Novelory

GET
4.9
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Udara sekonyong-konyong bergerak dari daerah yang bertekanan tinggi ke tempat nan lebih rendah dengan sapuan kuat. Membuat ribuan kelopak bunga mawar merah yang ada di taman itu terbang melayang, menyebar memenuhi angkasa. Di tengah-tengah fenomena tersebut, sesosok kecantikan berbalut gaun putih berdiri tak berdaya. Rambut panjang ikal cokelat kemerahannya pun tak luput dari belaian sang bayu yang sembrono.

"Mama!"

Maria menoleh ke arah sumber suara. Senyum hangat seketika terukir dalam parasnya yang indah tatkala ia melihat, putra semata wayangnya, Brian, berlari menghampiri. Ia pun memanggil seraya merentangkan kedua tangan, "Ian!"

Tanpa sadar kaki kecil Brian berhenti bergerak dan ia tertegun di tempat. Iris hijau gadung itu melebar, takjub akan pemandangan yang sungguh luar biasa elok tersebut. Ibunya bak bidadari yang datang dari surga. Tersadar dari keterkejutan, ia sontak berlari gesit. Dengan senyuman lebar nan sedikit nakal, ia melompat dengan ganas. "Ma!" Dalam sekejap ia melemparkan diri ke dalam pelukan Maria.

Maria agak terkejut akan tindakan Brian yang tiba-tiba. "Nakal," keluhnya seraya merengkuh tubuh kecil sang putra ke dalam dekapan erat. "Untung Mama sigap. Bagaimana kalau Mama tidak bisa menangkapmu?"

"Mama pasti bisa!" tanggap Brian seraya mendongak dengan lagak sok angkuh dan percaya diri. "Karena Mamaku adalah orang yang paling hebat di dunia!"

"Bibirmu manis sekali," balas Maria sambil terkekeh dan mencubit sayang hidung mungil sang putra. Matanya seketika menatap penuh syak. "Siapa yang mengajarimu, hm?"

"Bukan siapa-siapa!" sahut Brian tanpa berpikir.

"Penjahat kecil! Kau tidak mau mengatakannya pada wanita cantik ini?" Maria berpura-pura marah. "Coba kutebak, ini pasti ayahmu, benar?" Tak lupa ia pun mengutuk, "Dasar pria itu!"

Seketika Brian merasa tertekan. Apa wajahnya telah mengatakan segalanya? Mustahil! Tidak boleh! Ia harus melindungi sang ayah! Ia segera memasang wajah memelas. "Ma, jangan katakan ini pada papa, ya?" pintanya setengah memohon pada sang ibu, "ini sungguh bukan papa."

Maria tertawa di dalam hati. Putranya ini sangat menggemaskan! Tiba-tiba tebersit sebuah ide. "Baik." Ia langsung setuju dengan pikiran tersembunyi. "Tapi kau harus membantu Mama apa pun itu, oke?"

"Ha?" Brian menatap dengan bingung.

"Bagaimana?" Maria masih tersenyum. "Kau mau menolong Mama, kan?"

Kenapa Brian merasa sang ibu tengah memperalatnya? Ah, lupakan saja. Yang penting sang ayah tidak mengeluh padanya. Ia pun mengangguk keras. "Oke!" katanya dengan sungguh-sungguh.

Mendengar kesepakatan itu meluncur dengan mudahnya dari mulut sang putra, Maria tersenyum penuh arti dan membisikkan sesuatu ke telinga Brian.

Ketika keduanya saling bertukar tatapan jahil dan tertawa geli, panorama itu jatuh ke dalam pandangan Alfonso yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Mau tak mau ia pun harus mengaguminya. Sungguh lukisan yang sangat luar biasa hebat. Ratu pujaan hati dan pangeran kecil tengah mengungkapkan rasa gembira dalam sebuah harmoni.

Diam-diam ia merogoh telepon pintar dari balik saku jaket. Mengarahkan lensa kamera itu tepat ke arah sosok mereka yang bermandikan cahaya kebahagiaan. Membidik dan mengabadikannya ke dalam sebuah potret sepanjang masa. Dengan senyum puas, ia pun menghampiri keduanya tanpa mengetahui bahwa sang putra telah "menjualnya" kepada sang istri.

