Novelory
Nama gue Ghea. Ya, nama yang agak pasaran, tapi Ghea seperti gue, kalian hanya akan pernah bertemu satu di dunia. Bungsu dari tiga bersaudara keluarga Rhodes. Umur sekarang dua puluh tiga tahun dan pekerjaan tetap saat ini adalah sebagai pekerja seni.
Pernah denger rumput tetangga selalu lebih hijau? Mungkin itu yang orang - pikir tentang gue. Pertama, i'm not gonna be greedy dan bilang kalau gue cantik dan kaya, karena cantik itu relatif dan terlalu luas untuk di kotak - kotakin seperti langsing, putih, mancung dan rambut panjang lurus, no. Dan kalian harus selalu yakin sekaya apapun kalian saat ini akan ada orang yang lebih kaya dari kalian. Kekayaan cuma aset semu. Sementara.
Tapi, ini kata keluarga gue, sih, dan masa sih, gue nggak percaya sama orang terdekat sendiri? Gue itu cantik. Mungkin bukan cantik yang bisa bikin dunia jadi damai seketika, tapi mereka bilang gue cantik. Dan iya, orangtua gue kebetulan orang berada. Profesi mereka dokter, dan selagi lo udah bukan dokter lagi residen, menumpuk kekayaan bukan hal yang sulit. Dan mereka bukan orang tua yang banyak mau terhadap anak - anaknya. Cukuplah kami tumbuh besar dengan sehat dan bahagia.
Mereka bahkan nggak pernah meminta kami, tiga bersaudara ini, untuk mengikuti jejak mereka yang dokter. Yang mana oleh para kerabat kami, dikatakan konyol. Sebaliknya, kami bertiga tidak ada yang tertarik menjadi dokter dan malah menggeluti dunia seni.
Kakak sulung gue, perempuan, adalah dancer kontemporer. She's great in her field. Dia pernah mencoba menegikuti jejak Mama dan Papa untuk belajar kedokteran. Tapi memang passion dia bukan di situ. Bukannya mendorong agar berusaha lebih keras, orang tua gue malah memintanya untuk mengeluti hal yang benar - benar disukainya. Hal yang membuatnya merasa bahagia saat melakukannya.
Lalu Abang laki - laki gue. Dia udah menyelesaikan wamilnya bebera tahun yang lalu. Sama seperti Kakak pertama, dia juga menggeluti dunia seni. Bukan sebagai penari, tapi sebagai pemain salah satu alat musik traditional Korea. Meski begitu, dia pandai memainkan alat musik lainnya. Kami berlatih piano bersama saat kecil dan dia juga mengajari gue cara bermain gitar.
Then me, the youngest. Seperti di awal gue sebutkan. Kaya yang tadi gue bilang, gue pekerja seni. Tepatnya idol. Yap, gue seorang idol. Kalian pasti tau siapa gue. Nama panggung gue Gaia, taken from the name of Earth Goddess. Gue tergabung dalam group perempuan bernama Galaxy. Yass, i'm that Gaia. Tapi kalo kalian nggak tau juga siapa Gaia dan siapa Galaxy, yah... gimana ya. Mungkin karena kita dari agensi kecil dan fandom kita nggak seraksasa itu. Belum. Tapi gue pikir kami udah lumayan dikenal sekarang daripada beberapa tahun lalu. Jadi kalo kalian nggak tau juga.... kalian tinggal di goa emangnya?
Bukan mau sombong, tapi kami adalah salah satu girlgroup dengan kemenangan terbanyak di music show dan kualitas vocal yang bagus. Komponen music kami juga salah satu yang unik. Tapi yang paling meneonjol dari kami adalah sinkronisasi dance dan image kami yang powerfull dan innocent. Dan karenanya, reputasi brand kami selalu berada seratus besar tingkat nasional. Quite impressive, i know. Dan itu datang dari group yang debut dari salah satu agensi kecil.
