Novelory

Rengganis Gadis Yang Menari Bersama Ombak
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

“Lemaskan tanganmu … Lakukan seperti sebelumnya, ya! Relaks … Dayungkan tanganmu, kayuh bergantian dengan kuat! Angkat dagu … Ya, benar begitu. Ombak datang … Bersiap … Push… Up…!”

Rengganis fokus mendengarkan aba-aba yang diteriakkan Uncle Raka--berusaha berdiri. Ini adalah kali keempat dia mencoba dia menegakkan tubuhnya, tetapi pijakannya pada papan selancar masih seperti sebelumnya--belum mantap, maka ketika ombak datang Rengganis kembali limbung.

“Aaaaaaaaw!” pekiknya panjang, sebelum tubuhnya terhempas, tergulung ombak, dan terdorong ke tepi pantai. Air asin masuk ke kerongkongannya tanpa permisi. Rengganis terbatuk dan berusaha mendorong tubuhnya ke permukaan. Kaki dan tangannya menyentuh pasir.

Dia terkatung-katung di antara riak gelombang. Derai tertawanya renyah seakan menikmati sensasi tubuhnya berguling-guling tergulung amukan gelombang. Bukannya kapok, dia malah kembali naik ke atas papan seluncurnya, menelungkup, kemudian kedua tangan dia kayuh secara bergantian--mendekati posisi Daraka berdiri.

Daraka mendekat,”Kamu baik-baik saja?” ungkap Daraka--rautnya menampakkan rasa khawatir.

Gadis manis yang baru saja bulan lalu berusia sepuluh tahun itu tertawa renyah memerlihatkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapih,”Aku baik-baik saja, Uncle,” sahutnya.

Daraka tersenyum, “Oke, kita coba lagi, ya!”

Rengganis menganggukkan kepalanya, menegakkan dagu untuk bersiap.

Daraka mengulang aba-aba yang sama seraya tangannya melakukan dorongan kuat pada bilah papan seluncur yang dinaiki Rengganis,”Bersiap … Push … Up!”

Rengganis yang berbaring di papan dengan hidung hanya beberapa inci di atas air melengkungkan sedikit punggungnya, memindahkan tumpuan berat badannya di bagian tulang rusuk, kemudian kedua kakinya diangkat keluar dari air, dan berdiri menyeimbangkan tubuhnya di atas papan seluncur. Di belakang Rengganis tampak gulungan ombak tinggi melaju cepat seolah tengah mengejarnya.

Daraka bertepuk tangan kegirangan.

“Aku bisa … !” seru Rengganis.

Teriakan Rengganis dikalahkan suara deburan ombak memecah pantai Legian, Bali.

Sang surya meluncur ke ujung batas cakrawala, hampir tenggelam, membiaskan semburat jingga yang indah di kaki langit. Sebentar lagi kegelapan datang menelan keindahan bayangan senja, berganti keindahan lain yang setia datang silih berganti. Kedua bayangan yang berbalut 'quicksilver' hitam itu seakan enggan untuk pulang, mereka masih lena dengan riak gerak gelombang yang mengayun-ayunkan tubuh keduanya. Bersabar menanti ombak datang.

***

“Rengga, kakak minta kamu lebih mementingkan nilai sekolahmu ketimbang hobi berselancarmu itu! Tolong dengarkan kakak untuk satu hal itu saja! Meskipun Meme sudah meninggal Kakak masih bisa menghidupimu, kamu tidak perlu bekerja di sekolah surfing itu!” Utari serak mengucapkan kata-katanya yang melukai batinnya. Dia perih melihat api pemberontakan yang terpancar dari bola kelam Rengganisnya yang manis. Sejak Rengganis mengetahui pekerjaan sampingan yang dilakukannya demi menyambung hidup, dia seolah semakin menjauhinya.

“Aku tidak ingin hidup dari uang yang Kakak dapat dengan cara menjual diri! Lebih baik aku berhenti sekolah, bekerja mencari uang untuk diriku sendiri sehingga aku tidak perlu membebanimu. Lihat saja, Kak! Aku akan menjadi peselancar profesional dan tidak jadi benalu untukmu. Sebaiknya tinggalkan pekerjaan kotor itu. Aku lebih baik kelaparan, dari pada melihatmu merendahkan diri! Jadi, jangan bilang itu demi aku. Aku tidak meminta dirimu berkorban dengan menghinakan dirimu seperti itu!”

Rengganis menjawab ketus perkataan Utari yang mencegahnya keluar sabtu pagi itu--sambil berlalu pergi.

