Novelory

First Love
5
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padanya? Seseorang yang begitu sempurna dengan matanya yang indah, senyumnya yang menawan, perawakannya yang ideal, belum lagi sifatnya yang ramah, membuat kaum hawa jatuh cinta padanya. Aku pun termasuk ke dalam perempuan yang jatuh dalam pesonanya. Oleh karena itu, aku hanya memperhatikan dia dari jauh. Sempat beredar isu buruk tentang dia, namun aku sama sekali tidak percaya. Aku hanya percaya kepadanya. Rasa percaya itu kian membesar sampai rasa cintaku padanya tumbuh.

Saat aku melihat dia bersama gadis lain, entah itu berbincang atau sekedar berjalan berdampingan membuatku cemburu. Rasanya, aku ingin marah saat itu juga, namun aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Dapat berbincang dengannya sesekali saja sudah lebih dari cukup bagiku, aku benci diriku yang pengecut. Andai saja aku dapat memutar waktu, aku ingin kembali ke waktu itu. Waktu dimana aku dengan dia terkunci di gudang belakang sekolah saat hendak menyimpan kursi kelas. Mungkin terdengar mengada-ngada, namun itulah nyatanya. Ah sekedar informasi, aku sekelas dengan dia saat kelas 1 SMP. Andai saja aku dapat memberanikan diri, pasti aku sudah dekat dengan dia. Andai hanyalah andai, inilah aku yang hanya bisa berandai-andai.

Perasaan yang tengah aku rasakan ini sangat menyenangkan, walaupun terkadang melelahkan, ingin rasanya mundur, tapi hati menolak. Pikiran dan hati tidak sejalan. Sampai tidak terasa sudah 2 Tahun aku memedam rasa ini. Seketika aku takjub dapat memendam perasaan ini.

Hari dimana aku meninggalkan kota kelahiranku dan tempatnya berada tiba, aku sangat sedih. Aku sangat tidak ingin meninggalkan kota ini, tetapi tuntutan keluargalah yang memaksaku untuk pindah. Lalu, ketika hari terakhirku bersekolah, aku menyempatkan diri menulis sepucuk surat padanya yang aku titipkan kepada sahabatku. Aku memintanya dengan sepenuh hati dan jangan beri tahu siapa pengirim surat tersebut.

Sebelum aku benar-benar meninggalkannya, sekali lagi meski hanya sesaat aku memandang wajahnya. Seperti biasa senyumnya sangat menyejukan hati. Aku berharap suatu saat nanti, kamu dapat mengenalku, seperti aku mengenalmu. Tidak peduli jika cinta pertamaku tidak terwujud seperti kata orang-orang, aku hanya ingin melihatmu bahagia dari dekat, membagikan keluh kesahmu padaku, serta dapat mendengar semua ceritamu.

Terima kasih telah membuat 2 tahunku di Sekolah sangat menyenangkan wahai cinta pertamaku, semoga kita dapat bertemu kembali dan mengukir sebuah kisah yang dimana kamu dan aku menjadi pemeran utamanya.

Cinta memang buta, tetapi cinta tidak bohong. Cinta sejati tidak mengenal fisik, tetapi mengenal hati pasangannya. Cinta yang sebenarnya saling melengkapi, bukan saling menyakiti. Aku percaya, tidak ada cinta yang salah. Karena cintalah yang membuat orang tersenyum, tertawa, kecewa, marah, sedih, hampa, tanpa cintalah kita tidak bisa merasakannya. Cinta hanya sebuah kata yang memiliki banyak makna, baik itu makna baik atau buruk. Yang pasti cinta dapat membuat hidup lebih berwarna.

Inilah aku Aleta Quenby Elvina yang jatuh cinta pada Samuel Edzard Kaamil.

***

Seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah dibalut jaket tengah berjalan menuju Apartemennya.

“Tadaima!” ucap Aleta saat membuka pintu Apartement.

(Aku pulang!)

“Okaeri nasai!” balas ibu yang sedang merapikan barang-barang.

(Selamat pulang!)

Aleta mengernyitkan alisnya lantaran bingung mengapa bu Clarissa yang merupakan ibu Aleta merapikan barang. “Bu, kenapa rapi-rapi barang? Kita mau pindah?”

“Iya, 3 hari lagi kita pulang ke Indonesia tepatnya tempat kamu berasal,” jelas bu Clarissa.

