Novelory

Love And Wars
4.2
Pratinjau Konten Yang Menyenangkan

Ini bukan lagi jaman dahulu, di mana orang-orang tua menjodohkan anak mereka dengan anak dari teman mereka. Namun, sepertinya hal tersebut tidak berlaku untuk orangtua Yuki.

Mau bagaimana pun sang dara berusaha menolak, kedua orangtuanya tetap menyeretnya ikut ke restoran ternama di Jakarta, yang dijadikan tempat pertemuan antara keluarganya dengan orang yang akan dijodohkan dengannya.

“Yuki Sayang, inget ya, kepala keluarganya itu temen deket Ayah kamu. So, I BEG YOU, Nakahara Yuki. Behave well.” Kartini menggamit lengan putrinya dengan cukup erat.

Dengan tangannya diremas oleh sang ibu, Yuki tahu kalau dia mulai berulah, hukumannya pasti tidak main-main. Bisa-bisa fasilitasnya ditarik semua oleh sang ayah.

Buru-buru dia menghapus semua rencana sabotase yang sudah ia pikirkan matang-matang selama perjalanan tadi. ‘Oke, abort mission. Nggak jadi make a scene.’

“Iya Bunda, aku paham,” gumamnya pelan.

Gaun off-shoulder dress warna biru dongker itu jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang ramping. Kaki jenjangnya dibalut sepasang T-strap shoes berwarna senada. Perempuan berdarah campuran Indonesia-Jepang itu terlihat lebih anggun dari biasanya.

Tapi semakin dekat dia ke ruangan yang dijadikan tempat pertemuan, ada perasaan tidak enak yang semakin kuat memenuhi hatinya. Seakan ada alarm di dalam kepalanya yang memberi sinyal bahwa ini memang keputusan yang salah.

“Selamat malam, Pak Hari.” Suara ayahnya menarik atensi Yuki.

‘Oh, mereka sudah tiba?’ Yuki mengangkat wajahnya dan menyiapkan senyum terbaiknya. Namun, belum ada 5 detik senyumnya hadir, orang yang ada di hadapannya membuat senyumnya hilang.

“YUKI?!”

“JENGGALA?!” pekik keduanya bersamaan.

Keduanya saling bertatapan untuk beberapa detik, benar-benar tidak percaya dengan orang yang ada di hadapan mereka. Yuki sering dengar omongan orang tentang ‘dunia sempit sekali’. Tapi ia tidak menyangka dunia sesempit ini, sampai-sampai orang yang akan dijodohkan dengannya adalah musuh bebuyutannya sendiri!

Sang daralah yang lebih dulu mematahkan kontak mata mereka, dan menghadap ke orangtuanya.

“Aku nggak mau nikah sama dia, Bun,” tegasnya.

“Astaga, Yuki!” pekik Kartini.

“Aku serius, Bunda. I know him, and I don’t want to marry him. Ever.”

Jenggala ikut bersuara. “Aku juga menolak perjodohan ini, Ma. Nggak mungkin aku memilih dia daripada pacarku.”

“See, Bun?” sahut Yuki mendengar kalimat Jenggala. “Dia udah punya pacar. Perjodohan ini nggak bisa dilanjutkan.”

Kartini menarik putrinya sedikit menjauh dan berbicara dengan nada rendah. “I want you to behave well, Yuki. Inget, ini tuh temennya Ayah kamu!” Ketegasan dalam suaranya tetap terasa.

“And I am still behaving, Mother.” Yuki menatap lurus-lurus ke arah ibunya. Suaranya sama tegasnya dengan sang ibunda.

“Kalau aku nggak inget laki-laki itu adalah anak dari temennya Ayah, udah aku cakar mukanya.”

“Yuki, udah cukup!” Kartini memukul lengan atas sang dara. “Save your Father some face. Ikuti aja dulu makan malam ini, ngobrol-ngobrol dulu. Baru menentukan!”

Yuki mendengus pelan. Ia melirik ke arah Jenggala dan sepertinya, sang adam pun sudah selesai berbicara dengan ibunya.

Kartini tersenyum pada keluarga Jenggala dan mempersilakan mereka untuk duduk. Ia mendorong putrinya untuk duduk di kursi yang paling ujung; berhadapan dengan Jenggala.

Para orangtua mulai mengobrol sambil tertawa. Namun perang dingin masih berlangsung untuk anak-anak mereka.

