Novelory

Mengejar Cinta Mas CEO
4.7
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

“Ayolah, Mas. Aku sudah mengejarmu sampai ke ujung dunia. Sekarang aku berada di sini, masa kamu mau menyia-nyiakan aku?”

Aaron memerhatikan wanita yang terdampar di ranjang kamar hotelnya, lalu menggelengkan kepala. Wanita ini benar-benar mabuk, pikirnya.

Dia berjalan ke arah meja di sudut ruangan, kemudian tangannya meraih pesawat interkom untuk memanggil petugas keamanan hotel, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat bagian atas tubuh wanita itu yang sedikit terbuka. Aaron menaruh gagang pesawat interkom, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

“Mas …. Ayolah mendekat padaku.”

Aaron merebahkan dirinya di samping wanita ini. Meskipun belum mengenal secara pribadi, dia sudah tahu wanita muda ini yang sering berjalan mondar-mandir di hadapannya, apalagi saat makan siang di foodcourt.

Tanpa aba-aba wanita ini sudah menggelayutkan kedua tangannya di leher Aaron, lalu menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak sekitar 10 cm.

“Cium aku, Mas. Atau kalau kamu mau lebih, silakan. Tidak usah ragu-ragu.” Kedua tangan kecilnya telah berpindah ke muka Aaron. Dia mengelus pipi dan dagu Aaron yang tampak ditumbuhi rambut-rambut tipis.

Aaron tersenyum menatapnya. “Kamu kecil-kecil ternyata ganas ya!”

Ekspresinya yang tadi kesal melihat wanita ini, telah berubah menjadi gemas. “Kamu mau aku menciummu?”

Sang wanita mengangguk.

Aaron menundukkan kepala, lalu mencium bibirnya pelan. Not bad, pikirnya. Bibirnya terasa manis dan lembut. Dia mencium sebentar, hanya beberapa detik.

“Lagi ….”

“Kamu mau lagi?”

“Iya.”

Aaron kembali menciumnya. Satu tangan sang wanita sudah berpindah ke leher Aaron, satu tangan lainnya masuk ke dalam kemejanya melalui sela-sela kancing, berusaha mengelus-elus dadanya.

“Sebentar ya.”

Aaron melepaskan kemeja dan celana panjangnya, menyisakan celana boxer abu-abu yang masih menutupi miliknya. Dia berbaring kembali menghadap wanita ini.

“Aku sudah melepaskan pakaianku jadi kamu bebas untuk mengusapnya. Tapi ini tidak adil. Seharusnya kamu juga membuka pakaianmu.”

“Buka saja. Aku milikmu, Mas.”

Aaron tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Entah mengapa tiba-tiba dia penasaran. Dia pun melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh wanita ini, tanpa menyisakan sehelai kain pun.

Uufffsss ….

Aaron pun bersiul saat melihat bagian atas tubuh wanita ini, namun sekonyong-konyong dia tertegun. Tidak, ini tidak benar! Dia menggelengkan kepalanya. Kini dia bimbang, antara melanjutkan atau berhenti.

Saat dirinya masih termangu, bingung dengan keputusannya, tiba-tiba tangan wanita ini menariknya lagi.

“Mas, kenapa diam? Ayo kita lanjutkan.”

Aaron mencium wanita ini lagi, sembari tangannya mulai mengelus segala keindahan yang tadi terpampang jelas di matanya.

Wanita ini mulai mendesah, merasakan kenikmatan. Aaron yakin pasti wanita ini sudah terangsang. Dia pun semakin melancarkan aksinya. Dengan piawai tangannya terus memberikan stimulasi pada tubuh wanita di sampingnya.

Tidak lama tubuhnya sudah berpindah ke atas tubuh sang wanita. Bibir mereka langsung berpagutan. Sementara kedua pasang tangan mereka sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Entah sampai berapa lama. Hanya Aaron yang tahu, karena wanita cantik dan manis ini masih dalam keadaan setengah mabuk.

Keesokan harinya Aaron terbangun karena sebuah teriakan keras di sampingnya.

“Arrgghhh!!! Apa yang kamu lakukan padaku, Mas?!”

Aaron menutup mulut wanita bodoh yang berbaring di sampingnya. Sementara sang wanita mengintip tubuhnya yang polos dari balik selimut.

“Kamu!!!” Wanita ini melihatnya dengan tatapan menuduh.

Dengan kesal Aaron bangkit dari tempat tidur. “Apa?! Kamu yang datang sendiri menyodorkan tubuhmu!”

