Novelory

Bukan Suami Pilihan
4.6
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

"Kenapa kaumau menikah denganku? Aku sudah mempunyai anak dan aku bukan wanita baik-baik. Tidak ada untungnya bagimu menikahiku."

Emily menatap lelaki di depannya dengan ekspresi datar. Dia menahan amarah karena merasa tertekan oleh keinginan orang tuanya, yang memintanya untuk segera menikah. Hingga dia berakhir di sini. Di sebuah restoran bersama seorang lelaki asing. Mereka baru bertemu pertama kali di sini. Meski ibunya bilang, kalau lelaki di depannya adalah anak dari mantan atasannya dulu. Tapi, siapa peduli?

"Tidak ada alasan lain. Ini perintah orang tuaku."

Jawaban singkat, padat dan jelas itu, berhasil membuat Emily mengernyitkan dahi. Bibir merahnya ikut berkedut. Menyorot aneh lelaki di depannya. Perintah orang tua? Semudah itu orang di depannya ini bicara. "Apa kau Tuan Muda yang manja? Siapa namamu tadi?"

"Keenan Derrel Fellano. Tolong ingat terus nama itu dan jangan sembarangan menilaiku, Emily."

Kalimat bernada penuh penekanan dan tatapan tajam Keenan seakan menembusnya. Emily merasa tidak nyaman saat lelaki asing itu mengintimidasinya. Sambil mengalihkan pandangan sesaat, Emily berusaha tak mengindahkannya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi sembari meminum juice di depannya. Meredakan rasa haus yang sejak tadi mengganggu.

"Bagaimana aku tidak menilaimu begitu? Kau sangat penurut pada orang tuamu. Hidupmu sepertinya sangat monoton, Tuan Muda," ucapnya dengan nada mencemooh.

Emily menyunggingkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Menatap remeh lelaki yang ada di depannya. Dia ingin lelaki itu kesal dan menolak menikahinya. Emily juga ingin cepat pulang dan membawa anaknya. Dia mengkhawatirkan Javier di tangan orang tuanya.

"Setidaknya aku bukan anak pembangkang yang sering bergaul bebas, sampai menghamili anak orang, lalu tidak menikahinya."

"Apa? Beraninya kau—"

Kedua bola mata Emily melotot sempurna. Dia menatap tidak terima ke arah Keenan. Apa lelaki itu sedang menyindirnya? Tapi, bagaimana mungkin Keenan tahu masa lalunya? Emily menggeleng. Dia berusaha untuk tidak peduli dan meyakinkan semuanya baik-baik saja. Keenan mungkin hanya asal bicara dan tidak bermaksud apa-apa. Meski segala hal tentang pernikahan dan pergaulan bebas, selalu membuatnya sensitif. Masa lalunya yang dilalui oleh banyak kesalahan, membuat dia sering kali menjadi bahan cemoohan orang-orang.

"Kenapa kau marah? Aku harap, perkataanku tidak menyinggungmu." Keenan tersenyum sangat amat tipis dan sama sekali tidak sadari oleh Emily. Mata elangnya memerhatikan ibu muda satu anak itu. Kesan pertama yang cukup buruk. "Aku tidak mau berbasa-basi lagi, menikahlah denganku. Aku akan menjamin hidupmu dan anakmu."

Emily mendengkus melihat kegigihan Keenan. Ada banyak wanita, kenapa harus dia?

"Aku tidak bisa menikah dengan alasan perintah orang tua. Cari saja wanita lain yang mau menikah denganmu dan batalkan semua ini," ujar Emily dengan setengah frustrasi. Dia memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Urat sarafnya ikut tegang saat berbicara dengan Keenan. Pernikahan bukan prioritasnya saat ini. Dia hanya ingin memerhatikan buah hatinya. Itu saja. Emily merasa dia sudah cukup mampu berperan sebagai orang tua ganda untuk Javier.

"Tidak ada waktu lagi. Aku tidak tahu wanita mana yang mau denganku."

"Huh?"

Emily tidak bisa menahan keningnya untuk tidak berkerut. Sesaat, pikirannya terasa buntu ketika harus mencerna kalimat yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Apa telinganya bermasalah? Atau memang, Keenan yang bermasalah?

Manik matanya refleks mengamati penampilan Keenan dengan detail. Penampilan Keenan jelas tidak buruk. Sangat tidak buruk atau malah bisa dikatakan sempurna. Rambut sehitam arang dan kemeja hitam lengan panjang, membentuk tubuh proporsionalnya. Sekali lirik, Emily tahu tubuh seperti apa yang ada di baliknya. Belum lagi aroma parfum yang begitu menusuk, tapi memberi kesan menyenangkan.