Ucapan ibunya membuat Aleta menunjukan wajah yang berseri-seri. “Seriusan Bu? Kita bakal pulang?”

“Iya … pekerjaan Ayah disini udah selesai, kita bisa pulang,” sahut sang ayah yang baru keluar dari kamar dengan 2 koper ditangannya.

Aleta berlari memeluk pak Tony, untung saja pak Tony tidak kehilangan keseimbangannya. Pak Tony melepaskan kopernya menepuk pungung anak sulungnya itu.

“Kalau gitu Aleta beresin barang-barang dulu!” ujarnya riang.

Aleta masuk kamar dan sang adik keluar dengan barang-barangnya. Tidak hanya Aleta, adiknya pun bersemangat untuk kembali. Ia tidak sabar bertemu teman lamanya.

“Nak, kamu bantu kakakmu sana,” pinta bu Clarissa.

Dengan enggan, ia mengangguk mematuhi perintah ibunya. Baru saja ia membuka pintu sudah mendapati Aleta yang tertidur di tumpukan buku. Sang adik menghela napas melihat kakak satu-satunya. Ia mengerti mengapa ibu memintanya untuk membantu Aleta merapikan barang.

Waktu berlalu begitu saja, perlahan-lahan Aleta membuka mata. Ia terkejut mendapati barang-barangnya sudah rapi kecuali tumpukan buku yang menjadi bantal tidurnya. Aleta meregakan badan karena pegal.

Kruk … kruk … kruk!

Suara perut Aleta menyelimuti kamarnya, ia pun langsung memegang perut seraya mengusap-ngusapnya. Aleta pun keluar kamar dengan rasa lapar tak dapat ditahan.

“Waahhh pas banget aku laper!” serunya begitu melihat berbagai macam lauk sudah memenuhi meja makan.

“Ah sudah bangun rupanya, baru saja Ibu mau bangunin kamu. Sini makan dulu,” ucap ibu menarik kursi yang akan di duduki Aleta.

“Hai! Okasaan,” balas Aleta setengah berlari menghampiri kursinya.

(Iya! Ibu.)

“Itadakimasu,” ucap Aleta sebelum menyantap berbagai macam lauk.

(Saya dengan rendah hati menerimanya.)

“Oh iya, besok adalah hari terakhir kalian bersekolah, berpamitanlah pada teman dan guru. Lalu, bagikan kue kering yang sudah Ibu buatkan. Kalian ambil saja di lemari makanan,” perintah sang ibu yang langsung menerima anggukan sebagai jawaban.

Aleta sangat tidak sabar. Selama 2 tahun ini, ia tidak pernah sekalipun berkunjung ke tanah kelahirannya. Selama itu pula ia tidak tahu kabar sahabatnya, mereka tidak lagi saling bertukar pesan ketika Aleta kehilangan ponselnya. Selain sahabat yang dirindukan Aleta, ada seorang laki-laki special yang selalu berada di hati Aleta. Laki-laki itu ialah Samuel. Ya, perasaan Aleta terhadap Samuel tidak pernah padam, justru Aleta merindukan Samuel setiap harinya bahkan kini Aleta penasaran apakah Samuel masih orang yang sama atau tidak?

Memikirnya saja sudah membuat Aleta senang. Tidak heran jika Aleta terus tersenyum selama makan malam.

***

Hari yang sudah Aleta tunggu telah tiba. Saat ini, keluarga pak Tony sedang menuju bandara diantarkan teman kerja pak Tony sebagai bentuk terima kasih telah menjadi teman kerja yang dapat diandalkan sekaligus sebagai tanda perpisahan.

Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di Bandara Internasional Tokyo atau biasa dikenal Bandara Haneda. Setelah menurunkan barang bawaan, pak Tony berpamitan terlebih dahulu kepada teman kerjanya, diikuti ucapan terima kasih.

Mereka menunggu terlebih dahulu sebelum jam keberangkatan tiba. Sesekali mereka ke toilet secara bergantian. Setelah menunggu cukup lama, mereka pun menaiki pesawat. Sama seperti penumpang pada umumnya, Aleta menonton film, membaca buku, makan dan tidur.

Meski perjalanan yang ditempuh cukup lama, Aleta sama sekali tidak lelah karena rasa senang yang tak terkira.

“Wow! Bahkan Kakak tidak lelah sedikitpun, luar biasa,” komentar sang adik.

