Novelory

Jangan Pergi Cinta
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

"Ayah, Devan berangkat ke kampus dulu ya. Assalamualaikum," ucap Devan menatap sayu laki-laki tua yang berbaring di tempat tidurnya.

Devan pun mencium punggung tangannya, terlihat air mata ayahnya itu menetes, Devan dengan lembut menyeka air mata ayahnya itu.

"Waalaikumsalam, kamu belajar yang giat ya Nak. Maafkan ayahmu ini tidak bisa membiayai kuliahmu," lirih Pak Hendra dengan matanya berkaca-kaca.

"Tidak apa ayah," ucap Devan dengan senyum yang menenangkan.

Setelah pamit dengan ayahnya, kini Devan hendak pamit pada ibunya.

Terlihat ibunya Devan, Bu Lastri sedang duduk sambil membawa piring di tangannya.

Devan pun mendekati ibunya itu," Bu Devan pamit kuliah dulu ya."

Mata Devan melotot ke arah piring yang dibawa ibunya itu berisi kecoa yang sudah mati. Devan dengan cepat langsung mengambil piring di tangan ibunya.ll

"Ibu, ini kontor."

"Mana kembalikan makananku, sini Van mau ibu makan," ucap Bu Lastri yang merengek seperti anak kecil.

Devan tidak memperdulikan ibunya, dia langsung pergi ke dapur lalu membawakan makanan untuk ibunya.

"Makan ini saja Bu, jangan makan kecoa itu bukan makanan, nanti ibu sakit kalau makan kecoa."

Bu Lastri malah terkekeh, dia pun dengan lahap menghabiskan makanan tempe dan nasi saja. Devan hanya menatap ibunya, ingin sekali membawa ayah dan ibunya untuk berobat, namun Devan belum cukup uang.

Jam sudah pukul 4 sore, waktunya Devan pergi kuliah.

***

Saat di kampus, Devan bertemu dengan dengan Mira, gadis yang ia cintai selama ini, Mira gadis yang cantik dan baik itu dari jurusan bisnis, Devan pun seangkatan dengan Mira namun beda jurusan. Devan mengambil jurusan hukum.

Devan terheran dengan Mira yang biasanya semangat kuliah kini terlihat murung.

"Mira, kamu hari ini ada jam kuliah?"

tanya Devan.

"Iya Van, nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Mira.

"Jam 8, kamu sendiri jam berapa?"

"Sama."

"Hey, kamu kenapa kok sedih gitu?" tanya Devan dengan menatap mata Mira penuh selidik.

"Gak papa."

"Yaudah, nanti pulang aku jemput di kelasmu ya," ucap Devan dengan ceria.

"Baiklah, semangat kuliahnya Van," ucap Mira dengan senyum manisnya itu.

"Iya sayang, semangat juga."

Mira pun langsung pergi dan masuk ke dalam kelasnya, Devan masih terdiam sambil menatap punggung Mira yang mulai menjauh, Devan pun merasa ada yang aneh dengan Mira saat ini.

"Hey beb, ayo masuk ke kelas udah ada dosennya tuh. Uwuwuan aja dari tadi," ucap Leo sahabatnya Devan. Leo menepuk bahunya Devan dan berhasil membuat Devan terkejut.

"Ihh ilfil tahu kamu panggil beb," ucap Devan lalu langsung masuk ke dalam kelasnya.

"Hey, gitu ya kamu ninggalin aku, dah lah kita putus aja," teriak Leo.

"Udahlah jangan banyak bacot."

"Ihh, kesel deh," ucap Leo terkekeh lalu mengikuti Devan masuk ke dalam kelas.

Tidak terasa hari sudah malam, jam kini menunjukkan pukul 8 malam. Devan bersiap untuk menyusul Mira dari kelasnya. Semua temannya Mira menatap Devan yang kini berdiri di depan pintu, seluruh teman ceweknya Mira terkagum dengan ketampanan Devan.

"Devan, ada perlu apa ya?" tanya Rosa playgril terkenal di kampus ini.