Dia sudah berjalan ke arah toilet ingin membuang air kemihnya, tiba-tiba membalikkan badan. “Dan satu lagi, jangan memanggilku Mas! Aku bukan Mas-mu!”

Wanita itu, yang bernama Menik Kamanika, menatap Aaron sambil melongo karena pria itu berjalan tanpa sehelai kain pun. Dia dapat melihat tubuh bagian belakang pria itu. Detik selanjutnya dia membungkus tubuhnya rapat dengan selimut, lalu turun dari tempat tidur untuk mengejar Aaron yang melangkah ke dalam toilet.

“Tunggu!”

Brakkk!

Tepat di depan toilet, hidungnya nyaris bercumbu dengan pintu. Dengan tatapan kesal, Menik melihat pintu yang tertutup rapat, lalu berjalan kembali ke tempat tidur. Dia duduk di sana sambil menunggu Aaron. Wajah dan rambutnya tampak kusut.

Tidak lama Aaron keluar dari toilet, sudah mengenakan celana boxernya. Dia menatap tajam wanita yang duduk di pinggir ranjang.

“Untuk apa kamu memanggilku tadi? Kamu mau ikut aku ke dalam toilet?”

Menik melihatnya dengan cemberut. “Memangnya siapa yang mau ikut kamu ke toilet? Aku tadi hanya ingin …. ingin bertanya …. “

“Tanya apa?” Aaron menatapnya dengan galak.

Dia melihat kedua bola mata wanita ini yang sedang menatapnya. Wajahnya tampak penuh kasihan.

“Kamu …. Semalam kita ….”

“Aku menidurimu? Ya, tapi itu karena kamu yang datang sendiri ke ranjangku dan menyerahkan dirimu dengan suka rela kepadaku.”

Menik mengangkat alisnya, merasa heran dan tidak percaya. “Aku? Datang sendiri?”

“Aku tidak tahu. Kamu ingat-ingat saja. Pokoknya saat aku tiba, kamu sudah terdampar di ranjangku dalam keadaan tanpa pakaian secuil pun.”

“Hahhh? Benarkah?” Menik membelalakkan matanya.

Aaron tersenyum puas. “Untuk apa aku bohong? Apa kamu tidak ingat kalau kamu bangun dalam keadaan polos? Oh, aku sampai lupa. Terima kasih ya. Semalam kamu sudah membuatku cukup bahagia. Ternyata kamu lumayan hot.”

“Bohong! Kamu bohong!” Menik menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Aku tidak mungkin seperti itu.”

Aaron berjalan ke arah lemari pakaian dan membuka travel bag-nya. Dia mengambil baju kaus dan celana jins, lalu mengenakannya. Selesai berpakaian, dia menatap wanita yang masih duduk termangu di ranjang.

“Kamu tidak ada niat berpakaian? Apa menungguku untuk menyerangmu lagi? Kalau itu yang kamu mau, dengan senang hati aku akan melakukannya.”

Menik tidak menanggapi ucapannya. Dia masih duduk diam. Beberapa menit kemudian dia membuka mulutnya. “Kamu harus menikahiku.”

“Menikahimu? Hahaha ….” Aaron tidak dapat menahan rasa gelinya. “Lucu! Kamu lucu sekali! Sini, biar aku jelaskan kepadamu.”

Aaron melangkah ke tempat tidur, lalu duduk di sampingnya. “Semalam kamu datang sendiri ke kamarku. Entah jam berapa, aku tidak tahu. Aku menganggap kita melakukannya atas dasar suka sama suka, karena kamu yang merayuku untuk menyentuhmu.”

Dia diam memberi waktu kepada wanita ini untuk mencerna ucapannya. “Karena kita melakukannya dengan suka rela, aku tidak ada kewajiban apa-apa terhadapmu. Oke? Nah aku sekarang mau turun untuk sarapan. Aku minta saat aku kembali, kamu sudah tidak ada di sini. Mengerti?”

Sambil menepuk pelan punggung wanita ini, Aaron tersenyum. “Kamu wanita yang pintar. Pasti kamu dapat mengerti semua ucapanku.”

Setelah mengatakannya, Aaron bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah pintu. Tanpa menoleh, Menik bisa mendengar suara pintu yang ditutup kembali.

Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Tidak lama dia sudah menangis sesenggukan.