Aleta menyunggingkan bibirnya seraya berpose peace finger sebagai tanggapan dari ucapan sang adik terselip rasa kagum.

Sang adik menggelengkan kepalanya, lalu menutup mata bersiap untuk tidur.

***

Aleta adalah seorang gadis cantik dengan tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran seorang perempuan dengan warna kulit kuning langsat tak lupa hidung mancung yang membuat orang merasa iri, kekurangannya hanya bibirnya yang pucat membuat Aleta harus memakai lip balm. Gadis itu masih tertidur pulas memeluk guling menghiraukan panggilan sang adik. Felysia Inez Gianina.

Felysia geram karena kakaknya tidak kunjung bangun. Lalu, Felysia menuruni anak tangga untuk menghampiri ibunda tercinta.

“Selamat pagi Bu …” sapa Felysia.

“Pagi cantiknya Ibu, lho kakak kamu mana?” balas ibu.

“Masih tidur Bu,” jawab Felysia seraya duduk guna sarapan pagi dengan roti dilapisi selai cokelat.

Ibu memasang wajah malas, bukan hal aneh jika Aleta bangun siang. Namun hari ini adalah hari dimana Aleta dan Felysia masuk sekolah. Sang ibu tidak bisa membiarkan Aleta terlambat di hari pertama. Ibu pun menaiki tangga guna membangunkan anak sulungnya itu.

"Aleta! Cepat bangun dan sarapan!" Ibu memanggil Aleta dari balik pintu seraya mengetuk pintu tidak santai.

"Hmmm ... bentar lagi Bu," balas Aleta masih memeluk guling.

Ibu menghela napas sebelum meninggalkan kamar Aleta.

10 menit telah berlalu, tidak ada perubahan. Aleta masih belum menampakan dirinya.

"Ka, cepat makan!" kali ini Felysia yang memanggil.

Tanpa diduga Aleta sudah bangun namun belum beranjak dari tempat tidur. “Iya bentar.”

Felysia sudah lelah dengan kakaknya ini. "Ka, ini udah jam setengah tujuh lho. Emang Kakak mau telat di hari pertama? Kalau aku sih ngga mau!” ucap Felysia meninggalkan kakaknya, tidak peduli Aleta mau telat atau tidak.

Aleta melihat jam dindingnya untuk memastikan apakah ucapan Felysia benar. Ya, tepat sekali. Tanpa menunggu lama lagi Aleta langsung bersiap-siap.

"Selamat pagi, maaf aku terlambat." sahut Aleta sambil duduk untuk menyantap roti yang sudah diolesi selai cokelat oleh bu Clarissa.

"Makan rotinya di Jalan aja, udah telat ini!" perintah Ibu.

Aleta mengikuti perintah ibu, tidak lupa dengan roti di tangannya. Setelah itu, Aleta berjalan setengah berlari ke Garasi karena Felysia sudah menunggu dengan sebal.

“Lho ngga bareng Ayah?” ucap Aleta begitu melihat pak Miko yang akan mengantarkan mereka.

Felysia memberikan kode kepada pak Miko untuk berjalan, sebelumnya Felysia meminta agar kecepatannya dinaikan sedikit agar tidak terlambat. Namun, jika dilihat jam berapa sekarang, mustahil untuk tidak terlambat.

Baru 2 minggu Aleta kembali ke kota kelahirannya setelah 2 tahun tinggal di Negeri Sakura karena pekerjaan sang Ayah. Aleta masih belum terbiasa untuk bangun pagi. Aleta merasa Sekolah disana lebih menyenangkan apalagi jam masuknya pada pukul 08.45, tidak seperti di Indonesia yang dimulai pada pukul 07.00.

Tidak bisa dipungkiri jika Felysia mengomel sepanjang perjalanan. "Menyebalkan sekali, hari pertamaku sekolah harus telat gara-gara Kakak yang tidak bisa diandalkan ini."

"Oh ayolah, kakak juga tidak mau telat, tetapi karena belum terbiasa bangun pagi jadi gini deh." Jawab Aleta membela diri.

Felysia memasang wajah datar. "Benar-benar Kakak yang merepotkan."

“Non Felysia, sudah sampai,” ucap pak Miko.

