Novelory

CEO Love Project
4.8
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Jadwal wawancara Zea dimulai dari pukul 09:00 WIB. Namun, baru saja pukul 08:00 WIB, Zea sudah berangkat ke kantor perusahaan Clovis Group.

Dia tidak ingin terlambat dan membuat citra buruk di perusahaan ini. Jika di hari wawancaranya saja dia sudah terlambat, sudah dipastikan dia tidak akan diizinkan lagi untuk menginjak kantor ini apalagi bermimpi jadi pegawai di sini.

"Kamu sudah sampai?" tanya seseorang lewat telepon yang tidak lain adalah Naya.

"Ini baru sampai," jawab Zea sambil terus melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Sejak tadi pagi, Naya sudah sibuk membantu perisapan Zea. Bahkan dia lebih sibuk dari Zea.

Zea hanya tinggal duduk dan menyerahkan semuanya kepada Naya. Naya merias wajah Zea menjadi jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya.

Zea yang memiliki wajah cantik dan manis, ditambah dengan make up Naya yang terkenal tidak pernah gagal, menjadi perpaduan yang sempurna.

"OMG, Zea ... kamu cantik banget," puji Naya setelah menyelesaikan karyanya di wajah Zea.

Naya merasa pangling melihat wajah Zea yang jauh lebih fres dari sebelumnya. Make up-nya yang sederhana namun terlihat sangat pas ketika dipandang mata.

Saking enak dipandang, sampai-sampai seluruh karyawan Clovis Group, baik itu perempuan ataupun laki-laki, terkagum-kagum melihat kecantikan Zea.

Rambutnya yang digerai dengan sedikit bergelombang, bibirnya yang tipis berwarna merah muda, hidungnya yang kecil mancung, wajahnya yang bulat chubyy, membuatnya terlihat sangat manis dan cantik.

Apalagi dengan atasannya yang mengenakan blazer kotak-kotak dan rok sedikit di atas lutut, menggambarkannya seperti seorang anak SMA. Ditambah lagi dengan sepatunya yang berupa sneakers membuat penampilannya terkesan jauh dari seseorang yang sudah lulus kuliah.

Zea yang baru saja menginjakkan kaki di perusahaan ini langsung mendapatkan respon yang menakutkan bagi Zea. Karena kebanyakan orang menatapnya tanpa berkedip.

Dengan berusaha, Zea mencoba untuk tidak memperdulikan mereka semua. Dia memilih untuk segera mendatangi meja resepsionis.

"Ada yang bisa kami bantu, dek?" tanya resepsionis itu dengan ramah.

Dilihat dari penampilan Zea, resepsionis itu mengira kalau Zea anak SMA yang merupakan anak dari salah satu pegawai di perusahaan ini.

"Hari ini saya ada jadwal wawancara dengan perusahaan ini " ucap Zea yang tidak kalah ramah dari resepsionis itu.

"Boleh tunjukan emailnya?" tanya resepsionis itu kembali dengan sopan.

"Ini Kak."

Zea menunjuka email yang semalam masuk ke dalam ponselnya.

Awalnya reseosionis itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zea, tapi akhirnya dia percaya setelah melihat email dari perusahaan ini yang memunjukan bahwa Zea adalah salah satu kandidat yang akan di wawancarai.

"Ini kartu tanda pengenal untuk yang akan diwawancara, anda boleh memakainya nanti saat memasuki ruangan. Untuk saat ini lebih baik anda menunggu di kursi sebelah sana sampai wawancaranya dimulai sesuai dengan jadwal yang diberikan."

Resepsionis itu memberikan kartu tanda pengenal kepada Zea, kemudian mengarahkan Zea untuk duduk di kursi yang berada di depan meja resepsionis dan disediakan husus untuk yang menunggu.

"Baik, terima kasih."

Zea meninggalkan meja resepsionis kemudian duduk sesuai arah dari resepsionis itu.

Tidak berselang lama, semua orang yang semula duduk, mereka langsung berdiri dan berjejer di sepanjang samping pintu masuk seperti akan menyambut kedatangan seseorang.