"Mira mana?" tanya Devan yang matanya masih sibuk mencari Mira.

"Tadi Mira masuk ke kelas sebentar, terus dia keluar lagi, lalu gak tahu deh dia sekarang dimana."

"Yaudah, terima kasih."

Devan langsung pergi, dia tidak menemukan wanita yang dicintainya itu. Devan akhirnya mencoba menelepon Mira.

"Mira, kamu dimana ayo pulang," ucap Devan.

"Aku di gedung lantai 6, temui aku sekarang. Ada hal penting yang perlu kamu tahu."

"Sayang, tapi ini sudah malam. Kamu turun ya kita bicarakan di bawah."

"Van, ini penting temui aku sekarang, agar aku tenang."

Mira mematikan teleponnya, perasaan resah kini membuat Devan cepat-cepat menemui Mira. Devan mulai menekan tombol lift untuk membukanya.

"Sial, kenapa lama banget sih," batin Devan.

Devan yang tidak sabar itu dan perasaannya yang mulai tidak enak, lalu Devan memutuskan untuk naik tangga. Dia tidak peduli kakinya pegal asalkan tidak ada hal buruk dengan Mira.

Sampai juga Devan ke lantai 6. Lantai paling atas dan tempatnya terbuka, hanya sedikit cahaya lampu yang menjadi penerang. Devan melihat Mira berdiri termenung sambil rambutnya yang sebahu itu tertiup angin malam. Senyum Devan pun terlukis lalu Devan mendekati Mira.

"Mira, ayo pulang," ucap Devan dengan semangat sambil mengandeng tanganya Mira.

Mira melepaskan tangannya Devan sambil menatap dalam-dalam matanya Devan," Ada hal penting yang harus kamu tahu."

"Iya, ayo kita ngobrol disana, jangan dipinggiran gedung Mir. Nanti kamu jatuh gimana?" ucap Devan yang terkekeh itu.

"Van, maafkan aku," ucap Mira yang kini matanya berkaca-kaca.

"Kenapa sayang?" tanya Devan bingung dengan tingkahnya Mira.

"Aku tidak pantas denganmu, tubuhku ini sudah kotor dan aku tidak pantas mendapatkan cintamu."

"Kamu bicara apa sih? Ayo kita turun," ucap Devan yang kini semakin bingung.

"Aku sudah diperkosa dengan pamanku sendiri, aku sangat malu, aku benar-benar kotor Van. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri ini, dan aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Lebih baiknya kita akhiri sampai disini saja, aku harap kamu bisa mendapatkan wanita yang suci tidak seperti aku ini."

"Aku menerimamu apa adanya Mir, aku sangat sayang kamu. Apa kamu lupa dengan mimpi kita, kalau kita akan hidup bersama, kenapa kamu sekarang tiba-tiba menyerah seperti ini? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" ucap Devan yang kini meneteskan air matanya.

"Aku mencintaimu Van, tapi aku tidak pantas mendapatkan cintamu itu."

"Jika kamu mencintaiku, jangan lakukan hal konyol itu Mir!" ucap Devan yang tidak mau kehilangan Mira.

"Tidak bisa Van," lirih Mira.

Mira melangkahkan satu kakinya, mata Devan pun melotot dan napasnya sulit diatur. Dengan cepat Devan menangkap tubuhnya Mira, namun sayang Devan terlambat, Mira berhasil terjun dari lantai 6, Devan kini menatap Mira dari atas, terlihat Mira di sekelilingnya berlumuran darah.

"Mira," teriak Devan disertai tanggisan, hati Devan kini ikut hancur berkeping-keping, hingga membuat Devan pingsan saat ini.

Terik matahari menyinari wajahnya Devan, hingga dia terbangun. Kepalanya sangat pusing, dia baru ingat kejadian semalam teryata bukanlah mimpi.

Devan pun bergegas turun dari lantai 6, namun pandangan Devan teralih pada tasnya Mira, dia mendekati tas itu dan menemukan sebuah kertas yang berisi tulisan.