Ini salahku, ucapnya dalam hati. Seharusnya selama ini aku tidak mengejarnya. Mana mungkin pria seperti Aaron mau dengan wanita sepertiku. Seorang pemimpin perusahaan yang terkenal, ganteng dan kaya-raya. Aku sudah pasti hanya dianggap sebagai angin lalu.

Setelah puas menangis, Menik membuka kedua tangannya. Selama beberapa saat dia masih duduk sambil memerhatikan sekeliling kamar hotel ini. Kedua alisnya tampak berkernyit.

Masa sih aku yang datang ke sini sendiri dan menyerahkan diriku kepada Aaron? Dan apa benar aku dan Aaron melakukannya?

Dia melihat tubuhnya lagi dari balik selimut, lalu memerhatikan ranjang yang tampak berantakan. Apa benar seperti itu?

Dengan langkah lemas, Menik berjalan ke toilet. Betapa terkejutnya dia saat melihat bayangan dirinya di cermin. Aaron meninggalkan banyak jejak pada leher dan dadanya. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan jejak-jejak berwarna merah itu.

Tanpa sadar, Menik sudah mengepalkan kedua tangannya. Tidak bisa begini. Aku akan buat perhitungan dengannya. Enak saja sudah berbuat tidak mau bertanggung jawab. Jangan mentang-mentang laki-laki, lalu bisa berbuat semaunya.

Dua bulan sebelumnya ….

Dengan berlari-lari kecil, akhirnya Menik tiba di lobi Berlian Tower. Ini adalah hari pertamanya dia masuk kerja di Brightspot Advertising. Baru hari pertama saja dia sudah terlambat. Dengan tergesa-gesa dia berjalan di lorong lobi. Kedua matanya sempat melihat bayangan dirinya di kaca sebuah kafe yang berada di sana.

Astaga! Kancing blusku terbuka! Sambil terus berjalan, Menik menutup kembali dua kancing blusnya. Ah, memang baju ini sudah kesempitan, makanya kancingnya bisa terbuka, pikirnya. Nanti malam aku akan minta uang kepada Mama untuk membeli baju baru. Masa aku sudah mulai kerja masih memakai pakaian zaman kuliahku?

Atau kalau tidak, pinjam deh. Setelah menerima gaji, langsung aku kembalikan. Dia tersenyum mengingat Mamanya yang sangat baik, namun tetap perhitungan dengan anak-anaknya.

Bukkk!

“Awww!”

Menik meringis setelah kepalanya menabrak sesuatu. Dia mengangkat kepalanya. Tampak seorang pria tampan berdiri di hadapannya. Seketika wajah Menik langsung cerah. Dia melupakan rasa sakit di kepalanya yang menabrak keras bahu pria ini.

“Pak Aaron ….”

Pria yang disapa masih berdiri tegak di hadapannya. Pria ini lebih tinggi kira-kira sejengkal darinya yang mengenakan sepatu hak 7 cm. Wajahnya masih tampan seperti setahun yang lalu, dengan sorot mata coklatnya yang tajam seperti Tom Cruise, aktor kawakan Hollywood idola Mamanya.

“Siapa dia, Aaron?”

Tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita. Menik melihat ke arah pemilik suara. Dia tidak menyadari keberadaan wanita ini yang berdiri di samping kiri Aaron.

Aaron mengangkat bahu, lalu menoleh kepada teman wanitanya. “Aku tidak tahu. Biarkan saja. Yuk, kita jalan lagi.”

Tanpa berkata apa-apa kepadanya, mereka berdua berjalan dengan tangan wanita mengapit mesra lengan pria itu.

Menik memerhatikan mereka yang berlalu meninggalkan dirinya. Dia tidak menyangka kalau akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan sang pujaan hati. Namun ada sedikit perasaan cemburu mengalir di hatinya melihat wanita itu yang berjalan mesra bersama Aaron.

Kesadarannya timbul kembali. Astaga! Mengapa aku bisa lupa kalau aku sudah terlambat?

Dengan terburu-buru dia berjalan cepat ke arah lift. Tidak berapa lama, pintu lift pun terbuka. Menik masuk bersama seorang bapak, dia langsung mencari angka 27. Matanya menyusuri satu per satu angka yang berada di samping pintu.

“Lho, kok tidak ada?”

Menik menengok kepada seorang bapak yang berdiri di sampingnya. “Ehm, maaf Pak. Saya mau ke lantai 27, tetapi kok tidak ada angkanya.”