Felysia mengangguk sebagai jawaban. Saat Felysia hendak membuka pintu mobil, Aleta mengatakan. “Semangat belajarnya Felysia!” Tentu saja Felysia mengabaikannya yang sama sekali tidak dipermasalahkan oleh Alet. Aleta hanya melihat Felysia yang berlari sembari pak Miko melanjutkan perjalanan.

Mereka sekolah di tempat yang sama, yaitu SMP dan SMA GEMILANG. Sekolah ini memiliki wilayah yang cukup luas, jarak antara SMP dengan pintu masuk atau pintu keluar tidak begitu jauh, namun untuk SMA perlu berjalan lebih jauh. Sehingga pihak sekolah menyediakan kendaraan seperti mini bus untuk siswa-siswinya yang tidak membawa kendaraan maupun yang tidak diantar jemput. Sekolah GEMILANG termasuk sekolah yang paling diminati karena selain fasilitasnya yang lengkap, kualitas dalam pembelajarannya pun tidak perlu diragukan lagi.

***

Begitu Aleta sampai, ia langsung berlari dan berhasil membujuk security untuk membukakan pagar Sekolah. Tentu saja mengucapkan terima kasih terlebih dahulu pada pak Miko.

"Permisi ..." ucap Aleta di depan pintu ruang guru.

"Iya, kamu pasti murid pindahan itu kan?" seorang guru bertanya.

"Iya Bu,” jawab Aleta.

"Karena ini hari pertama kamu masuk sekolah, kamu dimaafkan, namun untuk seterusnya jangan sampai terlambat!" jelas guru tersebut.

“Baik Bu,” jawab Aleta menyesal. Seandainya ia langsung bangun saat dibangunkan Felysia, pasti tidak akan terlambat.

“Kalau begitu ikut Ibu, Ibu akan mengantarkanmu ke Kelas,” titah sang guru.

“Iya Bu …” Aleta mengikuti guru tersebut, sesekali menengok kesana kemari. Kesan pertamanya pada sekolah ini adalah tata letak ruang yang rapi, tidak heran untuk sekolah terfavorit.

Mereka berhenti di kelas 2-1. Setelah mendapat persetujuan dari guru yang sedang mengajar, Aleta masuk ke dalam kelas. Semua mata tertuju padanya, terutama wajah cantic Aleta menarik perhatian seluruh murid. Lalu, sang guru yang mengantarkannya tadi, segera pergi melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.

"Anak-anak sebelum kita melanjutkannya kembali, dengarkan Ibu terlebih dahulu. Hari ini kelas 2-1 mendapatkan murid baru. Silahkan memperkenalkan diri,” ucap bu Ola guru Bahasa Indonesia.

"Perkenalkan nama saya Aleta Qeunby Elvina, kalian bisa panggil saya Aleta,” ucapnya memperkenalkan diri.

"Baiklah Aleta, kamu dapat duduk disana,” ucap bu Ola sembari menunjukan tempat duduk yang kosong di belakang baris pertama.

"Terima kasih Bu,” kata Aleta sebelum berjalan ke tempat duduk.

Aleta meletakan tas terlebih dahulu sebelum duduk di tempatnya. Lalu, teman sebangku Aleta menyapanya. "Hai Aleta, aku Nadya," sapanya.

“Hai Nadya,” balas Aleta.

"Baru hari pertama sudah telat, benar-benar memalukan, hahaha ..." ledek Nadya.

Aleta tersenyum canggung, rasanya ia tidak bisa akrab dengan teman sebangkunya itu.

Teng … ning … nong!

“Akhirnya bel juga,” ucap Aleta dalam hati.

Baru saja Aleta ingin meminta Nadya berkeliling sekolah, ia sudah pergi menghampiri gengnya. Aleta hanya bisa menghela napas. Ia melihat sekeliling dan semua sudah memiliki kelompoknya.

"Hai Aleta, inget gue ngga?" Tiba-tiba saja seorang gadis berkuncir kuda menghampiriku.

“Ah ya? Hmm … siapa?” Terlihat sekali kalau Aleta kebingungan.

"Kan lupa … ini gue, Kaila," ucapnya lagi.

Aleta membelalakan matanya tak percaya. "Ini beneran Kaila?”

“Hahaha … iya Al, masa lo lupa sama sobat sendiri,” kata Kaila.

Kaila Sherly Sifabella adalah teman masa kecilnya Aleta, mereka udah bagaikan anak kembar yang selalu bersama. Seringkali memakai benda yang sama sebagai tanda persahabatannya, contohnya gelang yang mereka beli saat berjalan-jalan dipinggiran kota. Kaila juga yang memberikan surat Aleta kepada Samuel.