Karena penasaran Devan langsung membaca kertas itu, Devan sangat terkejut isi kertas itu menceritakan kehidupannya Mira yang sangat menyedihkan. Mira yang tidak punya ayah dan ibu itu hanya tinggal bersama dengan pamannya.

Pamannya tidak memperlakukan Mira dengan baik, Mira hanya dijadikan tempat untuk memuaskan nafsu pamannya.

Isi kertas itu adalah ....

Untuk Devan Ardiansyah, lelaki yang sangat kucintai. Maafkan aku sebelumnya tidak pernah menceritakan bahwa aku menyimpan rahasia yang kontor. Aku sangat malu dengan diriku ini yang hina.

Pamanku, Ricard seseorang yang sudah kuangap ayahku sendiri, teryata memperlakukan aku begitu buruk, dia memperkosa aku selama satu bulan, aku sudah hamil anaknya dan usia kandunganku sudah dua Minggu.

Maafkan aku Van, aku tidak kuat dengan kehidupan ini. Aku tidak mau cerita tentang ini padamu, agar tidak menambah beban-bebanmu. Aku merasa gagal dalam memperjuangkan cinta dan kesucian ini Van. Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, jaga diri baik-baik.

Aku hanya ingin satu permintaan darimu, tolong beritahu polisi tentang hal ini. Aku tahu kamu adalah orang yang selalu mendukung kebenaran, hukum dia dan selamatkan jiwaku Van.

Jangan khawatir, aku selalu ada di hatimu. Tapi kamu harus mencari pengantin selain aku, tentunya yang bisa menjaga cinta dan kesuciannya hanya untukmu.

Terima kasih, Devanku tersayang.

"Ricard sialan," kesal Devan yang kini meremas kertas itu.

Devan ingin segera memenjarakan Ricard saat ini, dia pun bergegas turun dari lantai 6. Saat sudah turun, Devan melihat banyak polisi dan bekas darahnya Mira masih berceceran, tapi mayat Mira sudah dibawa di rumah sakit. Air mata Devan tidak bisa dibendung lagi, bayangan tentang Mira masih jelas dalam ingatannya.

"Ayo ikut kami di kantor polisi," ucap pria berbadan kekar itu langsung memborgol tangannya Devan.

"Hey, apa-apaan kalian."

"Ayo ikut kami ke kantor polisi."

"Kenapa kalian bawa aku hah? Bawa Ricard dia yang sudah membunuh Mira."

"Jelaskan nanti saat di kantor polisi."

Devan pun kini terpaksa menuruti kemauan para polisi ini, rasa sedih masih menyelimuti Devan dan ingatannya tiba-tiba muncul ada kedua orang tuanya yang belum diberi makan.

"Lepaskan saya sekarang Pak, ibu dan ayahku sedang menungguku di rumah," ucap Devan dengan berteriak sambil merontah ingin dilepaskan.

"Sudah jangan berisik," bentak polisi berkulit hitam yang duduk di sampingnya Devan.

Beberapa menit kemudian tibalah di kantor polisi, Devan pun duduk di kursi sambil menatap polisi yang kini di depannya.

"Kamu akan segera dipenjara," ucap polisi itu dengan tatapan sinisnnya.

"Apa salahku, bapak jangan langsung asal menuduhku," ucap Devan dengan menatap polisi itu tajam.

"Mira terjun dari lantai atas itu adalah ulahmu, kami sangat yakin bahwa kamu adalah penyebab Mira bunuh diri."

"Hey bapak jangan asal bicara ya, bukan aku tapi Ricard pamannya Mira yang menyebabkan Mira ingin bunuh diri, Ricard sudah merenggut kesucian Mira Pak. Ini buktinya jika bapak tidak percaya ada surat di dalam tasku, lihatlah."

Pak polisi pun langsung mengambil surat dalam tasnya Devan, namun saat membaca tulisan itu Pak polisi hanya terkekeh.

"Dasar bocah yang pintar sekali dalam mengarang cerita," ucap polisi dan langsung merobek kertas itu di depannya Devan.