Wajahnya tampan dan sorot matanya terlihat tegas. Emily bisa merasakan aura dominan di sekitar Keenan yang mengintimidasinya. Keenan mungkin lebih tua beberapa tahun darinya, tapi jelas lelaki di depannya menarik secara fisik. Namun apa yang baru saja dia dengar? Tidak ada wanita? Apa lelaki ini sedang bercanda atau membodohinya? Siapa yang akan percaya dengan perkataan itu?

"Aku sudah sering bertemu dengan lelaki berengsek. Jangan main-main denganku."

"Apa menurutmu aku terlihat seperti salah satu dari mereka?" Keenan menunjuk wajahnya sendiri dengan masih mempertahankan ekspresi tanpa senyumnya.

"Terserah apa katamu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku tidak puas jika harus tidur dengan satu laki-laki." Emily sedikit memajukan tubuhnya saat menyebut kalimat terakhir. Dia menyunggingkan senyum sinis, sembari memerhatikan reaksi jijik yang akan ditampilkan Keenan. Namun beberapa menit mengamati, lelaki itu tampak masih dengan ekspresi yang sama. Alhasil, Emily menjauhkan dirinya kembali.

"Lakukan saja, aku tidak akan melarangmu untuk tidur dengan lelaki lain. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika orang tuamu tahu tentang ini."

Emily refleks menggebrak meja saat Keenan membahas kedua orang tuanya. Senyumnya langsung surut dan berganti dengan penuh kejengkelan. Dia benci diancam seperti anak kecil. "Kalau begitu, lupakan pembicaraan kita malam ini dan jangan pernah menemuiku lagi. Aku paling tidak suka dengan orang yang suka mengadu."

Tak peduli dirinya telah menjadi pusat perhatian beberapa orang, Emily dengan tak acuh segera bangkit dari duduknya sembari mengambil tas. Dia merasa pertemuan kali ini mencapai titik buntu dan tidak ada pembicaraan yang bermutu. Emily benar-benar tidak suka orang seperti Keenan. Dengan berapi-api, dia melangkah cepat meninggalkan lelaki itu. Namun ketika dia akan mencapai pintu, langkahnya tiba-tiba tertahan saat tangannya tertarik ke belakang dan membentur sebuah tubuh dengan cukup keras. "Hei!"

"Aku juga paling tidak suka dengan orang yang pergi begitu saja di tengah pembicaraan, Emily," bisik Keenan tepat di telinga Emily. Menyentak wanita itu karena tindakannya. Akan tetapi, seakan tidak puas membuat Emily terkejut, dia dengan cepat menarik wanita itu agar menghadapnya. Memegang erat pinggul ibu muda tersebut di hadapan semua orang.

"Pembicaraan kita sudah selesai dan aku juga tidak menyukaimu. Jadi lepaskan aku dan batalkan pernikahan itu," tekan Emily sembari mendorong kasar kedua bahu Keenan. Dadanya bergemuruh menahan jengkel karena sikap lelaki itu yang sangat keras kepala. Belum pernah dia bertemu dengan orang pemaksa seperti ini.

Sayangnya, sepertinya itu bukan akhir dari kesengsaraannya. Tangannya sama sekali tidak dilepaskan oleh Keenan. Lelaki itu malah dengan santainya menarik dia pergi, tanpa melepaskan genggaman paksa di tangannya. Emily berusaha memberontak, tapi nyatanya itu sia-sia. Cengkeraman Keenan sangat kuat dan lelaki itu membawanya masuk ke dalam mobil. "Lepas, sialan! Kau melakukan kekerasan. Aku bisa melaporkanmu!"

"Aku tidak melakukan apa pun." Keenan dengan cepat melepaskan tangan Emily setelah mendorongnya cukup masuk ke dalam mobil. Wanita itu terjerembab dan dia memanfaatkan itu untuk segera masuk melalui pintu kemudi. Mengunci pintu mobil dengan cepat. Tak membiarkan Emily pergi begitu saja.

"Keenan! Turunkan aku! Aku mau pulang."

"Kita akan pulang," jawab Keenan sambil melajukan kendaraannya dengan cepat.

Sementara Emily melirik tajam lelaki yang baru saja memaksanya masuk ke dalam mobil. Ini baru pertemuan pertama mereka, tapi lelaki tidak tahu diri itu sudah berani bertindak seenaknya. Kenapa ada orang yang tidak tahu malu seperti ini? Keenan bersikap seolah mereka sudah lama dekat. "Ini bukan jalan menuju rumahku. Berhenti di depan."