"Kan, Al ngga inget lo. Coba ya nih, kalau Al lupa gue berarti dia udah berumur, jadi kasian hahaha … jadi tebak gue siapa?" ucap seorang anak laki-laki dengan tubuhnya yang tinggi.

Aleta memperhatikannya lekat-lekat, ia mengingat siapa lagi kalau bukan dia yang senang sekali menjahili Aleta. “Bentar, lo Raka? Kok lo tinggi sih?”

“Betul! Kagetkan lo gue lebih tinggi hahaha …” Raka membanggakan dirinya.

Raka Witha Haitham seorang teman laki-laki Aleta yang senang sekali menjahilinya. Rasanya hampa jika tidak menjahili Aleta sehari saja. Mereka kenal satu sama lain saat kelas 3 SD yang dimana merupakan teman sebang Aleta. Sejak saat itu mereka menjadi dekat.

"Sebel banget bagian Raka aja inget!” protes Kaila.

“Hehehe ya maaf … habis lo keliatan beda, lebih apa ya? Cantik mungkin,” ucapnya jujur.

“Dari dulu juga udah cantik,” balas Kaila mengibaskan rambutnya.

“Gaya banget sih gue punya temen,” komentar Raka.

“Oh ya kalian kelas berapa? Soalnya tadi gue liat, kalian bukan di kelas ini,” tanya Aleta bingung.

"Kami kelas 2-2, sebelahan sama kelas lo. Terus gue liat lo tadi pas jalan ke sini, takutnya salah liat gue ke kelas lo deh!” jelas Kaila membuat Aleta mengangguk mengerti.

“By the way, lo hebat juga masuk nih kelas. Padahal banyak anak ambis,” sahut Raka.

"Hah? Gimana gimana?” tanya Aleta tidak mengerti maksud ucapan Raka.

Raka malas menjelaskan dan ia meminta Kaila untuk menjelaskannya. "Nih ya … Sekolah ini membagi kelas dengan rata-rata nilai yang didapat setiap semester. Mulai dari kelas 2-1 dengan rata-rata nilai raport 95-90 bahkan 100, kelas 2-2 dengan nilai 85-80, kelas 2-3 dengan nilai 75-70 dan kelas 2-4 dengan nilai yang dibawah 70. Jadi, hebat bukan?”

"Diskriminasi juga ya dan ya setelah gue perhatikan kebanyakan dari mereka berkumpul untuk belajar, meski ada yang sendirian juga,” komentar Aleta.

***

Aleta sangat tidak menyangka jika ia dapat bertemu dengan sahabatnya lagi. Aleta berniat ketika ia sampai di rumah untuk mengucapkan terima kasih kepada sang ibu karena sudah mendaftarkannya ke SMA GEMILANG.

Setelah pertemuan singkat di istirahat jam pertama, mereka kumpul kembali pada jam istirahat kedua di Kantin. Sia-sia saja Aleta mengkhawatirkan masa-masa sekolahnya jika pada akhirnya Aleta bertemu Kaila dan Raka.

Sebab itulahnya, kini Aleta tengah tersenyum sendiri membuat Kaila kebingungan. "Al, lo kenapa?”

"Paling udah ngga waras hahaha …” timbal Raka.

“Heh! Enak aja lo!” balas Aleta.

Raka tidak mempedulikannya, ia asik menyantap baso.

“Ngga nyangka banget deh kita satu Sekolah lagi, gue kira lo bakal selamanya di sana,” sahut Kaila.

“Gue juga! Lo harus tau betapa senangnya ketika bokap gue bilang bakal balik ke Indonesia dan untungnya juga disini, bukan di kota lain hahaha …” sambung Aleta.

"Meski udah ngga aneh ya, lo bisa masuk sekolah ini. Mengingat jarang banget ada murid pindahan apalagi lo masuk kelas unggulan,” kata Raka sembari menyeruput kuah baso.

"Sttt … udah udah ngga usah dibahas, jadi malu hehehe,” ucap Aleta.

Ketika mereka sedang asik-asiknya berbincang, tiba-tiba saja Aleta disenggol oleh gerombolan anak-anak yang sedang berlari entah kemana.

“Ada apa sih? Padahal gue lagi duduk lho ini,” omel Aleta sebal.

