Novelory

Unforgettable
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

“Ayolah Ann…kau kan sahabat terbaikku sejak lama,” ujar Reva sambil memohon pada sahabatnya itu dan memegang erat tangannya dengan tatapan memelas.

“Ahhh t-tetapi bagaimana jika rencana ini gagal?” tanya Anna, mukanya mulai terlihat cemas setelah mendengar permohonan Reva, gadis yang selalu ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri.

Kedua gadis itu saat ini sibuk mendiskusikan sesuatu di dalam kamar megah milik Reva, putri tunggal pengusaha kaya raya itu, yang digadang-gadang akan segera dijodohkan dengan anak pemilik perusahaan rumah sakit terbesar di Indonesia, bernama Brandon Athaya Putra. Namun sayangnya gadis itu sudah memiliki seseorang yang ia cintai tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

“Tenang saja, kau hanya cukup menemuinya untuk kencan selama tiga kali, namun pada pertemuan pertama buat dia tak ingin menemuimu lagi, dan selesai!” ujar Reva bersemangat, sampai-sampai tak menyadari sahabatnya kini semakin terlihat khawatir dibandingkan sebelumnya.

“…” Anna terdiam, sejatinya ia ingin sekali membantu sahabat karibnya yang sedang terdesak itu, namun ia sendiri saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak aman. Beasiswa ekslusif yang ia dapatkan beberapa tahun yang lalu untuk memasuki universitas impiannya, kini baru saja dicabut karena nilainya yang tak memenuhi standar akibat dirinya yang sibuk bekerja di luar jam kuliah untuk membiayai keluarganya.

“Gerry tahu soal ini?” tanya Anna, ia ingin tahu apakah kekasih Reva sudah mengetahui mengenai hal ini.

“I-Itu dia Ann, aku ingin perjodohan ini dibatalkan sehingga Gerry tak akan berprasangka buruk terhadapku,” ujar Reva yang kembali terlihat cemas. Anna juga semakin terlihat cemas melihat reaksi sahabatnya itu.

Reva seketika teringat, sahabatnya itu kini sudah menyandang gelar sarjanah kedokteran, ia memiliki kehidupannya sendiri yang jauh lebih rumit, dan saat ini dimintai tolong oleh sahabatnya yang bahkan hidup hanya dengan mengandalkan duit orangtuanya sepanjang waktu.

“Ada apa Ann? Sedang ada masalah ya di tempat kuliah?” tanya Reva, berusaha membuat sahabatnya kembali untuk membicarakan permasalahan kuliahnya dan beralih dari permasalahan yang seharusnya ia hadapi sendiri.

“Sedikit…hanya masalah biaya kok, bukan hal yang penting,” ujar Anna sambil memaksakan senyuman lebarnya di hadapan Reva.

“Butuh biaya berapa Ann?” tanya Reva.

“E-Eh jangan-jangan, lebih baik kita bicarakan hal yang lain—“

“Tak apa Ann, aku ingin tahu, berapa jumlah yang kau butuhkan?” tanya Reva lagi.

“Eum…sekitar lima belas juta…” ujar Anna, merasa tak enakan memberitahukan hal tersebut.

Tiba-tiba Reva tersenyum, ada sesuatu yang muncul dalam benaknya.

“Ann, aku punya ide…jika kau bersedia membantuku, aku akan membantumu juga untuk mendapatkan uang, sesuai dengan kebutuhanmu, bagaimana?”

Beberapa hari kemudian, Anna yang baru memulai kegiatan magangnya sebagai dokter muda di Rumah Sakit Sentral Medika, kini terlihat sedang sibuk mengurusi beberapa data pasien.

Tiba-tiba tampak teman seperjuangan Anna, Jasmine, berlari dengan wajah khawatir menuju posisi Anna.

“Ann Ann, Gawat! Cepat bantu pasien di ruangan tiga A, keadaannya kritis sekarang, mereka butuh cadangan darah AB yang banyak!” ujar Jasmine pada temannya yang bertugas menjaga kunci-kunci ruangan hari itu.

Anna mengerti, dengan cepat gadis itu membuka etalase mini berisi puluhan kunci dan mengambil salah satu kunci tersebut. Ia segera berlari menyusuri lorong rumah sakit dan hendak melewati belokan untuk sampai di ruangan tempat cadangan darah disimpan.