Zea yang tidak tau apa-apa, langsung mengikuti apa yang mereka lakukan. Dia berdiri di belakang orang pertama sambil menjinjitkan kakinya supaya dia dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang baru saja turun dari mobil sportnya dan mendapatkan sambutan dari semua karyawan Clovis Group adalah orang yang waktu itu datang ke rumahnya dan membeli rumahnya dengan paksa.

Semua orang menyapa CEO Muda mereka sambil menunduk hormat, kecuali Zea.

Zea menatap tajam ke arah Han dengan mengangkat kepalanya karena tingginya tidak semampai. Bahkan jauh jika harus dikatakan semampai.

Melihat Zea yang menatapnya dengan tatapan tajam, terkejut, dan kesal, membuat batinnya tersenyum. Ini aneh sekali.

Seharusnya Han marah karena ada yang berani menatapnya secara terang-terangan, tindakan yang dilakukan Zea bisa dikatakan lancang atau tidak sopan.

Jika karyawan lain yang melakukan hal ini, mungkin Han akan menendang karyawan itu dari perusahaan dan tidak akan mengizinkannya untuk menginjakkan kaki di perusahaannya lagi.

Berbeda dengan Zea, dia merasa tidak kesal sama sekali saat Zea menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

Jadwal wawancara Zea dimulai dari pukul 09:00 WIB. Namun, baru saja pukul 08:00 WIB, Zea sudah berangkat ke kantor perusahaan Clovis Group.

Dia tidak ingin terlambat dan membuat citra buruk di perusahaan ini. Jika di hari wawancaranya saja dia sudah terlambat, sudah dipastikan dia tidak akan diizinkan lagi untuk menginjak kantor ini apalagi bermimpi jadi pegawai di sini.

"Kamu sudah sampai?" tanya seseorang lewat telepon yang tidak lain adalah Naya.

"Ini baru sampai," jawab Zea sambil terus melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Sejak tadi pagi, Naya sudah sibuk membantu perisapan Zea. Bahkan dia lebih sibuk dari Zea.

Zea hanya tinggal duduk dan menyerahkan semuanya kepada Naya. Naya merias wajah Zea menjadi jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya.

Zea yang memiliki wajah cantik dan manis, ditambah dengan make up Naya yang terkenal tidak pernah gagal, menjadi perpaduan yang sempurna.

"OMG, Zea ... kamu cantik banget," puji Naya setelah menyelesaikan karyanya di wajah Zea.

Naya merasa pangling melihat wajah Zea yang jauh lebih fres dari sebelumnya. Make up-nya yang sederhana namun terlihat sangat pas ketika dipandang mata.

Saking enak dipandang, sampai-sampai seluruh karyawan Clovis Group, baik itu perempuan ataupun laki-laki, terkagum-kagum melihat kecantikan Zea.

Rambutnya yang digerai dengan sedikit bergelombang, bibirnya yang tipis berwarna merah muda, hidungnya yang kecil mancung, wajahnya yang bulat chubyy, membuatnya terlihat sangat manis dan cantik.

Apalagi dengan atasannya yang mengenakan blazer kotak-kotak dan rok sedikit di atas lutut, menggambarkannya seperti seorang anak SMA. Ditambah lagi dengan sepatunya yang berupa sneakers membuat penampilannya terkesan jauh dari seseorang yang sudah lulus kuliah.

Zea yang baru saja menginjakkan kaki di perusahaan ini langsung mendapatkan respon yang menakutkan bagi Zea. Karena kebanyakan orang menatapnya tanpa berkedip.

Dengan berusaha, Zea mencoba untuk tidak memperdulikan mereka semua. Dia memilih untuk segera mendatangi meja resepsionis.

"Ada yang bisa kami bantu, dek?" tanya resepsionis itu dengan ramah.

Dilihat dari penampilan Zea, resepsionis itu mengira kalau Zea anak SMA yang merupakan anak dari salah satu pegawai di perusahaan ini.

"Hari ini saya ada jadwal wawancara dengan perusahaan ini " ucap Zea yang tidak kalah ramah dari resepsionis itu.