"Sialan, kenapa kamu robek kertas itu sudah jelas itu adalah ungkapan bahwa Mira sudah diperlakukan buruk oleh pamannya," kesal Devan yang kini amarahnya meluap-luap.

"Bersiaplah kamu akan segera kami jebloskan dalam jeruji besi."

"Sialan, aku tidaklah salah."

Devan kini marah, meja yang di depannya ditendang sangat keras semua kursi di sekitar Devan juga ditendang. Devan pun merusak fasilitas yang ada di dalam kantor polisi ini, polisi pun kewalahan dengan ulah Devan hingga satu polisi mengeluarkan pistol.

"Tenangkan dirimu bocah," teriak polisi yang kini sedang bersiap menembak Devan.

"Apa yang kalian inginkan? Apa seperti ini polisi yang menuduh orang tanpa adanya bukti yang jelas, hah?" ucap Devan tanpa ada rasa takut sekalipun.

"Tolong lepaskan Devan sekarang Pak, saya punya bukti yang kuat bahwa Devan tidaklah bersalah," ucap kepala rektor yang kini berdiri di depan pintu bersama dengan Leo anaknya.

Polisi dan Devan pun terkejut dengan kehadiran mereka tiba-tiba.

"Apa buktinya?" tanya polisi.

"lihatlah CCTV dalam flashdisk ini, Devan sama sekali gak ada sangkut pautnya dalam masalah ini. Jadi tolong bersikaplah dengan adil," ucap Pak rektor dengan menyerahkan flashdisk yang berisi rekaman itu.

Pak polisi langsung mengambil flashdisk tersebut dan memasangkann pada laptop, Pak polisi itu mengamati setiap detik-detik jatuhnya Mira. Memang dalam video tidak ada tindakan Devan yang menjatuhkan Mira dari lantai 6.

"Jadi bagaimana Pak, Devan tidaklah salah disini," ucap Pak rektor.

Pak polisi hanya terdiam sambil menatap mata Devan penuh selidik, Devan pun membalas tatapan itu dengan tajam.

Tok tok tok

"Permisi," ucap perempuan memakai baju medis kini berdiri di depan pintu.

"Iya silakan masuk," ucap polisi dengan senyum miring di wajahnya.

"Saya mau menyerahkan hasil otopsi saudara Mira."

"Jadi gimana hasilnya?"

"Mira mengalami penyakit kejiwaan yang sudah akut, motif bunuh diri yang dilakukan oleh Mira itu karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ini hasil otopsinya."

"Apa Mira tidak mungkin mengalami penyakit kejiwaan," bantah Devan.

"Ini sudah ada buktinya kamu tidak bisa mengelaknya, jadi kamu tidak bersalah dan Ricard orang yang kau tuduh tadi juga tidak bersalah."

"Gak bisa gitu dong, kalau Mira punya sakit jiwa itu sudah jelas, Ricard lah yang membuat Mira seperti itu. Jadi tolong ketegasan dan keadilan anda mana, buktikan disini," kesal Devan yang kini amarahnya meluap-luap.

"Kamu lebih baiknya diam gak usah banyak omong bocah, sekarang pulanglah."

"Gak, aku harus bisa menyelesaikan masalahnya Mira."

"Kau tidak bisa berbuat semaumu, ingat ini negara hukum dan apapun itu bukti selalu menjadi pemenangnya. Apakah kamu punya bukti, bahwa Mira dibuat gila oleh Ricard? Gak kan."

"Tapi setidaknya anda mengintrogasi Ricard."

"Pergi kamu dari sini, masih banyak pekerjaan yang kami urusi. Hah, hanya membuang-buang waktu jika terus mendengar ocehanmu."

"Sialan, apa seperti ini ...."

"Sudah Van, ayo pulang keluargamu pasti sudah menunggumu," bisik Pak rektor.

"Iya," Devan pun hanya bisa pasrah saat ini, tapi kali ini dia tidak boleh kalah dan Devan harus bisa membuktikan bahwa Ricard lah yang salah.

Devan pun keluar dari kantor polisi bersama dengan Leo dan Pak rektor.

