Novelory

Dear Laras
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

"Tuhan memang punya cara sendiri untuk mempersatukan kita."

- Laras Chintya

***

3 bulan sebelumnya...

Truth or Dare.

Permainan yang satu ini tentunya sangat tidak asing bagi anak-anak muda di dunia modern. Permainan tersebut tentunya sangat menantang karena sesuai namanya, jujur atau tantangan. Para pemain akan duduk melingkar dengan sebuah botol di tengah-tengah. Botol tersebut akan diputar oleh orang yang pertama bermain. Saat botol berhenti, ujung tumpulnya lah yang akan menentukan siapa yang akan diberi pilihan terlebih dahulu.

Truth, sesuai namanya, jika pemain memilih truth maka dia harus mengatakan satu kejujuran dari pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol. Di saat inilah banyak aib yang sudah lama disembunyikan akan diungkapkan oleh diri sendiri. Sungguh ironis, apalagi saat aib tersebut dijadikan candaan atau bahkan bahan olokan untuk ke depannya.

Jika pemain tidak memilih truth, maka Dare lah yang menjadi pilihan kedua. Pemain akan menerima tantangan dari orang yang sama yang sebelumnya memberinya pilihan. Sebenarnya tak ada perbedaan besar antara jujur atau menerima tantangan. Karena nantinya pemberi pilihan pasti akan memberikan pertanyaan atau tantangan yang memalukan. Yang pastinya akan membuat si pemain seperti ditelanjangi, rasa malu yang diterima benar-benar tak akan mudah untuk dihilangkan.

Di salah satu ruangan yang ada pada sebuah rumah, terdengar napas tercekat dari banyak orang. Permainan truth or dare yang begitu menantang, kini sedang dimainkan oleh orang-orang yang duduk melingkar di ruangan tersebut.

Semua yang ada di ruangan itu diliputi rasa tegang, mereka semua menatap pada satu benda, yaitu botol yang masih memutar, perlahan-lahan berhenti dan mengarah pada salah satu di antara mereka. Semua menyeringai menatap puas orang itu yang sedang membelalakkan matanya kaget.

"Truth or dare?" Raka, pria yang memutar botol sebelumnya mengajukan pertanyaan pada Ergi, orang yang akan menjadi korban permainan laknat tersebut.

Ergi menelan ludahnya kasar mendapati banyak pasang mata yang menatapnya disertai dengan seringai. Firasat buruk tiba-tiba menghampirinya, membuat Ergi merasa was-was. Ergi yang sudah tahu bahwa Raka orang yang iseng, sudah pasti dia akan habis di tangan sahabatnya yang satu itu.

Kalau dia memilih jujur, pasti Raka akan mengajukan pertanyaan menjebak. Ergi pastinya akan mempermalukan diri sendiri jika dia memilih truth, apalagi dia memiliki rahasia besar yang tak bisa dengan mudah diungkapkan.

Jadi, dia memutuskan untuk memilih dare.

"Gue pilih dare." Walau memilih dare, Ergi masih ketar-ketir jikalau Raka akan memberinya tantangan yang bahkan jauh lebih buruk dari mengungkapkan rahasianya. Yang bisa dilakukan Ergi sekarang hanya berharap Raka tak memberikan tantangan yang menyulitkan.

Raka menyeringai semakin lebar. Bagus, sahabatnya memilih dare dan Raka sudah mempersiapkan tantangan yang menegangkan.

"Ungkapin perasaan lo sama orang yang lo suka. Sekarang!" ucap Raka diakhiri dengan seringai lebar ketika mendapati tubuh Ergi menegang.

Ergi menatap horor Raka. Pria malang itu begitu syok karena tantangan yang Raka berikan justru sangat berkaitan dengan rahasianya. Anak ini! Ergi begitu kesal, kenapa dia memiliki sahabat laknat seperti Raka yang bahkan tidak peka bahwa Ergi masih ragu terhadap perempuan yang dia sukai.

"H-harus sekarang?" Ergi berniat negosiasi, tapi tampaknya Raka tak memiliki niatan yang sama.

"Enggak! Sampe kucing lahiran gajah! Ya, sekarang lah!" jawab Raka kesal. Dia sudah tidak sabar untuk melihat Ergi menjalin hubungan dengan perempuan yang disukai sahabatnya tersebut. Raka sudah sangat gemas karena menyaksikan Ergi dengan perempuan yang disukainya saling bertengkar padahal memiliki perasaan satu sama lain.