“BRUKKK!!!” seketika ada sesuatu yang menabrak Anna begitu pun sebaliknya, sampai membuat kuncinya terjatuh di lantai. Perlahan-lahan ia menoleh. Tampak seorang pemuda dengan jas hitam serta dasi merah pada lehernya, berdiri tepat di depannya. Itu adalah Brandon, pemilik perusahaan yang menaungi rumah sakit ini. Namun sayangnya Anna yang merupakan pendatang baru tak pernah mengetahui mengenai informasi tersebut.

Brandon dengan cepat segera mengambil kunci yang berada di lantai lalu memberikannya pada gadis yang ada di hadapannya lalu membaca nama yang tertera pada name tagnya yaitu Anna Zaela Cantika, tepat sebelum gadis itu pergi.

“Terima kasih,” ujar Anna sambil menatap pria di depannya, menerima kunci tersebut, lalu bergegas pergi. Dalam waktu singkat, Brandon sempat menatap wajah Anna dan seketika terpana dengan kecantikan dokter muda tersebut.

“Nama yang tidak asing,” pikir Brandon, lalu pria itu segera masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan asistennya, Jarvis, untuk mencari seluruh informasi mengenai gadis bernama Anna Zaela Cantika.

Beberapa saat kemudian, Jarvis mendatangi ruangan pribadi Brandon. Ia telah mencari seluruh informasi mengenai gadis bernama Anna tersebut. Pada awalnya ia sangat bingung, karena bosnya tak pernah menyuruhnya untuk mencari informasi seseorang se-detail itu.

Jarvis menjelaskan jika gadis bernama Anna Zaela Cantika adalah putri sulung dari Bapak Calvin Antoni Patika, Ayahnya dahulu pernah membantu perusahaan Ayah Brandon, Nicholas Amidi Chakra, saat sedang berada di ujung tanduk, namun semenjak omzet perusahaan kembali naik, Nicholas memutuskan untuk mengambil alih perusahaan atas namanya sendiri. Dan putri sahabatnya tadi saat ini sedang bekerja magang sebagai calon dokter di Rumah Sakit milik keluarga Brandon.

“Pantas saja nama itu, aku pernah membacanya dalam arsipan dokumen Ayah, di situ disebutkan jika teman seperjuangannya memiliki kaitan dengan gadis bernama Anna, mereka adalah Ayah dan anak,” pikir Brandon.

“Oke kerja bagus, kamu boleh pergi sekarang,” ujar Brandon pada Jarvis. Ia masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, lebih tepatnya perasaan bersalah. Ia bisa menikmati seluruh hak perusahaan karena berkat bantuan Ayah Anna. Namun sang Ayah malah tak pernah sedikit pun menyinggung nama Bapak Calvin.

“Oh iya Pak,” ujar Jarvis yang tiba-tiba teringat jadwal Brandon bosnya setelah ini.

“Ada apa Jarvis?”

“Setelah ini Bapak ada janji kencan dengan Reva, putri Bapak Surya dan Ibu Partricia pukul lima sore di Restoran Chantel,” ujar Jarvis, seketika Brandon segera mengecek jam tangannya, jam kini menunjukkan pukul enam tiga puluh sore.

“Okeee okeee saya akan segera ke bawah sebentar lagi…” ujar Brandon sambil menghela napas dalam-dalam, jauh dalam lubuk hatinya ia tak ingin mengikuti kencan tersebut jika bukan karena permohonan kedua orangtuanya yang sangat ingin cepat-cepat memiliki menantu.

Sementara itu Anna di sisi lain sedang bersiap-siap membereskan barang-barangnya, ia hendak pergi untuk mengikuti kencan sesuai arahan Reva.

“Wah buru-buru sekali ya?” tanya Michael, teman seperjuangan Anna yang kebetulan juga sedang berada satu sesi jaga rumah sakit dengan gadis tersebut.

“Iyaaa…” ujar Anna sambil sesekali mengecek handphonenya karena terdapat puluhan pesan dari Reva.

“Ada acara ya?” tanya Michael peduli, kedua matanya terus terpaku pada Anna.