Itu tadi keluarga gue. Lalu ada member group gue. Mereka mungkin bukan yang paling cantik seantero music industry, tapi menurut gue mereka yang tercantik. Mereka humble dan ramah luar biasa. Kami sayang satu sama lain.
Bahkan kami sudah seperti saudara sendiri. Tidak canggung sama sekali. Ini beneran, bukan cuma click bait atau cuma akrab di depan kamera seperti yang ditunjukkan beberapa group lain. Group - group yang mendadak naik daun terus mendadak disband. No, we're real.
We're real! Dan itu mungkin salah satu rahasia kami masih saling akur walaupun sudah berkumpul lebih dari lima tahun terhitung sejak kami pertama kali bertemu waktu training dulu.
Memang dulu kami sempat canggung dan terlihat saling mengintimidasi. Pepatah bilang tak kenal maka tak sayang itu bener banget! Nyatanya, makin ke sini, apalagi setelah kami semua diumumkan menjadi line up untuk debut dalam group yang sama. Kami jadi lebih dekat dan perasaan untuk saling melindungi itu mulai tumbuh dan semakin menguat.
Gue itu anggota termuda. Berdua sama Dhita sebenarnya, Btw nama panggungnya Afrodite, tapi dia lahir dua bulan lebih dulu, jadi the youngest of the group goes to... me. Bukan berarti things went easy for me. Karena kenyataannya, kami semua melalui awal yang benar-benar sulit di industri ini. Cibiran, hates, dan perjuangan untuk diakui serta membuktikan kalau kami punya kualitas itu panjang. Nggak serta merta kami dapatkan begitu saja.
Karenanya, berada di titik sekarang nggak lantas membuat kami menjadi lupa diri. Kami tetap humble dan ramah, karena berfikir banyak hal yg menjadikan kamibseperti ini. Lalu setelah disini, apakah semua jadi lebih mudah? Nggak juga. Seperti yang gue bilang di atas, we aim higher karena rumput tetangga memang terlihat sehijau itu.
Gimana? Sudah merasa iri sama gue? Kalau belum, ada satu hal lagi yang mungkin bisa membuat beberapa dari kalian akan langsung membeli boneka voodo dan menuliskan nama gue di sana. Cantik, kaya, terkenal, baik dan ramah yes, itu aku. Dan to complete the list, i'm taken. Yap, gue nggak single lagi.
Namanya Moss. Terdengar nggak asing? He's the perfect man alive in the world for me. Ganteng? Sudah pasti. Kaya? Nggak jauh berbeda dengan orang tua gue. Genius, of course. Boyfriend material, pasti semua orang akan setuju dengan ini. Karena gue pacaran dengan Warriors Moss.
We dated for five years already. Kok bisa nggak keciduk papparazi? Pasti banyak dari kalian yang penasaran. Itu karena kami backstreet. Hanya orang tua kami dan kami sendiri yang tau tentang hal ini.
Benar. Kami backstreet. Dari seluruh dunia. Bahkan member dan menejer dari kedua group saja nggak ada yang tahu tentang ini. Asik? Ya asik lah, punya cowok nyaris perfect gitu. Sedih, ini juga jelas banget. Nyembunyiin sesuatu tuh nggak enak. Berasa kaya bawa bangkai di kantong. Ketar ketir.
Jadi kalau kalian mengira rumput tetangga lebih hijau dari punya kalian, berpikirlah seperti ini. Mungkin memang punya dia lebih hijau, tapi halaman gue nggak ada tikus tanahnya. Karena sesungguhnya kalian nggak pernah tau apa yang tersembunyi di balik keindahan yang mereka tampilkan.
Kalau kalian iri dengan keadaan gue saat ini, please don't. Karena gue juga pernah iri pada kalian yang bisa dengan tenang memberi tahu dunia tentang perasaan kalian, tentang betapa kalian mencintai seseorang tanpa harus memikirkan banyak hal kaya gue.