Sesekali Jenggala mencuri pandang pada perempuan di hadapannya, yang tampil jauh berbeda dari biasanya. Sebelum akhirnya melemparkan sebuah celetukkan, “Effort banget ya lo buat ke perjodohan. Beda banget sama biasanya lo ke kantor.”

Yuki memutar bola matanya. “Ngapain juga gue pake dress ke kantor? Yang ada dianggep too much sama karyawan lain nanti.”

“Emang too much, sih. Buat malam ini aja kerasa lo too much.”

“Dan gue nggak nanya pendapat lo sama sekali, Jenggala.” Sang dara menatap pria itu dengan tajam. “Apa pun yang lo rasa soal penampilan gue, atau pun yang terjadi malam ini, gue nggak peduli. Jangan bertingkah seakan-akan kita deket.”

Sebelah alis Jenggala menukik, bersamaan dengan salah satu sudut bibirnya yang naik. “Aren’t we not? Ayolah, kita kan karyawan yang kerja di tempat yang sama.”

“Iya, dan gue menyayangkan hal itu. Karena dengan berada di tempat kerja yang sama dengan lo, membuat gue kehilangan proyek yang bagus!”

Yuki merujuk pada presentasi yang dirusak oleh Jenggala beberapa hari yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan menjebak yang dilempar oleh sang adam, membuat presentasi yang susah payah disusun timnya itu terlihat buruk. Dan sampai detik ini dia masih cukup kesal bahkan dendam pada sang adam.

Dia sudah bertekad akan membalas perlakuan pria yang kini tertawa geli di hadapannya.

“Lo nggak bisa nyalahin gue lah, Ki. Kalau emang lo dan tim lo itu cocok sama proyeknya, apa pun yang gue lakukan, lo akan tetep dapet proyek tersebut. Tapi nyatanya nggak, kan?”

Jemari Yuki mengepal dan tatapannya menajam. Jika dia tidak ingat hukum—dan tidak ingat kalau keluarga Jenggala adalah teman baik dari ayahnya—ia ingin melemparkan alat-alat makan yang ada di hadapannya saat ini ke arah sang adam.

“That aside.” Jenggala mengibaskan tangannya kemudian menumpukan tangannya di atas meja. Ia memelankan suaranya, memastikan hanya dirinya dan Yuki yang bisa mendengar ucapannya.

“Lo kenapa nurut aja sama perjodohan ini?” tanya sang adam.

Dara berkulit putih itu memiringkan kepalanya. “Bukannya harusnya gue yang nanya hal it uke elo? Di antara kita berdua, yang udah punya pasangan itu lo. Tapi kenapa lo di sini?”

Pria itu menghela napas pelan sambil melirik ke arah orangtuanya. Suaranya semakin memelan. “Nyokap yang super excited sama perjodohan ini. Alasannya, gue nggak boleh menutup segala kemungkinan, karena jodoh nggak ada yang tau.”

“Kayak alesan aja. Intinya nyokap lo kurang setuju sama pacar lo, gitu?”

“Bukan gitu—.” Jenggala ingin mencari dalih yang pas, tapi faktanya memang orangtuanya—terlebih ibunya—seperti kurang menyukai wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi kekasihnya itu.

Entah apa alasannya, ibunya sendiri pun tidak pernah secara gamblang menunjukkan ketidaksukaannya pada Lea. Hanya saja… tiap kali ia membawa sang kekasih, ibunya tidak pernah terlihat senang bertemu dengannya.

“Bullseye, huh?” Kini giliran Yuki yang memberikan senyum congkaknya, dan Jenggala hanya bisa mengerang pelan.

“Yah, tapi gue agak sedikit bersyukur sih. Ternyata orang yang dijodohin sama gue itu lo,” lanjut sang adam, membuat senyum Yuki luntur dan dahinya kembali berkerut.

“Kenapa emangnya?”

Jenggala kembali melirik ke kedua orangtua mereka yang masih sibuk dengan obrolan mereka sendiri—menceritakan tentang masa kecil dirinya dan Yuki, serta prestasi-prestasi yang sudah mereka dapatkan, dan betapa girangnya mereka setelah mengetahui kalau dirinya dan Yuki berasal dari SMA yang sama.

Kemudian Jenggala mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Lo pasti nggak mau kan dijodohin sama gue? Berarti gue sama lo bisa nolak perjodohan ini, terus gue bisa hidup bahagia sama Lea.”