Setiap akhir minggu Rengganis bekerja sebagai asisten pelatih di Nengah Surfing School. Uncle Raka-nya yang merekomendasikannya, sehingga dia bisa sekolah sambil bekerja di sana, sekaligus belajar berselancar sejak dia masih sepuluh tahun.

'Aku harus mandiri, punya uang sendiri, dan aku akan menjadi peselancar profesional."

Rengganis merapalkan mantranya. Dia tidak mengacuhkan perkataan Utari dan memilih pergi.

Utari memandang punggung Rengganis yang berjalan menjauh. Tak bisa ia pungkiri jiwa pemberontak Rengganis mengingatkan Utari akan dirinya dulu, lalu mata kelam dan wajah manis itu mirip dengan sosok lelaki yang pernah hadir dan menorehkan sembilu di hatinya.

'Semoga Rengganis tak bersikap bodoh sepertiku, cukup surfing yang digilainya. Bukan sepertiku, yang menggilai lelaki yang pada akhirnya pergi dan mencampakkanku. Kamu harus sekolah Rengga … sukses dan balaskan sakit hatiku!'

***

Flash Back

Dua Puluh Tahun Lalu

“Kamu sudah membuat Ibu malu! Minggat dari rumah ini! Mulai hari ini kamu sudah bukan anakku lagi! Kamu sudah menyia-nyiakan upaya Ibu selama ini, Nduk. Tak ada jalan lain, selain koe minggat. Kamu toh sudah tidak menganggap Ibu ini, ibumu ketika mengabaikan semua permintaanku!”

Utari tertunduk, malu, dan pilu. Terbayang semua tentangan dan bantahan yang ia lontarkan pada Ibu. Ah, betapa picik dirinya menyalahpahami pemikiran ibunya selama ini. Dia yang sok pintar, dan akhirnya tergelincir jatuh, dan terluka.

“Sekarang tanggunglah sendiri semua perbuatanmu! Kamu harus belajar menghargai pengorbanan ibu membesarkanmu selama ini, dengan melahirkan, membesarkan, dan merawat bayi yang tengah tumbuh dalam dirimu. Darinya kamu akan belajar, percayalah. Sekarang pergilah, silakan hidup sesukamu!”

*

Utari berjongkok, memandang wajah Rengganis yang tengah tertidur pulas di kasur tanpa ranjang tempat mereka berbagi lelap. Wajah dan kulit Rengganis yang sawo matang menjadi semakin legam tersengat matahari. Rambut midnightblue-nya terlihat kontras dengan kulit terbakarnya dalam sorotan lampu. Benar-benar anak pantai. Rengganis sangat suka berganti-ganti warna rambutnya. Diperingatkan pihak sekolah beberapa kali tak digubrisnya. Utari menyentuh rambut Rengganis yang halus tipis bergelombang nan lebat itu. 'Ah, kesayanganku.'

Utari menarik napasnya dalam-dalam.

Sebentar lagi ujian kelulusan, tetapi Rengganis cuek. Dia dengan tegas menolak tawaran Utari melanjukan kuliah. Padahal apa yang dilakukannya selama ini adalah mencari uang dan menabung untuk masa depan Rengganis. Haruskah aku percayakan pilihan masa depannya sepenuhnya ke tangannya? Haruskah aku mendukung cita-citanya menjadi atlet profesional? Bagaimana jika dunia itu tidak ramah dan keras padamu? Akankah kau kukuh dengan jalan yang kau tempuh? Seperti inikah yang ibuku rasakan ketika mengusirku pergi?

Mengamati Rengganis diam-diam seperti ini, memantik kembali kenangan masa lalu. Sebuah potongan kisah yang menghantui Utari—masih menghantuinya—hingga kini.

Sesuatu yang telah pergi memang tak akan kuharapkan kembali, semua asa dan harapan yang dulu pernah ada telah menghilang dan aku pun tak menginginkannya berulang. Namun, mengapa kau tak jua lekang, menjerat jiwaku yang terkekang dalam ruang kenangan.

Masa lalu Utari kembali menyapa, melarutkannya dalam bayangan duka yang selama ini dia coba hapuskan dari hari-harinya. Dia memandang rembulan dari balik jendela kamarnya, dan mendengar nyanyian ombak dikejauhan, menyenandungkan lirih perih yang tersimpan di palung terdalam kalbunya. Ada satu nama di sana. Buana.

***

Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan dan paling dinantikan Rengganis sejak lama. Rasa antusias yang sama saat ia menanggalkan seragam putih abu-abunya. Aku tak suka sekolah, aku lebih suka laut. Aku menemukan kebebasan hakiki saat berada di atas papan selancar menunggu ombak datang dan menari bersamanya. Semua resah, gelisah hilang seketika. Asinnya air laut mengaburkan asinnya air mata, dan menghapus asin keringat kerja keras Tari—panggilan Utari darinya.