"Yang sabar ya Van, aku juga gak nyangka Mira bakal pergi secepat ini," ucap Leo dengan mengelus bahunya Devan.

"Aku juga gak nyangka Le," lirih Devan.

"Pak, terima kasih banyak sudah membantu saya."

"Iya Van, ini juga tugas bapak untuk melindungi mahasiswa yang tidak bersalah, kalau kamu butuh bantuan bilang ke bapak tidak perlu sungkan," ucap Pak rektor dengan tersenyum ramah.

"Terima kasih Pak."

Devan kini perjalanan pulang ke rumahnya, keresahan Devan pun akhirnya memuncak sebab dari kemarin kedua orang tua Devan tidak makan apapun. Beberapa menit kemudian, tibalah di rumahnya Devan.

"Nak, maaf ya bapak tidak bisa mampir ke rumahmu. Ini ada makanan untuk kamu makan dengan orang tuamu dan ambillah uang ini untuk kebutuhanmu, maaf bapak sementara hanya bisa memberimu segini," ucap Pak rektor dengan memberikan uang 2 juta dan makanan yang dibungkus kertas minyak.

"Terima kasih banyak Pak."

"Jangan dipikirkan terus ya Van, kalau kamu butuh bantuan aku siap membantu," ucap Leo.

"Iya Le, terima kasih."

Setelah Devan berpamitan dengan Pak rektor dan Leo, kini Devan berlari menuju rumahnya dan melewati gang yang sempit.

Pintu tua pun Devan buka dengan pelan, hati Devan kini berdebar-debar, matanya kini mengamati sekitar rumahnya dan menemukan ibunya yang sedang tidur di pojokan sambil memengan perutnya.

"Ibu maafkan aku," batin Devan yang kini mendekati ibunya lalu mengelus lembut rambut ibunya yang kaku itu.

"Akhhh ada penculik," teriak ibunya Devan yang kini tiba-tiba terbangun.

"Ibu ini Devan," Devan menggenggam tangan ibunya agar tidak berteriak lagi.

Ibunya Devan menatap dalam-dalam mata anaknya itu, lalu senyum cantik terlukis di wajahnya, "Anakku yang paling ganteng seluruh dunia."

Ibu Devan pun langsung memeluk Devan dengan erat, Devan pun menghembuskan napasnya dengan lega lalu memeluk ibunya juga.

"Sakit perut ibu," rintih ibunya Devan dengan matanya berkaca-kaca.

"Ini Devan bawaain makanan untuk ibu dan ayah, ayo dimakan ya Bu."

"Asik ...." Ibunya Devan bertepuk tangan dengan riang lalu langsung membuka bungkus makanan itu, dengan lahapnya ibunya Devan menyantap makanan itu.

"Ibu Devan ke ayah dulu ya, ibu makan saja ini minumannya."

Ibunya Devan hanya menggaguk lalu Devan pergi ke kamar ayahnya. Devan dengan pelan membuka pintu kamar ayahnya, betapa terkejutnya Devan kini melihat ayahnya yang berbaring lemah di kasur dan wajahnya sangat pucat.

"Ayah, kenapa?"

"Kamu sudah pulang Nak, habis dari mana saja," lirih ayahnya Devan.

"Maafkan aku yah, ada masalah sehingga aku baru pulang. Maaf sudah meninggalkan ayah dan ibu di rumah sendiri, ayah pasti lapar kan? Ini Devan bawa makanan untuk ayah," ucap Devan dengan matanya berkaca-kaca.

"Ada masalah apa?"

"Nanti Devan cerita, tapi ayah harus makan dulu sekarang dan Devan akan beliin obat untuk ayah dulu."

Devan pun mulai menyuapi ayahnya dengan sabar, hati Devan masih berkeping-keping, teringat Mira gadis yang dicintainya itu sudah tiada.

"Kamu kenapa Nak?" tanya ayahnya Devan yang kini terheran menatap wajah Devan terlihat murung.

"Mira sudah tiada yah," ucap Devan dengan air matanya menetes.