"Ah, Maria. Tak kusangka taman mawar kesayanganmu itu bisa gundul tersapu angin," ungkapnya dengan bibir yang tersungging licik.

Mendengar komentar Alfonso yang tidak menyenangkan, tentu saja hal tersebut membuat suasana hati Maria seketika merosot tajam. "Berhenti memancingku, Al," gerutunya dengan tatapan dongkol.

Alfonso tertawa seraya mengambil alih Brian tanpa kesulitan dan tangannya yang lain merengkuh pinggang ramping Maria dengan ringan. "Ayolah, bukankah itu artinya alam memang berpihak kepadaku?" tanyanya dengan nada menggoda.

Maria menoleh dengan tatapan tidak percaya. Suaminya benar-benar cemburu pada bunga-bunganya? Sungguh? "Kau sangat tidak masuk akal, Al," balasnya ketus. "Tolong, jangan mengusikku."

"Memangnya salah siapa? Sejak pagi, kau sibuk mengurus mereka dan mengabaikanku yang jelas-jelas lebih membutuhkanmu," timpal Alfonso dengan keluhan yang sangat masam.

"Kau ini!" Seketika Maria mencubit pinggang Alfonso tanpa perasaan.

Alfonso meringis, tetapi tetap mempertahankan senyumnya yang menawan. Ia berkata dengan genit, "Sayang, kau tidak sabaran, ya?"

Maria memutar mata. Sepertinya pagi ini sang suami sudah salah minum obat. Ia diam. Tidak ingin berdebat dengan mulut Alfonso yang tak tahu malu.

Sebagai penonton kecil, Brian hanya mendengarkan "pertengkaran" mereka dengan tatapan polos. Mata bulat besarnya memandang dengan penuh antusias sembari merekam setiap kalimat yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya tersebut.

Keluarga kecil itu pun berjalan ke luar dari taman. Ketiganya muncul dari balik pintu butulan dengan masih melakukan obrolan kecil. Dari penglihatan mereka, sebuah mobil hitam asing telah terparkir di pelataran rumah.

"Sayang, kendaraan siapa itu?" tanya Maria setengah berbisik dengan kening berkerut samar. "Bukankah seharusnya kita tidak memiliki tamu hari ini?"

"Semestinya memang begitu," balas Alfonso tanpa keraguan. Ia menyipitkan mata ke arah jendela si pengemudi. "Masih ada seseorang di sana."

Maria mengangguk kecil. Ia juga melihat sosok itu. "Aku akan memeriksanya."

"Tidak," tolak Alfonso tanpa berpikir. Ia menyerahkan Brian pada Maria. "Biar aku yang melakukannya. Kau tunggu saja di sini."

"Baiklah." Maria tidak menolak. Ia mengambil alih Brian sambil mengawasi punggung Alfonso yang semakin menjauh.

Entah kenapa suasana hatinya mendadak berubah. Ada suatu firasat yang muncul. Rasanya sungguh sangat tidak nyaman. Kemudian ia memerhatikan lingkungan di sekitar kediaman mereka dengan hati-hati. Terlalu sepi. Ke mana orang-orang itu pergi? Tiba-tiba sebuah pikiran buruk menghantam benaknya. Tidak! Jika itu benar, maka … Tanpa membuang waktu, Maria segera menurunkan Brian. Ia menyusul Alfonso tanpa menoleh ke belakang.

Di sisi lain, Alfonso pun sebenarnya merasakan kejanggalan tersebut. Kediaman ini adalah tempat tinggal pribadinya yang paling tersembunyi. Ia juga memercayakan keamanan rumah ini pada orang-orang yang ia yakini dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, mustahil ....

Pria misterius yang sedang duduk di balik kemudi itu menyeringai ketika melihat si mangsa mulai mendekat secara perlahan. Di tangannya terdapat sebuah alat kendali untuk meledakkan bom yang terpasang di dalam kendaraan beroda empat tersebut. Ya, ini adalah misi bunuh diri. Juga sebagai tanda peringatan untuk yang lain.