“Ada yang sakit ngga Al?” tanya Raka khawatir, masa baru hari pertama udah sakit badan.

“Ngga ada sih …” jawab Aleta seraya memastikan bahunya tidak ada yang sakit.

"Oh iya!" Kaila mengingat sesuatu. "Konser lho konser!" ucapnya lagi.

"Hah? Konser? Konser apaan?” Aleta benar-benar tidak mengerti.

"Udah … ikut gue aja!" Tangan Aleta ditarik begitu saja oleh Kaila diikuti Raka yang berjalan di belakang mereka.

“Untung aja baso gue udah habis,” gerutu Raka dalam hati.

Suasana di Aula sangat ramai. Lagi-lagi Aleta dibuat kagum oleh Aula Sekolah yang luar biasa luas ditambah panggung yang terletak diujung.

"Ah itu Samuel!” teriak Kaila menunjuk Samuel yang siap memainkan gitarnya.

“Samuel? Samuel yang gue kenal?” ucap Aleta tidak percaya.

“Iya! Samuel siapa lagi yang gue maksud?” balas Kaila yang gregetan dengan tanggapan Aleta.

Mata Aleta tertuju pada Samuel, perasaan yang menumpuk selama 2 tahun ini mulai menggelitik. Rasa rindunya sedikit terbalaskan. Melihat mata Aleta yang berbinar-binar membuat Raka terdiam sembari memperhatikan Aleta dan Samuel secara bergantian.

“Kaila, ini bukan mimpikan?” Aleta masih tidak percaya dengan kebetulan ini. Kebetulan yang dimana Aleta dan satu sekolah kembali dengan Samuel.

“Iya! First love lo!” seru Kaila yang masih gregetan dengan Aleta.

Aleta memandang Samuel lekat-lekat. Aleta bersyukur bahwa Samuel baik-baik saja. Aleta pun termenung oleh pikirannya sendiri. Apakah ini benar hanya kebetulan saja? Aleta sama sekali tidak tahu jika Samuel bersekolah disini. Sedetik kemudian ia mengingat perkataan gurunya saat bersekolah di Jepang.

"Tidak ada yang namanya kebetulan. Jika ada yang namanya kebetulan, bagaimana dengan seseorang yang saat ini sudah menjadi kekasih dengan dipertemukan secara tidak sengaja? Apakah itu sebuah kebetulan? Yakinlah bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, karena itu semua merupakan takdir yang patut disyukuri."

Berarti ini bukanlah kebetulan. Aleta sama sekali tidak lepas pandangan dari Samuel. Dimatanya Samuel luar biasa keren. Inilah yang membuat Aleta mengaguminya dahulu, Samuel sangat menikmati permainan gitarnya, belum lagi suaranya yang melengkapi suara vokalis.

Akhir penampilan mereka mendapatkan tepuk tangan yang meriah diikuti dengan sorak dan sorai. Sekali lagi Aleta terpesona akan penampilan Samuel.

***

"Nah, sekarang kita samperin yuk!" ajak Kaila.

Belum sempat Aleta membalas perkataannya, Kaila sudah menarik tangan Aleta. Tentu saja Raka mengikuti mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Hai hai Shine Band,” sapa Kaila santai.

"Ohh, hai Kaila,” balas Samuel sambil menghampirinya. Lalu, Kaila menarik tangan Aleta agar lebih dekat dengan Samuel disertai senyuman jahil.

"Sam, lo masih inget Aleta ngga?" tanya Kaila sembari melirik Aleta yang terdiam layaknya patung.

“Kenapa Samuel makin ganteng sih? Bisa gila aku!” gerutu Aleta dalam hati.

"Ini lho Aleta Quenby teman SMP lo," ucap Kaila memcoba mengingatkannya.

Samuel nampak mengingat-ngingat teman SMP-Nya yang bernama Aleta. Beberapa detik kemudian, ia teringat Aleta yang pernah terkena lemparan bola basket di kepalanya akibat lemparan Aleta sendiri saat hendak memasukan bola ke dalam ring di pelajaran olahraga.

“Ohh lo yang pernah kena bola basket itu ya?” ucap Samuel begitu mengingat Aleta.

"Sedih banget sih ingetnya pas kena bola, padahal itu sakit banget tau!” gerutu Aleta.