'Satu langkah lagi, aku akan bisa menjadikan impianku nyata, awal dari mimpiku berikutnya.'

Jika bukan karena tangan dingin Uncle-Raka yang menggembleng teknik berselancarnya selama beberapa tahun ini dia tak akan sampai pada tahap ini. Dia sudah menyusun banyak rencana dan tembus menjadi salah satu finalis World Pro Junior Surfing International adalah salah satu targetnya.

Daraka dan Ismail, pelatih sekaligus kolega kerjanya di Nengah Surfing School--mendampinginya telah meniupkan api semangat tanpa diminta. Pantai Pererenan, Canggu Kuta Bali telah ramai sejak pagi. Ramai oleh media dan masyarakat lokal yang menonton pertandingan. Waktu yang diberikan untuk para peselancar hanya dua puluh menit saja. Selama dua puluh menit itu masing-masing dapat mempertujukkan kepiawaiannya menaklukan ombak sebanyak sepuluh kali, dan hanya dua kali aksi terbaik yang akan dinilai juri.

“Ingat Rengga, ini adalah kesempatan emas buatmu menuju World Surfing League dan menemukan sponsor!” Teriakan Daraka memenuhi benak Rengganis sebelum tampil. Dia berjanji dalam hati akan menampilkan yang terbaik.

***

Rengganis percaya pada instingnya. Menunggu ombak berada pada ketinggian gelombang yang pas sambil bersiap. Pada saat ombak datang, dia mengayuh, mendorong, dan berdiri di atas papan seluncurnya dengan seimbang seraya mengikuti permainan ombak. Bagaikan menari di atas ombak dia mempersembahkan atraksi akrtobat udara yang memukau. Atraksi yang mengundang decak kagum dan tepuk tangan. Di salah satu sudut pantai, Utari memperhatikan atraksi itu dengan derai air matanya.

***

Catatan kaki:

1. Nduk=nak

2. Koe=kamu

3. Uncle=paman

Catatan:

Tanda ' digunakan sebagai pengganti huruf yang seharusnya miring. Untuk pemakaian bahasa asing dan daerah yang seharusnya miring, sementara penulis mohon maklum masih di'biarkan sama penulisannya dengan bahasa Indonesia.

Pantai Pererenan yang biasanya damai dan sunyi siang itu berubah menjadi riuh dan gempita oleh kehadiran pihak penyelenggara dan peserta Kompetisi World Pro Junior Surfing International. Pantai Pererenan menyajikan pemandangan pantai berhias batu-batu alam yang terpahat alami di sisi pantai, disertai lapisan ombak besar memecah pantai. Terdapat patung Dewa Baruna sang penguasa laut setinggi dua belas meter yang menjadi ikon pantai itu. Dengan ukuran yang cukup besar deretan huruf Authentic Parerenan menyambut para pengunjung yang datang ke pantai itu. Venue penyelenggara berdiri megah di tepi pantai.

Kompetisi menjelang akhir, memasuki menit ke delapan belas. Pada detik itu Daraka sudah bisa meyakinkan dirinya, jika anak didik yang ditemukannya tengah melamun sendiri di tepi pantai Sanur sambil memegang pop mie di tangannya empat belas tahun silam itu--bisa memenuhi harapannya. Target Rengganis untuk masuk menjadi salah satu finalis dalam kompetisi pro jurnior surfing yang baru pertama kali diikutinya bukanlah impian kosong belaka. Sebagai seorang grommet, Rengganis tampil tidak mengecewakan. Bahkan melampaui ekspektasinya.

***

Flash Back

Daraka hendak memulai paginya dengan menunggangi ombak bulan Mei di pantai Sanur yang ketinggiannya cocok untuk melakukan hobinya—surfing. Bekerja sebagai instruktur di Nengah Surfing School memang pekerjaannya sehari-hari, tetapi saat bekerja tentu dia tidak dapat menikmati memuncaknya adrenalin ketika berhasil menerobos lapisan ombak, bersembunyi di antara ombak,   terutama sensasi menunggangi ombak yang menyeretmu menuju pantai. Sebuah sensasi ekstrem yang tak tergantikan. Dia gandrung pada olah raga ini sejak mencobanya pertama kali, untuk kemudian menjadi jalan hidupnya sejak memutuskan pindah dan menetap di Bali.