Bapak ini langsung menoleh. “Adik ini mau ke lantai 27? Berarti Adik salah naik lift. Kalau lift ini hanya sampai di lantai 20.”

Tiba-tiba pintu lift terbuka. Bapak di sebelahnya menahan pintu dengan menekan tombol, lalu berbicara lagi dengan Menik. “Adik bisa keluar di lantai 20, dari sana pindah lift ke lantai 27. Sudah ya, saya harus keluar sekarang.”

“Terima kasih, Pak.” Menik sedikit membungkuk kepada Bapak itu.

Akhirnya dia menekan angka 20. Dia masih menunggu beberapa saat hingga lift berhenti di lantai itu. Setelah pintunya terbuka, dia keluar.

Tidak ingin salah lagi, Menik benar-benar memerhatikan empat lift yang berada di lantai ini. Ketika salah satu pintu lift terbuka dan yakin itu benar lift yang dituju, dia pun masuk dan menekan angka 27. Di dalam dia mengembuskan napasnya sendiri.

Ya ampunnn! Semoga hari pertama kerja tidak mendapat masalah apa-apa. Dia tidak tahu bagaimana reaksi atasan dan rekan-rekan kerjanya nanti. Sudah karyawan baru, datang terlambat pula. Menik melirik arloji di tangan kirinya. Pukul 08.34. Aduhhh, bagaimana ini? Sudah terlambat lebih dari setengah jam.

Keluar dari lift, Menik berjalan cepat ke kantornya. Dia tidak mampir ke toilet untuk merapikan rambut atau riasannya. Jantungnya sudah berdebar keras, takut dimarahi atasannya.

“Selamat pagi …. Dengan Brightspot Advertising. Ada yang bisa kami bantu?”

Seorang resepsionis yang kira-kira seumuran dengan dirinya, 23 tahun, menyapanya dengan senyuman ramah.

“Ini Mbak …. Saya bukan tamu.” Menghadapi seorang resepsionis saja, dia sudah takut. “Sa-saya karyawan baru di sini.”

Sang resepsionis juga terkejut. Spontan dia melihat ke arah jam dinding yang berada di samping kanannya.

“Mbak karyawan baru di sini?” Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya. “Tapi sekarang sudah jam setengah 9 lewat. Kantor ini 'kan masuk jam 8.”

Menik meringis. “Iya, Mbak. Saya terlambat bangun. Aduh Mbak, tolong saya donggg! Sekali ini saja. Please ….”

“Bukan, bukan itu masalahnya. Tapi bukankah kamu harus menghadap HRD Manager lebih dahulu? Aku tidak bisa bantu apa-apa. Kamu masuk saja, toh kamu pasti belum ada nomor karyawan untuk absensi 'kan?”

Menik mengangguk sembari mengiyakan. “Iya, belum ada. Apa kira-kira HRD Managernya akan marah-marah sama saya? Kalau boleh saya tahu, dia Ibu atau Bapak?”

“Bapak. Pak Devan namanya. Memangnya saat wawancara kamu tidak bertemu dia?”

“Tidak. Yang mewawancarai saya, seorang wanita. Pak Devan ini orangnya galak atau tidak? Saya khawatir nanti dia marah-marah kepada saya di depan yang lain. Saya 'kan malu.”

”Hmm, masalah marah-marah atau tidak, itu sudah risiko. Lebih baik kamu masuk sekarang, biar tidak lebih terlambat. Karena kalau ….” Tiba-tiba tatapan resepsionis berpindah ke arah pintu. “Selamat pagi, Pak Devan ….”

Menik menegakkan tubuhnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku. Dia tidak berani menoleh ke belakang karena mendengar resepsionis memberikan ucapan selamat pagi kepada seseorang yang bernama Devan. Jangan-jangan pria di belakangnya ini manajernya!

“Ini siapa, Anggi? Tamu? Mau bertemu siapa?”

Ternyata Mbak resepsionis bernama Anggi, ucap Menik dalam hati.

“Ehm ….” Anggi tersenyum kepada pria itu. “Ini karyawan baru, Pak.”

“Karyawan baru?”

Terdengar suara terkejut dengan nada rendah dari belakang Menik. Refleks dia memejamkan kedua matanya.

“Kamu karyawan baru?”

Tiba-tiba Menik mendengar suara dari samping kirinya. Perlahan dia membuka kedua matanya, lalu menengok ke samping. Tampak seorang pria muda yang cukup tampan sedang memerhatikan wajahnya.

“Benar kamu karyawan baru?”