Alfonso mengetuk kaca mobil tanpa rasa gentar dan si pria misterius menurunkannya dengan penuh rasa percaya diri karena ia meyakini bahwa targetnya telah masuk ke dalam perangkap. Mengungkapkan identitas di saat-saat terakhir bukanlah masalah besar. Toh, mereka akan segera mati bersama, pikirnya sederhana.

Saat Alfonso melihat dengan jelas sosok siapa itu, indra visualnya berkontraksi. Tentu ia masih mengenalinya dengan sangat baik. Ia bertanya dengan heran, "Serge, apa yang kau lakukan di sini?"

"Selamat sore, Don¹ Testa," sahut Serge dengan senyuman lebar. Ia merasa bangga sekaligus lega karena mantan mentornya, Alfonso masih mengingatnya. "Hanya untuk ini." Ia memperlihatkan benda yang ada di dalam genggaman tangannya. Dan di detik berikutnya, ia menekan tombol pemicu ledakan tersebut tanpa basa-basi.

Pupil mata kuning keemasan milik Alfonso menyusut. Dengan sigap ia segera berbalik dan hal yang terjadi berikutnya berada di luar prediksi.

Dari kejauhan sepasang netra milik Brian hanya fokus pada satu orang. Mereka merekam dengan jelas roman wajah Maria pada saat itu. Ia membaca gerak bibir merah ibunya dengan linglung. Apa maksud ….

Mobil itu seketika meledak dengan suara yang amat keras. Bahkan mengguncang tempat itu tanpa pandang bulu. Alarm peringatan berbunyi nyaring dan secara spontan mengirim sinyal bahaya ke pihak sekutu. Asap dari kendaraan yang terbakar mengepul tinggi ke atas langit.

Karena dampak tekanan, raga Alfonso terpental dan tersungkur. Suatu cairan mengalir dari area tertentu di kepalanya, tetapi ia tidak peduli. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia bangkit dan duduk seraya memulihkan diri dengan tubuh yang masih trauma. Kala menoleh, ia menemukan sesosok tubuh berbalut gaun putih kotor dengan noda merah yang sudah tidak cantik lagi.

"Pa?"

Suara kecil itu segera menyadarkan Alfonso. Ia bergerak cepat dan meraih tubuh kecil Brian. Menutupi bidang pandang sang putra dengan menggunakan tubuhnya sendiri seraya berbisik, "Jangan lihat."

Brian tidak mengerti. Namun, ia merasakan pengaruh besar dari ledakan tersebut. Badan kecilnya tidak pernah berhenti bergetar. Hidungnya bisa mencium sesuatu yang terbakar bercampur bau amis darah.

"Pa, Ma-mama ...."

Alfonso memejamkan kedua netranya erat. Pedih. Seperti ratusan pisau menusuk hatinya. Meski ia tahu rasa sakit ini, tetapi tidak ada air mata yang menitik setetes pun.

***

¹bentuk penghargaan dan rasa hormat terhadap satu individu.

Dua puluh tahun yang lalu Brian Monti lahir di Ragusa, Sisilia, Italia. Setelah itu, kedua orang tuanya membawanya pindah ke Palermo. Tempat Alfonso tumbuh besar. Maria kukuh ingin memberinya nama "Brian". Karena pada awalnya ia jatuh cinta pada seorang pria Irlandia. Ia mengejarnya mati-matian, tetapi malah tertangkap oleh Alfonso yang merupakan seorang pria pribumi, tulen Italia. Singkat cerita, entah apa yang sang ayah lakukan pada sang ibu. Yang pada saat itu memiliki nama gadis Maria Fontane, tiba-tiba terpikat oleh Alfonso Monti secara membabi buta. Dan sebagai hasil, dirinyalah buah dari kemenangan tersebut.

“Hha ….”

Desahan terdengar di ruangan kecil itu. Brian membasuh muka. Ia menatap bayangan wajahnya yang terpantul dari dalam cermin. Sepasang iris matanya berwarna hijau gadung. Hidungnya mancung. Bibirnya yang penuh itu merah delima. Pigmen kulitnya putih bersih. Dan dengan rambut cokelat kemerahan, sosoknya persis seperti mendiang sang ibu.