Daraka menemukan Rengganis kecil tengah duduk di atas pasir Pantai Sanur pagi itu. Tangan mungilnya memegang pop mie yang dilahapnya perlahan. Dia meniupkan udara dari mulutnya sesekali, agar mie yang mengeluarkan kepulan asap itu bisa lanjut disantapnya. Matanya bergantian memandang ke arah laut dan ke garpu plastik yang penuh berbalut mie. Di samping tempat gadis itu duduk terdapat sekop mainan dan ember yang terbuat dari plastik.

Daraka menyapa gadis kecil tetangganya yang dia tahu bernama Rengganis.

“Rengga sedang apa sendiri di sini?” sapanya.

“Uncle …” Rengganis tersenyum. Dia tampak senang melihat seseorang yang dikenalnya menyapanya. Tatapan yang semula kosong menatap luasnya lautan berubah menjadi bercahaya bersama kedatangan sosok ramah yang dikenalnya.

“Uncle tanya lagi nich, kenapa Rengga di sini, sepagi ini? Rengga mau main istana pasir, ya?” tanya Daraka sambil menunjuk ke arah sekop dan ember plastik mainan.

Rengganis menggeleng seraya berkata,” Rengga, disuruh Kakak main di sini, Kakak mau kerja, ya udah Rengga main, duduk, makan,” sahutnya lugu. Gadis empat tahun itu melanjutkan menandaskan mienya yang tinggal sepertiga lagi.

Alih-alih melanjutkan niatnya untuk surfing, Daraka menunggui gadis itu selesai makan.

“Kamu bisa berenang Rengga?”

Rengganis menggeleng.

“Uncle, mau mengajak Rengga main air di laut setelah Rengga menghabiskan makanannya, ya.”

“Naik papan itu, ya?” manik mata lugu itu menunjuk ke arah papan selancar Daraka.

“Ya, Rengganis sudah pernah mencobanya?” tanya Daraka

Rengganis menggelengkan kepalanya lagi.

“Rengganis mau coba?” Daraka membantu membersihkan mulut anak manis itu yang belepotan kuah mie.

Rengganis mengangguk.

“Rengganis jangan takut, ya. Uncle akan jaga Rengga. Pelan-pelan kalau Rengga enggak takut main air di pantai, Uncle ajarin Rengga berenang, juga berselancar, gimana?” Daraka menawarkan hal yang menurutnya lebih seru ketimbang bermain pasir di pantai.

Gadis kecil itu kembali mengangguk.

Kemudian pagi itu menjadi awal bagi Rengga mencintai laut, dan berselancar menjadi bagian yang dikenalnya perlahan hingga tahun-tahun berikutnya menjadi bagian dirinya secara utuh.

 

***

Rengganis berhasil menyelesaikan nomor kejuaraan female division. Dia mampun melakukan manuver mulus pada ombak yang landai, maupun ombak ketinggian medium-- berdiri kokoh di atas papan seluncurnya dengan posisi popping up. Dia tetap menunggangi ombak hingga ke tepi. Misinya hari ini selesai gemilang.

Rengganis tersenyum sumringah. Dia menoleh ke samping kiri, ketika dari arah yang sama dilihatnya bayangan Utari mendekati tempat Daraka dan Ismail berdiri untuk memberikan dukungan untuknya.

Rengganis tidak mengira jika dari arah samping ombak yang besar tengah mendorong salah satu peselancar lain yang juga hendak menepi. Tak ayal kedua papan selancar mereka bertabrakan, yang menyebabkan keduanya terjungkal.  Bagian dahi Rengganis terantuk dan tergores bebatuan. Seketika darah segar mengucur disertai rasa perih. Rengganis meringis. Luka itu tak dirasakannya. Dia lantas berdiri dan menengok ke arah kakaknya yang berhambur menujunya.

“Aku baik-baik saja, Kak!” teriak Rengganis sambil melambaikan tangannya.

Daraka , Ismail dan Utari telah berada di hadapan Rengganis yang menyeret papan seluncurnya ke tepi pantai berpasir. Perawakan Rengganis terlihat ‘kering’ karena diet protein yang dijalaninya demi menaikan volume otot tubuh. Daraka dan Ismail mengambil alih papan seluncur, Utari mengamati wajah Rengganis lebih lekat. Aliran darah bercampur air laut itu melebar hingga ke leher dan baju Rengganis. Utari meraih tisu dari dalam tasnya. Menempelkan tisunya untuk menyerap darah yang masih keluar.

“Kita minta betadine dan plester ke panitia,” ujar Ismail.

***

“Runner up Female Division World Pro Junior International adalah … Rengganis from Bali …,” tangan terdengar riuh rendah.

Daraka dan Ismail bertepuk tangan, dibantu penonton lokal Bali yang merasa terpanggil untuk memberikan dukungan tanpa diminta dengan memberikan tepukan gemuruh melawan gemuruh ombak Pantai Pererenan yang melandai sore itu.