"Halo?" kata gue setelah menggeser layar ponsel gue, membuat benda pipih itu berhenti bergetar.
"Ketemu di studio?" Suara dalam yang hampir dua hari ini nggak gue dengar menyapa telinga.
"Belum bisa sekarang. Masih di studio dance."
"Aku tunggu di sini sampe kamu dateng."
"Oke. "
Panggilan terputus. Gue menyapu pandangan ke sekeliling studio dance pada kelima gadis cantik yang sedang berlatih. Member gue. Apa yang gue lakukan saat ini sudah tepat? Apakah salah?
Tentu saja di sudut hati, ada perasaan bersalah. Tapi mereka nggak pernah curiga apapun tentang apa yang gue lakukan di gedung ini. Seandainya tembok bisa bicara, gue yakin mereka nggak akan segan mengadu tentang apa yang gue sembunyikan rapat selama ini dari dunia.
Ini kisah gue.
Kalian tertarik menyimaknya?
"Abang masih mau di sini?" Gue ngangguk. "Ya udah, nanti bang menejer gue suruh balik buat jemput lo."
"Nggak usah, Yon. Bisa naik taxi gue nanti."
Satu persatu keenam cowok yang dari tadi bersama gue melambai dan keluar dari ruangan. Tinggal sendirian di studio seperti ini bukan hal yang baru. I'm practically living here.
Gue keluarin ponsel dari kantong jaket dan mendial nomor yang sekarang sudah kuhapal di luar kepala.
"Halo," suaranya pelan. Menandakan sedang nggak sendirian.
"Ketemu di studio?" Gue bertanya singkat. Bukan cuek, hanya nggak bisa basa-basi.
"Belum bisa sekarang. Masih di studio dance."
"Aku tunggu di sini sampe kamu dateng."
"Oke."
Kami mengahiri panggilan.
Namanya Ghea Rhodes. Member termuda girlgroup bernama Galaxy. Sosok yang....nggak pernah neko - neko dan selalu lurus. Yang menjadi pusat dunia gue sejak lima tahun yang lalu.
Yes, she's the one.
Nggak ada yang tau tentang hubungan kami. Gue yang selalu memasang pokerface dan dia yang memang pendiam. Kami berdua begitu mirip, tapi juga berbeda.
Kami sama - sama bukan attention seeker. Kami senang dengan apa yang kami punya sekarang. Bukan jenis puas yang membuat kami nggak mau berusaha, tapi jenis senang seperti: i know i did well today, let's try harder next time.
Kami juga sama-sama pendiam. Tapi jangan berpikir saat berduaan nggak ada yang kami bahas. Karena nyatanya selalu ada topic baru yang muncul untuk di bahas di antara kami. Bisa dibilang, salah satu rahasia awetnya hubungan kami adalah karena kami saling pengertian, dan nyambung.
Selain itu, kami memiliki hobi bermusik yang sama. Sama - sama suka menulis lagu dan bermain piano serta gitar.
Tapi di sisi lain, she's the complete opposite of me. Dia suka terbangun lalu memandang langit, gue lebih suka tidur. Dia murah senyum, gue lebih ke cold. Dia suka jalan - jalan, sedangkan gue, walaupun ingin, agak susah melakukannya. Seringnya karena gue malas terkena sinar matahari. Dia sabar, nggak pernah menaikkan intonasi bicaranya, gue sebaliknya, temperamental. Dia nggak malu menunjukkan perhatiannya, dan gue yang memperhatikan dalam diam.
Semuanya selaras tapi serba terbalik. But we fit best!
Alasan kenapa nggak ada yang curiga dengan hubungan kami adalah, karena kami lebih sering bertemu di studio ini. Ya, kami banyak bersama di kantor agensi. Mereka sering berlatih disini, jadi nggak mencurigakan kalau ada member Galaxy berkeliaran di gedung ini. Apalagi sekarang kami sudah satu label, karena Merger. Lagipula, nggak ada larangan bagi kami untuk menjalin hubungan. Dulu mungkin iya, tapi sekarang nggak lagi. Itu juga salah satu alasan yang membuat kami menyembunyikan hubungan dan keterusan hingga selama ini.