Yah, Yuki memang tidak mau menerima perjodohan ini dari awal. Terlebih setelah tahu pria yang akan menjadi calonnya adalah orang yang sudah merusak mimpi timnya akan karir yang lebih gemilang ke depannya.

Tapi, karena alasan tersebut juga Yuki ingin mengubah pilihannya. Jenggala merusak jalan indah dalam karir yang sudah ia impikan, boleh kan kalau dia merusak kehidupan indah yang sang adam dambakan?

Dengan senyum lebar, Yuki ikut mencondongkan tubuhnya juga merendahkan suaranya untuk membalas, “Setelah gue pikir-pikir, kenapa harus ditolak? Kayaknya perjodohan ini bakalan menyenangkan.

“That is why, my dear Jenggala Saguna, good luck ngejelasin ke pacar lo kalau lo udah dijodohin, ya?” Setelah berkata demikian, Yuki menarik tubuhnya dan tidak lagi berbicara pada Jenggala hingga pertemuan mereka selesai.

***

Haloo, selamat datang di cerita baru aku dan selamat berkenalan dengan Yuki dan Jenggala! ^^

Semoga cerita Yuki dan Jenggala kali ini bisa menghibur yaa, ceritanya nggak akan begitu berat kok (kayaknya) xixixi~ Buat yang mau tau rupa Yuki dan Jenggala itu kayak gimana, bisa cek di instagram aku yaa @lyraasagita.

Enjoy! Xoxo, Lyra.

“Bu Yuki,” panggil Permata, sekretarisnya. “Pak Jenggala itu sekarang lagi latihan jadi seorang debt collector, ya?”

Sang dara menghela napas sambil berjalan di samping atasannya. “Dari pagi sampai mendekati jam selesai kantor, beliau terus-terusan bolak-balik buat nyari Bu Yuki.”

Yuki terkekeh pelan lalu mengusap punggung perempuan yang lebih pendek darinya itu. “Dia lagi agak kesurupan. Tapi makasih ya udah bantuin aku kabur dari Jenggala.”

Dia sudah ada firasat kalau pria itu akan mencarinya dan memaksanya untuk membatalkan perjodohan itu. Makanya, sejak pagi Yuki sudah berkata kepada sekretarisnya, “Kalau ada Jenggala ke ruangan saya, bilang aja saya nggak ada di tempat. Buat aja alasan sebebas kamu, nggak apa-apa.”

Oh percayalah, dia sendiri pun sangat menolak perjodohan itu. Ada banyak orang yang lebih baik untuknya daripada Jenggala!

Sayangnya, ia lupa kalau hari ini ada annual party yang diadakan oleh perusahaan mereka selesai jam kantor. And here she is, di bibir pintu aula hotel yang disewa untuk melaksanakan pesta tersebut.

Dengan cepat matanya mengedar ke penjuru ruangan. Memindai seisi ruangan demi menemukan sosok jangkung Jenggala, kemudian menghindarinya.

Di ruangan 40x25 meter itu seharusnya tidak mudah ia dan Jenggala berpapasan, kan? Apa lagi ada puluhan orang di sini, belum termasuk dengan orang-orang dari katering yang disewa.

“Kamu ada liat Jenggala nggak?” bisik Yuki.

Permata pun ikut melihat sekitar sambil memanjangkan lehernya. “Hmm… belum liat sih, Bu. Mungkin belum datang?”

Kemudian pandangannya berpindah ke arah Yuki. “Tapi Bu, saya penasaran… ada apa sih emang sampai Pak Jenggala nyari Ibu sampai bolak-balik, dan Bu Yuki menghindari Pak Jenggala banget?”

Yuki menatap Permata lama selagi otaknya berputar mencari alasan yang tepat.

Tidak mungkin dia bilang apa yang terjadi di makan malam itu. Perjodohan itu rasanya tidak perlu sampai ke telinga orang lain. Jadi dia harus mencari alasan lain dari gelagat aneh yang dirinya dan Jenggala tampilkan hari ini.

“Aku abis ngerjain Jenggala. Bales dendam karena kemaren dia ngerusak presentasi kita,” jawabnya dengan sebuah senyum.

“Ooh, pantes aja Pak Jenggala kayak mau makan orang.”