Utari tersenyum bangga, memperhatikan Rengganis yang naik ke atas podium. 'Kamu hebak, Nak.'

 

***

“Kapan kamu akan mengatakan kebenaran tentangmu padanya?” Daraka telah berdiri di samping Utari yang mengamati prosesi penyerahan tropi kejuaraan.

“Apa maksudmu?” Utari yang tidak menyadari keberadaan Daraka di dekatnya, terkejut. Bukankah tadi Daraka bersama Ismail di depan dekat podium, batinnya.

“Aku sudah tahu lama dari Meme mengenai status Rengga. Sudah saatnya dia tahu. Dia sudah dewasa sekarang. Dia akan memahamimu,” ujar Daraka.

Utari tertegun sesaat. Menoleh ke arah lelaki yang sudah dikenalnya lebih dari separuh umurnya. Daraka bukan tetangga yang suka ikut campur.  Kerap kali tanpa diminta dia mengulurkan bantuan padanya dan Rengganis tanpa banyak bicara—tanpa banyak cerita. Belum lagi kasih sayang tulus yang ditunjukkan Daraka untuk Rengganis. Sesuatu yang luar biasa bagi Utari. Berkah yang tak ternilai.

Utari masih terdiam. Dia bingung menanggapi saran Daraka. Dia bukan tidak ingin mengatakan kebenaran yang lama disimpannya. Sudah lama bahkan dia merasa harus mengatakan kebenaran itu. Sesungguhnya dia takut membayangkan reaksi Rengganis. Akankah Rengganis meneriman semua kebenaran itu dengan lapang dada? Atau malah menjadi semakin menjauhinya?

Melihat Utari yang masih berdiam diri, Daraka melanjutkan perkataannya. “Selain itu, aku juga ingin bicara soal pilihan jalan hidup Rengga. Dia bermimpi menjadi peselancar profesional. Impian yang tidak mudah memang, tetapi cobalah untuk melihat dari kacamatanya. Hargailah apa yang sudah dilakukannya demi mengejar mimpi. Bukankah kamu layak berbangga? Meskipun dia tidak pandai menaklukkan pelajaran di kelas, tetapi dia tumbuh menjadi penakluk ombak yang layak diperhitungkan. Cobalah lihat lebih dekat, langsung ke mata hatinya. Dia mencintai laut seperti dia mencintaimu, percayalah!” Daraka berusaha meyakinkan Utari.

“Kau tahu Raka, jika ada hal yang kusyukuri betul dalam hidupku adalah bertemu Meme dan bertemu denganmu. Terima kasih telah menjaga rahasiaku selama ini. Sungguh aku banyak berutang budi padamu,” Utari akhirnya  buka suara.

Jangankan rahasiamu, rahasia hatiku pun mampu kusembuyikan rapi. “Jangan kau pikirkan itu,” timpal Daraka seraya menepuk pundak Utari.

Daraka meninggalkan seulas senyum untuk Utari dan melangkah menuju Rengganis yang sudah turun dari podium.

***

“Uncle … ini untukmu,” seru Rengganis sambil menyodorkan tropi Runner-Up dan plakat hadiah uang simbolis sebesar $ 3000. Senyum lebar tersemat di bibirnya yang tipis.

Daraka tertawa lebar, “Jangan … berikanlah untuk kakakmu, dia hadir di sini untukmu. Sebuah kejutan bukan?”

Rengganis mengangguk.

Daraka menambahkan lagi, “Selama ini dia tidak pernah menunjukkan secara langsung dukungannya terhadap minatmu. Namun, sekarang ceritanya sudah berbeda. Uncle bisa pastikan, dia setuju dan mendukung cita-citamu. Langkahmu akan lebih ringan jika mendapat restunya. Pergilah. Dia menungggumu.”

Baru saja Daraka selesai bicara, tanpa komando Ismail bersama para penonton yang berasal dari penduduk lokal—serempak menopang Rengganis dan mengaraknya beberapa saat. Rengganis tampak ikut bersorak-sorai larut dengan euforia masa pendukungnya.

*

“Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dengan hadiah uang yang kau dapatkan, Rengga?” Dalam perjalanan pulang iseng Daraka bertanya perihal penggunaan hadiah uang yang dimenangkan Rengganis.

“Hm … ditabung dong!” sembur Utari. “Ingat Rengga, jalanmu menuju atlet profesional masih panjang. Ini baru langkah awalnya saja. Kakak harap kamu tidak terlena oleh satu atau dua kali kemenangan. Lain kali kamu harus merebut gelar juara. Betul tidak, Raka, Is?” tanya Utari seraya melihat ke arah Daraka dan Ismail bergantian.