Kami nyaman seperti ini, walaupun kadang ada sedikit rasa nggak enak karena nggak benar - benar jujur pada yang lain. Dan lagi, kami nggak begitu suka mengumbar kemesraan di depan umum. Malu, iya. kami sama-sama pemalu dan merasa nggak nyaman dengan PDA kayak gitu.
Ada satu cctv di sebelah atas kiri yang mengarah pada pintu. Ada satu juga di gagang pintu. Tapi keduanya terhubung di salah satu komputer di ruangan ini. Jadi, pas selesai nanti, gue hanya perlu menghapus footage agar tidak ada siapapun yang tahu. Sekedar berjaga - jaga.
Masih jam 11.20 malam. Biasanya latihan mereka selesai dini hari. Gue bakal nunggu dia kesini. Karena gue butuh lihat dia. Kami sudah nggak ketemu dan nggak komunikasi selama dua hari. Ada pekerjaan yang wajibin gue buat fokus, dan sebelum semangat gue rontok, gue usaha banget menyelesaikannya dalam waktu sesingkat mungkin.
Ke enam member gue meyakini apa yang gue lakukan di dalam sini adalah bagian dari production and composing music. Itu bukannya salah, hanya kurang betul. Gue tetap melakukannya, tapi ada saatnya gue hanya diam seperti ini menunggu seseorang yang akan bikin semangat gue kembali lagi sebelum selesein perkerjaan gue.
Gue butuh dia sebelum melakukan itu semua. Atau gue bakal berakhir tak bertenaga dan hanya mengeluh meminta tidur sepanjang hari. She's my happy pill.
Seseorang memasukkan kunci kombinasi di pintu masuk studio. bikin gue kaget dan menegang penuh antisipasi. Siapa?
Cklek.
Hembusan nafas lega terdengar saat seseorang yang dari tadi gue tunggu kedatangannya muncul, secepat mungkin menutup pintu di belakangnya. Gue baru ingat kalau hanya dia dan gue aja yang mengetahui kunci kombinasi studio ini. Member yang lain hanya kesini saat bersama gue. Bodohnya gue yang lupa hal kayak gitu.
"Mas," sapanya masih terengah - engah. Sepertinya lari dari lift menuju kesini.
Gue segera berdiri menyambutnya, merentangkan tangan minta peluk. Apa? Wajar, kan? I'm her boyfriend.
"Baby. Aku kangen." kata gue meberikan kecupan sekilas di keningnya.
"Me too. Tapi aku nggak bisa lama. Latihannya break tiga puluh menit aja, yang lain lagi makan."
"It's okay. That's enough." Daripada enggak sama sekali.
Nanti kalau kalian punya pacar yang sama - sama sibuk, kalian akan tau bahwa sesingkat apapun waktu kalian bersamanya itu berarti. Ini yang bilang udah pengalaman lima tahun ya. Pengalaman kami sudah panjang. Tiga puluh menit itu hitungannya lama, biasanya, kami cuma bisa saling sapa, mentok pelukan dikit di depan restroom kalo pas lagi papasan dan beneran nggak ada waktu buat berduaan.
"Kamu nggak ikut makan?" Satu yang gue kurang suka adalah kebiasaannya diet. She's been dieting her whole life since trainee. Dan jadi idol butuh tenaga yang nggak sedikit. Latihan non stop dan staging yang nggak kenal waktu dengan jatah tidur yang amburadul. Itu nggak segampang kelihatannya.
Tapi gue hanya diam. Nggak mau nanti malah dibalikin karena toh gue dulu pernah juga seperti itu. Diet sampai depresi parah. Jadi, kalau bisa nggak bertengkar, kenapa harus memulai?