Pada saat kritis itu ia memilih melarikan diri. Meninggalkan sang ayah berkubang dalam duka yang penuh dengan bencana. Kini ia menyesal. Semakin ia tumbuh, semakin ia mampu memahami hal-hal tersebut dengan sendirinya. Itu bukan kesalahan ayahnya. Inilah takdir mereka.

Ia melakukannya hanya demi menjauh dari bayang-bayang kehidupan sang ayah yang berbahaya. Sekarang, jika ia memikirkannya lebih teliti, dirinya memang terlalu gegabah. Bodoh. Ia tidak tahu apa-apa tentang ayahnya sendiri.

Jauh sebelumnya, yang ia tahu hanyalah bahwa orang-orang itu sangat menghormati sang ayah. Belakangan ini ia menemukan sesuatu dan menyadarinya lantaran gosip yang beredar di sekitar. Dan begitulah. Ia mempelajari banyak hal dari sana.

Para pria berpenampilan necis itu sering menyapa ayahnya dengan sebutan Don. Dan ternyata tempatnya kini menetap adalah wilayah kekuasaan yang sebenarnya. Jadi, pada akhirnya ia tidak pernah lepas ....

"Ah, lupakan."

Brian meraih handuk dan menyeka wajahnya dengan hati-hati. Ia becermin sekali lagi seraya menyesuaikan suasana hati. Setelah senyum mampu terbentuk, ia keluar dari dalam kamar mandi dan mulai berpakaian.

Sepuluh tahun ia menetap bersama dengan Johnny dan dua tahun belakangan pria itu pergi, kembali ke Cina, tanpa pernah memberinya kabar apa pun. Ia tidak berpikiran buruk. Karena ia tahu kehidupan keluarga orang ini sangatlah keras dan rumit.

Tempat tinggalnya saat ini adalah suatu kediaman yang sengaja Johnny beli untuknya. Katanya bangunan ini akan menjadi rumah masa depan jika suatu hari nanti dirinya berkeluarga. Kenapa pria ini tanpa pamrih padanya? Ternyata Johnny adalah "kawan" dari sang ayah.

Dari sudut ia berdiri, ekor matanya bisa melihat suatu kotak persegi mungil yang tergeletak di atas meja belajar. Ia meraih dan membukanya dengan hati-hati. Seketika sebuah cincin emas polos muncul di hadapannya. Niatnya jelas. Ia ingin melamar sang gadis pujaan hati, Greta Colli. Sosok yang mirip dengan mendiang sang ibu, Maria. Tinggi, putih, berambut ikal cokelat panjang, dan bermata hazel.

Ia menggenggam erat-erat kotak itu sambil bergumam, “Oke, aku bisa melakukannya. Pasti.” Kemudian mengantongi dan membawanya pergi dengan perasaan waswas. Tadi malam ia tidak memiliki mimpi, tetapi ia berharap hari ini akan menjadi masa yang paling istimewa untuknya.

Tidak butuh waktu lama untuk mencapai kediaman keluarga Colli. Cukup setengah jam perjalanan, maka ia akan segera melihat sebuah rumah berpagar rendah dengan halaman yang luas. Ketika tiba di depan pintu, ia membenahi diri terlebih dahulu. Memeriksa pakaian dan mengatur rambutnya dengan rapi menggunakan jari jemari. Setelah yakin itu benar, ia menarik napas dalam-dalam.

Selain mengantongi sebuah cincin, ia juga meluangkan waktu untuk membeli setangkai bunga mawar merah segar dalam perjalanan. Tangannya terulur menekan bel pintu dan tidak lama kemudian Greta muncul untuk menyambutnya.

Brian tersenyum lebar saat melihat Greta, tetapi suasana hatinya tampak tidak benar. Namun, ia mengenyahkan pemikiran yang ada. "Maaf, sudah membuatmu menunggu," katanya seraya menyerahkan bunga itu pada sang kekasih.

Greta melengkungkan bibir. "Tidak apa-apa." Ia menerimanya dan mencium bunga itu dengan ringan. "Masuklah," katanya seraya memberi jalan pada Brian. "Kita bicara di dalam."