“Sebentar lagi aku yakin agen atlet  akan berebut untuk merekrut dia, Utari. Tugasku memastikan Rengga ditangani oleh agen yang tepat,” tandas Daraka. “Siapa tahu, peranku akan bertambah menjadi manager setelah ini,” imbuhnya lagi.

Ismail menimpali sambil berkata jemawa,”Lah, soal menjadi manager lebih meyakinkan aku daripada kamu!”

“Halah, apa yang kamu jadikan acuan, Is! Omong kosong kamu,” ejek Daraka.

“Dih, pake dong kacamata minusmu! Lihat, potongan model gini yang bakal dipercaya sama calon sponsor. Tinggi, gagah, lanange jagat.”

“Is … Is … gayamu! Obatmu pagi ini belum kau minum rupanya.” Daraka menanggapi perkataan Ismail sebagai kelakar tidak lucu.

“Sudah … sudah. Mending kita syukuran dengan makan saja, yuk! Dari pada bertengkar tidak ada juntrungannya,” potong Utari.

“Ide bagus. Nah, bentar lagi sampai di Warung Ikan Mak Benk. Melipir!” Ismail yang memang hobi makan menyambar ide Utari.

Kurang dari sepuluh menit, mobil mereka telah terparkir rapih di tempat parkir Pantai Sanur.

*

Catatan kaki:

1.     Meme=Ibu (Bahasa Bali)

2.     Uncle=paman

3.     Lanange jagat=lelaki sejati

Rengganis memasuki kios “Utari oleh-oleh khas Bali” dengan dua bungkus nasi kuning di tangannya. Dia melewati ruangan yang dipakai untuk memajang barang kerajianan khas Bali. Tidak banyak yang dijual. Atas saran Rengganis mereka hanya menjual barang-barang kerajinan yang sering dicari wisatawan. Beberapa yang hampir selalu ada adalah kaos barong—kaos legenda Bali, kain pantai, topi, dream catcher, tas rotan bulat yang terbuat dari rotan, dan beberapa jenis kerajinan dari kelapa. Modal mereka sudah banyak terkuras untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak mampu menambah barang untuk meramaikan etalase kios.

‘Aku harus membicarakannya pagi ini’.  

Dari balik kalsiboard putih yang memisahkan kios bagian luar dengan ruang sempit di belakangnya—volume ingar bingar suara pembawa acara gosip pagi kesukaan Utari jelas terdengar dari luar.

“Pada Intip Seleb pagi, kali ini akan kami sampaikan berbagai berita artis terbaru … dalam deretan berita dalam Intip Seleb News Highlight di antara ….”

'Astaga, pagi-pagi sarapan gosip.'

Rengganis bersungut-sungut, “Dih Kak Tari, pagi-pagi begini bukannya mandi, beres-beres, malah mendengarkan tayangan sampah. Enggak mutu ah, Kak! Kumatiin ya! Nich, aku dah beli sarapan, “Rengganis menyodorkan kresek berisi nasi kuning ke hadapan Utari, “Kakak mandi gih … ada yang ingin kubicarakan,” pinta Rengganis. Merebut remot tele dan memandang serius kakaknya yang masih nyaman dalam posisi santainya, seolah enggan menanggapi omelan Rengganis.

“Ayolah, Kak. Siang nanti aku menangani turis Australia yang akan ambil kelas On Demand Surfing di Balangan, jadi harus dibicarakan sekarang!” seru Rengganis.

“Kamu ini, enggak sabaran banget, sih. Kakak masih malas.” Utari melengos sambil cemberut, merasa kenyamanan dan keasyikannya terusik.

“Kalau penjualnya malas, jorok, dan jutek mana ada pelanggan mau beli. Mustinya kakak semakin melarat semakin rajin bukan semakin malas,” sergah Rengganis tegas.

“Makin lama perkataanmu menjadi semakin pedas. Telinga Kakak terbakar. Ingat aku masih kakakmu,” jawab Utari sengak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Umur Rengga mungkin baru seumur jagung, tetapi nyali dan ketajaman berpikirnya kadang melebihinya. Belum lagi lidah dan kata-katanya, kadang lebih tajam dari silet.

‘Apa yang hendak dibicarakannya, ya? Apakah dia mendengar sesuatu? Apakah dia mendengar desas desus tak sedap tentang dirinya yang tempo hari kedatangan tamu tak diundang itu? Apakah tetangga mereka yang selama ini suka bergosip dibelakang tentangnya sekarang sudah berani unjuk muka?’