"Siapa yang bilang kita akan ke rumahmu?"

"Apa? Lalu kita akan ke mana?"

Keenan melirik Emily yang terkejut melalui ujung matanya. "Ke rumahku. Malam ini, kau akan menginap di sana."

"Kau gila!" pekik Emily.

Emily tidak langsung turun dari mobil milik Keenan. Dia terdiam sambil melirik lelaki yang kini sibuk membuka sabuk pengaman dan mematikan mesin mobil. Tubuhnya berkeringat dingin. Matanya refleks mengawasi sekitar sembari memasang ekspresi penuh waspada. Sayangnya, saat Emily sibuk mengamati sekeliling, dia tidak menyadari Keenan kini mendekat dan berniat membuka sabuk pengamannya.

"Turunlah, sampai kapan kau akan diam?" bisik Keenan tepat di telinga Emily. Posisinya saat ini, membuat jarak hampir tidak ada di antara mereka.

"Aaakhhhh!"

Sayangnya tak lama setelah Keenan bicara, teriakan melengking disertai sebuah tepukan keras mendarat mulus di pipinya. Tubuh lelaki itu terdiam kaku saat rasa panas mulai menjalar di salah satu pipinya. Keenan dihadapkan pada Emily yang menatapnya dengan mata membulat sempurna. Mata hitam yang terlihat terkejut sekaligus takut. Sangat berlawanan dari ekspresi sebelumnya. Mereka bertatapan untuk sesaat, sampai Keenan segera menjauh dan memutus kontak matanya dengan Emily.

"Tidak perlu berteriak, aku tidak melakukan apa-apa. Keluarlah."

Pintu mobil dibuka oleh Keenan. Lelaki itu keluar dan berjalan ke sisi lain untuk membuka pintu di sebelah Emily. Namun, wanita yang masih terdiam kaku itu, hanya bisa mengedipkan mata. Mata bulat yang penuh kecurigaan dan kebingungan, kini memindai lekat ke arah Keenan.

"Aku tidak mau. Kau membawaku ke sini tanpa izin."

"Keluar," ulang Keenan tanpa peduli kalimat penolakan dari Emily.

"Pada akhirnya kau sama seperti mereka. Berengsek," dengkus Emily kasar. Kedua alis tebalnya berkerut dan nyaris menyatu. Hingga dengan sangat terpaksa, dia turun dan langsung membanting pintu mobil dengan keras sebagai bentuk protes.

Emily mengikuti langkah kaki Keenan yang membawanya menuju ke rumah dalam suasana hati memanas. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainan lelaki asing itu. Matanya melirik sekilas rumah milik Keenan. Seperti yang orang tuanya bilang, lelaki yang berniat dijodohkan dengannya itu adalah anak dari pengusaha dan kini mewarisi perusahaan property. Muda, lajang dan pastinya tampan. Rumahnya pun menunjukkan demikian. Sangat besar, bagaimana bagian dalamnya?

Sesaat Emily lupa diri dan hanya memerhatikan bangunan kokoh di hadapannya. Ukiran-ukiran rumit di pintu, sepertinya dipahat sempurna oleh sang pengrajin. Kini, dia pun mengerti kenapa orang tuanya sangat ingin dirinya berjodoh dan menikah dengan lelaki ini. Mereka pasti ingin uang atau untuk menjalin kerja sama bisnis. Keenan dan keluarganya akan menjadi mitra bisnis paling menjanjikan.

"Sedang apa kau? Masuklah!"

Teguran halus Keenan menyadarkan Emily yang tanpa sadar melamun. Dia tersentak. Mata hitamnya kemudian menatap lekat lelaki itu dan bergegas masuk. Emily tanpa ragu dan memberi jeda sedikit pun, segera menggenggam tangan Keenan. Dia menarik lelaki itu sembari mendorongnya ke dinding, bersamaan dengan pintu rumah yang tertutup.

Keenan terlihat kaget, tapi reaksi lelaki itu tidak terlalu dipedulikan oleh Emily yang kini lantas mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Tubuhnya yang hanya sebatas bahu Keenan, membuat dia harus mendongak agar bisa bertatap muka dengan lelaki itu. "Kau, aku ingin membuat sebuah kesepakatan."

"Emily, menyingkirlah."

Suara bernada berat dan dalam milik Keenan, sedikit menggelitik telinga Emily, tapi dia berusaha tak mengacuhkannya. Dengan nekat, Emily justru memajukan tubuhnya hingga menempel pada lelaki itu, sampai nyaris tak ada jarak. Dia juga membuka tiga kancing teratas bajunya dan memperlihatkan kedua dadanya yang mengintip pada Keenan.