Brian mengangguk dan memasuki rumah dengan sikap wajar. Sebenarnya ia menyadari ada sebuah mobil mewah tengah terparkir di pekarangan rumah sang kekasih. Tentu saja ia memilih untuk tidak berpikir terlalu banyak. Siapa tahu itu keluarganya, benar? Namun ... benar saja. Di ruang tamu itu ada sosok asing. Seorang pria dengan perangai kelas atas. Yang seketika membuat hatinya merasa tidak nyaman.

"Brian, kau di sini?" Ibu Greta, Nyonya Colli menyambutnya dengan hangat.

"Halo, Bibi," sapanya ringan dengan senyuman dan mereka saling bertukar peluk-cium seperti biasa.

"Kemarilah. Bergabung bersama dengan kami," ajak Nyonya Colli dengan penuh antusias.

Brian mengangguk. "Halo, Paman Colli," sapanya dengan sikap natural saat bertemu pandang dengan ayah Greta.

Tuan Colli mengangguk sederhana. "Duduklah di sini."

Brian mengambil kursi di seberang pria asing itu. Pria itu dengan sikap ramah tersenyum padanya dan ia pun membalasnya dengan hal yang sama.

"Brian, perkenalkan, ini putra dari sahabat Bibi, Mattia Ciottoli, calon suami Greta," jelas Nyonya Colli blak-blakan.

Air muka Brian membeku selama beberapa detik. Kemudian ia tersenyum lebih lebar pada Mattia. "Halo, aku Brian Monti."

"Halo, Brian." Mattia mengangguk. "Senang bertemu denganmu juga. Bibi Colli sering bercerita tentangmu," katanya basa-basi.

"Benarkah?" Brian tertawa singkat. "Semoga bukan hal yang memalukan."

Meski tampak baik-baik saja, ada perasaan halus di antara mereka berdua. Greta mampu merasakannya dan hanya menunduk dalam diam. Tangannya yang tengah menggenggam setangkai bunga mawar merah pemberian dari Brian itu kian mengerat dan ia tidak berani memandang wajah kekasihnya sama sekali.

"Tentu saja bukan," balas Mattia yang juga ikut tergelak.

"Ah, begitu?" Kemudian Brian memasang senyum seperti biasa. "Oh, omong-omong, selamat untuk kalian berdua. Aku senang mendengarnya."

Mattia tersenyum. "Terima kasih. Cepat-cepatlah menyusul kami," katanya riang.

"Inginnya seperti itu," balas Brian dengan senyuman menyesal.

"Apa yang kau katakan?" Mattia tampak tidak setuju. "Kau tampan dan pekerja keras, pasti banyak gadis yang mengejarmu."

Brian hanya tersenyum lebih ringan sebagai tanggapan.

Mattia tidak mengejarnya. Ia mengalihkan perhatian dan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Nah, kalau begitu, aku pamit dulu Paman, Bibi Colli. Tiba-tiba aku ingat ada urusan dengan rekanku. Aku akan datang lagi di lain hari," katanya dengan nada menyesal.

"Secepat ini?" Nyonya Colli tampak menyayangkannya. Ia mendesah. "Tapi aku tidak bisa mencegahmu."

Mattia tertawa sambil berdiri. "Bibi jangan khawatir. Aku sudah berjanji padamu."

Raut wajah Nyonya Colli seketika membaik setelah mendengarnya. "Bagus, bagus, aku menantikannya," katanya yang juga ikut berdiri dan memberinya salam perpisahan.

Mattia melirik pemuda yang duduk berseberangan dengannya. "Sampai jumpa, Brian."

"Ya, sampai jumpa," balas Brian ringan.

Tuan Colli menoleh pada putrinya dan berkata, "Greta, antar Mattia ke depan."

"Ya, Pa." Greta mematuhi permintaan sang ayah dan mengikuti Mattia di belakang.

Keduanya meninggalkan ruangan dan mendadak tempat itu menjadi sunyi. Setelah keheningan, akhirnya Brian membuka suara. "Paman Colli, bisakah kau menjelaskan semua ini padaku?" pintanya dengan nada tulus. "Ini terlalu tiba-tiba."