“Iyaaa ni kebetulan lagi ada acara…kalau begitu aku duluan ya,” ujar Anna, matanya terlihat lelah setelah seharian mengurusi dokumen-dokumen pasien hari itu.

Beberapa menit kemudian ojek yang ia kendarai sampai di depan kos-kosan yang ia sewa untuk merantau di Kota Jakarta dari Kota Bandung. Sesampainya di kamar, terlihat berbagai tas, hak tinggi, gaun dan aksesoris yang telah dipinjamkan Reva untuk kencan Anna hari ini.

“Ayo semangat Ann, tiga kali pertemuan saja dan kamu bisa mendapatkan uang tersebut,” pikirnya dalam hati.

Di sisi lain, Brandon yang kini telah sampai di lobby Restoran Chantel, segera masuk dan duduk di salah satu meja, meja tersebut terletak tepat di depan pemandangan laut Jakarta sore itu. Ia menunggu sambil memikirkan bagaimana sosok Reva yang akan ia temui nanti. Ia tak pernah berpikir akan menikah dan berkeluarga dengan seseorang melalui cara seperti ini.

Sepuluh menit berlalu, namun tanda-tanda kemunculan Reva tak kunjung ia rasakan. Brandon kembali mengecek jam tangannya. Tepat saat itu pintu lobby terbuka, Anna yang telah mengenakan gaun putih bermotif bunga, hak tinggi, tas bermerek serta aksesoris mahal pada tubuhnya segera masuk dan menanyakan mengenai keberadaan laki-laki bernama Brandon.

Sekujur kaki dan tangannya bergetar, ia sangat khawatir semuanya tak akan berjalan sesuai dengan rencana. Sesuai arahan pelayan restoran, Anna segera berjalan menuju meja di mana ada seorang laki-laki berjas hitam yang telah menunggunya.

Dengan seanggun mungkin Anna segera duduk, perlahan-lahan matanya berusaha menatap wajah Brandon, lalu kembali membuat tatapan sinis secara sengaja. Namun seketika Anna teringat sesuatu.

“Wajahnya tak asing…” pikir Anna.

“Halo Reva…” sapa Brandon, ia berusaha menatap dan memastikan jika orang dihadapannya bukanlah Reva, melainkan Anna, gadis yang ia temui di lorong rumah sakit hari ini. Alih-alih tak bersemangat saat bertemu teman kencannya, Brandon malah menjadi semakin bersemangat, karena ia tak perlu bersusah payah untuk menemui Anna agar ia dapat membalas budi pada gadis tersebut atas seluruh bantuan Ayahnya pada perusahaan keluarga Brandon.

“Oh halo, kau pasti Brandon bukan?” tanya Anna dengan nada datar, berusaha terlihat tak peduli.

“Iyaaa, ini silakan pesan dahulu, jangan sungkan untuk memesan apapun yang kau inginkan,” ujar Brandon, ia mencoba menutupi fakta jika dirinya sudah mengetahui jika wanita di hadapannya bukanlah Reva melainkan Anna.

Perlahan Anna mengambil menu yang terletak di atas meja, betapa terkejutnya ia saat matanya menelusuri harga beberapa menu yang tertera di situ. Hampir seluruh harga makanan berada di atas seratus ribu.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, laki-laki yang ada di hadapannya adalah lelaki yang sama dengan yang menabraknya di lorong rumah sakit hari ini.

“Astaga, j-jadi dia CEO yang menjadi pemilik perusahaan Rumah Sakit Sentral Medika? Matilah aku! Tetapi kejadian hari ini berlalu dengan cepat, dengan seragam yang kukenakan juga seharusnya ia tak akan mengingat wajahku,” pikir Anna.

Kencan tersebut baru berjalan lima menit namun sudah menimbulkan banyak beban pikiran di benak Anna.

Anna seketika berpikir keras agar bisa pergi dari tempat itu dan membuat Brandon kesal.

“Ahhh tak habis pikir, tidak ada menu yang aku sukai di sini,” ujar Anna sambil memasang wajah cemberut dan kesal, ia berharap setelah ini Brandon akan kesal dengan tingkah lakunya dan langsung memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini.