“Ya habis lo lucu sih, kena bola akibat lemparannya sendiri hahaha,” sahut Raka.

Aleta mencibir Raka sebal.

“Samuel … lo ngapain disini? Anak-anak udah pada nunggu tuh," seorang perempuan bertubuh mungil menghampiri Samuel.

Samuel mengangguk mengerti sebagai respon dari ucapan perempuan itu. “Gue duluan ya,” pamit Samuel pada Aleta, Kaila dan Raka.

“Itu siapa?” tanya Aleta penasaran.

"Dia Adele sekelas dengan kami dan vokalis Shine Band,” jelas Kaila.

“Ah yang tadi nyanyi rupanya,” kata Aleta telat menyadari karena rambut Adele diikat berbeda saat tampil sebelumnya yang digerai.

“Terus mau sampai kapan disini? Bentar lagi masuk juga,” ucap Raka berjalan duluan.

“Masih ada 15 menit lagi, beli yoghurt dulu yuk!” ajak Kaila.

“Ayo!” Aleta langsung menggandeng tangan Kaila.

Untung saja Raka sudah terbiasa dengan tingkah mereka ini.

***

Hari pertama Aleta bersekolah di kota Hujan terlewati begitu saja. Aleta sangat menyukai sekolah ini, selain fasilitasnya yang bagus, guru yang mengajar disini asik dan mudah untuk dipahami, belum lagi ekskul yang ada menarik sampai membuat Aleta bingung ingin mengikuti ekskul apa.

Aleta menolak ajakan pulang maupun menemaninya berkeliling gedung sekolah bersama Kaila dan Raka. Aleta berjalan tanpa rasa lelah hingga ia menemukan tangga menuju atap. Ternyata sekolah ini memiliki atap yang dapat ditempati seperti sekolahnya di Negeri Sakura

“Wow, ternyata ada atap juga. Mana nyaman ada tempat duduknya segala,” ucap Aleta sangat senang.

"Ngga nyangka, kan?" ucap Raka yang entah datang dari mana.

“Ngapain lo disini? Bukannya pulang, kan gue tadi udah bilang ngga mau ditemenin,” balas Aleta.

"Galak amat sih! Padahal gue mau ambil power bank doang,” kata Raka menunjukan power bank berwarna hitam dengan stiker R disana.

“Perasaan lo ngga ke atap deh, kok bisa ketinggalan? Kan, lo selama istirahat sama gue mulu atau jangan-jangan …” Aleta menduga kalau Raka bolos jam pelajaran.

“Iya gue bolos jam pelajaran terakhir,” Raka mengakui kebiasaannya yang belum berubah.

“Bisa-bisanya orang yang biasanya bolos masuk kelas 2-2,” ucap Aleta tidak habis pikir.

"Lo ngga sadar diri, lo yang pada dasarnya jarang belajar masuk ke kelas 2-1," balas Raka tak mau kalah.

“Ya mau gimana lagi, otak gue udah cerdas dari sananya hahaha …” ucap Aleta menyombongkan diri.

Lalu, Raka menjitaknya. “Ngga usah sombong!”

Aleta mendengus kesal, sedetik kemudian Raka memintanya untuk menyanyi. “Al, nyanyi dong! Udah lama banget ngga denger lo nyanyi.”

Aleta menatap Raka tak percaya. “Ada angin apa deh nih anak?” ucap Aleta dalam hati.

Ada kehening sejenak ketika mereka saling menatap. Akhirnya Aleta menuruti permintaannya berkat tatapan Raka yang penuh harap. Aleta menyanyikan lagu dari penyanyi favoritnya, yaitu Mocca berjudul What If.

“What if I give you my story. Are you gonna listen to me?

What if I give you my heart. Are we never gonna be apart?

Come on baby try harder. Come on baby light my fire.

Come on baby be mine. Cause you're the one I wanted to be ….”

Bukan rahasia lagi kalau Raka menyukai suara Aleta. Setiap ia mendengar Aleta bernyanyi rasanya ada energi yang masuk. Nyanyian Aleta sudah menjadi sumber energi untuknya.

“Masih aja gue takjub sama suara lo,” puji Raka.

“Hahaha gitu dong muji gue.”

“Sekarang ayo pulang! Bareng gue aja,” ajak Raka.

“Ok deh!”

Mereka berdua tidak menyadari jika Samuel mendengar semuanya dari awal sampai akhir di balik tembok.

***