"Ini 'kan yang kaumau? Aku bisa melakukannya, tapi kau harus berjanji untuk membatalkan perjodohan ini. Katakan pada orang tuaku kalau aku bukan tipemu."

"Apa?"

Emily menjawab rasa penasaran Keenan dengan sentuhan lembut di tubuh lelaki itu. Dia menjinjit dan meletakkan bibirnya di leher Keenan. Memberikan cumbuan di sana. Tubuh lelaki itu menegang. Reaksi kaku atas tindakan Emily yang berani. Desisan kasar dan napas yang tercekat masuk ke dalam gendang telinganya. Sepasang tangan kekar merangkul erat pinggangnya dan itu membuat Emily semakin berani memprovokasi Keenan. "Bicaralah. Katakan kau tidak akan menikahiku."

Satu-satunya cara gila yang bisa Emily lakukan hanya ini. Lelaki seperti Keenan, pasti hanya ingin kepuasan. Meski dia merasa tak rela tubuhnya dijamah, tapi apa pun yang terjadi, itu harus dilakukan agar Keenan mau mengurungkan niat untuk menikahinya.

"Keenan, bicaralah," desak Emily saat melihat lelaki itu menatapnya dalam. Namun Keenan tak menunjukkan reaksi seperti ingin melanjutkannya. Itu membuat Emily kebingungan untuk beberapa saat. Apa Keenan setahan itu digoda olehnya? Tidak, ini pasti pura-pura!

"Hentikan. Menjauh sekarang, Em. Kita harus—"

"Bukankah ini maksud tersembunyi saat mengajakku ke rumahmu? Bajingan sepertimu tidak ada bedanya dengan yang lain." Emily meremas kedua pundak Keenan dengan pandangan berapi-api. Dia sudah tahu hampir semua sifat lelaki. Dari yang polos sampai yang paling berengsek sekali pun, dia sudah mencobanya. Keenan sudah pasti tidak jauh beda dari lelaki yang sering ditemuinya dulu.

Mata bulatnya memicing dan tersenyum sinis saat mendapati wajah Keenan memerah. Lelaki yang masih mempertahankan ekspresi datar itu, berusaha mengatur napasnya. Memaksa Emily untuk mau tak mau memberi waktu, hingga hanya kebisuan yang terjadi di antara mereka.

"Bisa tolong menjauh? Kau sepertinya salah paham," ujar Keenan setelah berhasil mengendalikan pikirannya kembali. Dia melepas rangkulan di pinggang Emily dengan cepat. Namun seakan mempermainkannya, wanita di depannya malah semakin menempel dan meletakkan tangannya di dada.

"Ahh, seperti itu. Kau bisa meremasnya, Ken."

Kedua mata Keenan sontak melotot mendengar desahan wanita di depannya. Refleks, dia pun menarik kembali tangannya. "Emily, tutup mulutmu."

"Kenapa? Kau tegang? Aku tahu kau itu yang kauma—"

"Keenan, kamu sudah pulang? Eh?"

Sebuah suara bernada ceria terdengar dari arah belakang Emily. Tangannya yang kini tengah berusaha membuka gesper milik Keenan terhenti dan langsung menoleh. Hingga tubuhnya seketika dibuat membeku begitu mendapati sosok wanita tua yang berdiri memandangnya terkejut. Tubuhnya refleks bergeser, tapi itu malah membuat penampilan Keenan yang dibuat berantakan olehnya jadi terlihat. Apalagi ketika celana lelaki itu telah terbuka dan celakanya, tangan Keenan masih memegang dadanya.

Tak hanya Emily, Keenan pun panik dan langsung memasangkan kembali gespernya sambil mendekati wanita tua tadi. "M-ma, ini salah paham. Aku tidak melakukan apa-apa."

Ma?

Emily melotot dan melirik Keenan serta wanita itu bergantian. Wajahnya langsung pucat ketika melihat wanita yang dipanggil 'ma' itu, menutup wajahnya dan memandangnya berkaca-kaca. Emily hanya bisa mengumpat dalam hati. Dia siap menerima bentakan atau cacian karena telah meraba-raba Keenan. Namun yang terjadi, wanita tua itu justru berbalik dan berlari cepat ke dalam.

"ASTAGA, SAYANG! TERNYATA ANAK KITA NORMAL!"