“Benar.” Yuki menganggung kemudian menunjuk ke salah satu kelompok karyawati yang sedang asyik mengobrol. “Kamu kalau mau ngobrol sama yang lain silakan. Nggak perlu nemenin aku semalaman ini.”

“Eh? Nggak apa-apa, Bu?” tanya Permata tidak yakin. Tapi Yuki memberikan anggukan tegas.

“Emang kamu nggak bosen ketemu aku terus seharian?” balasnya sambil terkekeh pelan. “Tinggal aja, nggak apa-apa.”

Permata pun mengangguk kemudian pergi bergabung dengan karyawati lain. Dan Yuki merasa ia bisa bernapas lebih lega sekarang.

Tangannya dengan cepat menyambar salah satu sampanye yang dibawa dengan baki oleh pelayan. Sembari lanjut melangkah, matanya mengedar ke sekeliling ruangan.

Ruangan dengan langit-langit yang tinggi itu didominasi oleh warna hitam dan merah—suatu kombinasi yang jarang digunakan oleh kebanyakan hotel di Indonesia. Memiliki beberapa lampu gantung memberi penerangan yang cukup, dan desainnya menambah kemewahan dalam ruangan tersebut.

Yuki terkesima dengan desain interior ruangan tersebut. Ia menikmati detail-detail ukiran pada dinding sambil menyesap sampanyenya.

“Bagus ya ruangannya? Warna taplak meja yang dibawa sama EO ini juga masuk banget sama tema dari ruangan ini.”

Suara itu membuat fokus Yuki berpindah ke arah objek yang dibicarakan. Senyumnya melebar. “Iya. Warna rose gold dan bahan satinnya cocok banget sama warna dindingnya.”

Sosok di belakangnya itu mengangguk setuju. “Cocok juga sama lantainya. Lantai marmer, bikin ruangan ini terkesan makin mewah.”

Yuki kembali memindahkan tatapannya. Kini ke arah lantai di bawah kakinya, dan sekali lagi ia mengangguk menyetujui.

Dari lantai marmer hitam itu pandangannya perlahan bergulir ke mary jane-nya yang berwarna navy blue. Kemudian ke arah sepatu pantofel cokelat tua yang dikenalnya.

Matanya membelalak dan dengan cepat ia mengangkat wajahnya. Dan benar saja, Jenggala, si pemilik pantofel cokelat itu, sudah ada di sisinya.

Sang adam dengan santai mengambil gelas sampanye Yuki dan menghabiskan isinya sambil tetap menatap ke depan. Senyum puas terukir di wajahnya.

“Setelah seharian gue bolak-balik ke ruangan lo, ujungnya ketemu di sini, ya? Udahan kaburnya dari gue?” tanya sang adam dengan santai.

Yuki berdeham lalu mengalihkan pandangannya. “Siapa juga yang kabur dari lo? Bukannya Permata udah bilang kalo gue ada urusan?”

“Sampai seharian? Wow, Bu Direktur cabut nih ceritanya?”

Sang dara mendengus. “Mau gue cabut apa nggak, dan mau ke mana pun gue, urusannya sama lo apa, sih?”

“Oh, jelas ada.” Jenggala meletakkan gelas kosong itu di meja terdekat lalu merangkul Yuki. Dengan sedikit memaksa ia membawa sang dara ke area yang lebih sepi.

Ia memegang kedua bahu Yuki dan menatap sang dara lurus-lurus. “Lo harus nolak perjodohan bodoh itu.”

“As expected, you’re going to say that.” Yuki memutar bola matanya. “Harus banget ya bicarain soal itu di sini, di mana bisa aja ada orang yang denger omongan lo tadi?”

“Gue serius, Yuki.” Cengkramannya mengerat. “Gue nggak mau nikah sama lo.”

“Dude, you think I want to marry you?” Ia mendengus lalu tertawa tipis. “Gue bahkan nggak bisa membayangkan hidup sama lo, Gala.”

Jenggala menatap wanita itu dan mengerjapkan matanya. “Tapi kemaren lo bilang….”

“Gue nggak serius.” Ia memutar bola matanya. “Dari awal aja gue udah nggak setuju dijodohin, apa lagi setelah tau calonnya itu elo.

“Jadi lo nggak perlu khawatir, nanti gue bilang sama orangtua gue buat batalin ini semua. And you better do the same.”

Bibir tipis sang adam melengkung membentuk sebuah senyuman. “Good. Baru kali ini lo sama gue setuju di hal yang sama.”