“Mau makan di tempat lain?” tanya Brandon dengan santainya, tak ada tanda-tanda keberatan dari nadanya berbicara.

Beberapa saat kemudian kini Anna dan Brandon telah berada di Warung Padang yang terletak tepat di pinggir jalan.

“Nah ini dia tempat yang sering menjadi tempat langgananku,” ujar Anna bersemangat lalu bergegas mengambil piring dan memilih lauk sesukanya. Ia tahu cara ini akan ampuh untuk membuat Brandon kewalahan dengan sikapnya.

Saat gadis itu menoleh, ternyata Brandon sudah turut memilik lauk di piringnya, bahkan seluruh saat di total harga makanan di piring Brandon melampaui harga makanan pada piring Anna. Selama Brandon sibuk membayar di kasir, Anna menggunakan kesempatan itu untuk mencuci tangannya.

Anna dengan cepat segera duduk dan tak tanggung-tanggung makan dengan tangan kanannya. Brandon terdiam tak berkutik.

“Kalau kau tak suka, aku juga tak memaksa, kau bisa pergi,” ujar Anna sambil lanjut menyantap makanannya. Dengan cepat Brandon segera berdiri lalu pergi, Anna tersenyum. Namun hal yang terjadi malah di luar dugaannya, Brandon ternyata pergi hanya untuk mencuci tangannya lalu segera kembali dan turut menyantap makanan di piringnya.

Dua puluh menit pun berlalu, usai selesai makan, suasana kembali hening.

“Jadi bagaimana tanggapanmu? Setelah menikah nanti, aku akan lebih sering makan di sini,” ujar Anna dengan nada ngesoknya.

“Baguslah, aku suka wanita yang hemat,” ujar Brandon sambil tersenyum.

“Ahhh lagi-lagi gagal!” pikir Anna sambil memikirkan ide lain.

“Ada tempat lain yang mau kau kunjungi?” tanya Brandon sambil menatap Anna dalam-dalam. Anna membuang mukanya, tak ingin menatap pria itu. Matanya kini tertuju pada toko emas yang berada tepat di sebelah Warung Padang tempat mereka makan.

“Tempat apapun itu?” tanya Anna.

“Iyaaa,”

“Kebetulan bulan ini aku belum belanja perhiasan apapun, kau tak keberatan kan membiayai itu semua?” tanya Anna, dalam lubuk hatinya ia berharap agar pria di sampingnya semakin tak tahan dengan tingkah lakunya itu.

“Tentu, tak apa-apa, bukan masalah besar untukku,” ujar Brandon santai.

“Okeee, ayo ikut aku,” ujar Anna sambil berjalan ke toko emas terdekat sehingga tak membutuhkan waktu banyak.

Sesampainya di toko tersebut Anna berjalan-jalan mengitari toko sampai hampir sekitar satu jam, sebenarnya itu adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di toko emas, mau tidak mau ia harus melakukan ini agar Brandon mau membatalkan perjodohan tersebut.

Alih-alih kesal, Brandon malah menunggu Anna dengan sabar memilih perhiasan yang ia inginkan, alasan ia tetap sabar melihat gadis di sampingnya bolak-balik tanpa memilih apapun adalah karena ia merasa nyaman berada di samping Anna, kehadiran gadis itu selalu dapat menarik perhatiannya.

Entah mengapa, Brandon kini malah terpaku pada heels yang membuat Anna semakin kesusahan untuk berjalan.

Brandon pun perlahan berjalan mendekat.

“Jadi bagaimana? Ada perhiasan yang kau sukai Reva?” bisik Brandon pada Anna, kini wajahnya hanya berjarak sekitar dua sentimeter dari telinga Anna.

Anna seketika panik mendengar pernyataan tersebut, lalu kembali berjalan menjauh.

“Hadeuh…sayangnya perhiasan di sini tak ada yang menarik perhatianku, dan kebanyakan sudah aku miliki,” ujar Anna.

Tiba-tiba seorang pelayan datang dan menawarkan satu perhiasan yang merupakan produk terlaris di toko mereka.

“Kalau yang ini, apakah kau suka Nona? Perhiasan ini banyak dipakai oleh para artis bersamaan dengan gaun keluaran terbatas yang kau pakai saat ini,” ujar pelayan tersebut sopan.