Dia menggeleng. "Nggak laper. Tadi juga udah makan banyak sebelum latihan. Mas apa kabar? Makin tirus."
"Jangan lebay. Yang makin tirus itu kamu. Sehat, kan? Nggak nakal dua hari ini?"
Dengannya, gue jadi lebih banyak bicara. Lebih bebas mengekspresikan diri gue. Nggak sejaim yang orang tau tentang gue. Mungkin kalimat 'Cinta bakalan rubah lo jadi lebih baik' itu bener adanya. Gue nggak tau ini bagus apa nggak, tapi dia terlihat senang saat sesekali gue cereweti. Katanya perhatian.
"Aku bisa nakal apa, sih? Mas tuh, yang bikin kuatir. Ketemu sama penyanyi - penyanyi cantik."
"Hhh, harus bahas ini lagi? Aku udah bilang berkali - kali loh kalau nggak tertarik sama mereka. Itu cuma kerjaan."
"Iyaaa."
"Kalau aku bisa milih sesukaku, mending kolab sama kamu atau sama membermu aja. Tapi kan tau sendiri...."
"Iya, Mas Sayang.... Iyaaa. Maaf."
"Aku tadi beli coklat panas. Tapi karena udah berjam - jam jadi udah dingin."
"Jangan dibuang!" Cegahnya pas gue mau buang coklat itu ke tempat sampah khusus sampah basah.
"Tapi udah dingin, Baby."
"Sayang makanan dibuang - buang. Pamali."
"Emang kamu mau minum?"
"Siniin, minum berdua."
"Kan aku nggak suka manis!"
"Berarti nggak suka aku?" Mukanya cemberut. Gue tau dia bercanda.
"Kecuali kamu, sih."
"Kali ini aja. Demi aku. Ish, sayang nggak sih sebenernya?" Sungutnya saat gue malah kembali duduk di kursi kerja gue tanpa menjawab.
"Dikit aja ya."
"Mas seperempat, sisanya aku, deh."
"Banyak amat!"
Tapi toh gue menurut saat dia menarik salah satu kursi dan duduk di dekat gue, mendekatkan gelas plastik itu biar gue bisa minum. I really can't say no to you, right? Nggak papa, gue udah ketemu dia, yang berarti, gue lagi bahagia. Gue kalo lagi happy jadi baik, kok.
Kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Bukan buat yang aneh - aneh, ya! Serius! Lagian kami berdua selurus itu. Bahkan, udah lima tahun lebih pacaran, kami baru beberapa kali cium bibir. Dan itu pun cuma pecking. Alias kecupan doang. Jadi plis, nggak usah mikir yang aneh - aneh ya. Kami nggak sebinal itu kok gaya pacarannya.
Beberapa menit sebelum waktu istirahat gue habis, kami keluar dari studionya. gue duluan, dia bakal nyusul agak nantian, biar nggak ketauan aja sama cctv depan lift situ kalo kita barengan. Tadi juga sempet lihat dia hapus footage cctv ruangan dia. Yah gimanapun, namanya studio itu harta karun bagi para musisi, kan. Kalau orang awam mah lihatnya komputer dan blabla yang bisa dijual. Padahal kalo malingnya pinter, ada yang lebih mahal dari itu di dalamnya.
Itu kata Mas Moses. Oh, Btw Moss itu nama panggungnya, nama aslinya Moses. Temen - temen dan fans dia manggilnya sih Moss, tapi kalo gue manggilnya Moses. Jadi gitu itu tadi katanya pas gue tanya kenapa ruangannya, yang aslinya nggak gede banget ini, ada cctvnya sampe dua.
Gue balik ke ruang latihan dan dia harus pulang. Tadi Bang Dion, Leader Warriors dengan nama panggung Dionisos, sempet telpon nanyain bakal pulang apa nginep studio, karena besok pagi mereka ada jadwal pagi di suatu tempat. Dan Mas Moses bilang bakal pulang bentar lagi.