Tuan Colli hendak membuka mulut, tetapi Nyonya Colli langsung mendahului, "Kami tahu apa yang kau inginkan dari putri kami," terangnya langsung dan ringan. "Hanya saja, sebagai orang tua, kami ingin yang terbaik untuk Greta. Kami harap kau bisa mengerti ini. Tolong jangan salahkan keputusan kami."

Brian mendesah di dalam hati. Karena mereka memotongnya dengan cara seperti ini, maka ia tidak akan memperpanjangnya. Pun tidak ingin berselisih dengan mereka. Apalagi membuat keributan.

"Aku mengerti."

Tanggapan pemuda ini … Nyonya Colli merasa gelisah entah kenapa. "Brian, semoga kau bisa menemukan wanita lain yang lebih cocok denganmu."

Tuan Colli pun turut menimpali, “Benar, kau pasti bisa melakukannya, Brian.”

Brian mengangguk. "Terima kasih, Bibi, Paman," katanya tulus. Ia berdiri seraya berpamitan. "Kalau begitu, aku akan kembali sekarang."

Tuan Colli cukup menyayangkan hal ini. Sebetulnya Brian tidak buruk. Namun, dirinya adalah pria yang kolot. Dan untuk istrinya sendiri, ia sudah memiliki janji dengan sahabatnya. Tidak mungkin untuk melanggar kesepakatan tersebut. Juga, sebenarnya mereka tidak pernah menyangka bahwa pemuda ini akan bersungguh-sungguh. Ia hanya bisa berharap agar tidak ada dendam di antara mereka.

"Brian."

Greta berdiri di depan pintu masuk dengan menanggung berbagai perasaan yang tak terlukiskan.

Brian menatapnya dengan senyuman. "Kau harus bahagia, Greta."

Greta menahan air matanya. "Maaf."

"Tidak perlu," katanya tenang. Meski senyum di wajah Brian mulai memudar.

Tanpa peringatan, Greta melemparkan diri ke dalam pelukan Brian dengan penuh penyesalan.

"Maaf, maafkan aku …."

Dua belas tahun Brian menjalani kehidupan yang biasa ini dan ia tidak pernah mengalami kecelakaan. Namun, kali ini berbeda. Apakah ini adalah pertanda atau ....

Cahaya jingga matahari terbenam menyoroti sebuah cincin emas yang terbang melambung tinggi ke atas langit. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia melihat benda itu menghilang dari pandangan. Tatapan matanya hampa. Hatinya kosong. Seperti ada sesuatu yang lenyap dari dalam dirinya. Meski begitu, sebenarnya ia tidak terlalu merasa sakit ataupun sedih. Mungkin karena sejak awal ia memang orang yang "dingin".

Brian berbalik tanpa penyesalan. Biarkan masa lalu itu pergi tanpa kendala. Karena hidup bukan hanya sebatas ini. Dengan keyakinan tersebut, ia mulai menata pikirannya yang kacau. Karena ini pula, ia harus membenahi beberapa hal dalam hidupnya. Untuk sekarang dan di masa depan kelak.

Di sepanjang perjalanan pulang, ia terus menekuk wajah. Benar saja. Perasaan ini tidak mudah untuk pergi. Ini cukup mengganggu. Akan tetapi, kekecewaan ini ... sudahlah. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Ia mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan.

"Persetan! Aku harus bangkit!"

Langkah kakinya mulai melebar dan tegas. Begitu melewati banyak orang, suasana hatinya sedikit membaik. Saat memasuki alun-alun untuk memotong jalan, berbagai pemandangan yang menyenangkan dan memanjakan mata menghantam penglihatannya sekaligus. Dulu, dengan naifnya ia membujuk Johnny agar pindah ke Graziella tanpa berpikir dua kali. Ternyata, selain menjadi wilayah kekuasaan ayahnya sendiri, tempat ini juga menjadi pusat bisnis "mereka".

Terlalu ironis.