“Oh tentu, namun sayangnya aku sudah membeli itu melalui toko lain kemarin,” ujar Anna sambil memaksakan senyumnya, lalu pelayan itu segera pergi.

“Ayo kita pergi dari sini, ada tempat yang ingin aku kunjungi,” ujar Anna masih dengan nada ngesoknya itu, ia berpikiran untuk mengajak Brandon pergi ke pasar malam di Jakarta. Setelah gagal membuatnya kesal di toko tadi, Anna pun memutuskan untuk memakai ide terakhirnya.

Sesampainya di pasar malam, Anna segera berlari menuju wahana bianglala lalu segera masuk ke dalam wahana itu diikuti dengan Brandon.

“Hahaha, mana ada CEO yang mau harga dirinya direndahkan dengan menaikki bianglala, setelah ini ku jamin dia akan menyesal dan segera pergi!” pikir Anna.

Angin tertiup lembut dari segala sisi, membuat rambut Anna beterbangan perlahan. Brandon yang berada di depannya seketika membenarkan sehelai rambut dan menyelipkannya pada telinga gadis tersebut.

Anna terpaku, ia diam seribu bahasa. Lalu segera menyandarkan kepalanya ke sisi bianglala untuk menjauhi tangan Brandon, begitu juga Brandon segera menarik tangannya kembali, ia khawatir Anna tak akan merasa nyaman dengan kehadirannya.

Mata Anna perlahan-lahan menelusuri pemandangan Kota Jakarta malam itu, sejak lama ia tak pernah memanjakan dirinya seperti ini akibat tugas kuliah dan skripsi yang menumpuk selama masa kuliahnya, sehingga saat ini ia bisa merasakan kesenangan meskipun dengan orang yang baru ia temui

Tiba-tiba Anna memperhatikan bianglala yang berada tepat di sampingnya, sepertinya ada sosok yang ia kenal.

“Astaga! Itu Jasmine? Ahhh…pasti dia sedang berpegian dengan teman SMAnya, d-dia tak boleh melihat aku di sini berduaan dengan Brandon,” pikir Anna sambil menyipitkan matanya, berusaha memastikan jika benar gadis yang ada di situ merupakan Jasmine, teman satu kuliahnya yang berasal dari Jakarta.

Seketika bianglala yang dinaiki Anna dan Brandon berhenti, Anna tanpa menunggu lama segera berlari menjauhi Jasmine yang akan turun dari bianglala tepat setelah dirinya.

Brandon kebingungan melihat Anna yang tiba-tiba pergi meninggalkannya begitu saja.

“Reva tunggu!” ujar Brandon sambil mengejar Anna dari belakang.

Dengan sepatu hak tinggi yang belum biasa ia pakai, Anna tetap memaksakan diri untuk berlari sejauh mungkin dari kerumunan, ia tak ingin jika citra Brandon turun hanya karena berita mengenai dirinya yang sedang mengencani seorang gadis biasa sepertinya.

“BRUKKK!!!”

Tanpa Anna sadari di depannya terdapat batu besar yang membuat sepatu haknya tersangkut hingga kaki kanannya terkilir.

“AW!!!” ujar Anna yang mencoba menahan suaranya dengan paksa agar suaranya tak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Reva!” suara Brandon terdengar memanggil Anna.

“Sini biar aku bantu,” ujar Brandon sambil membantu Anna bangkit.

“Tak perlu, aku bisa sendiri,” ujar Anna yang segera kembali memakai hak tingginya itu lalu berusaha berjalan pergi sambil tergopoh-gopoh.

Brandon semakin bingung sekaligus semakin tertarik dengan tingkah laku Anna, entah mengapa sosok yang ia lihat pagi ini dapat berubah seratus delapan puluh derajat seperti saat ini.

Brandon kembali mengikuti Anna dari belakang lalu segera mengangkat gadis itu. Anna terkejut dengan perlakuan baik Brandon padanya. Ia kira laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya, namun rupanya ia masih bersikeras ingin melanjutkan kencan tersebut bahkan mengangkatnya untuk masuk ke dalam mobil, dia adalah seorang CEO perusahaan yang tak akan pernah bisa kau baca jalan pikirannya.