“I-iya, Pak.”

Devan mengangkat tangan kanannya sedikit untuk melihat arlojinya. “Sekarang sudah hampir jam 9. Kenapa kamu masih berada di sini?”

“Sa-saya terlambat, Pak.” Menik berusaha memberanikan diri menatapnya.

Devan memerhatikan Menik selama beberapa saat, lalu dia berkata, “Kamu ikut ke ruangan saya sekarang!”

Menik mengangguk, lalu tersenyum sebentar kepada Anggi, dan akhirnya berjalan di belakang pria ini. Mereka masuk melalui pintu kanan di samping meja Anggi, dan melewati beberapa ruangan staf. Dia dapat merasakan tatapan dari beberapa pasang mata tertuju kepadanya.

Tiba di ruangan Devan yang cukup luas, pria ini menyuruh Menik duduk di hadapannya, lalu dia pun duduk di kursinya sendiri. Setelah menaruh tasnya, Devan menatap Menik.

Ditatap seorang HRD Manager, Menik menundukkan kepalanya sedikit sambil memainkan kuku-kukunya. Suara kukunya yang saling beradu, meskipun pelan namun tetap terdengar oleh Devan.

“Kamu bisa tidak, berhenti memainkan kukumu? Sangat tidak enak terdengar di telingaku.”

Menik berhenti memainkan kuku, lalu mengangkat kepalanya. “Iya, Pak. Saya berhenti.”

Devan masih tetap memerhatikan Menik. Dia sangat mengenal wanita muda ini. Dia heran mengapa Menik tidak mengenalinya.

“Apa kamu tahu jam kerja di sini?”

“Saya tahu, Pak. Dari jam 8 sampai jam 5 sore.”

“Lalu kenapa kamu terlambat? Ini hari pertama kamu masuk lho, tapi kamu malah memberikan kesan buruk.”

“Iya Pak, saya tahu. Tadi malam saya lupa memasang alarm. Saya janji mulai besok tidak akan terlambat."

“Oke, kalau saya masih bisa memberi kamu toleransi. Tapi saya tidak tahu dengan atasanmu. Apa kamu sudah tahu siapa atasanmu?”

“Belum, Pak.”

“Mr. Gordon. Grand Gordon. Nanti kamu bilang saja kepadanya kalau kamu terlambat karena diajak berbicara dengan saya. Apa kamu mengerti?”

Menik menatapnya dengan heran. “Tapi saya 'kan baru sebentar di ruangan Pak Devan.”

“Tidak apa-apa. Bilang saja seperti itu. Atasanmu tidak akan bertanya lagi.”

Dengan ragu-ragu, akhirnya Menik menjawab, “Ya sudah. Nanti saya akan bilang seperti itu.”

“Sekarang kamu bisa ke ruanganmu.”

“Ruangan saya di mana, Pak?”

“Haiya!” Devan melihatnya dengan tatapan heran. “Jadi kamu belum tahu ruanganmu?”

“Ya, memang belum. Saya ke sini baru sekali saat wawancara dua minggu lalu. Kalau tidak salah di ruangan ….” Menik mencoba mengingatnya. “Di ruang rapat. Sepertinya begitu, Pak.”

Devan menghela napas kasar, lalu bangkit dari kursinya. “Sini, aku akan tunjukkan ruanganmu.”

Menik berdiri, lalu mengikuti Devan di belakangnya, keluar dari ruangan ini.

Di depan pintu Devan menengok kepadanya. “Itu ruanganmu. Kamu masuk ke sana, lalu temui Mr. Gordon.”

“Baik. Terima kasih, Pak Devan.”

Sambil menebalkan mukanya, Menik berjalan ke arah ruangannya. Dia ditempatkan di Creative Division, yang membuat iklan untuk para klien, sesuai dengan jurusan kuliahnya, Desain Komunikasi Visual.

Sampai di ruangannya dia mengetuk pintu, meskipun hanya pintu kaca. Dari dalam tampak seorang pria memberi kode kepadanya agar langsung masuk. Saat sudah berada di dalam, dia mendekati pria itu.

“Maaf Pak, saya Menik. Ingin bertemu dengan Mr. Gordon.”

Pria ini memandangnya. “Dari mana? Apa sudah ada janji?”

“Belum. Tapi saya karyawan baru di sini.”

“Karyawan baru?” Pria itu tampak terheran-heran.

Menik langsung menjawab, “Iya, tadi saya diajak bicara dengan Pak Devan sebelum ke sini.”