Lagi-lagi sang dara memutar bola matanya. Meski ia enggan mengakui secara lisan, tapi dia sadar kalau Jenggala ini pintar. Salah satu dari segelintir pria di sekitarnya yang pantas disebut jenius.

Andai saja situasinya berbalik, mungkin Yuki tidak akan segan-segan untuk memuji Jenggala. Tapi karena sikap sang adam sewaktu SMA, memuji Jenggala adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan.

Padahal mereka sudah ‘bersama’ bertahun-tahun lamanya. Kebiasaan-kebiasaan satu sama lain pun sudah mereka hapal di luar kepala, sepertinya. Makanya, terkadang Yuki tidak mengerti kenapa mereka masih saja seperti Tom & Jerry.

Tangannya terulur untuk meraih gelas sampanye lain. Tapi Jenggala lagi-lagi merebut minuman beralkohol itu dari tangannya.

“Lo ini tipe orang yang suka makan jatah orang lain atau gimana, sih?” Ia melemparkan tatapan tajam pada sang adam. “Ada puluhan gelas berisi sampanye di atas meja, dan lo ambil yang ada di tangan gue dua kali?”

Jenggala kembali meneguk isi gelas tersebut sampai habis lalu mengembalikan gelasnya pada Yuki. “For your own safety, jangan kebanyakan minum alkohol.”

“Kata orang dengan alcohol tolerance yang rendah,” ejeknya.

“Hei, gue lebih jago minum sekarang.”

“Yeah, right.” Yuki mengambil gelas lain lalu mengusir Jenggala dengan tangannya yang bebas. “Urusan lo sama gue udah selesai, kan? Go away then, gue udah bosen liat lo.”

Jenggala mencebik dan menatap Yuki dengan sebal. Tangannya terangkat untuk mengusak surai hitam wanita berdarah Jepang itu sebelum meninggalkannya.

“You little—ugh!!!” Yuki menggeram lalu menatap punggung bidang itu dengan kesal.

“Dosa apa sih yang sebelumnya gue lakuin, sampai gue terus-terusan berurusan sama Gala,” gumamnya. Kemudian ia meneguk sampanyenya hingga habis sebelum mengambil gelas lain.

Ia mengobrol dengan beberapa kolega lain untuk meredakan emosinya. Tangannya beberapa kali membawa gelas tinggi itu ke bibir dan menyesap isinya.

Setelah berbagi berita dan tawa, juga sekitar dua gelas alkohol lagi, Yuki memutuskan untuk menjauh dari koleganya sebentar. Ia menarik napas sejenak dan merasakan tubuhnya.

Yap, dia sudah mulai mabuk sekarang. Ini berarti dia tidak bisa pulang ke rumah dan harus menyewa satu kamar di hotel ini.

Ia pamit dan melangkah keluar dari aula menuju meja resepsionis untuk mendapatkan kamar. Ia sudah membayangkan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk hotel saat melangkah menuju lift bersama dengan kunci kamarnya.

Tapi ternyata, harinya tidak akan berakhir semulus itu.

Saat hendak masuk ke dalam lift, sebuah tangan merangkul pundaknya dan bersandar padanya. Yuki yang tidak siap, dan memiliki tubuh yang lebih kecil itu, tentu saja limbung.

Dengan sigap satu tangan memegang lengan yang merangkulnya, sementara tangan yang lain memeluk pinggang sosok itu.

Ia menoleh, dan matanya langsung membulat saat melihat siapa sosok itu. “Astaga, Jenggala! Lo ngapain, sih?”

Jenggala menatap Yuki dengan kelopak mata yang setengah tertutup. “Anterin gue balik, Ki.”

“Gue nggak balik, find someone else!”

Laki-laki itu mengerang dengan cukup kencang, kemudian merengek, “Anterin gue balik. Gue nggak bisa nyetir, nanti gue dimarahin bokap kalo gue nyetir begini!”

“Ya udah tau toleransi lo rendah, kenapa lo minum banyak?!” hardiknya.

Tapi yang dibentak justru memberikan cengiran lebar. “They were so kind, mereka ambilin gue minum. Masa gue tolak? Kan gue orang baik.”

“Ya udah kalo gitu lo minta anterin pulang sama mereka aja. Nggak usah ngerepotin gue!”