"Boleh tunjukan emailnya?" tanya resepsionis itu kembali dengan sopan.

"Ini Kak."

Zea menunjuka email yang semalam masuk ke dalam ponselnya.

Awalnya reseosionis itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zea, tapi akhirnya dia percaya setelah melihat email dari perusahaan ini yang memunjukan bahwa Zea adalah salah satu kandidat yang akan di wawancarai.

"Ini kartu tanda pengenal untuk yang akan diwawancara, anda boleh memakainya nanti saat memasuki ruangan. Untuk saat ini lebih baik anda.

Jadwal wawancara Zea dimulai dari pukul 09:00 WIB. Namun, baru saja pukul 08:00 WIB, Zea sudah berangkat ke kantor perusahaan Clovis Group.

Dia tidak ingin terlambat dan membuat citra buruk di perusahaan ini. Jika di hari wawancaranya saja dia sudah terlambat, sudah dipastikan dia tidak akan diizinkan lagi untuk menginjak kantor ini apalagi bermimpi jadi pegawai di sini.

"Kamu sudah sampai?" tanya seseorang lewat telepon yang tidak lain adalah Naya.

"Ini baru sampai," jawab Zea sambil terus melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Sejak tadi pagi, Naya sudah sibuk membantu perisapan Zea. Bahkan dia lebih sibuk dari Zea.

Zea hanya tinggal duduk dan menyerahkan semuanya kepada Naya. Naya merias wajah Zea menjadi jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya.

Zea yang memiliki wajah cantik dan manis, ditambah dengan make up Naya yang terkenal tidak pernah gagal, menjadi perpaduan yang sempurna.

"OMG, Zea ... kamu cantik banget," puji Naya setelah menyelesaikan karyanya di wajah Zea.

Naya merasa pangling melihat wajah Zea yang jauh lebih fres dari sebelumnya. Make up-nya yang sederhana namun terlihat sangat pas ketika dipandang mata.

Saking enak dipandang, sampai-sampai seluruh karyawan Clovis Group, baik itu perempuan ataupun laki-laki, terkagum-kagum melihat kecantikan Zea.

Rambutnya yang digerai dengan sedikit bergelombang, bibirnya yang tipis berwarna merah muda, hidungnya yang kecil mancung, wajahnya yang bulat chubyy, membuatnya terlihat sangat manis dan cantik.

Apalagi dengan atasannya yang mengenakan blazer kotak-kotak dan rok sedikit di atas lutut, menggambarkannya seperti seorang anak SMA. Ditambah lagi dengan sepatunya yang berupa sneakers membuat penampilannya terkesan jauh dari seseorang yang sudah lulus kuliah.

Zea yang baru saja menginjakkan kaki di perusahaan ini langsung mendapatkan respon yang menakutkan bagi Zea. Karena kebanyakan orang menatapnya tanpa berkedip.

Dengan berusaha, Zea mencoba untuk tidak memperdulikan mereka semua. Dia memilih untuk segera mendatangi meja resepsionis.

"Ada yang bisa kami bantu, dek?" tanya resepsionis itu dengan ramah.

Dilihat dari penampilan Zea, resepsionis itu mengira kalau Zea anak SMA yang merupakan anak dari salah satu pegawai di perusahaan ini.

"Hari ini saya ada jadwal wawancara dengan perusahaan ini " ucap Zea yang tidak kalah ramah dari resepsionis itu.

"Boleh tunjukan emailnya?" tanya resepsionis itu kembali dengan sopan.

"Ini Kak."

Zea menunjuka email yang semalam masuk ke dalam ponselnya.

Awalnya reseosionis itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zea, tapi akhirnya dia percaya setelah melihat email dari perusahaan ini yang memunjukan bahwa Zea adalah salah satu kandidat yang akan di wawancarai.

"Ini kartu tanda pengenal untuk yang akan diwawancara, anda boleh memakainya nanti saat memasuki ruangan. Untuk saat ini lebih baik anda menunggu di kursi sebelah sana sampai wawancaranya dimulai sesuai dengan jadwal yang diberikan."