Ergi menarik napas untuk mengatur detak jantungnya. Ia merubah posisi duduknya menghadap ke Laras yang saat ini sedang menunduk sambil mendengarkan musik melalui headset.

Laras, perempuan itulah yang Ergi sukai. Dia juga salah satu sahabatnya, hanya saja Ergi sering bertengkar dengannya. Sebenarnya Ergi tak bermaksud memulai konflik, tapi Laras selalu membuat Ergi merasa kesal karena perempuan itu tak peka terhadap perasaannya.

Semua orang cekikikan sambil mengeluarkan ponselnya dan merekam momen yang akan terjadi antara Ergi dan Laras.

Ergi memberanikan diri menarik headset yang ada di telinga Laras yang membuat Laras menghadap kearahnya.

Ergi berdehem sejenak untuk menghilangkan kegugupannya dan meraih tangan Laras. Ergi tak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Dia tak bisa menyembunyikan kegugupannya di depan Laras.

"Ras, gue mau mengungkapkan sesuatu sama lo." Rona samar-samar terbit di pipi Ergi. Biar bagaimanapun apa yang akan dia ungkapkan menentukan nasibnya untuk ke depannya.

"A-apa?" tanya Laras dengan jantung yang berdebar dan darahnya berdesir seketika. Perasaannya menjadi gelisah melihat sahabat-sahabatnya menatapnya menggoda, ditambah lagi Ergi yang seperti ingin mengatakan sesuatu yang begitu penting.

"Sebenarnya gue udah nyimpen rasa ini sejak lama. Tapi gue terlalu pengecut untuk mengungkapkan semuanya, makanya gue selalu bikin lo kesal. Tapi sebenarnya gue suka, sayang, bahkan mungkin bisa disebut dengan cinta. Lo mau, kan jadi pacar gue?" jelas Ergi panjang lebar yang membuat jantung Laras semakin menggila. Laras tak menduga akan hal ini!

"G-gue enggak bisa..."

"Kok gitu, sih?" tanya Ergi dengan menunduk sedih.

"M-maksud gue. Gue enggak bisa nolak," lanjut Laras disertai senyum manis.

Mendadak raut Ergi menjadi sumringah mendengar penerimaan dari Laras atas cintanya.

"Beneran?" tanya Ergi tidak percaya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa senyum yang Laras perlihatkan benar-benar nyata. Ini sesuatu yang langka melihat Laras tersenyum manis.

Laras mengangguk dan Ergi memeluknya tiba-tiba karena terlalu senang.

"Terima kasih, Dear Laras."

"Tak peduli seburuk apa sifat mu. Karena, aku akan tetap mencintaimu."

- Laras Chintya

***

Sinar matahari menembus jendela kamar seseorang. Pemilik kamar tersebut sudah bangun pagi-pagi sekali seperti biasanya karena akan menyiapkan segala keperluannya sendiri.

Dia memang bukan salah satu dari beribu-ribu gadis yang bermalas-malasan di kasur. Hidupnya tidak mengizinkannya untuk melakukan semua itu. Jika dia menginginkan sesuatu, maka dia harus berusaha untuk mendapatkannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Tak ada yang tahu bagaimana kehidupan yang sebenarnya yang sedang dia hadapi. Mereka hanya tahu sosoknya dari luarnya saja tanpa tahu yang sebenarnya. Bahkan, sahabat-sahabatnya pun tidak dia izinkan untuk mengetahui seberapa kejam hidupnya.

Hanya satu orang yang membuatnya tetap bertahan dan menghadapi kejamnya dunia. Dia adalah kekasihnya yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 3 bulan belakangan. Mereka dipersatukan karena sebuah permainan. Lucu, memang. Tapi, dia bersyukur karena Tuhan mempersatukan mereka lewat permainan.

"LARASAYANG!!" Teriakan itu membuatnya tersentak dan kembali ke dunia nyata.

Laras Chintya, gadis itu mendengus kesal mendengar teriakan cempreng yang berasal dari luar apartemennya. Siapa lagi kalau bukan pacar gilanya, Ergi Andrian. Laras bergegas menuju pintu apartemen yang sudah digedor-gedor dengan keras oleh Ergi dari luar.

