan lebih tenang, tidak terlalu dibalut perasaannya yang masih emosional.
“Bu Arimbi ..., dr.Monik memulai sesinya dengan tersenyum tipis, dengan suara lembut tapi tetap tegas terdengar.
“Apakah semua halusinasi dan gangguan tidur Anda masih berlangsung hingga hari ini?" Pertanyaan dr. Monik yang pertama dijawab Arimbi dengan anggukkan.
“Sudah pernahkah Anda menceritakan masalah yang anda rasakan pada suamimu dan keluargamu?”
Arimbi menggeleng. “Pada kehamilan saya yang pertama saya mengira semua yang saya alami itu normal saja. Bawaan bayi, kata orang. Akan tetapi, pada kehamilan kedua saya, sejak awal mengandung, semua gangguan yang tadi saya ceritakan pada dokter, saya menceritakan pula kepada suami, begitu pula dengan keluarga saya, tapi meraka tak percaya. Saya malah dibawa ke orang pintar. Hasilnya pun nihil."
“Lalu, yang terakhir ini. Saya keguguran kurang dari sebulan lalu, dok. Usia kandungan jalan minggu kelima. Keluarga menyaksikan sendiri kalau saya malah seperti orang yang depresi. Nyaris tidak bisa makan dan tidur. Saya kembali dihantui mimpi-mimpi itu. Bayangan orang-orang tak berwajah dari balik tirai putih yang penuh dengan bercak darah. Saya seakan tersekap dalam sebuah ruang hampa yang gelap. Dihadapan saya muncul sosok-sosok itu dari sudut yang gelap."
"Hanya terlihat kabut menyelimuti tirai dan wajah-wajah itu disertai suara desisan ular dan suara entah dari mana memanggil nama saya. Saya berteriak-teriak meminta tolong seolah-olah berteriak. Padahal suara saya tertahan ditenggorokkan. Mimpi kali ini bahkan lebih jelas dari mimpi-mimpi sebelumnya. Hanya bayangan wajah. Tidak hanya satu tapi banyak sekali wajah-wajah itu."
“Saya belum bisa menceritakan soal perkembangan terbaru tentang wujud mimpi saya kepada suami. Sementara ini, saya tinggal terpisah karena kesibukkan pekerjaan kami masing-masing. Dia juga kebetulan sedang ke luar kota sekarang ini. Saya dan suami memiliki irama kesibukan yang berbeda. Dia kerap kali dinas keluar kota. Sedangkan di sisi lainnya, saya pun memiliki kesibukkan yang padat di pinggiran kota, mengelola perusahaan ikan di Jembrana."
“Kadang kami hanya bisa bersantai saat suami libur dinas. Kadang juga tidak bisa, karena jika akhir pekan pun suami kerap ada acara dinas. Kami hampir tidak memilki waktu untuk kami santai berdua. Akhir-akhir ini, hubungan kami sepertinya malah bertambah renggang. Kami seolah-olah saling menghindar karena sama-sama tidak sanggup menerima kehilangan buah hati yang sangat kami damba-dambakan."
Arimbi terdiam menunggu respon dr. Monik yang sedari tadi melihat dengan seksama keseluruhan penampilannya. Dia seperti sedang melihat jauh kedalam dirinya.
*