Teriakan membahana mengisi heningnya rumah. Baik Emily atau Keenan bisa mendengarnya. Namun bagi Emily yang baru pertama kali melihatnya, hanya menyunggingkan senyum aneh. Jelas ibunya tidak pernah seperti itu. Berlari sambil berteriak heboh di malam hari. Keluarga aneh macam apa ini?

"Mama!"

Keenan menatap kepergian ibunya dengan gusar. Mengusap kasar wajahnya. Dia lalu menarik tangan Emily sebelum ibunya membuat kehebohan atau mengabarkan berita memalukan.

"Normal? Apa kau gay? Jangan bilang kau menikah karena kelainanmu ini?" tanya Emily penasaran setelah tersadar dari lamunannya. Melihat reaksi heboh ibunya Keenan, sepertinya lelaki ini memiliki masalah dan itulah alasan kenapa Keenan ingin mereka tetap menikah. Untuk menutupi fakta bahwa lelaki itu mengalami penyimpangan seksual. Sulit dipercaya.

"Jangan bicara sembarangan."

Wajah kesal Keenan dan tatapan sinisnya, membuat Emily spontan menaikkan kedua alisnya. Dari tadi lelaki itu berbicara sopan, tapi kali ini Keenan memperlihatkan sisinya yang sedang kesal. "Kau tersinggung? Sepertinya itu benar. Tuan muda ini mengalami penyimpangan seksual."

"Kau—"

"Keenan, kemarilah. Ajak gadis itu bergabung!" seru wanita yang tadi berteriak heboh, membuat Keenan dan Emily mau tak mau mendekat.

Emily tersenyum canggung saat dihadapkan pada sepasang suami-istri yang duduk di sofa. Keenan sialan, bisa-bisanya lelaki itu mengajaknya langsung bertemu dengan orang tuanya. Jika seperti ini, Emily tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di hadapan mereka. Melihat wanita tua tadi tersenyum malu-malu dan menatapnya bergantian. Kubur dia sekarang. Berani sekali dirinya berbuat tak senonoh di sini.

"Selamat datang di rumah kami. Maaf untuk yang barusan. Jadi, siapa namamu, Sayang?" tanya Ibu Keenan pada Emily.

"Saya Emily Aprina Karina, Tante." Emily tersenyum kaku. Dia cukup tegang dan tidak nyaman mendapati wanita tua tadi terus memerhatikannya sambil tersenyum manis.

"Oh, jadi ini Emily, anak Karin dan Dave 'kan? Cantiknya kamu, Sayang. Kenalkan, ini Mama Silvi dan ini Papa Vian. Jangan panggil kami Om atau Tante. Panggil Papa dan Mama, ok?" Nyonya Silvi tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya saat tahu kalau Emily adalah wanita yang akan dijodohkan dengan putranya. Apalagi setelah melihat apa yang terjadi tadi. Baginya, Emily adalah penyelamat putranya.

"Itu ... hmm, baik Ma, Pa."

"Kau bisa gugup juga ternyata," gumam Keenan sambil melirik wanita di sebelahnya. Namun dia dapat selanjutnya, malah cubitan keras di area paha.

"Tutup mulutmu, sialan." Emily berbisik sambil tersenyum lebar. Dia rasanya ingin menenggelamkan Keenan ke dasar palung terdalam.

"Ahh, kalian sangat romantis. Iya 'kan, Sayang? Jadi kapan kalian mau menikah?"

Suara itu mengalihkan kembali perhatian Emily ke depan dan melihat wanita tua tadi bergelayut manja di lengan pria berwajah tegas di sebelahnya. Tampan, mirip seperti Keenan dalam versi tua. Namun, apa katanya tadi? Menikah?

"Maaf, Tan—eh, Ma, sebenarnya ada kesalahpahaman. Saya dan dia tidak bisa menikah, maksudnya, saya sudah memiliki anak. Jadi saya—"

"Astaga, kamu sudah punya anak? Berapa usianya? Kamu janda?"

"Sayang," tegur Vian saat mendengar istrinya mengorek hal yang cukup sensitif.

"Sekitar enam tahun lebih. Saya belum pernah menikah."

Emily berusaha menjawab setenang mungkin. Tetapi jawabannya itu, membuat suasana hening untuk sesaat. Emily tidak berani menatap langsung pasangan suami istri itu. Dia takut dipandang hina seperti biasa. Melahirkan tanpa memiliki suami adalah aib yang selalu dikatakan orang tuanya. "Saya rasa, saya tidak bisa menikah dengan putra Anda. Maafkan saya."

"Jika itu yang mengganggumu, kami tidak masalah."

Huh?