Dengan pikiran berkecamuk, Utari mengambil handuk baru di lemari plastik dan melenggang menuju kamar mandi.  

*

“Apa sih yang hendak kau bahas?” Utari tak dapat menahan rasa penasaran yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya.

“Kakak enggak sarapan dulu?” tanya Rengganis. Dia baru saja menyelesaikan sarapannya.

“Nanti sajalah, Kakak masih belum lapar,” tolak Utari. Dia duduk di atas kasur tanpa ranjang.

Rengganis mematikan televisi dan menghampiri Utari. Dia ikut duduk, berhadapan dengan Utari di atas kasur seraya melipat kedua kakinya. Wajahnya menampakan mimik yang serius.

“Begini, Kak. Aku mau kita pindah dari kios ini. Sudah lama aku memimpikannya. Aku mau kita memulai hidup baru. Ke depannya aku hanya akan mengambil pekerjaan paruh waktu. Kuta Reef Surfing School menerimaku bekerja sebagai tenaga paruh waktu mereka. Per hari ini aku resmi bekerja di sana.” Dengan suara datar Rengganis memulai pembicaraan.

Utari terperangah, “Kenapa tiba-tiba? Kamu sudah membicarakannya dengan Raka? Bli Nengah bagaimana menanggapi kepindahanmu?” tanyannya.

“Aku bisa bekerja di sana berkat Bli Nengah juga, Kak. Uncle sedang dalam proses mencari pengganti dirinya, sementara dia belum bisa keluar dari sana. Dia akan membantuku jadi peselancar pro dengan menjadi manager. Ini sudah kami bicarakan secara kekeluargaan dengan Bli Nengah, Uncle, dan Aku. Pasalnya mereka berdua sudah paham. Aku sudah muak dengan sindiran istri dan kakak perempuan Dev. Dikiranya aku naksir Dev apa? Padahal Dev yang mengejar-ngejar aku!” sungut Rengganis.

“Cemoohan apa yang mereka lontarkan? Biar aku balas mereka?” Nada suara Utari meninggi.

“Ah, tak penting Kak. Mereka cuma berani bergosip di belakangku, ketika kulabrak bungkam, lalu mengadu pada Bli Nengah. Lagian Dev juga sih, udah tahu ibunya jelas-jelas enggak suka sama aku dan aku sudah mundur, masih juga keras kepala,” ujar Rengganis dengan suara yang terdengar kesal.

“Emang kamu beneran enggak naksir Dev?” goda Utari.

Bibir Rengganis monyong, “Sudahlah, cukup soal Dev. Cowok anak mami bukan tipeku. Blacklist,” cibir Rengganis,” Aku akan menyiapkan semuanya, sebuah toko oleh-oleh buat Kakak kelola dan tempat tinggal kita yang baru.

“Memangnya hadiah uang yang kau menang tempo hari sudah cair?”

Rengganis berdiri, mengambil buku tabungan dari dalam tasnya yang tergantung di gantungan kayu. Ditunjukkannya kepada Utari.

Utari takjub, belum pernah dia memiliki uang di tabungan sebanyak itu. Utari termenung. Teringat akan Meme.

Seakan mengerti apa yang membuat Utari bimbang Rengganis berkata, “Meme pasti akan mengerti, Kak. Kita bisa jual atau sewakan pada orang lain.”

“Aku ingin melangkah maju, meninggalkan masa lalu, mengubur semua kenangan pilu, dan menganggapnya hanya angin lalu,” imbuh Rengganis.

Utari mengusap wajah Rengganis, tersenyum dan mengangguk setuju.

‘Kamu berhak, Nak. Aku berhak melangkah di jalan yang kau pilih. Kamu sungguh sudah dewasa.’

***

“Rengga, tunggu!” teriak Dev begitu melihatnya keluar dari kantor Kuta Reef Surfing School bersama rombongan.

Rengganis melengos. ‘Ah, sial. Mengapa dia berani merusak privasiku di sini.’

“Sorry guys, silahkan masuk ke dalam kendaraan yang telah kami sediakan. Aku minta waktu sebentar,” pamit Rengganis pada para kliennya.

Rengganis menghampiri Dev yang tengah berjalan menujunya.

“Dev, apa maumu?” hardik Rengganis galak.

“Aku yang seharusnya bertanya. Mengapa tiba-tiba saja kamu keluar dari pekerjaan dan kudengar pula kau akan pindah rumah?”cecar Dev.

“Hm … mengapa pula harus kujelaskan? Bukankah semua sudah jelas? Kita tidak punya hubungan apa pun, ” balas Rengganis geram, “lagi pula jika harus bicara aku minta jangan sekarang, Dev. Aku

sedang kerja, tidak mungkin aku berlama-lama berbantahan denganmu di sini. Tolonglah. Kita akan bicara lain kali” pinta Rengganis serius.