Graziella sendiri merupakan sebuah pulau buatan yang berdiri di antara pulau utama Italia dan insuler, Sardinia dan Sisilia. Hampir dekat dengan pusat Laut Tengah dan Afrika Utara. Berdekatan dengan Italia Selatan. Dan luas wilayahnya sekitar 21.387 kilometer persegi. Pulau ini terbagi menjadi sembilan distrik besar. Setiap wilayah terdiri dari kawasan kota atas dan bawah. Bangunan-bangunan di tempat ini bergaya campuran antara zaman Eropa kuno dan modern yang bertabur sentuhan artistik. Pada akhirnya Brian jatuh cinta pada tempat ini dan malah enggan untuk meninggalkannya.

Berhasil melewati piazza², ia memasuki salah satu lorong dan berjalan dengan langkah cepat. Sontak lorong-lorong sempit rumit lainnya menyambut perjalanan. Setelah beberapa belokan, akhirnya ia mencapai tangga khusus untuk menuju ke daerah bawah. Ini adalah perjuangan. Karena jumlah anak tangga di sana mencapai puluhan, lengkap dengan tempat istirahat di setiap sepuluh anak tangga. Dan tentunya ada jalur tersendiri bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Lokasi yang Johnny pilih untuk mendirikan rumahnya adalah di sebuah lahan kosong di belakang suatu perkebunan anggur, yang entah milik siapa. Dengan jajaran pohon palem sebagai batas, di sanalah dirinya menetap. Tidak ada bangunan lain di sekitar selain miliknya, juga satu punya tetangga yang tak pernah terlihat batang hidungnya. Yang bisa ia tebak hanyalah bahwa sang penghuni adalah seorang pria. Lantaran ia pernah mendengar suara bersin dari orang tersebut. Selebihnya, tidak ada tegur sapa atau perkenalan. Yah, tidak lebih dari hidup masing-masing. Anehnya, ia merasa tenteram dengan keberadaan orang asing ini.

Brian berhenti berjalan ketika mendapati lampu kediamannya telah menyala. Ia mengerjap. "Apakah pria itu kembali?" tebaknya ragu-ragu. Suasana hatinya yang lemah seketika menjadi lebih hidup kala pikirannya menduga sosok siapa yang tengah hadir menanti. Tentu saja ini pasti Johnny! Pria ini tidak pernah berubah. Selalu memberinya kejutan dan tanpa sadar menanamkan sebuah perasaan kalau mereka sebenarnya memiliki hubungan darah. Dengan senyuman yang lebih kuat, ia bergegas memasuki tempat tinggalnya.

"Johnny!"

Senyuman Brian membeku saat ia mendapati bahwa pria yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya bukanlah Johnny. Melainkan seorang pria asing. Tidak. Sebenarnya ia tahu siapa orang ini karena ia pernah melihatnya beberapa kali secara tidak sengaja. Lengkap dengan rumor tentangnya.

Tomasso Alberi.

Si Playboy kelas kakap nomor satu di Italia. Seorang pria yang senang menebar pesona kepada setiap lawan jenis dan tidak pernah ragu untuk menggoda siapa pun yang ia anggap menarik kapan pun dan di mana pun. Celaka. Kenapa orang semacam ini bisa sampai ke tempat tinggalnya?

Pria bersurai pirang emas itu mengangkat wajahnya yang rupawan kala menyadari tatapan Brian padanya. Mata cokelat terangnya memindai sang pemilik kediaman dengan senyuman yang sangat menarik. "Hai, Brian," sapanya ramah. "Kau bisa memanggilku Tom atau Tomas. Atau terserah apa pun yang kau inginkan."

Omong kosong. Apa itu penting? Kening Brian berkerut. "Apa aku mengenalmu?" tanyanya hati-hati. Namun, cepat-cepat ia meralat dengan nada yang meninggi, "Tidak, tidak! Maksudku, bagaimana bisa kau masuk ke dalam rumahku?!"

Tomasso terkekeh. "Apa itu masalah?" Ia mengambil cangkir teh dan menyesapnya dengan anggun. "Aku tahu semua tentang dirimu," katanya tenang. "Aku akan menjadi mentormu." Matanya melirik wajah Brian tanpa arti. "Ini keinginan ayahmu."

Sontak Brian tertegun. Telinganya tidak salah mendengar, kan? Ayahnya yang melakukan hal ini? Mustahil, ia tidak percaya!