Emily mendongak dan menatap pria tua yang bersuara. Dia tidak melihat tatapan mengejek atau cemoohan dari pasangan suami-istri itu. Nyonya Silvi tetap tersenyum hangat padanya, seakan itu bukan masalah.

"Iya, Mama juga tidak masalah."

"Keenan, bagaimana denganmu? Kau masalah dengan itu?" tanya Tuan Vian pada anaknya.

Pandangan semuanya kini tertuju pada lelaki yang bersandar di sofa dan meliriknya tanpa emosi. Perkataan itu seolah menjadi penentu nasib Emily kedepannya. Emily yang menyadari itu, memelototi Keenan. Berharap lelaki itu akan menolaknya. Sayangnya, Emily malah mendapat firasat buruk ketika melihat senyum kecil di bibir Keenan.

"Tidak, Pa. Aku akan menikahinya."

"Bagus, kalau begitu Papa akan mengatur pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan kalian."

Eh, apa? Pertemuan? Pernikahan! Tidak! Emily ingin bicara dan menolaknya, tapi dia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya sedikit pun.

"Mommy!"

Sebuah teriakan terdengar, disusul oleh kemunculan bocah laki-laki berusia enam tahun yang berlari menyambut kedatangannya. Emily yang melihat itu segera berjongkok dan mengecup pipi gembul putranya sambil tertawa. Tak peduli anaknya kegelian. "Kenapa anak Mommy belum tidur, Sayang?"

"Iel nunggu Mommy. Iel mau tidur sama Mommy."

Anak yang menggemaskan. Emily kembali menciumnya dengan membabi buta. Anaknya ini sangat pintar dan tampan, mirip sekali dengan ayahnya. Sayang, mereka tidak bisa bersama. Ada perasaan sedih Emily rasakan ketika mengingat cinta masa lalunya. Dia sudah melepas perasaannya itu, meski sangat sulit. Namun setiap kali melihat Javier, perasaan sedih itu selalu ada.

"Ya udah, yuk kita tidur! Mommy akan menemani Iel."

Emily menutup pintu dengan hati-hati dan menguncinya. Dia memegang tangan Javier sambil berjalan ke kamarnya. Menyadari jika orang tuanya tidak terlihat. Apa mereka sudah tidur? Kenapa putranya dibiarkan terjaga? Emily tidak percaya ibunya akan tega menelantarkan anaknya seperti ini. Padahal ibunya sudah berjanji akan menjaga Javier saat dia bertemu Keenan. Untunglah dia menolak menginap dan pulang dengan segera. Jika tidak, mungkin anaknya akan menunggu sepanjang malam.

"Sini, Sayang." Emily menepuk ranjang dan membantu anaknya naik. Sementara dirinya duduk sambil menyelimuti sang anak. Mengelus rambutnya dengan lembut, sampai tiba-tiba tangannya digenggam.

"Mommy, Mommy tadi ke mana? Kok Mommy nggak bilang Iel sih."

Emily mengangkat alisnya. Dia terkejut saat anaknya bertanya. Tadi memang dia hanya mengantar anaknya ke rumah orang tuanya, lalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Javier hanya tahu dia akan pergi kembali ke restoran. Namun sebenarnya, orang tuanya menyuruh dia kencan buta. "Memangnya Oma nggak cerita apa-apa?"

Javier terdiam cukup lama, sebelum kemudian menjawab, "Oma bilang Mommy lagi cari Daddy untuk Iel. Beneran, Mommy? Apa Iel nanti punya Daddy?"

"Memangnya Iel mau punya Daddy baru?"

"Mau banget, Mommy! Iel nggak mau jadi anak haram terus."

Emily tersentak kaget oleh perkataan sang anak yang begitu polos. "Anak haram? Siapa yang bilang begitu sama kamu, Sayang?"

"Opa sama Oma. Katanya Iel anak haram karena Iel nggak punya Daddy."

Hati Emily meradang. Dia merasa seperti sebilah pisau mengiris hatinya. Matanya pun terpejam sampai air matanya menetes jatuh. Bagaimana mungkin orang tuanya tega mengatakan itu pada cucunya sendiri? Javier masih kecil dan belum tahu apa-apa.

"Mommy, Mommy nangis? Iel nakal, ya? Mommy jangan nangis. Iel janji nggak akan nakal lagi."

Emily membuka matanya kembali saat mendengar Javier merengek dan menatapnya berkaca-kaca. Dia berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya. "Mommy nggak nangis, Sayang. Iel nggak nakal kok. Iel anak Mommy yang paling baik. Jangan dengarkan perkataan itu lagi ya, Sayang?"