Tapi bukan Jenggala namanya kalau tidak mencari masalah dengan Yuki. Bahkan saat mabuk sekali pun.

Sang adam merengek lebih kencang dan mulai berteriak tidak jelas. Yuki yang kaget sontak membungkam mulut Jenggala dengan tangannya lalu menyeret adam itu masuk ke dalam lift.

Jenggala kemudian tertawa puas saat pintu lift sudah tertutup. “Lo emang orang yang baik, Ki.”

“Dan lo adalah orang yang paling brengsek yang pernah ada di hidup gue,” makinya.

Yuki tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan Jenggala kemudian. Alkohol membuatnya sulit untuk berpikir jernih.

Jadi, dia membawa Jenggala ke kamar yang disewanya (dengan penuh perjuangan), dan merebahkan sang adam di sofa yang ada di kamar itu.

“Karena gue yang nyewa kamar ini, gue yang tidur di kasur. Lo di sofa aja—dan jangan coba-coba buat mendekat ke arah kasur! Gue nggak akan segan-segan buat nendang lo keluar kalau lo sampe berani,” ancamnya.

Entah Jenggala mengerti ucapannya atau tidak, karena anggukannya terasa tidak meyakinkan. Tapi Yuki tidak mau terlalu ambil pusing lagi, karena kepalanya mulai terasa sakit.

Ia menanggalkan blazer dan sepatu hak, kemudian melonggarkan kancing kemeja dan roknya. Dia tidak suka tidur dengan pakaian kerja, tapi apa boleh buat?

Setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menarik selimut sampai ke dagu. Ia mengintip ke arah Jenggala yang masih meracau tidak jelas.

‘Nothing will happen kan, ya? Toh ini Jenggala. Meski gue bilang dia itu brengsek, tapi kayaknya dia nggak sebrengsek itu.’

Yuki sudah cukup lama mengenal Jenggala. Dia termasuk pria yang sopan dan tidak pernah berlaku lebih dari batasannya.

Sayangnya dia tidak tahu, kalau Jenggala punya kebiasaan buruk ketika mabuk….

***

“HAH?!” Jenggala langsung membungkam mulutnya dengan sebelah tangan setelah sadar kalau sosok di sisinya masih terlelap.

Dia kembali memeriksa kondisinya dan Yuki, memastikan kalau matanya tidak salah.

Bahwa saat ini, ia berada di atas kasur sebuah hotel bersama dengan perempuan yang dijodohkan dengannya. Dan keduanya memiliki sedikit kain yang melekat di tubuh—bahkan ia tidak mengenakan apa pun!

“Udah gila kali, ya…? Gue? Sama Yuki?!”

Jenggala kembali mengerang kemudian buru-buru mengenakan boksernya sebelum pindah ke sofa.

Ia menatap tajam ke arah kasur. Kepalanya masih terasa berkabut karena bergelas-gelas alkohol yang ia teguk semalam. Tapi ia tetap memaksa untuk mengingat-ingat apa yang terjadi dan bagaimana dia bisa tidur dengan Yuki.

Dia ingat dia ngobrol dengan banyak orang dan ditawari sampanye. Kemudian saat mau pulang, ia melihat Yuki dan ingin mengganggu perempuan itu. Setelah itu….

“Damn, gue nggak inget apa-apa lagi setelahnya,” erangnya sambil mengacak rambutnya dengan kasar. “Gimana bisa gue tidur sama perempuan lain selain Lea…?”

Matanya terpaku pada sosok Yuki di atas kasur. Dalam kepalanya berputar beberapa skenario yang mungkin terjadi.

Seperti fakta bahwa dia adalah pria yang cukup setia dan tidak mudah menyentuh perempuan lain. Lalu, hanya dia yang tidak memakai sehelai pakaian. Sementara Yuki masih menggunakan dalamannya.

‘Apa ini berarti…?’

Meski Jenggala tahu kalau dia tidak bisa langsung menuduh Yuki yang mengajaknya tidur duluan. Tapi tetap saja pikiran itu cukup membuat darahnya mendidih.

Ia mengenakan celananya sebelum menghampiri Yuki dengan langkah panjang.

“Ki, bangun,” ucapnya dengan suara yang cukup lantang sambil menatap tajam sang dara dan bersedekap. Tapi ia tidak mendapatkan respon apa pun. Jenggala mendecakkan lidahnya.