"LARASAYANG! YUHU! PACARMU YANG TAMPAN INI SUDAH DATANG!"

"Berisik!" Hal pertama yang Laras lihat setelah membuka pintu yaitu Ergi yang sedang memamerkan senyum manisnya.

Jika dilihat-lihat, Ergi memang memiliki wajah yang tampan. Tapi, terkadang Laras tidak ingin mengakuinya karena gengsi.

"Ish... Masa pacarnya jemput enggak dikasih senyum manis, sih? Ini malah dapet semburan." Ergi memajukan bibirnya membuat wajahnya terlihat menggemaskan. Laras berusaha menahan tangannya yang ingin mencubit pipi Ergi karena gemas.

"Ck, gimana mau dikasih senyuman! Orang pagi-pagi udah bikin heboh! Bisa enggak sih kalau mau jemput itu dengan cara yang wajar." Laras berbalik memasuki apartemen untuk mengambil buku mata kuliahnya. Ergi mengikuti Laras dari belakang.

"Loh, memangnya selama ini aku menggunakan cara yang enggak wajar, ya?"

"Baru nyadar?" Laras berbalik sambil menatap sinis Ergi yang menggaruk tengkuk lehernya.

"Hehe... Maaf." Laras hanya memutar bola matanya malas. Dia mengunci pintu apartemen dan melangkah menuju lift untuk turun ke lantai bawah karena apartemennya terletak di lantai 6.

Ergi masih saja mengikuti Laras dalam diam. Dia sudah tahu perangai Laras yang selalu ketus jika berada di dekatnya. Ergi menghela napas mengingat hal itu. Wajah cerianya yang biasa dia pasang di depan Laras tergantikan dengan wajah sendu dan putus asa.

Ergi menatap punggung Laras yang keluar dari lift dengan senyum perih. Selama tiga bulan dia menjalin hubungan dengan Laras, Laras tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikannya terhadap Ergi. Berbagai cara sudah Ergi lakukan supaya Laras tertarik padanya. Dia bahkan sudah hampir putus asa.

"Larasayang," ucap Ergi dengan lirih yang masih bisa didengar Laras.

"Hm." Laras menyahut tanpa menatap mata Ergi, dia sibuk memasang helm di kepalanya.

"Sampai kapan kamu tidak peduli denganku." Ergi menatap sendu Laras.

"Hah, apa? Lo ngomong apa tadi? Sorry, gue enggak dengar." Laras memang kurang mendengar omongan Ergi karena sibuk dengan kegiatannya.

Wajah sendu Ergi tergantikan dengan wajah ceria dan senyum lebar. Dia berdiri di depan Laras masih dengan memasang topeng seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku cuma mau bilang, kalau aku sayang kamu."

Laras membeku di tempat, jantungnya berdetak kencang. Reaksi seperti ini yang biasa dia dapat jika Ergi menyatakan cintanya secara terang-terangan. Laras melengos untuk menyembunyikan wajahnya yang merona tanpa menjawab pernyataan cinta Ergi.

Hati Ergi teriris melihat itu, selalu seperti sekarang jika dia menyatakan cintanya pada Laras. Baiklah, tidak apa-apa. Ergi akan terus berusaha membuat Laras tertarik padanya.

"Ck, enggak penting banget, sih! Gue kira mau ngomong apaan! Cepetan berangkat!" Laras menaiki motor besar milik Ergi.

Ergi memakai helmnya lalu menaiki motor dengan perasaan gundah. Tatapannya kosong ke depan, cara apa lagi yang harus dia lakukan. Laras bahkan tak mau menggunakan aku-kamu dengannya walaupun mereka sudah berpacaran.

"Ergi! Cepetan jalan!" Tepukan di bahunya membuat Ergi tersentak kecil. Laras yang menyadari hal itu mengernyit heran. Tak biasanya Ergi banyak diam seperti sekarang.

"Oke, Dear. Tapi, peluk pacarmu ini dulu dong." Ergi menatap Laras lewat spion dengan senyum menggodanya.

"Enggak mau! Palingan lo mau modusin gue, 'kan?" Laras balik menatap Ergi dengan sinis.

"Modusin pacar sendiri enggak salah, 'kan?" Ergi menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Laras.

"Pacaran sana sama tante-tante! Biar bisa lo modusin kapan aja!"