Seakan bisa membaca pikiran Brian, Tomasso pun menegaskan, "Ini permintaan Alfonso sendiri."

Brian semakin tercengang. Orang ini mampu menyebut nama ayahnya secara langsung. Sedekat apa hubungan di antara mereka? Apakah setara dengan Johnny? "Kau bilang ayahku? Kenapa sangat mendadak sekali?" Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini. "Bukankah seharusnya aku tidak terlibat?"

Tomasso hanya melirik sekilas. "Duduk," perintahnya. "Kita akan membicarakan beberapa hal di sini."

Berani sekali pria ini! Meski kesal, Brian terpaksa segera mematuhinya dan duduk berseberangan dengan Tomasso. Ia menatap dengan perasaan yang tak menentu.

Tomasso menaruh cangkir dengan santai sembari berkata dengan nada tanpa ruang penolakan, "Aku menerima permintaan Alfonso untuk menjadi mentormu."

"Kenapa dia melakukan ini?" tanya Brian dengan wajah bingung.

"Tentu saja untuk menjadikanmu sebagai penerusnya," balas Tomasso dengan entengnya.

"Tapi aku ...." Alasan apa yang harus ia utarakan untuk menolaknya? Ia tidak tertarik dan ayahnya tidak pernah menyinggung hal ini. Selain itu, ia yakin bahwa ayahnya sudah memiliki calon penerus untuk “urusan” itu.

Tomasso mendesah di dalam hati. Ia tahu ini terlalu tiba-tiba dan ini tidak akan mudah bagi pemuda ini. Begitu pula dengan dirinya. Ia tidak mengerti pemikiran Alfonso. Namun, ia hanya menjalankan tugas. "Aku tahu kau tidak bodoh, Brian. Kau pasti sudah melihat atau mendengar beberapa hal tentang 'Kami' selama ini. Dan aku khusus di sini, sebagai pihak ketiga antara kau dan ayahmu, aku akan membimbingmu."

Brian menurunkan matanya. Tetap saja ia tidak bisa menerimanya dengan mudah dan membalas dengan enggan, "Haruskah?"

"Cepat atau lambat kau akan mengalami banyak kecelakaan. Karena itu, ayahmu ingin agar kau menjadi lebih kuat dan kembali kepadanya."

Pulang? Tentu saja ia memiliki niat itu. Akan tetapi, untuk membantu bisnis ayahnya ... Brian mendongak. "Bisakah aku menolaknya?"

"Tidak," jawab Tomasso cepat. "Kau hanya bisa menerimanya. Titik."

"Benar-benar tidak ada jalan lain?"

Tomasso tersenyum dengan sorot netra yang sangat berbahaya.

Brian meringis di dalam hati. Ayahnya benar-benar waras untuk mengambil orang semacam ini sebagai mentornya? Apa ayahnya tidak lupa dengan titelnya yang luar biasa itu?

Tomasso menyadari pergulatan yang ada di dalam diri Brian. Alfonso, apakah pemuda ini benar-benar putramu? Ia pun bertanya dengan tenang, "Sudah berpikirnya?"

Telinga Brian memerah. Kenapa ia merasa Tomasso selalu bisa menebak isi otaknya? Matanya menyipit. "Apa kau seorang cenayang?" tanyanya aneh.

"Ha?" Tomasso menatap kosong. "Nak, apa kepalamu terbentur?"

Apa-apaan pria ini?! "Kau yang terbentur!" pekik Brian yang sudah tidak tahan lagi.

Tomasso tertawa. "Terima kasih atas pujianmu. Aku merasa sangat tersanjung ketika mendengarnya dari mulutmu yang jujur."

"Sialan! Siapa yang mengagumimu!" balas Brian lebih dongkol.

"Oke, oke." Tomasso melambaikan tangan. "Persiapkan dirimu," katanya ringan. "Kita akan melakukan sesuatu."

Seketika Brian menjadi waspada. "Apa yang akan kita lakukan?"

Tomasso hanya tersenyum penuh arti sebagai balasan.

Kenapa senyum pria ini membawa kesan horor padanya?! Brian menatap curiga pada Tomasso. Bagaimanapun caranya, ia harus melarikan diri!

***

²taman/alun-alun.