Gue masuk berpapasan dengan Kak Rhea yang jalan keluar buat buang sampah bekas mereka makan. Bukan gue doang yang nggak ikut makan. Kak Alala, kami manggilnya Lala, juga nggak makan, dia lagi rebahan di pojok sambil wajahnya ditutup jaket.
"Dari mana, Ghe?"
"Luar, Kak. Cari angin. Masuk duluan, ya."
Dulu, kami setuju nyembunyiin hubungan kami karena dating masih menjadi hal yang tabu buat rocky group seperti kami. Bukan nggak boleh, lebih ke... fokus ke sini dulu jangan mikir ke sana - sana dulu, gitu. Dan siapa sih, yang nyangka kalau hubungan ini bakal seawet ini? Jujur, awalnya, gue tuh yakin banget kalo Mas Moses nembak bukan karena cinta sama gue. Bukan yakin lagi, orang dia sendiri bilang kok. Walaupun sekarang kami berlomba - lomba jadi siapa yang lebih bucin, tapi kami beneran pernah berada di tahap itu.
Pasti pada nanya, kalo nggak cinta kenapa nembak? Kenapa di terima? Alasan kenapa dia nembak, tanya sono sama orangnya. Karena alasan pastinya gue nggak tau. Dan lagi, bagi gue itu udah nggak penting karena yang penting itu sekarang. Dan sekarang, dia sayang sama gue. Yakin banget.
Kenapa di terima.... yah, karena gue kagum sama dia. Gue sampai di sini awalnya bukan murni kehendak sendiri. Gue nggak pernah mimpi untuk menjadi seorang idol. Dulu cita - cita gue adalah diplomat. Dan gue adalah tipe orang yang serius mengejar mimpi. Tawaran dari Pak CEO untuk ikut audisi saat itu bisa saja dengan mudah gue sekip dan mungkin gue sedang serius menjalani hidup sebagai diplomat sekarang. Jadi memang benar bahwa kesempatan yang datang tiba - tiba hanya dianggap sebagai keberuntungan belaka. Karena gue juga berpikir begitu. Dulu.
Tapi bagi mereka yang memang memimpikan dan mencita - citakannya? Saat merasa usahanya sudah amat maksimal tapi nggak ada yang menghargai? Ibarat lo berusaha menyeberangi samudra dengan tongkang kayu seadanya, lalu di tertawakan oleh mereka yang naik yacht atau kapal pesiar. Bikin semangat lo tenggelam dan akhirnya kalah di hantam ombaknya.
Itu yang dia bilang ke gue saat pertama kali bertemu. Kami berbeda agensi. Gue dan Mas Moses, awalnya. Tetapi agensi kami hanya terpisah jalan kecil. Sering sekali kami menyeberang ke agensinya untuk sekedar menumpang kamar mandi dan mencari angin di sela - sela latihan sebelum debut yang intense.
Hari itu, suatu hari di tahun 2014, saat kami masih jadi trainee, gue mengantar Kak Rhea dan Dhita yang sekalian mencuci baju di toilet gedung seberang jalan yang bagus itu. Kami sering melakukannya, karena toilet di sana lebih bagus dan dorm trainee kami juga kadang suka bocor. Sambil nunggu mereka selesaikan urusannya, gue berjalan - jalan di dalam gedung tersebut, saat menemukan seorang cowok yang tertunduk di ujung tangga daruat. Yah, namanya juga jalan - jalan, tentu aja gue nggak pake lift. Lagipula, gue nggak puya kartu akses gedung ini untuk menggunakan lift.
Flashback 2014
Dia duduk di pojokan gitu. Jongkok lebih tepatnya. Kepalanya di sembunyikan di antara ke dua lututnya. Badannya kurus. Dan bajunya serba hitam, memakai topi terbalik.