"Beneran nih aku boleh sama tante-tante? Nanti kamu nangis-nangis minta balikan sama aku." Ergi memasang wajah tanpa dosa.

"Heh, nangis-nangis minta balikan? Ogah banget gue! Yang ada gue sujud syukur enggak lo modusin lagi." Laras melipat tangannya sambil menatap angkuh Ergi.

"Jangan kayak gitulah sama pacar sendiri." Ergi mulai menghidupkan mesin motornya.

"Siapa juga yang mau pacaran sama cowok macem lo."

"Kamu, kan pacar aku." Ergi masih berusaha untuk memasang senyumnya.

"Jangan ngarep! Gue pacaran sama lo karena terpaksa!"

Jleb!

Hati Ergi tercelos mendengar perkataan yang meluncur dari mulut Laras dengan mudahnya. Laras yang menyadari perkataannya kelewatan langsung bungkam.

"M-maksud gue--"

"Aku tahu kok. Kamu nerima aku karena terpaksa. Aku enggak apa-apa." Laras dapat melihat Ergi menatapnya dengan kekecewaan. Itu membuat Laras merasa bersalah, dia tidak bermaksud mengatakan hal itu pada Ergi. Dia hanya tidak ingin Ergi melihat rasa ketertarikannya pada pria itu.

Laras tersentak ketika tangannya disentuh Ergi dan diletakkan di pinggang pria tersebut. Baru saja Laras akan protes karena perlakuan Ergi. Tapi, perkataan dengan nada memohon dari Ergi membuatnya tak bisa untuk mengutarakannya.

"Aku mohon, kali ini saja jangan protes." Ergi tersenyum di balik helm ketika Laras menuruti perkataannya.

Ergi mulai menjalankan motornya membelah jalan raya menuju kampus. Laras yang duduk di belakang perlahan meletakkan kepalanya untuk bersandar di punggung tegap Ergi sambil tersenyum tipis.

"Terima kasih dan maaf untuk yang tadi."

"Yang terpenting bagiku adalah membuatmu merasa nyaman saat di dekatku."

- Ergi Andriana

***

Kelas begitu ramai, tapi tak membuat Laras berhenti menghela nafas bosan. Dia melirik ke dua orang yang menjadi penyebab kelas ramai. Di podium tempat biasa dosen-dosen berdiri dan menyampaikan materi, ada sahabatnya yang berbadan dua sedang mengacaukan acara mengajar sang dosen. Tebak siapa?

Rachel, sahabatnya itu sedang menarik-narik lengan kemeja Rafka yang sedang menulis di papan dan membuat tulisannya berantakan. Bukan tanpa alasan, karena usia kandungannya yang menginjak 3 bulan membuat sahabat Laras menjadi sangat manja dengan suaminya. Satu kampus sudah mengetahui mengenai pernikahan mereka sejak 2 bulan yang lalu.

Awalnya memang banyak yang mencaci sahabatnya itu, tapi lama-kelamaan pandangan mereka berubah menjadi lebih baik pada Rachel. Laras masih memperhatikan interaksi sepasang suami istri tersebut yang beberapa kali membuat teman-teman satu kelasnya menahan tawa.

"Mas, Rachel pengin martabak. Beliin mas..." Rachel terus merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Rafka yang menghela nafas.

"Iya Syiela, tapi nanti ya? Mas mau mengajar dulu." Rafka tersenyum lembut tapi tak membuat Rachel berubah pikiran.

"Enggak mau! Pokoknya Rachel mau martabak, sekarang!" Rachel sedikit berteriak dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Rafka menjadi kelabakan melihat istrinya yang sebentar lagi akan menangis.

"Iya Syiela, nanti mas beliin martabaknya ya." Rafka mengelus puncak kepala Rachel.

"Ya udah ayo beli..." Rachel menyeret paksa Rafka untuk mengikutinya dan Rafka hanya pasrah saja.

Sebelum benar-benar meninggalkan kelas yang diajar, Rafka masih sempat untuk berpamitan. "Kelas berakhir sampai di sini dulu. Nanti materi tambahannya akan saya kirim via email. Terima kasih."

Setelah Rafka dan Rachel tak terlihat, satu kelas yang menahan tawa akhirnya terbahak-bahak. Selalu seperti ini jika melihat interaksi Rafka dan Rachel. Laras hanya tersenyum tipis, dia merasa iri dengan Rachel yang selalu mendapatkan banyak kasih sayang dari semua orang.