"Iya, Mommy, tapi Mommy nggak sedih lagi 'kan? Kalau Mommy sedih karena Iel minta Daddy, Iel nggak akan minta Daddy lagi. Iel nggak papa, Iel punya Mommy."

Dadanya terasa sesak. Emily tidak bisa mengatakan apa pun dan hanya bisa mencium pipi anaknya. "Maafkan Mommy, Sayang."

Emily memerhatikan anaknya yang tersenyum lebar sambil mengusap matanya. Terlihat Javier seperti berusaha menahan kantuk. Putranya pasti menunggu terlalu lama. Ini sudah hampir tengah malam. "Tidurlah, kamu sudah mengantuk."

"Hmm, ayo tidur di sini juga, Mommy! Iel mau peluk Mommy."

"Kamu tidur saja."

"Nggak mau! Iel mau peluk Mommy."

Pipi Javier mengembung. Melayangkan protes sambil melipat kedua tangannya. Emily hanya tersenyum melihat betapa lucu dan manisnya putranya itu.

"Ouh, anak Mommy sangat manja. Kalau gitu, sini peluk Mommy, Sayang, tapi Iel harus tidur ya?"

"Eum!"

Javier mengangguk dengan antusias dan langsung memeluk Emily yang kini terpaksa ikut berbaring. Padahal dia hanya ingin menidurkan anaknya, lalu berganti pakaian karena tubuhnya pasti bau keringat. Namun mau apalagi, anaknya sangat manja padanya. Emily senang, walau kadang dia khawatir saat harus pergi ke restoran dan meninggalkan Javier bersama pengasuh. Apalagi saat Javier pergi ke sekolah. Dia kadang tidak bisa mengantar-jemput putranya karena pekerjaannya.

Lama larut dalam lamunan, Emily mulai melirik anaknya dan menyadari jika Javier sudah tertidur. Putranya itu pasti mengantuk hingga dengan cepat terlelap. Ini memang sudah malam. Tidak seharusnya anaknya masih terjaga. Emily pun merasa lelah. Niat awalnya untuk mengganti pakaian, tampaknya hanya tinggal niat karena sekarang dia sudah mengantuk.

Tetapi, saat Emily baru saja akan terlelap, terdengar suara pintu yang berdecit. Terpaksa, dia pun membuka matanya kembali dan melihat ibunya perlahan masuk. "Ibu?"

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Karin sambil berbisik. Dia melihat cucunya yang tidur dalam pelukan putrinya.

Emily pun melihat Javier dan mau tak mau, dia melepaskan putranya. Berusaha untuk bangun tanpa mengusik tidur sang anak. Hingga setelah memastikan Javier tidak akan bangun dan dia terbebas, Emily mendekati ibunya. "Ada apa?"

"Ikut sini!"

Tubuhnya ditarik keluar dan Emily hanya menurut. Sampai mereka kemudian tiba di ruang tengah dan terlihat ayahnya juga di sana. Mereka berdua belum tidur, tapi tidak ada yang memerhatikan anaknya. Emily mengernyit kesal. Sebegitu enggannya 'kah mengakui Javier sebagai cucu mereka? Emily tidak masalah jika dirinya yang dibenci atau tidak dianggap, tapi tidak dengan Javier. Putranya tidak salah apa-apa.

"Duduklah!" perintah Dave pada Emily, yang langsung diturutinya. "Jadi bagaimana hasilnya? Apa lelaki itu mau menikahimu?"

Emily menghela napas kasar. Dia merasa seperti dijual oleh orang tuanya sendiri. Mereka hanya antusias jika berhubungan dengan lelaki yang hendak dipasangkan padanya. Emily tidak tahu ini sudah yang ke berapa kali dan biasanya ini selalu berakhir gagal. Lelaki yang dijodohkan dengannya menolak dengan berbagai alasan. Tentu alasan itu adalah Emily sendiri. Perilaku yang buruk, kenyataan soal anak atau dia yang menyukai banyak lelaki. Emily tahu caranya untuk membuat para lelaki menolaknya. Namun anehnya itu tidak mempan untuk Keenan.

Keparat itu, Emily belum melupakan rasa jengkelnya karena telah membawanya tanpa izin.

"Emily, bagaimana hasilnya? Kamu tidak ditolak lagi 'kan?" Kini giliran Karin bertanya.

"Sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya satu hal pada kalian." Emily melirik ayah dan ibunya satu persatu. "Mana janji kalian untuk menjaga anakku? Kenapa kalian membiarkannya menungguku hingga larut malam?"

"Ah, anak itu, Ibu sudah menyuruhnya tidur, tapi anakmu sangat nakal."