"Permisi, Bang? Abang nggak papa?" Gue menepuk pelan bahunya karena dari bawah tadi gue perhatiin dia nggak bergerak sama sekali. Bahkan gue nggak yakin dia nafas apa nggak. Suara gue buat sepelan mungkin. Agak takut sebenernya, entah karena apa. Tapi di sini hanya ada kami berdua.
Dia masih nggak bergerak. Gue kembali menepuk pelan pundaknya. Gue memang keras kepala. Padahal, seharusnya gue pergi aja dari sana. Toh bukan urusan gue. Tapi gue nggak bisa kayak gitu. Salahin malaikat yang kasih gue hati nurani berlebih saat pembagian rejeki di kandungan Mama dulu.
Dia akhirnya mengangkat wajahnya. Mata sipit yang tajam sekarang menatap gue. Marah? Sedih? Banyak hal berkelebat di mata itu, tapi wajahnya sungguh expresionless. Poker face yang sebenarnya. "Siapa?"
"Eh... itu.... Abang nggak papa? Abisan dari tadi...."
"Bukan urusan lo, kan?"
Gue kaget. Kok ngamok? Nada suaranya seperti senapan saking ketusnya. "Maaf, deh. Saya tadi cuma kuatir Abang kenapa - kenapa. Misal butuh bantuan saya bisa lari kebawah nyari bantuan gitu...."
"Lari ke bawah? Lo bukan karyawan sini?"
Nah loh ketauan. "Eh... emm.... enggak, Bang. Saya trainee gedung depan." Kata gue takut - takut. Asli sih, nada bicaranya ketus banget. Ghea bego, nyadarnya baru sekarang.
"Langit Musik?" Gue mengangguk. Mendadak dia ketawa. Tapi nadanya idih, ngejek banget sumpah! "Yakin mau debut di sana? Mending keluar, deh. Cari agensi lain yang lebih bagus. Yang prospeknya lebih jelas."
"Maksud abang agensi saya sekarang nggak bagus?!" Kan emosi juga jadinya.
" Emang bagus?" Ya enggak juga, sih. Tapi kan nggak usah diucapin keras - keras, kayak nyumpahin jatohnya. Kalo ada malaikat lewat trus ngaminin kan repot! Urusan sama takdir. "Nggak ada bedanya sama agensi sini. Kecil, nggak ada masa depan. Udah susah payah juga masih kaya jalan di tempat."
"Abang artis di sini?" Nggak di jawab. Cuma diliatin aja sampe cengo salting sendiri. "Abang sendiri kenapa masih diem aja di sini? Nggak cari agensi lain? Karena Abang masih mau berusaha bareng - bareng kan sama agensi lecil yang udah kasih kesempatan? Yang udah percaya sama kemampuan Abang? Kalau agensi besar, belum tentu mereka liat potensi Abang. Saya nggak tau sih, Abang sehebat apa, Tapi asal Abang terus usaha, suatu saat pasti bakalan kebayar. Bisa bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi."
Sadar kalau udah banyak ngomong, akhirnya gue diam. Karena diliatin terus juga sih. Ya siapa juga yang nggak keder diliatin mulu nyaris tanpa kedip gitu? Gue sih takut, kalo kalian nggak, sini, ayo tukeran tempat.
"Siapa nama lo?" Gue udah siapin kata-kata buat pamit, tapi nggak jadi karena dia udah duluan nanya.
"Ghea Rhodes."
"Ghea?" Aku menegangguk "Trainee berapa lama?"
"Hampir setahun?"
"Umur lo berapa?"
"Enam belas tahun, Bang. Em, Permisi ya Bang, mau balik dulu takutnya di cariin buat latihan."
Gue buru-buru bergegas turun setelahnya. Kayak tau kan, pengen cepet cepet cepeeet banget pergi dari situ. Kalau ada doraemon, rasanya ingin pinjam pintu kemana sajanya biar bisa pergi dari sana secepat mungkin.
"Semangat buat debutnya."
Hah?