Dengan lembut Brandon melepaskan hak tinggi di kedua kaki Anna, dan menaruh kedua sepatu tersebut di bagian belakang mobil.

“Tunggu di sini sebentar,” ujar Brandon sebelum ia menutup sisi pintu mobil Anna.

Sambil menunggu Brandon kembali, Anna memutuskan untuk memperhatikan keadaan di sekitar mobil. Sepi, tidak ada orang di area tersebut. Akhirnya ia bisa menghela napas dengan tenang.

Beberapa menit kemudian Brandon kembali dengan membawa obat pertolongan pertama dan juga sebuah sandal yang entah dia dapatkan dari mana.

“Sini berikan padaku, aku bisa sendiri,” ujar Anna yang sudah tidak asing melihat obat-obatan tersebut di rumah sakit setiap harinya.

Brandon memperhatikan gadis di sampingnya membalut lukanya dengan baik.

Saat Anna hendak membersihkan luka lecetnya menggunakan alkohol.

“AUW!!!” tiba-tiba Anna mengernyit akibat rasa perih yang baru ia rasakan sejak lama. Brandon yang ada di sampingnya langsung mengambil alkohol tersebut dan memutuskan agar dirinya saja yang mengobati luka itu.

Anna memandangi wajah Brandon, ia berpikir jika sikap laki-laki itu tak terlalu buruk juga untuk seorang CEO yang biasa dikenal atas sikap angkuhnya.

“M-Mengapa kau selalu sabar dan bersedia membantuku?” tanya Anna tiba-tiba, ia mendadak lupa berbicara dengan nada ngesoknya itu.

“Tentu, mana mungkin aku membiarkan calon istriku terluka begitu saja,”

“Tetapi kau bisa saja pergi dan memilih gadis lain yang tak merepotkan sepertiku bukan?” tanya Anna yang masih berusaha keras agar Brandon membatalkan perjodohan itu.

“Tidak, kau tak merepotkan sama sekali, saat kita sudah menikah nanti, biaya yang ku keluarkan untuk gaya hidupmu tak akan sebanyak wanita-wanita di luar sana pada umumnya,” ujar Brandon sambil tersenyum, ia terpaksa harus berpura-pura menganggap gadis di depannya adalah Reva dan bukannya Anna, ia tak peduli, selama Anna berada di sisinya ia tak akan pernah memikirkan mengenai perjodohannya dengan Reva yang asli.

“Oh astaga aku lupa, tentu kau tak keberatan sama sekali secara kau akan mendapatkan banyak keuntungan setelah kita menikah nanti,” ujar Anna, sambil memperhatikan Brandon kini telah selesai menutupi lukanya dengan perban dan saat ini pria tersebut sedang memakaikan sandal pada kedua kaki Anna.

Usai Brandon mendengar perkataan Anna, ia pun menatap gadis itu, keduanya kini saling bertatapan, suasana hening seketika membuat jantung Brandon berdegup dengan kencang tanpa dirinya sadari.

“Reva, aku ingin kamu tahu, entah kau berasal dari keluarga paling kaya di Indonesia atau bahkan kau tak memiliki keluarga sekalipun, aku tak peduli, selama aku merasa nyaman dengan keberadaanmu, perjodohan ini akan terus berlangsung,” ujar Brandon lalu segera menutup sisi pintu mobil Anna perlahan.

Anna yang mendengar perkataan Brandon seketika terdiam, jauh dalam hatinya ia bingung apakah ia harus senang atau sedih setelah mendengarnya.

Selama perjalanan Anna hanya terdiam, ia terus-menerus mengingatkan dirinya sendiri untuk cepat-cepat mencari cara agar ia tak perlu bertemu dengan Brandon lagi, cepat atau lambat demi kelangsungan hidup keluarganya, ia harus mendapatkan uang tersebut.

Tak terasa ternyata mobil yang dikendarai oleh keduanya kini telah sampai di depan rumah Reva.

“Terima kasih,” ujar Anna singkat tanpa menatap Brandon yang berada di sebelahnya, ia masih ingin memberikan kesan buruk pada pria tersebut, namun Brandon malah tersenyum melihat tingkah laku gadis itu.