Huhhh! Untung saja Pak Devan orangnya baik. Pasti mereka merasa heran dengan dirinya yang baru muncul lebih dari jam 9.

“Oohhh …. Kalau begitu, kamu ikut aku.”

Pria itu mengantar Menik hingga masuk ke ruang Grand Gordon, manajernya. Dia berbicara sebentar dengan atasannya, lalu meninggalkan ruangan ini.

“Duduk!”

Menik melihat atasannya dengan kagum. Dia orang asing tetapi fasih berbahasa Indonesia, pikirnya. Tanpa membantah, Menik pun duduk di hadapannya.

“Saya sudah mendapat telepon dari Devan kalau kamu terlambat karena ditahan di ruangannya. Benar begitu?”

Sebenarnya Menik terkejut mendengar perkataan atasannya ini. Pak Devan benar-benar telah membantuku, pikirnya.

“Iya, Pak. Eh, Mister.”

“Good. Tapi lain kali jangan terlalu lama mengobrol di ruangannya. Di sini ada yang bisa kamu kerjakan. Jangan buang-buang waktu. Oke?”

“Iya, Mr. Gordon.”

“Sekarang kamu temui Ryan lagi.”

Menik melongo. “Ryan?”

“Itu yang tadi mengantar kamu ke sini.”

“Oh, dia. Baik, Mr. Gordon.”

Setelah bertemu atasannya, Menik pun menghampiri Ryan. Gila ya, dalam hati dia berteriak. Aku datang sekitar jam setengah 9. Sejam kemudian baru bisa duduk di kursi mejaku. Untungnya pria bernama Ryan ini sangat baik.

Di tim Ryan, masih ada 2 orang lagi yaitu Sissy dan Darren. Jadi mereka berempat, dengan Ryan sebagai ketua tim. Saat ini timnya sedang mengerjakan iklan perumahan. Proyeknya sendiri sudah berjalan 40%. Tinggal menunggu jadwal syuting bersama bintang iklan.

Ryan lebih mengajarkan hal umum di perusahaan ini. Dari deal dengan klien, penentuan konsep iklan, jadwal syuting sampai ke proses editing. Baru itu yang diajarkan kepadanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.

“Kak Sissy biasa makan siang di mana?”

“Di foodcourt yang berada di basement. Kamu mau ikut? Ayo, sekalian makan bersama yang lain.”

“Boleh, Kak.”

Mereka turun bersama-sama dengan tim lain ke lantai basement. Anggi juga ikut bersama mereka.

Foodcourt di gedung ini seperti di sebuah mall, terbilang mewah. Stan penjual makanan pun banyak dan cukup bervariasi. Menik mengikuti Sissy makan nasi bakar. Setelah membayar makanan masing-masing, mereka berjalan sambil membawa baki ke meja mereka.

Selain Sissy dan Anggi, masih ada dua rekan wanita dari tim lain, yaitu Dian dan Henny. Mereka makan sambil mengobrol.

“Jadi kamu baru wisuda setengah tahun lalu?” tanya Henny kepadanya.

“Iya, April kemarin. Aku coba mencari pekerjaan yang cocok, tapi tidak dapat. Akhirnya ada lamaran di sini dan kebetulan diterima.”

“Tapi beruntung lho kamu,” sahut Dian. “Baru pertama kali kerja, langsung diterima di sini.”

“Iya,” Sissy mengangguk. “Berarti mungkin kamu memang berbakat, makanya lolos seleksi.”

Menik tersenyum. Kalau urusan itu, dia tidak tahu pasti alasan dia diterima di sini. Yang jelas dia disuruh membuat portofolio desainnya sendiri sebagai salah satu persyaratan.

“Tapi enaknya kalian 'kan bisa mengikuti syuting ke mana-mana,” ujar Anggi.

“Tidak semua, Nggi. Pasti orangnya itu-itu juga,” balas Henny.

“Maksudnya apa ya, Kak?” Menik menatap Henny. “Yang Kakak maksud tadi orangnya itu-itu juga.”

Henny balas menatapnya. “Yahhh, nanti kamu lihat sendiri deh. Di sini persaingannya kuat.”

Menik tidak mengatakan apa-apa. Dunia kerja memang merupakan hal baru baginya. Saat dia sedang termangu, tiba-tiba matanya tertuju kepada sesosok pria yang sangat dikenalnya. Jantungnya pun berdetak kencang.

“Pak Aaron ….”