"Andaikan aku bisa sepertinya..."

Lewat ekor matanya, Laras dapat melihat Ergi yang sedang berdiri di pintu kelas. Hati Laras yang tadinya gundah perlahan menghangat melihat senyum ceria dari kekasihnya. Laras bangkit dari kursinya dan menghampiri Ergi yang melambaikan tangan ke arahnya.

"Kelasnya udah selesai?" Ergi bertanya berbasa-basi yang hanya ditanggapi anggukan kepala oleh Laras.

"Kamu belum makan, kan? Ke kantin yuk!" Ergi menggenggam lembut tangan Laras sambil berjalan menuju kantin. Langkahnya terhenti ketika merasakan tangan Laras terlepas dari genggamannya.

"Loh, kenapa?" Ergi menatap Laras dengan bingung.

"Enggak mau." Laras menggeleng menolak ajakan Ergi.

"Kok enggak mau? Ini udah jam makan siang loh. Kalau kamu enggak makan nanti sakit, Larasayang." Ada sedikit nada menggoda diakhir ucapan Ergi.

"Jangan di sini!"

"Terus di mana?" Ergi tercengang melihat Laras berbalik dan berlalu meninggalkannya. Ergi mengejar Laras dan dengan mudah menyamakan langkah mereka.

"Kita mau ke mana?" Meski bingung, Ergi tetap menaiki motor dan memasang helm.

"Enggak usah banyak tanya sih! Tinggal jalan aja!" Suara bernada ketus itu membuat Ergi menghela nafas pelan di balik helm yang dia pakai.

"Oke."

Motor Ergi melaju meninggalkan area kampus, dia menurut untuk menjalankan motor tanpa tahu tujuan.

"Minggir!" Ergi mengangguk pelan lalu menepikan motornya di pinggir jalan. Ergi baru menyadari bahwa mereka sedang berdiri di samping pedagang sate.

Apa? Sate! Ergi menelan ludahnya kasar, dia menatap horor pada sate-sate yang sedang dikipasi oleh pedagangnya. Ergi ingin menolaknya, tapi...

"Ergi, ayo!" Ergi tidak sadar bahwa tangannya digenggam oleh Laras dengan lembut.

Laras menghampiri pedagang sate untuk memesan. "Pak, satenya dua porsi ya. Dimakan di sini."

"Oke, Neng."

Laras mengedarkan pandangan, ketika menemukan tempat yang kosong, dia kembali menarik Ergi untuk duduk. Ergi mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan tersadar dengan sesuatu, Ergi menoleh ke samping dan mendapati Laras menatap minat pada sate-sate yang masih dikipasi oleh penjualnya.

Tatapan Ergi beralih pada tangannya yang terpaut dengan Laras. Dia baru menyadari akan hal itu, darahnya berdesir seketika dan jantungnya berdetak kencang.

"Gue enggak bermimpi, 'kan?"

Ergi berkali-kali menatap tangannya dan juga Laras bergantian seakan tak percaya. Ergi tidak dapat menahan senyumnya, dia merasa ada kemajuan. Karena itu dia tidak akan menyerah mulai sekarang.

"Ini Neng satenya." Dua porsi sate tersaji di atas meja yang terlihat menggiurkan.

Ergi hampir saja mengumpati penjual sate tersebut karena membuat tautan tangannya dengan Laras terputus. Baru saja dia ingin meresapi momen tersebut, tapi semua lenyap seketika. Ergi hanya bisa tersenyum pahit, dia hanya memandangi sate di depannya tanpa mau menyentuhnya.

Laras yang menyadari itupun menoleh ke arah Ergi. "Kok enggak dimakan? Enggak suka?"

Ergi menggeleng cepat. "Bukan begitu, tapi..."

"Apa? Enggak suka makanannya karena belinya di pinggir jalan?" Laras menatap menusuk Ergi. Setahu Laras, Ergi memang baru pertama kalinya makan di pinggir jalan dan itupun bersama dengannya.

"Bukan begitu, kamu jangan salah paham dulu." Ergi berucap dengan panik, takut jika Laras salah paham dan peluang membuat Laras tertarik padanya hanya sedikit.

"Ya, terus? Kenapa enggak dimakan?" Laras terus mendesak Ergi supaya menjawab pertanyaannya.

"I-itu sebenarnya a-aku..."