“Nakahara Yuki bangun buruan, gue mau ngomong!” Dengan kasar ia menggoyangkan pundak Yuki beberapa kali. Dan baru berhenti saat mendengar sang dara mengerang. Dahinya berkerut dalam, menunjukan dengan jelas bahwa dia merasa sangat terganggu.

“Astaga ada apa sih… berisik.” Yuki berusaha membuka matanya untuk melihat siapa yang membangunkannya.

Sayangnya Jenggala tidak memiliki kesabaran untuk menunggu Yuki mengumpulkan kesadarannya. Ia langsung menarik lengan Yuki hingga sang dara terduduk di atas kasur. “Cepetan bangun!”

Jelas sang dara terkejut dengan perlakuan kasar itu. “Ow--! Apa-apaan, sih?!” Yuki mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya. Kemudian ia menarik tangannya setelah dengan jelas melihat siapa orang yang membangunkannya.

“Lo nggak bisa bangunin orang dengan lebih manusiawi dikit apa?!” sulutnya.

Sang adam menghempaskan pantatnya di kasur, berhadapan dengan dara itu. Dan matanya menatap lurus ke sepasang mata hitam Yuki. Membuat sang dara sedikit terkejut.

“Kenapa lo sama gue ada di kamar hotel gini?” tanyanya.

Sang dara mengangkat sebelah alisnya kemudian menghela napas panjang. “Astaga… lo bangunin gue cuma karena lo mau nanya soal itu, Gala?” Yuki memijat pelipis dengan harapan bisa mengurangi denyut di kepalanya.

“Kenapa lo nggak nunggu gue bangun dulu aja, sih? Kemarin tuh—”

“Kenapa gue sama lo bisa tidur sekasur bareng?” potong Jenggala. “Kenapa juga gue sama lo bisa nggak pakai baju gini? Kita ngapain semalam?”

“Nah! Justru gue—."

Lagi-lagi, sebelum Yuki sempat menjelaskan—atau pun marah pada Jenggala—sang adam kembali memotongnya. Dan kini dengan nada bicara yang lebih tajam dari sebelumnya.

“Kok lo bisa-bisanya ngajak gue, yang punya pacar dan lagi dalam keadaan mabuk berat, buat tidur bareng gitu sih, Ki?” Ia memicingkan mata, menatap Yuki dengan marah dan rasa kecewa.

Mata Yuki perlahan melebar seraya otaknya memproses maksud kalimat Jenggala. “HAH? Bentar, bentar…” Ia mengangkat kedua tangannya dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.

“Gala, lo barusan nuduh gue apa?”

“Iya kan, Ki?!” bentak Jenggala dengan suara yang lebih tinggi dari sang dara. “Karena nggak mungkin gue segampang itu tidur sama perempuan lain!”

“Terus lo kira gue segampang itu tidur sama laki-laki yang nggak gue suka?” hardik Yuki dengan suara yang tak kalah keras. “Kepala lo masih dipengaruhi alkohol atau gimana, sih? You’re not a panty dropper Gala, nggak usah meracau deh!”

“Ya terus kenapa bisa gue sama lo ada di hotel? Dan dalam keadaan begini?!” Kedua tangannya menunjuk pada kondisi mereka berdua—sambil Jenggala berusaha untuk tidak mendaratkan tatapannya pada daerah-daerah yang seharusnya tidak ia lihat.

Sekali lagi ia mengusak rambutnya dengan kasar sambil menggeram.” Lo itu serius mau batalin perjodohan ini nggak sih, Ki? Or it was just big talks lo aja?”

Yuki bisa merasakan darahnya mendidih. Kedua tangannya mengepal dan giginya bergemeletuk sambil ia menahan diri untuk tidak mendorong adam di depannya ini, dan mencekiknya.

“Kenapa nggak jawab?” sembur sang adam lagi. “Apa yang gue ucapin bener? Makanya lo ngelakuin ini supaya lo bisa mastiin perjodohan ini bisa tetap berjalan?!”

Ekspresi Yuki semakin menunjukan rasa tidak percaya dan rasa sebalnya pada Jenggala. “Lo itu bener-bener bodoh, tau nggak? Percuma deh nilai rapor lo bagus-bagus, kalo soal beginian logika lo nggak dipake,” desisnya.

“Justru karena gue udah pake otak gue, gue tau sekarang tujuan lo apa, Ki. Whatever happened to you, gue tetep nggak mau nikah sama lo, Yuki!”