"Nakal? Lalu setelah itu Ibu biarkan saja? Apa Ibu benar-benar punya hati? Bagaimana jika aku tidak pulang!" Emily menaikkan nada suaranya dengan emosi.

"Cukup, Emily. Itu hanya masalah sepele. Tidak usah memperpanjangnya dan jangan bertindak tidak sopan pada orang tua!"

"Huh? Sepele? Ayah menganggap itu sepele? Javier adalah cucu Ayah, tapi kalian bersikap sangat dingin padanya! Bahkan kalian sangat tega mengatakan Javier anak haram!"

Emily tidak peduli dan tidak lagi takut seperti dulu. Kini dia sangat marah karena anaknya tidak diawasi dengan baik. Emily tidak berharap anaknya mendapat perlakuan sama seperti dirinya dulu. Dia tidak mau anaknya bersikap jahat sepertinya karena lingkungan yang buruk seperti ini. Emily merasakan betapa sakitnya dulu dia diabaikan karena dianggap tidak berguna dan selalu gagal melakukan sesuatu. Membuat rasa iri mendarah daging karena melihat orang sekitarnya mendapat limpahan kasih sayang, sedang dia tidak. Emily tidak mau itu terjadi pada Javier. Cukup dia yang melakukan kesalahan dulu.

"Dia hanya aib. Jangan melewati batas, Emily. Kalau bukan karena kebodohanmu sendiri, semua ini tidak akan terjadi." Dave menahan kepalan tangannya agar tidak melayang. Suasana hatinya yang baik, tidak boleh dirusak karena sikap buruk anaknya. "Sekarang katakan, apa kau berhasil memikat lelaki itu?"

Emily menahan gertakan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa sakit hati saat anaknya disebut aib. Ini kesalahannya, tapi Javier tidak salah apa-apa. Dia benci orang tuanya. Dia benci ketidakberdayaan ini. "Ya, mereka meminta untuk mengatur pertemuan."

Wajah kedua orang tuanya sontak langsung berbinar cerah setelah mendengar perkataan Emily. Mereka seolah mendapat jackpot karena berhasil membuat anaknya menggaet laki-laki mapan, sekaligus calon menantu idaman. Namun tidak dengan Emily yang merasa semakin muram melihat reaksi keduanya.

"Sepertinya kalian ingin sekali menjualku dalam pernikahan ini," sindir Emily. Spontan ucapannya membuat orang tuanya langsung menoleh ke arahnya.

"Bicara apa kamu! Sudah untung kami mencari laki-laki yang mau denganmu dan menerima anakmu! Kamu pikir siapa lelaki yang mau menikahi wanita nakal sepertimu! Tidak menikah, tapi memiliki anak!"

Emily tertohok mendengar kalimat tajam ayahnya. Jika dirinya direndahkan oleh orang lain, mungkin rasa sakitnya tidak separah ini. Namun jika orang yang merendahkannya adalah orang tuanya sendiri, Emily sangat benar-benar terluka.

"Ayahmu benar, gara-gara kamu selalu main-main dengan lelaki, kamu harus melahirkan Javier. Ayahnya juga tidak mau menikahimu. Benar-benar tidak berguna. Bersyukur dia hanya di penjara."

"Hentikan, Bu! Ibu tidak boleh berkata seperti itu!" tegas Emily.

"Jangan membela sampah itu! Dia hanya pecundang. Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada pecundang itu!"

"Kalian selalu seperti ini! Apa kalian pikir, kalian lebih baik darinya! Kalian juga sangat buruk sebagai orang tua!" Emily meluapkan emosinya sambil menggebrak meja dan berdiri. Dia merasa sedih karena pandangan orang tuanya selalu haus kekuasaan dan kekayaan. Mereka angkuh dan seakan memiliki segalanya, tapi sebenarnya tidak punya apa-apa. Dia malu, dia sangat malu.

Emily tanpa menunggu lagi segera berbalik pergi sambil menjauhi orang tuanya. Dia kembali menuju kamar untuk menemani anaknya yang sedang tertidur. Tak memedulikan kemarahan ayahnya yang berteriak memanggilnya berhenti. Dia sangat lelah hidup seperti ini. Emily lelah dan ingin sekali mengakhiri penderitaannya. Hanya kehadiran Javier yang membuatnya bisa tetap bertahan.

Emily menutup pintu dengan hati-hati dan membiarkan air mata menetes jatuh melewati pipinya. Dia menangis tanpa suara. Mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang sambil menatap buah hatinya. "Kamu tidak akan menderita, Javier. Mommy janji, kamu tidak akan menderita."