“Tidakkah aku berharga bagimu? Jangan bilang bahwa selama ini kau hanya menganggapku sebagai teman biasa?”

Rengganis urung menjawab. Dia tidak mau memperumit hidupnya yang sudah sulit. Dia sangat tahu perbedaannya dengan Dev tak terbilang, sekadar cinta tak akan mampu menumbangkan perbedaan itu. Bukan tak menghargai arti cinta yang nyata dia rasakan dari Dev untuknya. Namun, melewati dinding pembeda itu, dia tak sanggup.

Dev bisa merasakan sorotan beberapa pasang mata yang tengah menunggu di dalam mobil tengah memperhatikan mereka penuh rasa ingin tahu. ‘Ah, Rengga benar. Tak seharusnya dia datang dalam keadaan emosi dan menyulut pertengkaran baru, terlebih kedatangannya malah bisa mencoreng kinerja Rengga di tempat baru. Tapi kan ini milik pamannya, seharusnya tidak masalah!’

Tanpa menunggu jawaban Dev, Rengganis berlalu. Mobil rombongan pemburu ombak itu berlalu dari hadapan Dev, meninggalkan kepulan debu yang beterbangan di udara. Dev terbatuk.

***  

Pantai Balangan kala senja, adalah salah satu yang terindah di musim kemarau Pulau Dewata. Rengganis dan Bli Adi, membersamai rombongan Daren yang begitu sumringah melihat hamparan pasir putih yang terbentang sepanjang garis pantai dihiasi sunsetnya yang tiada dua. Belum lagi deburan ombaknya yang memecah pantai mengalunkan nada ritmis yang menghipnotis. Momen magis yang puitis.

“Baik, untuk semua perhatikan semua hal terkait keamanan yang telah disampaikan Bli Adi sebelumnya di kantor, untuk momen mengabadikan foto, jangan khawatir tim kami sudah dalam perjalanan. Jadi fokus pada tujuan kita semua kemari saat ini; bermain ombak, oke!”

“Oke …” kelima orang peserta mengiyakan instruksi pelatih.

Bergegas kelima orang termasuk Daren melakukan pemanasan sebelum masuk ke dalam air laut dan mulai mengejar ombak-ombak landai. Meski mereka bukan pemula, tetapi karena dua di antara mereka pernah mengalami kecelakaan pada saat bermain ombak, maka Bli Adi, kepala instruktur atasan Rengganis memintanya berjaga.

Rengganis bergantian membantu Daren membawa papan seluncurnya ke pantai sembari mereka bercakap-cakap, “Inilah yang menarikku untuk selalu kembali ke Bali, Rengga,” ujarnya memandang kagum bentang biru nan luas di hadapannya.

Daren, lelaki tiga puluhan tahun itu sesungguhnya seorang pria kantoran, hanya saja dia dia juga seorang penggila berselancar. Dia bukan klien baru, dia adalah pelanggan tetap pantai Bali juga. Bersama teman-teman komunitas berselancarnya, mereka berburu ombak hampir dua tahun sekali. Bali adalah tempat favorit Daren karena akomodasi di Bali lebih murah, ujarnya suatu kali sambil tertawa.

Rengga menoleh, “Tentu saja, laut adalah tempat yang tepat ketika kamu ingin rehat. Menjaga agar tetap sehat, bukankah hal yang tepat untuk dilakukan ketika semua terasa begitu menjerat?” tanya Rengganis.

“Tentu saja, memelihara kesehatan mental dengan tahu bagaimana menyenangkan diri sendiri itu penting. Bukan begitu? Sepertinya, temanmu yang tadi itu perlu kau ajak sesekali berselancar,” goda Daren.

Rengganis merengut tidak senang, “Bukan sesuatu yang perlu kau perhatikan, Daren!” Rengganis menolak untuk berkomentar.

“Hm … apakah dia teman istimewamu?” selidik Daren.

“Kalau kamu mau bergosip, di warung kopi saja sana, aku mau menikmati ombak dan senja. Lihatlah, seolah kita berada di-upside down world, kita berenang di birunya langit, bukan lautan,” timpal

Rengganis seraya mengayuh papan selancarnya menuju ombak yang tengah bergulung membentuk dinding.

***

Catatan kaki:

1.     Dream cather: (penangkap mimpi) dekorasi;hiasan

2.     Kalsiboard=bahan bangunan yang berbentuk seperti papan kuat

3.     Uncle=paman

4.     Meme=Ibu (Bahasa Bali)

5.     Upside down world=dunia terbalik