“Sekali lagi gue bilangin ke lo, ya. Gue pun nggak mau nikah sama lo, Gala!” bentak sang dara. Rasanya ini adalah nada bicara paling tinggi yang Yuki gunakan hari ini—atau sepanjang sejarah dia bicara dengan Jenggala. Sekuat tenaga ia berusaha agar tangisannya tidak pecah.

Dan Jenggala menyadari saat melihat mata sang dara mulai memerah, dan air mata mulai menggenang.

“Sanggup ya lo ngucapin itu semua ke gue? I thought you didn’t hate me that much, but I guess I was wrong. Kayaknya gue hina banget di mata lo.”

Mendengar itu Jenggala langsung membungkam mulutnya. Ulu hatinya serasa ditinju saat kalimat itu mengalir di indera pendengarannya.

“B-bukan gitu, Ki….” Jenggala merasa bersalah. Ia ingin memperbaiki ucapannya, tapi lidahnya kelu.

Dan sepertinya Yuki juga tidak ingin mendengar apa pun lagi darinya.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Yuki turun dari kasur dan mencari ponselnya di dalam tas. Jemarinya mengetuk layar dengan cukup keras, kemudian sebuah nada sambung terdengar.

“Pa, tolong batalkan perjodohan dengan keluarganya Jenggala,” ucap Yuki dengan nada dingin. “Nggak perlu mengadakan pertemuan ulang antar kedua keluarga. Karena aku sama Jenggala udah sama-sama setuju perjodohan ini untuk batal. Untuk calon, aku usahakan secepatnya cari penggantinya.”

Jenggala bisa mendengar suara ayah Yuki yang terdengar bingung dan marah sebelum panggilan itu diputus oleh sang dara secara sepihak. Tatapannya yang semula fokus pada gawai tersebut naik dan bertemu dengan mata Yuki yang menatapnya tajam.

“All done. Cukup lah ya buat membuktikan kalau gue juga sama JIJIKNYA dengan ide perjodohan itu.” Gigi sang dara bergemeletuk saat berbicara.

Jenggala berulang kali membuat Yuki kesal. Dan Yuki sudah berulang kali membentaknya, bahkan memaki dirinya.

Tapi tidak pernah Yuki berbicara dengan nada tinggi seperti tadi, mau pun dengan nada sedingin saat ini.

“M-makasih, Ki.” Suara sang adam kini memelan. Ia sekarang baru benar-benar sadar kalau apa yang diucapkannya tadi sepertinya benar-benar menyakiti hati Yuki.

Sang dara tidak merespon. Ia hanya sibuk mengancingi kembali kemeja dan roknya, kemudian mengambil barang-barangnya yang tercecer.

Jenggala memerhatikan gerak-geriknya dengan tidak tenang. Apa Yuki benar-benar marah padanya sekarang?

Berdeham beberapa kali, Jenggala memberanikan diri untuk kembali berbicara, “Oh iya, Ki. Kita juga harus merahasiakan soal hari ini. Kan nggak lucu kalau sampai ini ketauan sama orang kantor, lo sama gue tidur bareng.”

Jenggala mengakhiri itu dengan tawa canggung. Menjadikan kalimat itu untuk terdengar seperti lelucon, tapi bahkan di telinganya sendiri kalimatnya terasa salah.

“Deal. Lo keluar sejam setelah gue.” Hanya itu respon yang Yuki berikan sambil memakai sepatunya.

Ia mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyum canggung. Setelah berdeham kembali sekali dan menyugar rambutnya, Jenggala berucap, “Ki, lo nggak mandi dulu aja? Lo bisa pake kamar mandinya duluan—”

Tapi belum selesai kalimat Jenggala terlontar, Yuki sudah berdiri dan melangkah keluar dengan langkah panjang dan tegas.

Suara pintu yang dibanting menjadi tanda kalau Yuki sudah pergi. Meninggalkan Jenggala yang kini digerogoti rasa bersalah, dan bingung.

Bertahun-tahun ia mengganggunya, baru kali ini perempuan itu semarah ini padanya.

***

Gimana kesan pertama untuk Yuki dan Jenggala? Yuk, tulis di kolom komentar!

Untuk sneak peek dan visualisasi karakter, bisa dicek di Instagram aku @lyraasagita yaa! See you in the next chapter! ^^

Xoxo, Lyra.